Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Tomy masih duduk melamun di atas potongan kayu sembari menatap kosong danau es di depannya, kedua tangannya memeluk tubuhnya yang juga mulai diselimuti es.


Tomy mendengar suara es jatuh di sebelah kirinya, “Arya, kau kah itu?” ucap Tomy, ia kemudian menoleh ke arah kiri, tidak ada siapa-siapa disana, Tomy kemudian melepas nafas panjang, ia kemudian kembali melakukan hal sebelumnya, melamun menatap kosong danau es di depannya.


Dan lagi-lagi Tomy mendegar suara es jatuh, namun kali ini dari sebelah kanannya, ia langsung menoleh ke arah kanannya “Arya kau kah itu?” tanya Tomy lagi, namun ia tidak melihat siapa-siapa disana.


Tomy kemudian kembali ke posisi semula, dan lagi ia mendengar suara es jatuh dan langsung menoleh ke arah kanannya lagi, disana ia dapat melihat dari kejauhan seorang laki-laki tengah berjalan ke arahnya. Tomy tersenyum dan perlahan es di sekitarnya mulai meleleh.


Sementara Tomy yang tersenyum di alam bawah sadarnya, dokter Karina dan Arya masih menatap dalam mata mereka masing-masing.


Saat Arya tersadar dengan keadaan, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah Tomy, melihat sikap Arya itu, dokter Karina kembali melepas nafas kecewa. Ia sudah berusaha mengungkapkan rasa cintanya melalui tatapan matanya, namun Arya malah berpaling darinya.


“kamu sepertinya lelah Karina, kembalilah ke ruanganmu untuk istirahat” ucap Arya yang mencoba mencairkan suasana.


“aku tugas sampai pagi, mana mungkin aku istirahat, yang lelah itu kamu Arya, kamu pasti dari luar kota kan, dan sekarang malah harus kesini, istirahatlah, aku akan menjaga mu disini” ucap dokter Karina penuh arti.


Suasana diantara mereka menjadi hening, karena Arya tidak menjawab ucapan dokter Karina sama sekali, sejenak Arya berpikir tentang apa yang terjadi, pikirannya melayang, bekerja memikirkan tentang dirinya, Mila dan juga Arnes.


‘besok aku harus menemui Mila, semua harus selesai besok, aku harus segera menemukan bidadari surgaku, menikahinya, menumbuhkan rasa cinta untuknya, hidup saling mecintai seperti kakek dan nenek’ batin Arya sembari mengingat lagi kemesraan sepasang suami istri yang telah berusia senja, yang ia temui di salah satu desa di Sulawesi, yang telah ia anggap sebagai kakek dan neneknya sendiri.


‘nek, aku akan membawa bidadari surgaku itu kepadamu nanti, itu janjiku’ batin Arya lagi.


Arya mendengar hembusan nafas yang teratur dari arah dokter Karina, ia kemudian menatap dokter Karina yang telah tertidur karena rasa lelahnya, ia tadi telah memesan kopi untuk mengusir kantuknya, namun kopi itu tidak jadi diminumnya karena kehadiran Arya dan kopi panas itu sudah mulai dingin karena hembusan angin malam di atas mejanya.


Arya masih menatap wajah dokter Karina dengan rasa bersalahnya, ‘maaf Karina, mungkin Allah memang tidak menuliskan takdir kita untuk bersama, aku tidak akan pernah mengkhianati sahabatku sendiri, kamu memang lebih baik dengan Ari, orang baik dan berhati tulus seperti Ari lebih pantas mendapatkan perempuan sebaik dirimu daripada diriku' batin Arya penuh sendu.


*


Di alam bawah sadarnya, Tomy melihat laki-laki itu semakin dekat ke arahnya, dan es-es perlahan mulai mencair menghadirkan kembali hijaunya dedaunan di taman itu. Dan di dunia nyata Arya masih menatap kosong memandang Tomy dengan berdiri di dekat jendela kamar Tomy, jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, dan Arya belum tidur sama sekali, sementara dokter Karina telah ia baringkan di atas sofa agar dapat tidur lebih nyaman.

__ADS_1


Arya melepas nafas panjang, malam itu ia tidak dapat melakukan ibadah rutinnya untuk berkeluh kesah pada Tuhan yang Maha Esa.


Ketika shubuh menjelang ia segera membangunkan dokter Karina, ia berjalan ke arah dokter Karina dan berdiri di samping dokter Karina, ketika tangannya hendak menyentuh bahu dokter Karina, niatnya kembali ia urungkan ‘dia bukan mahromku, aku tidak boleh menyentuhnya’ batin Arya, ia tidak ingin menyentuh perempuan yang bukan mahromnya, walaupun itu hanya pakaian saja, tidak bersentuhan kulit. Karena ia merasa takut jika hal itu menjadi terbiasa akan mendorongnya untuk tidak merasa ragu lagi jika bersentuhan dengan perempuan, Arya kemudian sedikit membungkukkan badannya,


“Karina,, Karina, ini udah mau shubuh” ucap Arya, namun tidak ada respon dari dokter Karina, ‘sepertinya dia benar-benar lelah’ Arya kemudian mengulanginya lagi.


“Karina,, ini udah mau shubuh” dokter Karina mulai menggeliat, ia menggerakkan tangannya ke arah matanya dan mulai mengusap-ngusap matanya untuk segera sadar, ia kemudian duduk dan mencari-cari dimana kacamatanya “ini dimana?” gumamnya yang heran dengan ruangan yang asing dimatanya.


Dokter Karina masih mencari kacamatanya karena ia tidak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata, ketika ia sedang sibuk meraba sana sini, ada sebuah tangan yang memberikan kacamatanya tepat dihadapannya. “terima kasih” ucap dokter Karina lembut, dan ketika ia memasang kacamatanya dan melihat siapa yang memberikan kacamatanya, jantungnya langsung berdetak kencang.


deg,,,deg,,,,


“bangunkan Abel, ini udah mau shubuh” ucap Arya santai.


Dokter Karina masih diam membatu, dia berusaha mengendalikan jantungnya yang berdetak cepat dan membuatnya gugup.


Dokter Karina kemudian menghirup nafas panjang agar dapat berbicara dengan tenang.


“kamu lelah, makanya kamu tertidur, aku tidak lelah, makanya aku tidak bisa tidur” jawab Arya masih dengan nada santai.


‘padahal aku yang ingin menjaganya semalam, kenapa malah dia yang menjagaku, dan aku tidur di sofa ini, apa itu berarti dia berdiri semalaman di situ?’ gerutu dokter Karina pada dirinya sendiri.


"maaf Arya, aku malah menyusahkanmu, seharusnya kamu yang tidur di sofa ini, bukan aku" ucap dokter Karina dengan nada bersalahnya.


Ucapan dokter Karina membuat Arya merasakan sesuatu di hatinya, ia sama sekali tidak mempermasalahkan dokter Karina yang tidur di sofa itu, 'ya Tuhan, mengapa Engkau ciptakan Karina menjadi gadis berhati tulus seperti ini, aku benar-benar berdosa karena telah mengabaikan perasaannya selama ini'.


"aku memang tidak bisa tidur Karina, jangan dibahas lagi, bangunkan saja Abel, ini udah mau shubuh" ucap Arya sembari membuang muka dari dokter Karina,


Dokter Karina melepas nafas panjang, ia lalu berdiri dan berjalan ke arah Abel untuk membangunkan anak itu.

__ADS_1


Ketika Abel terbangun ia langsung menyadari kehadiran dokter Karina, dan yang membuatnya kaget adalah Arya sudah ada di kamar itu, “Arya” ucap Abel tak percaya dengan apa yang ia lihat, “lain kali jangan sentuh tangan Tomy sebelum kalian menikah, atau Tomy akan marah kepadamu” ucap Arya datar pada Abel.


Abel kemudian secara spontan melepas genggamannya pada tangan Tomy, ia mulai merasa takut, jika Tomy sadar ketika ia tidur dan ia sedang memegang tangan Tomy, Tomy pasti akan marah kepadanya, karena selama ini Tomy tidak ingin menyentuhnya sebelum mereka menikah.


Abel kemudian melepas nafas panjang untuk menenangkan dirinya, ia kemudian menatap dokter Karina dengan tatapan berbinar, “apa Tomy akan segera sadar?” tanya Abel dengan pikiran polosnya


“kita berdoa saja ya, inshaAllah Tomy akan segera sadar”.


*


Pagi itu cahaya mentari cukup cerah, panas matahari menerpa bumi dengan hangat di hari minggu itu, Mila dapat bersantai di hari libur itu untuk menenangkan pikirannya dari semua pekerjaannya di sekolah, serta dapat menenangkan pikiran dari segala macam beban hidupnya dengan tiduran dan bermalas-malasan di kamarnya.


Mila baru saja menyelesaikan sarapannya, untuk sejenak ia kemudian melirik ke arah Vanessa sebelum masuk ke kamarnya, dan ia mendapati Vanessa juga tengah melihat ke arahnya. “kenapa kakak menatap ku seperti itu?” tanyanya dengan heran melihat tatapan Vanessa,


“hari ini kita berangkat jam berapa untuk menjenguk Tomy,?”


“habis zuhur aja ya kak, mana tahu nanti Abel tidak ada disana, jadi aku bisa masuk ke dalam buat ngelihat Tomy” ujar Mila, ia kemudian bangkit dan segera masuk ke dalam kamarnya, sementara Vanessa melepas nafas panjang ketika melihat piring kotor yang ditinggalkan Mila,


'aduhh, kapan sih Mil kamu berubahnya, kamu sudah punya suami, untuk nyuci piring aja belum sadar juga’ kesal Vanessa, ia segera mencuci piring tersebut, membersihkan meja makan dan kemudian melangkah ke kamarnya. ya begitulah kegiatan di rumah itu, tidak ada hal menarik sama sekali, sekalipun itu adalah hari libur.


Arya tengah berjalan menuju pintu teras samping rumah itu, ia kemudian membuka pintu itu, dan pintunya terkunci, 'kenapa rumah ini selalu sepi sih' gumamnya pelan.


Arya kemudian mengeluarkan kunci pintu yang masih ia pegang, ia kemudian langsung melangkah ke kamar Mila untuk menuntaskan niat hatinya.


Pintu kamar Mila terdengar diketuk seseorang dari luar. Mila yang sedang asyik melihat barang-barang di toko online kemudian bangkit melengus nafas kesal, ‘ada apasih kak Vanessa kesini?’


Mila kemudian membuka pintu kamarnya, dan matanya membulat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintunya, berbeda dengan Arya yang saat itu memasang wajah datar melihat ke arah Mila. Tidak ada lagi rasa dihatinya, bahkan melihat wajah cantik Mila tanpa menggunakan cadar, tidak lagi menarik untuknya.


Mila kemudian tersenyum melihat Arya, rasa takut kehilangan Arya itu telah buyar semua, karena Arya sendiri yang datang kepadanya, perasaan senang menyeruak dari hatinya, laki-laki yang ia nantikan kabarnya sekarang berdiri tepat di depannya, ia segera mendekat kepada Arya dan langsung memeluk suaminya yang sangat ia rindukan itu, ia melepaskan semua rasa dihatinya di dalam pelukannya pada Arya.

__ADS_1


“aku merindukanmu pangeranku”


__ADS_2