
“aku rasa aku harus berterima kasih pada istrimu yang mau mendapatkan kenikmatian itu dariku bukan suaminya sendiri” ucap Arnes lagi yang tersenyum sinis pada Arya.
Arya hanya diam dan segera menghidupkan motornya, ia harus segera pergi meredakan gejolak marah dan cemburu dihatinya, Arnes akhirnya tersulut emosi lebih dulu karena Arya yang mengabaikannya, rasa hormanya sebagai anak CEO Adinata terasa direndahkan, ia kemudian memukul punggung Arya dengan keras hingga Arya terjatuh bersama motor bebeknya.
“lawan aku, berani-beraninya kamu merebut Mila dariku, kamu pikir siapa dirimu, kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa sekarang” oceh Arnes lagi dengan emosi.
Arya memejamkan matanya menahan rasa sakit dan rasa marah, ‘sabar Arya, sabar, jangan merusak apa pun, hari ini, perjalananmu masih panjang’ batin Arya menguatkan kesabarannya.
Sementara itu, 2 orang bodyguards Arnes melihat pemandangan itu dengan tatapan lapar mereka, mereka sudah siap memukul Arya jika laki-laki itu berani membalas pukulan Arnes.
“ayo bangkit, lawan aku” ucap Arnes dengan sinis.
Arya memilih diam dan kemudian berusaha mendirikan lagi motor bebek kesayangannya. Ia masih bersikap datar dan kemudian kembali menghidupkan motornya.
Arnes yang masih terbawa emosi dengan sikap Arya kembali melayangkan pukulannya, namun Arya kali ini dengan sigap menarik tangan Arnes yang memukulnya, ia memutar tangan Arnes kebelakang tubuh Arnes hingga tangan itu terasa akan copot dari tubuh Arnes karena kerasnya Arya menahan tangan itu.
"aw, aduh sakit" teriak Arnes.
Arya semakin menguatkan tekanan di tangan Arnes hingga sendi lengan dan bahu seakan terputus, "aw,aw,, lepas sialan" teriak Arnes menahan sakit.
Arya masih bersikap datar dan berbisik ke arah Arnes yang membelakanginya.
“jangan tuduh istri gue sembarangan” ucap Arya dengan dingin, ia kemudian segera mendorong tubuh Arnes hingga terjatuh dan kemudian Arya berlalu pergi dengan motornya.
__ADS_1
2 orang body guards Arnes segera mendekat namun mereka terlambat karena motor Arya sudah berlalu pergi menjauh.
Arnes melihat kepergian Arya dengan mata dendamnya, harga dirinya terasa diinjak -injak oleh Arya, ia kemudian melihat ke arah body guards dengan mata penuh amarah, "kalian ini aku bayar mahal, tapi kerja nggak becus sama sekali" marahnya.
"ma,,maaf bos," ucap 2 orang itu tertunduk takut.
*
Arya menjalankan motornya dengan pelan, ingin sekali ia melawan semua kata -kata Arnes yang melecehkan istrinya itu, namun ia juga masih berpikir panjang, jika ia membangkitkan rasa cemburu Arnes, itu bisa saja membuat laki-laki itu semakin terobsesi buta pada Mila dan berbuat nekat pada Mila. Hal yang mungkin akan ia sesali nanti jika hal buruk itu terjadi pada istrinya.
‘mungkin benar kata Tomy tadi, Mila pasti akan terlibat besar dalam masalah Adinata ini, Mila adalah titik lemahku yang bisa dimanfaatkan oleh musuhku’ batin Arya yang masih berpikir dengan akal sehatnya.
'aku harus memikirkan cara agar Mila tidak terlibat dalam masalah ini, jika aku kembali melibatkan perasaan dalam masalah ini, semua rencana teman -temanku akan hancur oleh perasaanku sendiri' batinnya.
*
Arya berkali -kali mengusap kasar wajah dan rambutnya yang sedikit panjang selama berjalan dari lantai dasar tempat ia memakir motornya di gedung apartemen yang ia huni untuk sementara waktu. Ia masih berusaha menahan gejolak di dalam dadanya.
Saat Arya membuka pintu apartemen, ia masuk dengan mengucapkan salam dengan nada pelan.
Mila yang sudah menunggunya sedari tadi di dekat ruang tamu langsung berdiri menjawab salam Arya, Mila segera mencium tangan suaminya seperti biasa.
Namun ia merasakan keanehan saat itu, sikap Arya terasa dingin dari biasanya, Arya juga tidak mencium keningnya seperti yang biasa dilakukan suaminya itu saat ia selesai mencium tangan Arya.
__ADS_1
Mila kemudian segera mengambil belanjaan ditangan Arya dan juga tas kerja Arya. “kamu marah padaku Arya?” tanya Mila dengan bingung melihat ekspresi dingin wajah suaminya.
Arya hanya diam, ia kemudian segera masuk ke kamar tanpa memperdulikan Mila, ia tidak ingin melepaskan rasa marah dan cemburunya pada Mila. Ia tidak ingin ada masalah lagi yang akan menyakiti hatinya, rasanya terlalu sakit untuk menghadapi masalah lagi, apa lagi masalah karena ocehan Arnes.
Mila yang heran kemudian segera mengiringi langkah Arya menuju kamar mereka, sepasang suami istri itu mengabaikan Vanessa yang tengah menikmati camilan sembari menonton tv di ruang tengah.
Sementara Vanessa sendiri hanya menatap mereka dengan bingung, ‘ya Tuhan, masalah apa lagi ini’ pikir Vanessa yang kebingungan melihat Arya yang berjalan ke kamar dengan wajah datar dan juga Mila yang memasang mata khawatir mengikuti langkah Arya.
Mila melihat bingung pada Arya yang masih tampak dingin, laki-laki itu bahkan melempar jas dan dasinya ke sembarang arah hingga terjatuh ke lantai. Mila segera meletakan tas kerja Arya dan kantong belanjaannya di atas ranjang dan ia dengan segera memungut jas dan dasi Arya yang berserakan di lantai.
“Arya, kamu kenapa?, kamu marah karena aku belanjaan itu?” tanya Mila yang masih bingung, ia merasa telah membuat malu Arya karena meminta Arya membeli barang -barang itu. Tapi ia sendiri juga tidak memaksa Arya untuk membeli semua barang itu untuknya.
Arya masih diam, ia membuka satu persatu kancing bajunya dengan masih berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Mila kemudian mendekat dan menarik tangan Arya untuk melihat ke arahnya. Matanya menatap dalam manik mata Arya yang tampak datar dan dingin.
“katakan Arya, ada apa?, kenapa kamu marah kepadaku?, kamu marah karena belanjaan itu?” tanya Mila dengan mata berkaca-kaca.
Arya menarik nafas kasar melihat mata Mila, ia masih lemah menghadapi rasa marah dan cemburunya sekalipun ia tahu apa yang dikatakan Arnes hanyalah omong kosong.
Laki -laki itu bahkan menceritakan tubuh wanita lain kepadanya, seolah -olah laki-laki itu telah melihat tubuh polos istrinya.
Bayang -bayang pengkhianatan itu masih jelas dalam pikirannya, hal yang membuat hatinya terasa memanas, bertarung melawan rasa tidak percayanya kepada Mila. Ingin sekali ia membuang bayangan itu, membuang rasa marah, cemburu, dan sikap posesifnya, namun ia hanya manusia biasa yang akan lemah jika sudah menghadapi masalah perasaan. Hatinya hanya bisa menangis menahan sesak agar tidak keluar semua rasa itu di wajah dan sikapnya.
Arya menarik Mila untuk mendekat kepadanya, ia membuka cadar Mila dengan satu gerakan dan langsung mencium bibir istrinya, Mila yang kaget dengan perlakuan Arya yang aneh itu langsung mendorong tubuh Arya hingga ciuman itu langsung terhenti.
__ADS_1
“kamu menolakku Mil?” tanya Arya dengan datar, rasa dihatinya membuat sikapnya semakin sulit ia kontrol.