Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Hatiku Untukmu Arya


__ADS_3

Pagi yang cerah hari itu, setelah mendengar nasehat dari bu Annisa setelah shubuh, Mila segera duduk di teras rumah, ia melihat ke arah langit yang perlahan cerah dengan matahari yang sedikit demi sedikit menampakan wujudnya.


Udara desa itu benar -benar sejuk, apalagi bagi Mila yang sudah banyak menghabiskan suasana di ibukota, udara sejuk seperti itu sangat langka ia temui. Perlahan kesibukan di jalanan di depan rumah yang sederhana itu mulai terlihat, orang-orang desa ada yang berjalan kaki menuju sawah dan ladang, ada juga yang menggunakan motor dan juga sepeda. Pemandangan yang silih berganti dilihat Mila di jalanan depan rumah itu.


Orang yang ditunggu -tunggu Mila akhirnya datang juga, Arya berjalan berdua bersama Tomy dibelakang ayah mereka, Mila tersenyum dengan mata sayu memandang wajah suaminya yang mendekat kepadanya.


Beban emosional masih terasa olehnya, kabar yang diberikan Irman membuat pikiran dan perasaannya bekerja keras untuk menemukan jalan keluar terbaik. Namun tetap saja tak ada yang bisa ia lakukan, harapan untuk kembali ke Jakarta juga ditantang oleh suaminya, bahkan suaminya mengancam perpisahan jika ia masih tetap nekat ke Jakarta.


“Assalamualaikum” ucap pak Susanto pada Mila, dan dijawab Mila dengan sopan, “walaikumussalam paman,”


“kamu mencari suamimu nak?” tanya pak Susanto pada Mila.


“tidak paman, aku hanya sedang menikmati kesejukan udara disini” ucap Mila dengan sopan sembari menunduk menahan malu, ia sama sekali tidak bisa mengelak dari keinginannya untuk bertemu Arya, namun dia juga malu mengakui hal itu di depan pak Susanto dan Tomy.


“Arya, temanilah istrimu disini,” ucap pak Susanto pada Arya sembari memberi isyarat kepada Arya untuk duduk di salah satu di samping Mila. Pak Susanto seperti sudah paham dengan keinginan menantunya itu.


"baik paman” jawab Arya dengan sopan. Pak Susanto kemudian masuk ke dalam dan Arya tersenyum kepada Mila. “aku malah kebelet pengen cepat nikah kalau melihat yang kayak gini terus" ucap Tomy sembari memukul pelan bahu Arya, ia kemudian segera masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Arya bersama Mila di teras rumah itu.


“apa kamu merindukanku?” ucap Arya sembari duduk di sisi Mila, ia menatap dalam manik mata istrinya itu.


“aku selalu terlambat bangun disini, bibi baru membangunkan ketika sudah azan Arya,” ucap Mila dengan nada pelannya.


“kamu tampak lelah, apa kamu masih mengantuk Mil?” tanya Arya dengan dengan mengusap pelan pelipis mata Mila.


“apa kamar disini hanya 3?, apa tidak ada kamar kosong lagi?, masa kita sudah suami istri masih harus tidur terpisah kayak gini” ucap Mila dengan nada pelannya.


“apa kamu ingin tidur dengan pelukkanku?, atau jangan-jangan kamu sudah rindu untuk aku sentuh?” goda arya pada istrinya.


“ihh Arya, kamu jangan gitu dong, aku hanya takut saja,,”


“takut apa?”


Mila sejenak berpikir keras untuk bertanya dengan kalimat yang tepat, karena ia merasa Arya sudah jenuh dengan sikap posesif tak jelasnya.


“kamu harus jawab jujur ya, ini terakhir kalinya aku bertanya seperti ini kepadamu” ucap Mila dengan menatap dalam mata Arya.

__ADS_1


“kapan aku tidak jujur kepadamu?” ucap Arya yang membuat Mila sejenak kembali berpikir panjang, ‘kapan Arya berbohong kepadaku?,’ batinnya.


“kamu sudah sering berbohong kepada ibu, apa tidak mungkin kamu juga berbohong kepadaku?” ucap Mila dengan penuh penekanan pada Arya.


“aku berbohong kemarin untuk melindungi diriku Mil, lagi pula cepat atau lambat, ibu pasti akan tahu semuanya, dan untuk masalah pekerjaanku, bukan aku yang berbohong duluan disini, tapi kakekmu” jawab Arya dengan santai.


“kakek?” tanya Mila dengan bingung.


“apa kamu pikir kakek tidak tahu sama sekali dengan pekerjaanku?, kakek tidak mungkin begitu saja menyuruh kita menikah tanpa tahu latar belakangku Mil, hanya orang gila yang menyuruh cucunya menikah dengan laki-laki yang baru 2 kali bertemu dengannya. aku hanya berpikir alasannya sore itu hanya alasan dibuat -buat saja, dia mungkin sudah tahu semuanya tentangku, apa lagi dia sudah menyimpan nomor ponselku, akan lebih mudah untuknya melacakku dan melihat seperti apa aku sehari-hari” jelas Arya pada Mila.


“Jadi saat kakek bilang kalau kamu pengangguran itu hanya bohong saja?”


“aku tidak tahu apa aku pernah mengatakan kalau aku pengangguran kepada kakek, tapi dari cara kakek bicara waktu itu, aku rasa kakek sudah tahu tentang pekerjaanku” jawab Arya dengan santai.


“Kamu berpikir kakek sudah menyuruh orang untuk membuntutimu?, kamu sampai berpikir seperti itu Arya?, aku saja tidak pernah memikirkan kakek akan segitunya memilihmu untukku” jelas Mila.


“kamu saja yang tidak mau membaca dan menganalisis setiap sikap kakek selama ini, tipikal kakek itu hampir mirip dengan Ari, cara berpikirnya sulit di tebak, jadi kamu nggak usah khawatir masalah perusahaanmu, atau pun masalah rumahmu, kakek pasti sudah menyiapkan solusinya, orang seperti kakek itu bukan orang sembarangan Mil, kelihatannya aja yang berbaring tidak bisa apa -apa, walaupun tubuhnya di rumah sakit, matanya pasti ada dimana -mana, makanya aku bisa sesantai ini sekarang,”jelas Arya pada Mila.


“apa itu berarti kakek tahu semua yang terjadi pada kita?” tanya Mila dengan rasa khawatirnya.


“ya Tuhan Arya, kakek pasti benar-benar kecewa kepadaku, aku benar -benar telah mengecewakannya atas perbuatanku dulu padamu, astaga, kenapa aku tidak bisa mengerti apa yang terjadi selama ini?” ucap Mila dengan nada bersalahnya.


“kakek hanya ingin kamu bahagia, oleh karena itu kakek hanya diam karena ia sadar kamu juga tertekan karena pernikahan kita ini, dia mungkin sengaja membiarkan kita diterpa badai masalah seberat itu, ya semacam permainan psikologis agar kamu memilihku dengan hatimu sendiri, bukan paksaan kakek, sekarang jangan pikirkan lagi masalah yang telah kita lewati, pikirkan saja pernikahan kita ini ke depan, kamu harus segera hamil dan melahirkan anak untukku” jelas Arya dengan santai.


“ihh kamu mesum lagikan” ucap Mila dengan kesal sembari mendorong pelan pipi Arya, tingkah yang membuat Arya tersenyum mendengarnya, ‘dia sudah kembali tenang seperti sebelumnya’ batin Arya melihat tingkah Mila.


“apa kakek tidak tahu bahwa masalah di peusahaanku adalah ulah perusahaanmu?” tanya Mila yang kembali menanyakan rasa penasarannya tentang pak Sarman.


“aku rasa tidak Mil, karena Ari bermain juga sangat baik, itu yang sebenarnya aku takutkan Mil, jika kamu tahu, kamu akan membenciku, begitu pun kakek dan ibu, jika mereka tahu mereka juga akan membenciku”


“aku tidak akan membenci orang sepertimu Arya, aku yakin ibu dan kakek juga tidak akan membencimu,” ucap Mila sembari menyentuh lengan Arya.


“sebenarnya aku juga meminta Ari untuk menyelamatkan rumahmu, untuk menguji sebenci apa dia kepada kamu, aku sebenarnya tidak yakin dia akan menyelamatkan rumah itu, tapi dia sudah menunjukkan kalau dia bisa menerimamu sebagai istriku, jadi jangan khawatirkan lagi masalah Ari” jelas Arya lagi.


"selagi kamu ada disisiku, aku tidak akan mengkhawatirkan apapun," ucap Mila mencoba menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Arya sejenak menarik nafas panjang, “sekarang jangan bahas itu lagi, aku malas memikirkan apa yang dilakukan orang-orang yang bermain strategi itu, katakan, pertanyaan apa yang ingin kamu tanyakan tadi” ucap Arya mengalihkan pembicaraan mereka.


Mila sejenak berpikir dan melihat lekat wajah suaminya, “ini kali terakhirnya aku bertanya ini Arya, apa tidak ada perempuan lain selain aku?” tanya Mila dengan penuh selidik.


“ini kali terakhirnya aku menjawab Mil, nggak ada sama sekali, hanya kamu satu -satunya di hidupku, aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku” ucap Arya dengan sungguh-sungguh. Mila pun tersenyum di balik cadarnya.


“hatiku hanya untukmu Arya, sepenuhnya hatiku milikmu” ucap Mila yang membuat Arya seketika mengecup singkat kening istrinya itu.


“ada hal lain lagi yang ingin kamu tanyakan?”


“Anjani, kenapa ketika dia ada masalah kemarin, dia malah menemuimu?” tanya Mila penuh selidik.


“kenapa kamu tidak bertanya sama dia?, kan dia yang menemuiku, bukan aku yang menemuinya” ucap Arya dengan nada datarnya.


“Aryaaa, jawab dong,”


“iya emang kenapa kamu tiba-tiba menanyakan masalah Anjani?”


“karena ada banyak hal yang akan ku tanyakan padamu, salah satunya siapa Anjani sebenarnya, dia pasti dekat denganmu kan?, kalau tidak, dia tidak akan menemuimu saat ada masalah” ucap Mila dengan kesal.


“Anjani? Siapa Anjani?, kenapa aku baru mendengar namanya?” ucap Tomy yang membawa 2 gelas teh di tangannya. Tomy kemudian menaruh teh itu dihadapan Arya dan Mila.


“Kamu tidak kenal dengan Anjani Tom?, berarti dia adalah orang baru dong di kehidupan Arya?” tanya Mila penuh selidik.


Arya sejenak melihat ke arah Tomy yang melihat ke arahnya dengan tatapan keheranan.


“duduklah sebentar Tom, kamu juga harus tahu soal Anjani” ucap Arya dengan datar.


Tomy kemudian duduk di depan Arya dan Arya mendorong tehnya untuk Tomy. “ini minumanmu” ucap Tomy melihat teh Arya sudah ada di depannya.


“aku bisa minum segelas dengan istriku” ucap Arya kembali dengan datar. Nada yang menyiratkan bahwa kehadiran Anjani seperti suatu beban berat baginya. Arya kemudian melirik ke sekitar mereka memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan itu.


“jadi siapa Anjani itu?” tanya Tomy penuh selidik.


“sama seperti Mila, seseorang yang datang dari masa lalu”

__ADS_1


__ADS_2