Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Demi Kehormatan Gibran


__ADS_3

Mila memegang erat tangan Arya dan menyandarkan kepalanya di lengan Arya, sembari mengikuti langkah Arya yang berjalan keluar dari taman itu, matanya masih sembab, cadarnya jelas basah oleh air matanya, namun dadanya sudah sedikit terasa lebih lega, sementara di sisi lain Arya, Tomy dengan wajahnya yang pucat berjalan santai mengiringi langkah sepasang suami istri itu.


“kamu sepertinya terlalu berlebihan Tom, hingga istriku menangis seperti ini” ucap Arya kepada Tomy dengan datar.


“jika kamu mengatakannya sendiri, aku juga nggak harus seperti ini, aku hanya ingin memastikan dia ada di pihak kita, atau jika tidak, dia yang akan membunuhmu”jawab Tomy tak kalah santai.


Arya menghirup nafas panjang mendengar ucapan Tomy, ia sebenarnya juga sudah dapat memprediksi Tomy akan berbicara dengan Mila soal itu, namun ia berpikir Tomy akan berbicara setelah keluar dari rumah sakit, karena ia tahu, Tomy tidak akan dapat berbicara terbuka di rumah sakit karena selalu ada Abel disisinya, dan Arya tidak menyangka Tomy akan nekat lari dari rumah sakit seperti itu hanya untuk menemui Mila dan memastikan Mila berada di pihak mereka, serta memastikan rahasia itu terjaga dengan baik.


“aku nggak nyangka punya saudara sepertimu, kamu bahkan melakukan ini semua hanya karena khawatir kepadaku”. Ucap Arya pada Tomy.


“aku bahkan bisa melakukan yang lebih dari ini” jawab Tomy, sementara Mila masih tetap menyandarkan kepalanya di lengan Arya sembari memperbaiki kondisi hatinya.


“tapi setidaknya kamu jangan mengatakan semuanya pada Mila tadi, aku benar-benar merasa tidak seperti laki-laki di depan istriku sekarang” sesal Arya pada Tomy.


“lalu aku harus mengatakan apa?”


“mengatakan seperti apa yang aku katakan kepada Mila sebelumnya” jawab Arya pelan, sementara Mila mengeratkan pegangannya di tangan Arya mendengar itu semua.


Dua orang pengawal yang masih setia berdiri disana kemudian memberi hormat kepada tiga orang yang menjadi tuan mereka itu.


“maaf tuan, apa kami boleh mengantar anda ke rumah sakit,?, wajah anda sangat pucat” ucap salah seorang pengawal kepada Tomy.


“aku yang akan mengantarnya” jawab Arya

__ADS_1


“kamu bukannya harus ke kantor, pekerjaanmu pasti masih banyak setelah pergi lama” ucap Tomy yang telah mengetahui Arya menghilang 3 minggu dari Abel.


“kamu sudah melihat istriku menangis, jadi sekarang aku ingin melihat seperti apa calon istrimu itu histeris kehilangan calon suaminya” ucap Arya tersenyum sinis pada Tomy.


Tomy menelan salivanya, wajahnya berubah pias, ia bahkan tidak dapat membayangkan seperti apa reaksi gadis polos itu saat ia kembali nanti.


Mila kemudian melirik ke arah Tomy, “kamu nggak ngasih tahu Abel Tom kalau kamu menemuiku?” tanya Mila dengan nada yang lebih tenang.


Tomy kembali menelan salivanya, “kamu pikir aku bisa kesini jika dia tahu” jawab Tomy yang masih pias,


Sementara Arya melihat wajah Tomy dengan senyuman menang.


“kamu gimana Mil?, mau pulang atau balik ke sekolah?” tanya Arya pada Mila, “balik ke sekolah, aku masih ada jam ngajar nanti siang, apa lagi tadi aku juga meninggalkan kelasku, pasti nanti ada masalah yang harus ku selesaikan” ucap Mila yang ingat bahwa ia meninggalkan muridnya yang sedang membuat tugas.


“aku ada cadar lagi di tasku, kamu nggak usah khawatir,” jawab Mila yang di tanggapi Arya dengan anggukan.


*


Di waktu yang sama di pagi itu, 2 mobil mewah berwarna hitam memasuki pekarangan sebuah rumah sakit, kehadiran mobil mewah itu langsung menarik perhatian pengunjung rumah sakit yang sedang ramai di pagi hari itu.


Setelah mobil itu berhenti di depan Loby rumah sakit, 6 orang menggunakan setelan jas mewah langsung keluar disana, 4 orang berkaca mata hitam, berperawakan tinggi dan tubuh tegap dengan memakai alat bantu komunikasi di telinganya segera mengambil posisi melindungi 2 orang paruh baya yan tampil sangat elegan, memperlihatkan bahwa mereka adalah orang penting dari sebuah perusahaan besar. Semua orang melihat ke arah mereka karena memang kehadiran mereka langsung menjadi pusat perhatian di rumah sakit itu.


6 orang itu kemudian segera masuk ke lobby rumah sakit itu, Salah seorang pengawal segera menuju meja resepsionis untuk bertanya, resepsionis itu kemudian melayani pertanyaan pengawal itu dengan ramah, ia kemudian dapat melihat sebuah pin di jas pengawal itu yang bertuliskan AG, yang menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal khusus dari Adinata group, resepsionis itu kemudian memberi hormat dan mengantarkan rombongan 6 orang laki-laki itu menuju sebuah ruangan.

__ADS_1


“terima kasih sus” ucap seorang laki-laki paruh baya yang tampil elegan itu dengan sopan pada resepsionis yang mengantar mereka.


“sama-sama pak” jawab resepsionis tersebut. Setelah itu, suster yang bertugas sebagai resepsionis itu pergi.


Laki-laki paruh baya itu kemudian langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar bersama laki-laki paruh baya lainnya.


Sementara 4 pengawal mereka, berjaga di depan pintu untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka di dalam.


Pak Sarman dan bu Saniah langsung melirik siapa yang masuk ke dalam ruangan itu. Pak Sarman menyipitkan matanya untuk memastikan dugaannya, dan kemudian ia melepas nafas panjang.


“sepertinya kita sudah lama tidak bertemu” ucap pak Sarman dengan santai, 2 laki-laki paruh baya itu kemudian mendekat ke ranjang pak Sarman.


“aku kesini untuk meminta bantuan anda pak, kami hanya datang dengan kosong, tidak bisa menawari anda apapun dengan bantuan yang kami inginkan dari anda” ucap salah seorang laki-laki itu langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka.


“Apa terjadi sesuatu di perusahaan Gibran?” tanya pak Sarman dengan nada datarnya sembari mengalihkan pandangan ke arah jendela, sementara bu Saniah yang sedari tadi duduk di kursi samping ranjang pak Sarman mencoba mengenali siapa 2 orang laki-laki paruh baya itu.


“Tuan Aliando sudah menabuh genderang perangnya, ini akan menjadi pertaruhan besar bagi nama baik Tuan Gibran yang telah tercoreng, dan juga nama besar keluarga Adinata” ucap laki-laki itu.


“Apa maksudmu Rahman?, perang apa yang kamu bicarakan?” tanya Pak Sarman yang langsung melihat laki-laki paruh baya bernama Rahman itu dengan heran, begitu pun dengan bu Saniah, ia melihat Rahman dengan pandangan bingungnya.


“mungkin ini akan menjadi pertarungn terakhir kami, karena hanya kekalahan yang hampir pasti kami dapatkan dari perang ini, setelah perang ini mungkin kami akan bernasib sama sekretaris Arjun, dan orang-orang yang setia pada tuan Gibran lainnya” ucap Rahman lagi.


“Tapi kami akan tetap maju, ini lah yang dapat kami buktikan kepada Ruh tuan Gibran yang mungkin saat ini sedang melihat kami, kami bukanlah orang-ornag pengkhianat kepadanya, melainkan kami adalah orang-orang yang setia kepadanya, kami siap mempertaruhkan hidup kami untuk menjaga kehormatan tuan Gibran yang telah tercoreng di mata dunia, hanya dengan ini kami bisa membalaskan kebaikan tuan Gibran yang tidak ternilai kepada kami dan keluarga kami.” ucap laki-laki itu lagi dengan penuh makna.

__ADS_1


Pak Sarman menarik nafas panjang mendengar itu semua, “sepertinya aku akan melihat pertarungan bisnis dan politik seperti ini lagi, tapi sepertinya aku tidak akan terlibat langsung di arena seperti dulu, putriku ini akan menggantikan posisiku nanti” ucap pak Sarman sembari melirik bu Saniah, sementara bu Saniah hanya bisa menelan salivanya mendengarkan ucapan ayahnya.


__ADS_2