Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kenapa Malaikat Kecil?


__ADS_3

Arya memperhatikan setiap pemeriksaan yang dilakukan dokter Karina kepada Mila. Ia melihat dengan teliti setiap apa yang dikerjakan dokter Karina kepada istrinya.


Ia benar -benar khawatir dengan kondisi Mila, apalagi Mila beberapa hari ini tampak lemah. “gimana Karina?, apa istriku baik-baik saja?” tanya Arya ketika dokter Karina selesai memeriksa Mila.


Dokter Karina tersenyum kepada Arya, “selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah” ucapnya menahan rasa getir dihatinya.


Mata Arya membulat, “istriku hamil Karina?” tanyanya dengan nada kaget yang tidak bisa ia sembunyikan,


“iya, tapi kandungannya masih sangat muda, aku akan buat surat rujukan ke dokter kandungan, agar kondisi kandungannya bisa diperiksa lebih lanjut” jawab dokter Karina, ia berusaha tersenyum melihat kebahagian Arya, air mata Arya bahkan menetes haru mendengar kabar itu.


'terima kasih Tuhan, terima kasih, terima kasih atas rahmat-Mu yang tak terhingga ini, aku tak tahu harus seperti mensyukuri karunia-Mu ini, terima kasih telah mempercayai kami dengan memberi kami malaikat kecil' batin Arya dengan rasa bahagianya.


“seharusnya kamu menjaga dia lebih baik lagi, dia pasti lagi banyak pikiran sampai pingsan gini, perasaannya pasti sensitif sekali sampai menguras emosi dan tenaganya, tapi kamu tenang saja, sebentar lagi dia juga sadar” gumam dokter Karina.


Arya kemudian duduk di sisi ranjang Mila dan mencium tangan istrinya itu. “terima kasih Karina, tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Arya yang masih memancarkan senyum bahagianya.


“yang jelas kamu harus menjaga emosional tetap stabil, perasaannya sepertinya sangat sensitif sampai menguras tenaganya, dan juga jangan biarkan dia berpikir keras dan stress. Ini pengalaman pertama untuknya, jadi kamu harus membantunya, kandungan di usia muda seperti ini masih sangat rentan Arya” jelas dokter Karina.


Arya mengangguk pelan menandakan paham dengan dokter penjelasan yang diberikan dokter Karina, “kalau begitu aku tinggal dulu ya, nanti aku kembali membawa surat rujukan untuk dokter kandungan, agar nanti kalian tidak perlu antri lagi disana” ucap dokter Karina sembari pamit pergi.


“terima kasih karina” jawab Arya dengan pelan.


Dokter Karina tersenyum ia berjalan ke arah pintu, ‘aku sudah ikhlas Arya, semoga kamu selalu bahagia dengannya,’ batin dokter Karina sembari berlalu pergi.


“Karina” panggil Arya yang teringat sesuatu ketika mengingat kata dokter kandungan, dokter Karina yang hendak menarik gagang pintu kemudian kembali memutar badannya.


Arya berjalan mendekati dokter Karina, “kamu pernah memeriksa kesuburan kak Vanessa?” tanya Arya langsung kepada intinya.


“kak Vanessa?”


“iya, dia perempuan yang biasa bersama Mila” jelas Arya.


“aku rasa tidak”


“coba kamu cek dulu datamu, aku butuh hasil tes itu Karina” ucap Arya yang membuat dokter karina menatap bingung.


“kamu yakin dia pernah tes sama aku, aku bukan dokter kandungan Arya”

__ADS_1


“emang kamu nggak pernah melakukan tes kesuburan orang?”


“dulu aku pernah membantu dokter kandungan untuk memeriksa hal seperti itu, karena rumah sakit ini kekurangan dokter, tapi sekarang tidak lagi, karena itu bukan bidangku” jelas dokter Karina.


“kamu cek dulu, mana tahu ada” ucap Arya, ia masih ingat betul jika hasil tes Irman yang dicuri orang suruhan Ari ditanda tangani oleh dokter Karina.


dokter Karina melihat datar kepada Arya, “sekalipun ada, aku tidak bisa memberinya kepadamu, itu data pasienku”


“itu bukan untukku Karina, tapi untuk Kak Vanessa sendiri” jelas Arya, dokter Karina mengangguk pelan.


“aku cari dulu ya, kalau ada, nanti ku kasih kepadamu” ucap dokter Karina menatap Arya dengam wajah tenang.


“satu lagi Karina, aku harap kamu bisa menerima Ari, kamu juga harus bahagia, Ari sangat tulus padamu”


“Ari sudah memutuskannya Arya, dia tidak seserius yang kamu pikirkan, jangan pikirkan diriku, pikirkan saja istrimu, aku turut bahagia dengan kebahagianmu ini” ucap dokter Karina dengan tersenyum sembari keluar dari ruangan Mila. Ketika sudah berada diluar ruangan itu, dokter Karina menatap ke arah Tomy dan Ari secara bergantian.


Arya menarik nafas panjang dan kembali ke sisi Mila. Ia naik ke atas ranjang Mila dan mencium kening, pipi, hidung, dan bibir Mila yang memang cadarnya telah dibuka oleh Arya.


Saat Arya mencium bibir Mila, Mila membuka matanya, ia dapat merasakan hangat dibibirnya, Mila kemudian menyentuh wajah Arya yang membuat Arya melepaskan ciumannya, “kamu sudah sadar sayang” ucap Arya menatap haru bahagia pada istrinya.


“Arya, aku dimana?” gumam Mila.


Mila sejenak memejamkan matanya sampai kesadarannya kembali sempurna. Ia seketika teringat dengan ucapan Ari dan Tomy tadi diruangan Arya.


“Arya, aku,,,keluargaku”,


“ssstttt” Arya langsung menghentikan ucapan Mila. Ia kemudian memegang tangan Mila dan mengecupnya dengan singkat, lalu mengarahkannya ke perut Mila.


“jangan pikirkan yang lain dulu, nanti malaikat kecil kita ikut sedih” ucap Arya yang membuat nafas Mila menderu cepat.


“malaikat kecil kita?”


“iya Mil, kamu lagi hamil, jangan pikirkan yang lain dulu, nanti malaikat kecil kita ikut sedih jika bundanya memikirkan hal lain selain dia” jawab Arya dengan tersenyum bahagia pada Mila.


Mila ikut tersenyum haru bahagia mendengar kabar itu “kamu yakin Arya?"


“Iya Mil, Karina sudah memeriksamu tadi, sekarang kita tunggu surat rujukan dulu dari Karina, agar kamu bisa segera diperiksa dokter kandungan” jelas Arya, ia mencium dalam kening Mila yang tampak bahagia, bahkan kabar bahagia itu membuat mata istrinya berkaca-kaca.

__ADS_1


“aku hamil Arya, aku akan jadi ibu” gumam Mila dengan haru.


"iya Mil, kamu akan menjadi ibu dan aku akan menjadi ayah, malaikat kecil kita ini penyempurna kebahagiaan kita" ucap Arya sembari mengelus lembut perut Mila.


Air mata Mila menetes tanpa bisa ia tahan, kebahagian itu terasa menyentuh setiap sudut hatinya. Lengkap sudah kebahagiaannya, memiliki suami seperti Arya dan sekarang ia akan segera memiliki bayi mungil yang lucu.


"nak, kamu sudah lama diperut bunda,, bunda bahagia sekali kamu udah ada diperut bunda sekarang" gumam Mila sembari mengelus lembut perutnya disamping tangan Arya yang masih ada disana.


Arya kemudian memeluk Mila dengan erat, “terima kasih Mil, kamu benar-benar membuatku bahagia, kamu memberiku hadiah terindah dalam hidupku, aku sayang sama kamu Mil,”


Mila membalas pelukkan Arya juga dengan erat, ’terima kasih Tuhan, terima kasih, terima kasih, aku tak tahu harus berbuat apa untuk mensyukuri anugrah-Mu ini, ini kebahagian yang sempurna bagi kami’ batin Mila yang tersenyum haru di pelukkan suaminya.


“tapi Arya, keluargaku,,” ucap Mila yang kembali teringat ucapan Ari dan Tomy.


“sssttt” potong Arya pada kalimat Mila, Arya melepas pelukkannya dan menatap dalam wajah Mila,


“jangan pikirkan masalah itu, itu akan menyakiti malaikat kecil kita, mulai sekarang pikirkan saja malaikat kecil kita" jawab Arya.


“tapi kata Ari dan Tomy,,,” Arya segera mencium bibir Mila dengan singkat,


“Arya,,, rapat itu,,,,” dan lagi Arya mencium bibir Mila agar istrinya tidak membicarakan masalah itu lagi.


“jangan bicarakan hal itu lagi, atau aku akan terus menciummu” ucap Arya menatap dalam mata Mila.


“tapi rapat itu,,,” dan Arya kembali mencium bibir Mila dengan waktu yang lama, ciuman datarnya berubah menjadi ******* bersamaan hasratnya yang ikut naik.


Mila pun membalas ciuman suaminya, kemesraan mereka berlangsung untuk waktu yang sedikit lama, hingga suara bunyi pintu menghentikan kegiatan mereka. “jika kamu masih membicarakan hal lain, aku akan menciummu di depan orang lain” ucap Arya dengan tersenyum.


“iih kamu, kamu saja yang ketagihan,” gumam Mila dengan kesal.


“ya udah, jangan pikirkan masalah lain lagi, fokus saja sama malaikat kecil kita”


“kenapa kamu selalu mengatakan malaikat kecil sih, kenapa nggak bilang anak saja?” tanya Mila.


“karena dia sama sepertimu, malaikat dalam hidupku jika dia laki-laki, dan bidadari bagiku jika dia perempuan” jelas Arya.


“apa itu berarti kamu ingin anak laki-laki?” tanya Mila.

__ADS_1


Arya menggeleng, “aku hanya ingin dia selamat dan sehat, terserah mau laki-laki atau pun perempuan” jawab Arya.


Sementara orang yang masuk sudah berdiri di sisi ranjang Mila.


__ADS_2