
2 Hari setelah pernikahan Tomy. Keluarga Aliando dan keluarga Hardi mengadakan sebuah pertemuan di kediaman Aliando. Acara makan malam bersama menjadi sarana pembahasan pernikahan Anjani dan Arnes.
Anjani duduk berhadapan dengan Arnes, ia hanya memain-mainkan makanan di piringnya. Sementara yang lain tampak saling berbicara dan menikmati suasana mereka.
Anjani menoleh ke arah dinding kaca yang ada di depannya. Dari posisi duduknya di meja makan itu, terlihat sebuah kolam renang dari dinding kaca rumah Aliando, pikirannya menerawang jauh melihat kolam renang itu. Anjani menarik nafas kasar, mungkin itu adalah takdir hidupnya yang tidak bisa ia lawan, ia harus pasrah menerima semua keputusan ayahnya.
“jadi kapan tanggal pernikahan ini kita gelar Hardi?” ucap Aliando ketika membuka pembahasan mereka.
“aku serahkan kepada Arnes dan Anjani saja, sesuai keinginan mereka saja” ucap Hardi dengan berbasa basi, toh semuanya akan tetap berlangsung sesuai rencananya dengan Aliando.
Arnes meminum air di gelasnya, ia tersenyum melihat wajah Anjani yang tampak datar, gadis itu seperti tidak ingin menanggapi pembahasan mereka sama sekali. “aku ingin secepatnya yah, om” ucap Arnes dengan santai.
“aku juga setuju mas, niat baik harus disegerakan” sambung istri Aliando.
Aliando tersenyum, semuanya hanya formalitas saja, toh anak perempuan yang tampak datar dan tak mau tahu itu akan mengikuti semua rencananya tanpa bisa menolak “kamu gimana Anjani?” tanya Aliando dengan lembut pada calon menantunya.
Anjani hanya diam, menoleh pun tidak, mungkin dengan cara itu ia bisa memprotes pernikahan yang tidak ia inginkan itu. Hardi mengeram marah melihat tingkah putrinya “Anjani” ucapnya dengan tegas.
Anjani masih diam, ia masih memainkan makanan di piringnya yang tidak ia makan sama sekali. Istri Aliando saling berpandangan dengan suaminya. Sementara Arnes hanya tersenyum sinis melihat tingkah Anjani.
“tenang Hardi, jangan paksa Anjani” ucap Aliando dengan tersenyum.
Anjani menoleh ke arah ruang tengah rumah Aliando, terlihat 3 pengawal berdiri disana. Bahkan untuk lari dari sana saja Anjani tidak bisa. Anjani lagi-lagi hanya bisa menarik nafas kasar.
“3 bulan lagi gimana?” ucap Aliando melancarkan rencananya, “ acaranya bisa kita gabung dengan ulang tahun Adinata group, acaranya pasti menjadi lebih besar”
“sepertinya itu bagus” Gumam Hardi.
“3 bulan itu terlalu cepat” ucap nonya Nadya membela putrinya, “biarkan Anjani menguatkan hatinya dulu menerima perjodohan ini”
Semua orang disana seketika memandang tidak suka ke arah nyonya Nadya.
“Nadya, kamu ini bicara apa” ucap Hardi yang geram dengan istrinya, padahal ia sudah mengingatkan agar Nadya diam dan mengikut saja sebelum pergi tadi.
“kamu kenapa sih mas? apa salahnya sedikit saja kamu mengerti dengan Anjani?” ucap nyonya Nadya yang semakin membuat Hardi geram. Istrinya itu sama sekali tidak mengerti jika ia juga harus bergerak melawan waktu.
“udahlah bu, biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan, nanti mereka juga akan mendapatkan balasannya sendiri” ucap Anjani membuka suaranya.
__ADS_1
Hardi melepas nafas kasar, rasa marahnya serasa memuncak “kamu ini bicara apa Anjani, jaga sopan santunmu di depan calon mertuamu” ucap Hardi dengan tegas.
Namun Anjani hanya bersikap datar, tak memperdulikan ayahnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan perlawanannya. Ia terlalu lemah, terlalu bergantung kepada orang tuanya. Bahkan untuk lari dan menyelamatkan diri pun ia tidak berani.
‘Anjani, kamu benar-benar menarik’ batin Arnes tersenyum sinis melihat wajah Anjani.
Di sela pembahasan mereka, seorang pengawal mendekat ke arah Aliando, ia berjalan cepat dan langsung berbisik kepada Aliando. Mata Aliando membulat, wajahnya memias seketika. Kabar itu sama sekali tidak ia duga.
*
Mila berdiri di ujung ruang tamu bersama Vanessa yang memegang tangannya. Di ruang tamu Arya tengah berbicara serius dengan Ari dan Arbi, serta ada 9 orang laki-laki bertubuh tegap lainnya disana. Termasuk 2 pengawalnya yang ia kenali wajahnya.
Mata Mila memias, tersirat jelas kekhawatiran disana. Setiap suara yang keluar di ruang tamu itu terdengar jelas di telinganya.
“pak Abdul bilang hari ini proses pengalihan saham dan kepemilikan perusahaan lo sudah selesai” jelas Ari kepada Arya
“lalu bagaimana? apa besok akan diumumkan?” tanya Arya
“iya, mulai malam ini lo dan Mila akan diawasi oleh mereka semua, termasuk juga Vanessa” lanjut Ari lagi.
“besok jam setengah Sembilan akan ada konfrensi pers di Adinata group” Arbi mulai menjelaskannya, “setelah itu lo akan ikut rapat dewan direksi, siangnya lo baru kembali ke 3A Sahabat, Rita sudah mengatur semuanya, semua kebutuhan lo udah disiapkan sama Rita”
Arya mengangguk pelan, ia melihat 9 orang yang disiapkan Ari untuk menjaganya dan Mila.
“biar mereka saja yang ngawasi istri gue Ri” ucap Arya sembari melihat ke arah Andi dan Diaz. Ari mengangguk pelan.
“gue nggak nyaman jika banyak laki-laki ada di dekat Mila dan kak Vanessa” lanjut Arya.
“kalo lo yakin, ya nggak masalah Arya,” jawab Ari.
“apa menurut lo ini nggak terlalu cepat Ri?” tanya Arya, "gue minta kepada mereka agar mengumumkannya setelah Tomy menikah, tapi ini baru 2 hari Tomy menikah, setidaknya seminggu lagi, tunggu sampai paman dan bibi kembali ke kampung dulu”
Ari menarik nafas panjang, ia sudah mendapat arahan langsung dari pak Abdul tentang apa yang akan ia lakukan.
“pernikahan Anjani dan Arnes diputuskan malam ini, sebelum info itu menyebar, lo harus muncul lebih dulu, kemungkinan info itu disebar ke publik besok atau lusa jadi kesempatan kita besok Arya, berita tentang lo akan menenggalam rencana pernikahan itu” jelas Ari.
“Sepertinya pertunangan kemarin tidak dalam perencanaan matang, jadi mereka baru memutuskan pernikahannya malam ini” ucap Arbi dengan pelan.
__ADS_1
Arya dan Ari menatap heran ke arah Arbi “maksud lo bi?” tanya Arya.
“gue rasa keluarga Anjani dan Aliando masih belum kompak disini” buka Arbi atas pandangannya. ”jika mereka sudah matang dalam perencanaannya, seharusnya saat pertunangan kemarin sudah disampaikan tanggal nikahnya, itu jauh lebih memperkuat posisi mereka di mata publik”
Arbi kemudian tersenyum sinis, “bantu gue buat ngerebut Anjani Arya” ucap Arbi tanpa beban.
“itu tugas lo Bi” jawab Arya “gue udah bilang sama Tomy untuk nyiapin laporan kasus penusukan kemarin, lo pastiin aja agar kasusnya nggak mandek seperti laporan Abel sebelum ini, setelah itu, Anjani pasti bebas dari laki-laki itu”
“jadi lo udah mikir lumayan jauh juga ya” ucap Ari dengan datar kepada Arya.
“gue kan udah bilang, gue punya cara lain buat kasus Tomy ini” ungkap Arya.
“ya udah, kalau gitu kita pamit dulu Arya, siap-siap aja untuk besok” ucap Ari.
Ari, Arbi beserta 9 pengawal pamit keluar dari apartemen Arya. Setelah selesai menutup pintu, Arya kemudian memutar badannya.
Mila berdiri di ujung ruang tamu dengan pandangan penuh kekhawatiran. Ia melangkah cepat ke arah Arya dan memeluk Arya dengan erat. “apa kamu mengkhawatirkan semua ini Mil?”
Mila mengangguk pelan dalam pelukkan Arya. “aku sama sekali tidak mengerti masalahnya Arya, jika aku mengerti, mungkin aku dapat sedikit lebih tenang” gumam Mila.
“jangan khawatirkan apa pun Mil, genggam saja tanganku dengan erat, semuanya akan baik-baik saja, percaya kepadaku, aku bukan orang lemah seperti dulu lagi”
Pak Susanto dan bu Annisa keluar dari arah dalam apartemen, mereka melihat Arya dan Mila dengan penuh haru. Sementara Vanessa masih berdiri di ujung ruang tamu itu.
“tetaplah seperti ini nak,” ucap pak Susanto, “dampingi suamimu apa pun yang terjadi, kekuatan terbesar seorang suami adalah istri dan anak-anaknya”
Bu Annisa mengelus lembut punggung Mila yang masih memeluk Arya.
“apa aku hanya beban bagimu Arya?” tanya Mila dengan pelan ia mengangkat kepalanya dan menatap dalam wajah Arya.
Arya menggeleng, “apa hembusan nafasmu adalah beban untuk hidupmu Mil?” tanya Arya penuh makna.
“bagaimana mungkin hembusan nafas menjadi beban Arya” tanya Mila dengan pelan, ia tak paham maksud pertanyaan Arya sama sekali.
“kamu adalah hembusan nafasku Mil,” ucap Arya yang membuat Mila tersenyum.
‘aku harus bisa lebih kuat lagi, agar aku bisa menguatkan Arya menghadapi semua masalahnya’ batin Mila.
__ADS_1