
Abel segera menuju rumah sakit dengan mengendarai mobilnya, setelah Arya pamit ke kantornya, Abel langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya, ia kemudian segera pergi dengan pamit hanya melalui pesan chat kepada adiknya, entah mengapa perempuan polos itu tak pernah berpikir panjang dengan apa yang ia lakukan, padahal sepanjang malam ia hanya bisa menangis meratapi keadaannya karena hatinya dilukai oleh Tomy, tapi sekarang ia sudah sangat bersemangat untuk menemui calon suaminya itu.
Ucapan Arya bahwa ia adalah yang pertama bagi Tomy dan Tomy menginginkannya sebagai yang terakhir benar-benar membuatnya melayang ke angkasa, bahkan ketika mengingat ucapan Arya itu membuatnya meneteskan air mata karena terharu.
Ia baru merasakan seperti apa dihargai dan dihormati sebagai seorang perempuan oleh laki-laki. Laki-laki yang bahkan menilainya sangat berharga dari apapun, itulah yang ia rasakan setelah mendengar ucapan Arya tadi.
Sikap polos Abel membuatnya mudah dipengaruhi oleh kata-kata laki-laki yang dekat dengannya, ia bahkan tidak bisa menilai mana laki-laki yang benar-benar tulus dan mana yang sekedar main-main dengannya.
Pengalaman yang telah banyak ia rasakan setiap kali menjalin hubungan dengan laki-laki adalah di beri janji-janji manis kemudian di duakan, bahkan ada juga mantannya yang merayunya untuk berbuat hal yang tidak-tidak, hal yang membuatnya selalu meringis sedih menahan luka di hati karena merasa tak dihargai dan dihormati.
Namun ia menemukan hal yang berbeda dari Tomy, Tomy tak pernah umbar janji apapun kepadanya, melainkan saat Tomy berkata, ia langsung segera menepatinya. Saat Tomy berkata akan ke Jakarta, keesokan harinya laki-laki itu pasti sudah ada di Jakarta, ketika Tomy bilang akan melamarnya. 2 hari kemudian Tomy datang bersama Arya untuk menemui orang tuanya. Hal simpel yang tidak pernah ia temui dari laki-laki yang berpacaran dengannya sebelum ini.
Dan satu hal yang benar-benar membuat Abel melabuhkan hatinya pada Tomy adalah pada saat Tomy mengungkapan perasaannya.
‘aku tidak mau main-main denganmu Bel, jika kamu ingin aku mendampingimu di sisa hidup kita, tolong terima perasaanku, tapi jika tidak, tolong tolak aku setegas mungkin’ kalimat yang masih terngiang-ngiang di telinga Abel sampai saat ini. Kalimat yang tidak pernah keluar dari mulut laki-laki yang ia kenal sebelumnya, yang biasa berkata ‘maukah kamu jadi pacarku’.
Ketika Tomy mengucapkan kata itu, Abel seperti menemukan pelabuhan untuk hatinya yang sudah lelah dengan banyak laki-laki, yang hanya memberinya harapan palsu dan kemudian mencampakkan hatinya seolah seperti barang yang tidak berharga, hal yang biasa membuat dirinya yang polos itu harus meratapi sakit hati di dalam kamar berhari-hari.
‘Tom, kamu benar-benar mau menerimakukan, kamu benar-benar ingin aku yang terakhir dihidupmukan’ batin Abel masih dengan terharu sedih.
Abel langsung bergegas berjalan ke ruangan Tomy, tanpa basa basi ia masuk ke dalam ruangan Tomy dan mendapati Tomy tengah menatap ke arah ponselnya.
Mata Tomy langsung melihat ke arah Abel yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mata mereka langsung bertemu dan saling melepas rindu di dalam tatapan itu, Abel tak sanggup lagi menahan perasaannya, ia langsung berjalan cepat ke arah Tomy dan tanpa basa basi langsung memeluk laki-laki itu.
“Apa Arya sudah menemuimu tadi?” tanya Tomy sembari tersenyum. Ia ingin sekali melepas pelukkan Abel, tapi ia takut akan membuat gadis itu kembali marah padanya.
__ADS_1
“kamu kok tahu?, Arya sudah mengatakannya padamu?” ucap Abel sembari menahan suaranya yang terasa habis karena tak kuat lagi menahan rasa rindu dihatinya yang keluar tanpa bisa ia kendalikan.
“tidak, tapi aku tahu jika ia akan melakukan itu untukku, seperti itulah kami dari dulu, saling menjaga dan saling melindungi seperti ini” jelas Tomy pada Abel.
“aku tahu kamu tidak suka memelukku sekarang, tapi aku mohon izinkan aku untuk memelukmu sebentar saja, aku setengah mati menahan rasa takut kehilanganmu semalaman” ucap Abel dengan nada memohonnya.
“sebentar saja ya Bel, setelah ini kita baru bisa berpelukkan seperti ini setelah kita menikah” ucap Tomy dengan nada lembut pada Abel.
Abel mengangguk lemah mendengar itu semua, padahal Ia sudah merasa nyaman di pelukkan Tomy seperti itu. Pelukkan yang selalu ia ingin ulang ketika pertama kali memeluk Tomy ketika Tomy tidak sadarkan diri, ya, Abel pernah memeluk Tomy ketika masih berada di alam bawah sadarnya, ia melakukan itu untuk menumpahkan rasa takut dan rasa rindunya karena melihat Tomy yang tak kunjung sadar saat itu.
“Tom, kamu mau kan, aku jadi yang terakhir untukmu?” tanya Abel di dalam pelukkan Tomy.
“kami yang pertama dan terkahir untukku Bel” jawab Tomy sembari mengusap lembut kepala Abel di pelukkannya.
“aku meminangmu karena aku sudah menerima apapun keadaanmu dimasa lalu, dan masa yang akan datang, dan mulai sekarang peganglah janjimu bahwa aku adalah yang terakhir untukmu” jawab Tomy penuh makna.
“Terima kasih banyak Tom, aku tidak pernah mendapatkan perlakuan setulus ini sebelumnya” ucap Abel dengan nada terharunya sementara Tomy sementara Tomy tersenyum mendengar itu semua.
“Tom, apa kamu mau memaafkan semua kesalahan ku di masa lalu?” tanya Abel lagi yang kali ini membuat nafas Tomy keluar dengan panjang. Kadang begitulah Abel, sekali ia mulai berbicara, akan sulit ditemukan dimana akhir pembicaraan itu, yang terkadang hal itu membuat lawan bicaranya menjadi kesal, tapi entah mengapa Tomy sangat memahami hal itu.
“pintu maafku sebesar pintu maaf Arya untuk Mila Bel, tapi ada satu hal yang tidak bisa kumaafkan, yaitu jika kamu mengkhianatiku seperti apa yang dilakukan Mila. paman dan bibiku meninggal dunia karena dibunuh oleh orang yang dipercayainya, jika kamu mengkhianatiku, sama saja kamu membunuhku dan tidak akan ada pintu maaf bagimu jika itu kamu lakukan” ucap Tomy yang kali ini berbicara tegas.
“aku tidak akan pernah mengkhianatimu Tom, itu janjiku padamu dan pada Tuhan kita” jawab Abel dengan sungguh-sungguh.
"Tom, apa kita akan bersama seperti ini seumur hidup kita?" tanya Mila lagi yang membuat Tomy mengusapa bahu Abel mendengarnya.
__ADS_1
"kita akan bersama sampai surga jika kita saling menyayangi dan setia sampai kita mati Bel" ucap Tomy yang membuat Abel tersenyum bahagia mendengarnya.
pintu ruangan Tomy terbuka tanpa ada yang mengetuknya terlebih dahulu, hal itu membuat Abel dan Tomy seketika kaget, dan Abel langsung melepas pelukannya pada Tomy. Dokter Karina masuk karena sudah jadwalnya untuk memeriksa Tomy siang itu. Dokter Karina langsung membelalak kaget karena sekilas melihat adegan sepasang insan itu.
“Tomy” ucap dokter Karina setengah berteriak dengan marah, ketika pertama kali Tomy sadar, ia memang tidak marah pada Abel untuk memeluk Tomy, karena ia ingin memberikan ruang bagi Abel untuk menumpahkan rasa takutnya setelah Tomy 2 minggu lebih tidak sadar.
Tapi sekarang rasa marahnya tidak dapat ia tahan lagi, apa lagi bayangan saat Abel mengecup kening Tomy yang masih tidak sadarkan diri langsung berputar di ingatannya, saat itu juga ia membiarkan Abel melakukan hal itu, karena mengerti keadaan gadis polos itu yang takut kehilangan Tomy.
“kamu berani sekali memeluk sahabatku, kalian ini belum menikah” ucap dokter Karina dengan marah pada Abel.
“emang kenapa?, Tomy aja nggak marah kok” bela Abel pada dirinya sendiri.
“kamu sadar nggak, yang kamu lakukan itu salah, kamu nggak seharusnya memeluk Tomy”
“aku sadar, tapi Tomy mengizinkanku untuk itu kok”
“tapi kamu seharusnya tahu diri, kalian itu belum menikah”
“tapi Tomy tak masalah dengan itu, kok malah dokter yang jadi marah"
“wajar aku marah, aku sahabatnya Tomy”
“Karina,,Abel,,, kalian jangan bertengkar dong” ucap Tomy yang sudah pias melihat perdebatan 2 perempuan itu.
“Diammm!!!!!” teriak Abel dan dokter Karina serentak sembari sama-sama melihat ke arah Tomy dengan mata melotot tajam, yang membuat laki-laki itu pucat seketika.
__ADS_1