Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Pengkhianatan Yang Sama


__ADS_3

Bu Saniah melihat pak Sarman yang tengah menikmati cahaya hangat matahari pagi di dekat jendela kamar. Keadaan pria tua itu sudah semakin membaik, ia sudah diizinkan oleh dokter untuk duduk di kursi roda dan menikmati hangat matahari yang telah lama tidak ia rasakan.


“yah, aku cari sarapan dulu ya” ucap bu Saniah berpamitan pada pak Sarman, ia ingin mencari sarapan di luar selagi pak Sarman akan berjemur selama satu jam-an disana.


Bu Saniah membuka pintu kamar pak Sarman dan segera keluar. Saat ia hendak melangkah, matanya menyorot tajam pada sosok Arya yang tengah duduk di kursi tunggu di depan ruangan tersebut.


“Arya” gumam bu Saniah yang kaget dengan kehadiran sosok menantunya itu.


Arya kemudian bangkit untuk mencium tangan mertuanya, dan seketika saja bu Saniah menipis tangan Arya. “mau apa lagi kamu kesini?, apa kamu masih ingin menghancurkan kami?” ucap bu Saniah dengan tajam.


Arya menarik nafas panjang, bayang-bayang kemarahan bu Saniah jika tahu apa yang sudah dilakukan Ari terlintas begitu saja di pikirannya.


“aku ingin mengatakan sesuatu kepada ibu”


“kamu mau mengatakan apa lagi?, apa kamu masih ingin membela dirimu dihadapanku?”


“aku akan mengatakannya kepada ibu, tapi tidak disini, aku harap ibu mau ikut dengan ku ke suatu tempat” ucap Arya lagi yang membuat bu Saniah memandang penuh selidik ke arahnya.


Arya sudah mendapat banyak arahan dan nasehat dari para penasehat ayahnya dulu. Ia juga telah mendengar detail rencana dan prediksi apa yang terjadi ke depan dari para penasehat itu. Dulu ayahnya memiliki 5 penasehat, orang yang selalu di mintai arahan dan nasehat dalam membesarkan Adinata group. Namun 2 orang telah menyusul Gibran Adinata menghadap yang kuasa, satu meninggal saat diasingkan Aliando untuk mengurus perusahaam di wilayah timur, dan satu lagi meninggalkan karena sakit.


Arya mengikuti jejak ayahnya dulu, yang tidak gegabah dan selalu mendengar pendapat orang lain dalam mengambil keputusan. Pagi itu, sesuai nasehat dan arahan pak Abdul, pak Budi dan pak Ilham, Arya memberanikan dirinya untuk menemui bu Saniah. Membuka siapa jatidirinya untuk memperbaiki hubungannya dengan mertuanya itu. Sekaligus juga membuka jalan bagi Mila untuk kembali bertemu kakek yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


Dan disanalah mereka berada sekarang, di depan makam Gibran dan Naina, sepasang suami istri itu telah lama meninggalkan dunia ini untuk melihat kehidupan Arya di alam yang berbeda. Bu Saniah melihat kedua makam itu dengan datar, untuk kemudian ia melihat ke arah Arya yang melihat makam itu dengan wajah sedihnya.


“buat apa kamu membawaku kesini Arya?, apa yang ingin kamu ceritakan kepadaku?, atau jangan-jangan kamu,,” ucap bu Saniah seketika terhenti karena spekulasinya sendiri. ‘apa dia benar-benar Indra’


“aku terakhir kali melihat mereka 22 tahun lalu bu, hidupku hancur, aku kehilangan arah, laki-laki itu membunuh ayah dan ibuku, dan dia juga ingin membunuhku, aku hanya bisa lari sejauh yang aku bisa, berharap dia tidak menemukanku, 22 tahun aku hidup dibayangi rasa takut dan traumaku, 22 tahun aku menyembunyikan diriku, lari dari pengkhianat itu bu” jelas arya dengan mata berkaca-kaca.


Bu Saniah menelan salivanya, matanya membulat tak percaya, “jadi kamu benar-benar Indra?” gumamnya.


“maafkan aku bu, aku berbohong kepada ibu waktu itu, aku hanya ingin melindungi diriku bu, tidak ada yang boleh tahu siapa aku, agar aku tetap bisa bertahan menjalani hidupku, orang itu sampai sekarang masih mengejarku” jelas Arya lagi,


Bu Saniah memejamkan matanya, malam itu Arya mengatakan bahwa ia hanyalah anak pegawai rendahan di Adinata group, dan sekarang laki-laki itu mengakui jati dirinya di hadapannya dan di hadapan makam kedua orang tua Arya sendiri. “apa kamu pikir jika ibu tahu semuanya ibu tidak akan melindungimu?,”


“bukankah rapat pemegang saham kemarin sudah membuktikannya bu, keluarga Aliando telah mengkhianati keluargaku, dan kemarin keluarga Rakarsa juga melakukan hal serupa” lanjut Arya lagi yang membuat dada bu Saniah tersentak, ia tidak dapat mengelak lagi dari tuduhan itu.


Arya menarik nafas dalam dan melepaskannya, menenangkan hatinya agar tidak terbawa rasa sedihnya. Ia harus bisa bersikap tenang hingga tujuannya tercapai. Serangan pertamanya sudah berhasil membuat bu Saniah terpojok. Ia harus bisa membuat bu Saniah berada di pihaknya bukan pihak Irman.


“Bukankah itu kenyataannya bu, rasa traumaku benar-benar membuatku takut berada di dekat keluarga istriku sendiri, apa lagi bang Irman, dia benar-benar dekat dengan keluarga Aliando, jika aku mau, aku bisa mengembalikan Mila kepada kalian, dan lepas dari keluarga kalian, tapi masalahnya sekarang Mila sedang mengandung anakku,” ucap Arya dengan nada sedikit menekan.


Bu Saniah dengan cepat menarik lengan Arya agar Arya melihat ke arahnya, “Mila hamil Arya?, dia hamil?”


“iya bu, kandungannya masih sangat muda” jawab Arya dengan singkat.

__ADS_1


“lalu kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit, ayahku pasti akan sangat bahagia dengan kabar itu”


“karena keluarga Rakarsa mengkhianati keluargaku bu, dan ibu sampai detik ini masih marah kepadaku, aku tidak bisa membawa Mila ke rumah sakit, aku juga harus melindungi diriku sendiri saat ini” ucap Arya dengan sedikit emosionalnya.


Namun hatinya dapat merasa lega karena berhasil mengiring pemikiran mertuanya. Dengan satu kalimat lagi mungkin ia bisa merebut hati mertuanya itu dari abang iparnya.


 “kami tidak mengkhianati keluarga Adinata Arya, itu semua murni kesalahan Irman, dia dijanjikan dana besar dari Adinata group untuk perusahaannya, untuk itu dia mendukung Aliando” jelas bu Saniah.


Arya tersenyum sinis sesaat, bu Saniah terasa sudah ada di pihaknya. “lalu aku harus gimana bu?, bukankah dia tetaplah keluarga Rakarsa, aku tumbuh dengan rasa sakit karena pengkhianatan laki-laki itu, apa menurut ibu aku dengan mudah bisa percaya kepada keluarga Rakarsa setelah apa yang dilakukan bang Irman kemarin, aku mau minta maaf kepada ibu jika Mila tidak akan bertemu dengan kalian sampai dia melahirkan, dan mungkin nanti aku akan mengembalikan Mila kepada kalian dan mengambil anakku” jelas Arya lagi yang membuat mata bu Saniah mengeram marah seketika. Ia mendorong tubuh Arya sekuat tenaganya.


“kamu kurang ajar Arya, anakku sudah memberikan hidupnya untukmu, dan kamu ingin membuangnya dan mengambil buah hatinya, hatimu berbeda dengan  hati bang Gibran dan kak Naina yang baik dan tulus, apa kamu ini benar-benar Indra, ha?” ucap bu Saniah yang tidak terima dengan ucapan Arya.


“lalu aku harus gimana bu?, apa ibu bisa mengobati rasa sakit karena pengkhianatan ini? apa ibu bisa mengobati rasa sakit ini, rasa takut ini?”


Bu Saniah menelan salivanya seketika, Arya malah memberikan pilihan sulit kepadanya. “apa kamu ingin aku membuang Irman dari keluarga Rakarsa?, apa kamu ingin itu ha? apa dengan cara itu kamu percaya sama kami?”


“dia ingin menjual istriku, dia mengkhianati kepercayaan ayahku kepada keluarga Rakarsa, lalu menurut ibu apa yang aku inginkan sekarang, apa ibu pikir aku rela dia menjual istriku?, apa ibu pikir aku rela dia mengkhianati ayahku?, ibu bisa lihat sendiri makam ayah dan ibuku ini, mereka seperti ini karena pengkhianatan bu, pengkhianatan bang Irman sama halnya dengan pengkhianatan Aliando bagiku” ucap Arya lagi dengan penuh emosionalnya.


‘ya Tuhan, kenapa sulit sekali mempengaruhi ibu untuk tidak membela bang Irman lagi, aku bahkan sudah mengancam ibu dengan membawa nama Mila dan cucunya, tapi tetap saja dia keras kepala seperti ini’


Bu Saniah terdiam, ia menggeleng, tak tahu apa yang harus ia lakukan, disatu sisi ia senang karena Arya adalah Indra, tapi disisi lain ia juga tak ingin membuang Irman, darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


“aku ingin menemui Mila Arya, bawa aku menemui putriku” ucap bu Saniah dengan datar.


“nggak bu, Mila dan kak Vanessa harus tetap berada di sisiku, aku tidak akan membawa dia kepada ibu dan kakek, jika ibu menginginkan Mila, aku akan mengembalikannya setelah dia melahirkan anakku, dan juga lebih baik ibu tidak cerita apa pun dulu kepada kakek agar kesehatannya tidak memburuk” ucap Arya sembari memutar badannya untuk segera pergi.


__ADS_2