
Aliando melengus nafas kesal ketika 2 orang suruhannya itu tidak bisa menemukan Indra,
“kalian ini gimana? mencari anak itu saja tidak bisa” ucapnya dengan marah, “atur jasad mereka, hilangkan semua bukti, dan jalankan sesuai rencana, atur semua berita media, bilang saja Gibran frustasi, masalah kejiwaan atau yang lainnya, satu lagi laporkan juga jika Gibran telah membunuh anak itu dan membuang jasadnya sebelum membunuh istrinya, lakukan semuanya dengan bersih jangan sampai ada satu pun jejak kita disini” perintah Aliando,
“baik tuan, akan saya pastikan semua berjalan sesuai rencana” ucap salah seorang laki-laki itu.
"satu lagi, tetap cari anak itu, pastikan ia benar-benar mati” ucap Aliando yang kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
*
Indra terengah-engah karena terus berlari tanpa henti, ia berlari dan terus berlari sejauh yang ia bisa, jam telah menunjukkan tengah malam, Indra terhenti di sebuah tempat keramaian yang masih beraktivitas di tengah malam itu, tempat itu terlihat seperti area pasar.
Beberapa kendaraan ada yang sedang mengisi berbagai barang ke dalam mobil, dan ada juga beberapa kendaraan yang sedang menurunkan barang. Indra lalu mencoba mendekat ke arah salah satu mobil untuk sekedar meminta air minum, ia telah lama berlari tanpa henti, tubuhnya memucat kehabisan tenaga, pakaiannya basah dan ditangannya masih menenteng sebuah foto.
Belum sempat ia bertanya pada orang yang tengah sibuk menurunkan barang itu, ia mendengar suara seorang laki-laki, “eeh, kenapa anak itu? dia pucat sekali” mendengar suara itu Indra langsung memutar badannya ke arah sumber suara, ia melihat 2 orang laki-laki dewasa memakai jaket hitam tengah memandang heran ke arahnya.
Indra kembali teringat pada orang yang menembak ibunya yang juga memakai jaket hitam, tubuhnya menggigil karena takut, ia kembali berlari meninggalkan orang itu, yang membuat 2 orang itu kembali heran melihatnya.
Indra kembali berlari tak tahu arah mengitari pasar yang telah sepi itu, hingga akhirnya ia benar-benar lelah, ia kemudian mendekat ke sebuah mobil pick up yang berisikan banyak karung di dalamnya, dia kemudian naik ke mobil pick up yang masih terbuka pintu belakangnya, ia menyelinap masuk diantara karung-karung itu untuk menyembunyikan tubuhnya agar tidak terlihat oleh 2 orang yang ia kira sedang mengejarnya. ia memeluk erat bingkai foto ditangannya, hingga akhirnya ia hilang kesadaran karena tubuhnya yang lelah setelah berlari tanpa henti sepanjang malam.
Seorang laki-laki paruh baya menutup pintu belakang mobil pick up itu setelah menyelesaikan pembayaran di toko tempat ia belanja, ia kemudian masuk ke dalam mobilnya, menghidupkannya dan kemudian pergi meninggalkan kota Jakarta.
12 Jam mobil itu menempuh perjalan dari ibu kota, hingga akhirnya mobil itu sampai juga di tempat tujuannya, 12 jam perjalanan itu juga Indra beristirahat di mobil itu tanpa sadar kemana ia pergi, ia terbangun ketika matahari menerpa terik kepalanya, ia membuka mata dan mendapati foto yang ia pegang telah retak karena terombang ambing selama perjalan.
Laki-laki paruh baya yang membawa mobil tersebut telah keluar dari mobilnya, seorang perempuan paruh baya langsung keluar dari rumah tempat mobil itu berhenti, perempuan paruh baya itu kemudian mendekat ke arah suaminya yang baru saja pulang dari ibukota, ia mencium tangan suaminya, sembari mengusap lembut lengan suaminya itu.
“bapak beli banyak pupuk lagi” ucap perempuan itu yang terdengar jelas oleh Indra.
“iya bu, lumayan bisa kita jual lagi disini” ucap laki-laki paruh baya itu,
“ibu bikinin kopi dulu ya” ucap perempuan itu yang kembali masuk ke dalam rumah mereka yang sederhana.
laki-laki paruh baya itu mulai membuka pintu belakang pick upnya dan menuruni karung-karung itu satu persatu. Wajah Indra memucat takut, ia memeluk erat foto yang ada di dalam dekapannya, ‘ayah ibu, aku takut’ batinnya menangis bersama deraian air matanya,
laki-laki itu kemudian membelalak kaget ketika mendapati Indra ada di dalam bak mobil pick up nya,
“ini anak siapa?” ucapnya bingung yang terdengar oleh istrinya yang telah kembali dengan membawa segekas kopi.
“siapa pak?” tanya istrinya, “ini bu, ada anak orang di dalam sini” istrinya kemudian
berjalan ke arah suaminya dengan segelas kopi ditangannya, dan mereka sama-sama menatap heran ke arah Indra,
__ADS_1
“kamu siapa?” tanya perempuan itu, Indra diam, ia menangis ketakutan dengan tetap mendekap erat foto orang tuanya di pelukkannya.
“aduh pak, dia nangis, bapak bicara apa padanya? kok dia bisa nangis gini” ucap perempuan itu pada suaminya,
“bapak nggak bicara apa-apa bu, ibu bawa dia ke dalam dulu gih, bersihin itu bajunya, kotor sekali, nanti kita bawa ke kantor polisi aja bu, dari pada kita dituduh nyulik anak orang” ucap laki-laki paruh baya itu pada istrinya.
Perempuan paruh baya itu naik ke atas mobil mendekati Indra, “ayo sini nak,” ucap perempuan itu, namun Indra masih diam membatu bersama deraian air mata yang tak mau berhenti bersama ingatannya pada ayah dan ibunya, “astagfirullah pak, ini darah” ucap perempuan itu tak percaya melihat baju Indra.
*
Tubuh Indra telah dibersihkan, bajunya telah diganti oleh perempuan paruh baya tersebut dengan baju anaknya yang juga seumuran dengan Indra. Ia sedikit memaksa ketika memandikan Indra dan mengganti baju Indra karena Indra hanya diam tak mau bergerak.
Tomy tengah asyik menonton tv, dan Indra duduk di belakangnya, sementara sepasang suami istri paruh baya itu melihat Indra dari arah meja makan di rumah kecil itu,
“bapak bawa dia darimana?”
“bapak nggak tahu bu, tiba-tiba saja dia sudah ada di mobil bapak saat bapak nurunin pupuk tadi”
“apa bapak bawa dia dari Jakarta?”,
“ntahlah bu” jawab laki-laki itu,
Kartun yang ditonton Tomy telah habis dan sekarang tv itu telah berubah tayangan menjadi tayangan berita, dan berita utama yang langsung hadir adalah berita pembunuhan yang dilakukan seorang pengusaha muda.
“astagfirullah, ibu nggak salah kan” ucap perempuan itu mendekat ke arah Indra dan memastikan dugaannya,
"ada apa bu?” ucap suaminya yang juga mengikuti langkah istrinya itu, dan mereka sama-sama kaget ketika menyadari bahwa wajah dibalik foto retak itu sama dengan wjah di telivisi yang menampilkan wajah Gibran Adinata, Naina Adinata dan Indra Adinata,
“permisa, pengusaha besar Gibran Adinata, pemilik Adinata group, ditemukan tewas di rumahnya sendiri, ia diduga stress dan membunuh anak serta istrinya dengan sebuah pistol yang ditemukan di tangannya. ia diduga bunuh diri setelah membunuh keluarganya, sampai saat ini pihak kepolisian tengah mencari jasad anaknya yang belum ditemukan, pihak kepolisian menduga Gibran Adinata membunuh anaknya terlebih dahulu dan membuangnya di luar rumah, dan kemudian kembali ke rumahnya untuk membunuh istrinya sebelum ia bunuh diri, hingga berita ini diturunkan, jasad anak Gibran adinata, Indra adinata masih belum ditemukan” ucap penyiar berita yang terdengar jelas di telinga Indra dan sepasang suami istri paruh baya di dekatnya,
“ayahku bukan pembunuh” ucap Indra yang terdengar oleh sepasang suami istri itu,
Perempuan paruh baya itu langsung memeluk Indra, “kami tahu” jawabnya atas ucapan Indra,
“pak, kita rawat anak ini, dia akan menjadi saudara Tomy” ucap perempuan paruh baya itu,
“nggak bu, dia harus kembali ke Jakarta, semua orang sedang mencarinya” tolak laki-laki paruh baya itu pada permintaan istrinya,
“nggak bibi, aku nggak mau pulang, dia pasti akan membunuhku, dia membunuh ayah ibuku, dia pasti akan membunuhku untuk merebut semua milik ayah” teriak Indra histeris dalam pelukkan perempuan paruh baya itu yang ikut menarik perhatian Tomy,
Laki-laki paruh baya itu sejenak mengangguk paham, seolah ia dapat mengerti apa yang terjadi pada Indra, “mulai sekarang dia anak kita bu” ucap laki-laki itu,
__ADS_1
“apa dia menjadi saudaraku?” tanya Tomy dengan antusias,
“iya, dia sekarang menjadi saudaramu Tom, kamu harus menjaganya, apapun yang terjadi” ucap laki-laki paruh baya itu menatap tajam ke arah Tomy,
“siapa namanya yah?” tanya Tomy polos, ia seolah tidak takut dengan tatapan tajam ayahnya.
“ind..” ucap perempuan paruh baya itu yang langsung di potong oleh suaminya,
“Arya,, ya namanya Arya” ucap laki-laki itu spontan, ia kemudian melirik ke arah istrinya,
“Arya apa yah?” tanya Tomy lagi,
“Arya,, Arya Ra,,ma,,, Ramadana, ya namanya Arya Ramadana” ucap laki-laki itu lagi, ia kemudian mendekat ke arah istrinya, ia lalu berbisik,
“identitasnya harus kita sembunyikan mulai sekarang, kita tidak tahu siapa yang mengincar nyawanya.”
Tomy melihat saudara barunya yang bernama Arya itu dengan wajah berbinar,
"hai Arya, aku Tomy, sekarang aku adalah kakakmu" ucap Tomy tersenyum pada Arya, namun Arya melihat Tomy dengan perasaan tidak senang, ia merasa lebih tua dari pada Tomy, dan sejak itulah permasalahan siapa yang lebih tua selalu menjadi masalah diantara mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai, buat teman-teman yang belum baca season 1 dari novel ini, dibaca dulu ya, judulnya Menikah Karena Janji agar paham dengan alur konflik antara Hubungan Arya dan Mila, jangan lupa like, komen dan votenya, terima kasih udah singgah ke karyaku
__ADS_1