
Sore itu cuaca panas menerpa kota Jakarta, suasana di bandara internasional di Tanggerang berlangsung lancar seperti biasa, hanya ada beberapa penerbangan yang terpaksa delay karena faktor non teknis perusahaan penerbangan.
Pesawat yang membawa Rahman terbang dari Seoul mendarat di Jakarta tepat setelah azan ashar selesai berkumandang sore itu, Rahman mengusap wajahnya dengan kasar setelah menapakkan kakinya kembali di negeri ini, sekitar 2 minggu ia menenmui para pemegang saham di berbagai Negara, mulai dari amerika utara , eropa timur, hingga ke eropa barat dan timur tengah serta asia timur. Semua pemilik suara di rapat pemegang saham ia temui untuk meminta dukungan.
Ada satu kekuatan besar yang ia perjuangkan, masih banyak para pemegang saham yang percaya dan setia dengan keluarga Adinata, dan tentunya sosok Gibran Adinata, seorang pengusaha sukses yang membuat group Adinata memiliki anak perusahaan di berbagai Negara di dunia. Masih banyak para pemegang saham di luar negeri yang menaruh harapan besar pada Indra adinata akan melanjutkan dinasti bisnis keluarga Adinata.
Sekalipun Rahman harus membawa kabar bohong jika Indra adinata akan naik jadi CEO ketika Aliando sudah jatuh, kebohongan yang ia selipkan dengan kebohongan lain jika Indra adinata masih hidup dan tengah disiapkan untuk mengambil alih saham Gibran adinata.
Sebuah kebohongan yang sejatinya juga menjadi harapan besarnya, Indra adinata akan kembali dan merebut kekuasaan di Adinata group, sebuah harapan yang saat ini tengah ia perjuangkan.
‘hasil tes anak itu belum juga keluar ya, padahal aku berharap anak yang dikatakan oleh anak pak Sarman itu adalah tuan Indra’ batinnya mengusap wajahnya dengan kasar lagi.
Seorang pengawal yang memakai pin Adinata group mendekat kepadanya dan memberi hormat dengan kepala kepada Rahman, pengawal itu kemudian membantu Rahman menarik kopernya dan membawa tas kerjanya.
“mobil tuan sudah disiapkan di depan pintu loby tuan," ucap pengawal itu dengan nada sopannya.
"terima kasih sudah menjemputku" jawab Rahman dengan datar.
Ia kemudian langsung berjalan ke arah mobil yang sudah disiapkan di depan bandara, 2 orang pengawal tampak berdiri di dekat mobil itu.
“silahkan tuan” ucap seorang pengawal sembari membukakan pintu mobil itu, dan Rahman segera masuk ke dalamnya, ia duduk tepat di kursi belakang dengan posisi yang berseberangan dengan posisi sopir mobil itu, dan pengawal yang membuka pintu mobil segera menutup pintu itu lagi setelah Rahman masuk.
Sementara pengawal yang membawa tas kerja dan koper Rahman segera memasukkan barang Rahman tersebut ke bagasi mobil hitam yang mewah itu.
Tidak sampai 5 menit kemudian mobil itu sudah pergi meninggalkan area bandara. Membawa Rahman yang tengah melepas rasa lelah di dalamnya. “kenapa mereka tidak ikut naik ke mobil ini?” tanya Rahman pada sopir yang membawanya.
__ADS_1
"saya tidak tahu tuan, apa tuan mau langsung pulang atau mau ke kantor dulu?” tanya sopir itu pada Rahman.
“antar saya pulang, ada hal penting yang harus saya urus malam ini” ucap Rahman dengan datar.
"baik tuan" jawab sopir itu dengan sopan.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan, namun secara perlahan kecepatan mobil itu terus bertambah, yang membuat Rahman merasa risih dengan laju mobil yang membawanya itu, “pak, jangan terlalu cepat membawa mobilnya” ucap Rahman memperingatkan sopirnya yang ia rasa membawa mobil melebihi kecepatan normal.
Sopir mobil itu kemudian mengurangi injakan gasnya, namun mobilnya tetap berjalan dengan kecepatan yang sama cepatnya dengan sebelumnya “astaga, ini kabel gasnya bermasalah pak” ucap Sopir itu dengan nada penuh kekhawatirannya.
“bermasalah?” tanya Rahman dengan bingung. Sopir itu kemudian menginjak pedal remnya dan naasnya, entah sejak kapan rem mobil itu tidak berfungsi lagi.
“ya Tuhan, ini remnya blong pak,” ucap sopir itu dengan khawatir, ia berkali-kali menginjak rem mobil itu.
“loh kok bisa pak?,” ucap Rahman tak kalah khawatirnya.
Sopir itu mencoba bersikap tenang, ia melewati satu persatu mobil yang berjalan dengan kecepatan dibawah kecepatan mobil yang ia bawa. Namun naasnya, di depannya ada mobil dan truck yang berjalan berdampingan yang mengisi seluruh sisi jalan yang 4 ruas itu.
Kecepatan mobil itu mulai tak terkendali, si sopir kemudian membanting stirnya ke arah kiri agar tidak menabrak mobil lainnya dan mobil hitam mewah itu menabrak marka jalan dengan kecepatan tinggi, hingga mobil itu terbalik dan hancur dan tak berbentuk lagi.
Beberapa mobil lain juga tersenggol oleh mobil itu hingga jalanan itu menjadi mencekam seketika, darah mulai berceceran di jalanan, ada 3 mobil lain yang tersenggol dan juga ikut hancur karena terbalik dan menghantam marka jalan dengan kecepatan tinggi di jalanan itu.
Selang beberapa lama, sirine ambulans dan polisi bersahutan menuju lokasi kejadian itu.
Kabar kecelakaan itu cepat menyebar di perusahaan Adinata group, termasuk kepada Haris yang tengah berdiri membatu di loby perusahaan karena tak percaya dengan kabar yang disampaikan dokter Reny kepadanya. "Hariss, Rahman kecelakaan, kondisinya sangat parah". itulah kabar yang disampaikan dokter Reny, kabar membuat Haris terasa terpukul oleh keadaan.
__ADS_1
Dan juga kepada Aliando yang tengah bermain golf melepas waktu sorenya, "waw, apa pesta sambutanku untuk Rahman terlalu berlebihan" gumam Aliando melihat sinis ke arah lapangan golf tempatnya bermain.
*
Haris menatap sedih melihat Rahman terbaring di rumah sakit, berbagai alat menempel di tubuh sahabatnya itu, kepalanya di perban hingga hanya sebagian kecil dari rambut Rahman yang terlihat, di tangannya menempel berbagai alat kesehatan, baju Rahman memerah darah karena darah terus mengucur dari luka di tubuhnya.
Haris tak mampu menahan air matanya, hatinya tersayat melihat kondisi sahabatnya itu, di dekatnya ada istri, dan anak-anak Rahman yang teriak histeris melihat ke dalam ruangan yang belum boleh dimasuki itu.
Kondisi Rahman tiba -tiba memburuk, suster yang sedang bekerja di dalam segera menutup gorden kamar itu, Istri Rahman tak sanggup lagi menahan kesedihannya, tubuhnya lemas seketika, lututnya melemah, kesadarannya menghilang, anak laki -laki Rahman dan anak perempuannya yang juga ada disana juga ikut histeris melihat keadaan ayah dan ibu mereka.
Suara tangisan mereka menghiasi lorong UGD rumah sakit Adinata itu, “Rahman, bertahanlah” gumam Haris dengan pelan, ia kemudian segera membantu istri Rahman untuk segera mendapat pertolongan disana.
“om,,,, bantu ayah om, tolong ayah om” ucap anak gadis Rahman dengan penuh perasaan takutnya. pipinya sudah basah dari tadi, entah sudah berapa banyak air mata yang sedari tadi keluar dari matanya.
Sementara anak laki-laki Rahman segera menggendong ibunya yang jatuh pingsan. Haris kemudian membiarkan putra Rahman itu untuk menolong ibunya, ia mendekap dan memeluk anak gadis Rahman yang tampak mulai melemah. “tenang Sari, ayah dan ibumu akan baik -baik saja, yakinlah, Tuhan akan menjaga mereka” ucap Haris pada anak perempuan Rahman.
Seorang pengawal adinata group menghampiri Haris dan memberi hormat kepadanya, ialah orang yang dipercayai Haris untuk menjalankan rencananya mengembalikan hak Adinata group ke keluarga Adinata.
“maaf tuan, sopir yang membawa tuan Rahman meninggal, kepalanya retak, dan tangannya hampir terputus dan beberapa bagian tubuhnya juga hancur karena hantaman kecelakaan itu,” ucap pengawal itu dengan nada datar. Ia sudah terlatih bersikap datar untuk segala situasi, termasuk ketika hatinya merasa sedih dengan kondisi Rahman saat itu.
“om, toloong, tolong ayah om” ucap Sari pelan memukul bahu Haris yang memeluknya. Laporan pengawal itu membuat rasa takut Sari semakin bertambah dengan keadaan ayahnya, air matanya telah membasahi jas kerja yang Haris gunakan.
Pelukkan hangat Haris cukup mampu memberi Sari kekuatan agar tidak ikut pingsan seperti ibunya. Sekalipun perasaannya hancur dan rasa takut membayangi dirinya. Harus mengusap bahu Sari untuk memberi gadis yang terlihat shock itu ketenangan.
"ada 5 orang lainnya yang meninggal karena kecelakaan ini tuan, korban yang masih hidup juga akan dibawa kesini semuanya setelah mereka diberi pertolongan pertama di rumah sakit mereka dirujuk tadi, semuanya sudah diurus oleh orang-orang di perusahaan dan foundation kita tuan” jelas pengawal itu lagi.
__ADS_1
“terima kasih,” ucap Haris sembari mengangkat tangannya, menginstruksikan agar pengawal itu tidak berbicara lagi. Ia sadar, laporan pengawal itu akan semakin membuat Sari ketakutan dengan keadaan ayahnya.
‘pertarungan ini sudah mengorbankan nyawa orang -orang yang tidak bersalah, darah -darah mereka yang tidak tahu menahu dengan masalah ini malah ikut menjadi korban, Aliando, aku akan pastikan manusia sepertimu akan menerima balasannya’ batin Haris menahan marah dan rasa sedihnya yang bercampur.