Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Pesta Mewah


__ADS_3

Arya menaruh setumpuk dokumen di meja hias Mila, seharian tadi tidak banyak pekerjaan yang bisa ia selesailkan, “lembur lagi nanti malam” gumamnya dengan pelan.


Mila kemudian masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas air putih, “kenapa bawa air segala Mil?” tanya Arya dengan pelan.


“ini untukku, bukan untukmu” ucap Mila dengan ketus.


Arya tersenyum, ia mendekat ke arah Mila dan duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya di lantai di depan Mila yang sudah duduk disisi ranjang.


“kenapa Mil?, kenapa kamu marah gitu?” tanyanya dengan pelan sembari menggenggam kedua tangan Mila.


“seharian tadi aku mengkhawatirkanmu, tapi kamu sama sekali tidak menghubungiku” ucap Mila dengan kesal.


Arya melepas nafas panjang, pekerjaannya cukup banyak, hingga membuatnya tak ingat untuk menghubungi istrinya itu setelah selesai rapat dewan direksi.


"maaf ya Mil, kerjaanku cukup banyak, karena pagi aku ke Adinata group, jadi pekerjaan ku menumpuk siang tadi, aku nggak sempat cek ponselku sama sekali” ucap Arya dengan mengusap kepala Mila.


“sibuk sekali kamu sampai tak sempat melihat ponselmu sama sekali” suara Mila masih terdengar kesal.


“dulu aku juga kayak gitu Mil, kalau udah kerja, ponsel jadi kelupaan” gumam Arya dengan pelan.


Mila melepas nafas panjang, ia menyadari bahwa masih banyak hal tentang suaminya yang tidak ia pahami.


“Arya, jika ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, katakan saja, aku akan senang melakukannya” ucap Mila menatap dalam mata suaminya.


Arya menarik nafas kasar, ia berpikir sejenak, ‘emangnya apa yang bisa dilakukan Mila?’ batinnya.


“nggak ada ya?” gumam Mila.


“tetap menjadi istriku dan menggenggam erat tanganku” jawab Arya, “seperti kata paman kemarin Mil, kekuatan terbesarku adalah kamu dan malaikat kecil kita"


Mila tersenyum, ia mengecup kening Arya dengan dalam. “kamu kelihatannya kecapek an Mil, apa terjadi sesuatu tadi siang?” tanya Arya.


Mila menggeleng pelan, “nggak Arya, aku cuma kurang istirahat”


Arya mengusap lembut kepala Mila, “kamu jangan kecapek an, kasihan malaikat kecil kita, kamu juga lemas kayak gini jadinya”


“sore ini aku keluar bentar ya Mil, kamu aku tinggal nggak apa-apa kan?” lanjut Arya yang kali ini bertanya kepada Mila.


“kamu mau kemana?”


“tempat Rita, ada yang mau aku bicarakan disana” jawab Arya dengan datar.

__ADS_1


“hmm, masalah Adinata ya?” tebak Mila.


“hmmm mungkin”


“ya udah, nggak apa apa, tapi jangan lama-lama perginya” ucap Mila dengan pelan.


Arya kemudian duduk disamping Mila, ia menarik kepala Mila ke dadanya. Mila memejamkan matanya dan menikmati hangat tubuh suaminya.


“Arya, aku memikirkan Anjani sekarang” gumam Mila dalam pelukkan Arya.


“jangan terlalu banyak pikiran Mil, nanti kondisimu tambah lemah”


“dia pasti sangat marah dan kecewa setelah tahu semuanya” lanjut Mila.


Arya menarik nafas kasar, ia juga tidak ingin ada pada posisi tersebut. Namun masalahnya dengan Anjani adalah hal yang tidak bisa ia elakkan.


“biarkan saja Anjani melakukan apa yang ia inginkan Mil” ucap Arya “jika dia sadar dengan keadaanku dan juga sadar seperti apa posisinya, ia takkan menyalahkanku”


*


Aliando menatap tajam ke arah sekretarisnya, laporan yang diberikan sekretarisnya itu sama sekali tidak memuaskannya. Posisinya terasa di ujung tanduk, namun ia masih belum bisa meraba apa saja yang telah dilakukan musuhnya itu.


“maaf tuan, Rena belakangan meminta banyak rincian laporan beberapa projek kita yang lama” ucap sekretaris Aliando dengan kepala menunduk.


Aliando memejamkan matanya untuk menahan rasa emosi. “anak itu, dia pasti sengaja dijadikan sebagai dewan direksi lagi,”


Aliando memukul keras meja kerjanya yang dilapisi kaca tebal. “siapa otak dibalik ini semua?, mereka pasti bukan orang sembarangan” ucapnya penuh rasa marah.


“kamu sudah temukan dimana alamat anak itu?”


“dari data tes dna kemarin, alamatnya ada di kediaman Rakarsa tuan, tadi orang kita sudah kesana, rumah itu kosong” jawab sekretaris tersebut.


“rakarsa, bukankah mereka ada di pihak kita saat rapat kemarin?”


“iya tuan, tapi saya juga tidak tahu kenapa alamatnya bisa disana”


Aliando kembali memejamkan matanya, kondisi pertarungan semakin buram di matanya.


“maaf tuan, sekretaris tuan Hardi meminta saya mengatur jadwal pertemuan anda dan tuan Hardi secepatnya” ucap Sekretaris Aliando dengan hati-hati.


Aliando mengambil gelas minumnya, dan dengan sekuat tenaga ia melempar gelas itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Hal itu membuat sang sekretaris menelan salivanya menahan takut.

__ADS_1


“siall” gumam Aliando menahan emosi.


Pikirannya benar-bena kacau karena serangan dadakan itu, “pengacara Gibran dan pengacara perusahaan sudah kamu hubungi?” tanya Aliando lagi.


“maaf tuan, pengacara tuan Gibran menolak bertemu dengan anda, dan juga pengacara perusahaan meminta persetujuan dewan komisaris jika anda ada keperluan menemuinya” jelas sekretaris Aliando masih menahan takut. Ia bahkan sudah siap menjadi pelampiasan kemarahan tuannya itu.


Aliando mengeram marah, semua orang terasa memusuhinya saat itu. “habisi semua pengkhianat itu, pastikan Rahman mati, dia biang dari semuanya" ucap Aliando dengan melihat tajam pada sekretarisnya.


"dokter di rumah sakit itu juga harus menerima akibat dari perbuatannya, juga cari cara untuk menyingkirkan Haris dan Rena, dan selidiki Arya, pastikan kamu mendapat semua informasi Arya, kita harus siapkan pesta mewah untuknya” ucap Aliando dengan wajah dinginnya.


Sementara itu, di perusahaan Cipta Rakarsa, Irman melihat kosong surat pemanggilannya untuk menjadi saksi atas kasus penyuapan.


Dia sudah memperingatkan Rika dan perempuan lainnya agar tidak menyebut namanya. Namun tetap saja surat panggilan itu sampai kepadanya.


Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya, waktu yang diberikan Ardian hanya tinggal sehari lagi. Namun dana dari Adinata group dan projek baru untuk perusahaannya belum kunjung ia dapatkan.


Wajah Arya sudah memenuhi berbagai notifikasi smartphonenya, namun ia mengabaikan itu semua, ia hanya melihat sekilas siapa sosok adik iparnya itu. Pikirannya sudah terlalu kalut dengan semua masalahnya sendiri.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, nama Arnes terulis di layar ponselnya. Irman menarik nafas dalam setelah mendengar Arnes mulai berbicara dengannnya. “lo sudah dengar beritanya?” tanya Arnes dengan datar.


“gue sudah memberikan saham itu untuk ayah lo, sekarang mana janji yang lo katakan kemarin, gue butuh dana itu sekarang”


“lo paham nggak apa yang terjadi sekarang, direksi baru itu benar-benar membuat kondisi disini sulit, nggak cuman lo, tapi yang lain juga belum mendapatkan jatah mereka” jelas Arnes yang terdengar kesal.


“udah lah, lo berani-beraninya nipu gue, sekarang kalau lo benar-benar mau bantu gue, siapkan pengacara terbaik buat gue”


“pengacara?, lo ada kasus apa?” tanya Arnes yang terdengar keheranan.


“lo siapkan aja, jangan banyak tanya” ucap Irman yang sudah kesal dengan Arnes yang tak kunjung menepati janjinya.


“gue mau nanya dimana Mila, gue udah ke rumah lo dan ke sekolahnya, dia nggak ada, dimana suaminya itu menyembunyikannya?” tanya Arnes yang menyampaikan maksudnya menelfon Irman.


Irman menarik nafas kasar, sampai detik itu ia tidak tahu dimana Mila. Masalah perusahaannya dan juga kasus yang ia hadapi sudah menyedot pikiran dan konsentrasinya. Sehingga ia tidak kepikiran lagi mencari dimana Arya menyembunyikan adiknya.


“jangan tanya Mila lagi, lo tepati dulu janji lo, baru tanya soal Mila,” ucap Irman dengan tegas.


“halah,, bilang aja lo nggak tahu dia dimana, gue bisa cari dia sendiri,”


“loh lawan tuh pewaris Adinata sebenarnya, baru mimpi dapatin adik gue tanpa bantuan gue” ucap Irman mematikan ponselnya.


Ia kemudian bangkit dan berdiri melihat ke arah luar kantornya melalui jendela. Pikirannya terasa kusut tak karuan. ‘semua sia-sia, sekarang gimana caranya aku bisa bebas dari kasus dan masalah ini, Ardian benar -benar akan membawa perusahaan ke Malaysia" batinnya.

__ADS_1


__ADS_2