Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kepercayaan Ibu


__ADS_3

Mila menggeliatkan tubuhnya, matanya terbuka setelah ponselnya berdering berkali -kali, Mila membuka matanya, ia berusaha meraih ponselnya yang ada di dekat lampu tidur kamar hotelnya. Namun posisi tubuhnya yang berada di tengah ranjang membuat jangkauannya terlalu jauh untuk meraih ponselnya itu.


Mila mencoba melepas pelukkan Arya di tubuhnya, setelah pelukkan Arya terlepas, Mila kemudian duduk dan dering ponselnya sudah mati.


‘siapa sih?’ batin Mila, Ia kemudian melihat ke arah wajah Arya yang tampak tidur dengan tenang, Mila kemudian tersenyum pada wajah itu, untuk kemudian senyumannya memudar karena ponselnya kembali berdering, Mila segera meraih ponselnya ‘ibu‘ batinnya setelah melihat tulisan di ponselnya itu.


'tumben ibu menelfonku, apa ada masalah?, tapi kemarin kakek bilang baik-baik saja’ batin Mila sembari mengambil cadarnya dan memakainya dengan cepat.


“Assalamualaikum bu” jawab Mila sembari berjalan menuju balkon kamar hotelnya, dia tidak ingin suaranya mengganggu tidur suaminya.


“kamu dimana?, bukankah abangmu sudah menyuruhmu kembali ke Jakarta?” ucap bu Saniah langsung pada tujuannya.


“iya bu, tapi semalam aku menelfon kakek, kakek bilang semua baik-baik saja” jawab Mila dengan tenang sembari melihat ke arah kolam renang hotel mewah itu.


“kamu tidak tahu seperti apa frustasinya abangmu saat ini, dia butuh bantuanmu, kenapa kamu malah milih untuk tetap disana?, apa kamu tidak tahu dalang di balik ini semua adalah suamimu itu?” tanya bu Saniah dengan nada marahnya.


“jangan bicara begitu bu, Arya tidak salah apa -apa” jawab Mila membela suaminya.


“tapi kenyataannya, perusahaan suami itu yang melakukannya, dia sudah berbohong pada kita semua soal pekerjaannya untuk menghancurkan kita Mil” ucap bu Saniah yang seketika membuat Mila kebingungan.


“Ibu kenapa?, bukankah ibu selama ini percaya pada Arya, ibu selama ini juga selalu mendukung hubunganku dengan Aryakan” ucap Mila tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut ibunya.


“ibu percaya karena dia pilihan kakekmu Mil, tapi kenyataannya dia berbohong, dia berbohong pada ibu dan kakek, juga kepadamu, abangmu dan Vanessa, dia itu laki-laki licik yang memanfaatkanmu untuk menghancurkan kita semua” jelas bu Saniah dengan emosional.


air mata Mila menetes mendengar ucapan ibunya, hatinya terasa sakit mendengar ibunya sendiri yang berbicara buruk tentang suaminya. “Arya tidak berbohong kepada kita semua bu, kakek sudah tahu siapa Arya, kakek sudah tahu apa pekerjaannya sebelum kami menikah, jangan salahkan Arya bu, aku mohon” jawab Mila dengan dada yang terasa sesak.

__ADS_1


“Dia menghancurkan kita Mil, apa kamu tidak sadar?,”


“bang Irman juga mau menjualku pada temannya, apa ibu tidak tahu?, apa ibu mau aku seperti ibu dulu?, bu, hidupku sudah tenang dengan Arya, aku mohon bu, jangan berpikir buruk tentang suamiku, aku mohon" ucap Mila dengan suara gemetarnya.


Ucapan Mila seakan menyentak hati bu Saniah, ia tidak percaya Irman melakukan itu pada adiknya sendiri, “apa maksudmu Irman ingin menjualmu?” tanya bu Saniah penuh selidik.


“Arya dan temannya sudah tahu semuanya bu, bang Irman punya kesepakatan dengan bang Arnes, aku hanya barang yang mereka perjual belikan untuk menyelamatkan perusahaan kita, aku tak punya harga sama sekali di mata abangku sendiri bu” ucap Mila menahan sedih hatinya, rasa sakit itu menyeruak ke dalam hatinya,


“kamu ini bicara apa?, mana mungkin abangmu seperti itu, seburuk apa pun kelakuannya, dia tidak mungkin melakukan itu kepadamu” ucap bu Saniah yang tak percaya dengan penjelasan Mila.


“tapi bang Irman sendiri sudah mengatakannya kepadaku, aku ingin menyelamatkan perusahaan, tapi tidak dengan cara itu bu" ucap Mila tak kuasa lagi menahan sedihnya hatinya.


Tubuhnya bergetar menahan tangis, cadar yang ia pakai sudah basah, ia ingin sekali membuang semua pikiran buruk itu, tapi kenyataannya, ibunya malah membuka kembali luka itu.


Ponsel Mila ia lepaskan dari telinganya, ia tidak mendengarkan lagi apa yang disampaikan bu Saniah diseberang panggilan itu, ia masih berusaha menahan tangisnya agar Arya tidak tahu keadaannya sekarang.


Mila tak kuasa lagi menahan tangisnya, terlalu sakit baginya mengingat apa yang ingin dilakukan abangnya pada kehormatannya.


Mila mencengkram erat kaos yang dipakai Arya, suara tangisnya ia lepaskan di dada Arya.


“Halo bu, apa ada masalah?” tanya Arya dengan polos.


Bu Saniah langsung membulatkan matanya mendengar suara Arya, “kamu,,, apa yang sudah kamu lakukan pada keluarga kami, apa kurangnya ibu dan kakek kepadamu?, kenapa kamu melakukan ini kepada kami?” tanya bu Saniah dengan tajam pada Arya.


“aku tidak melakukan apa-apa bu, seharusnya ibu bicara dengan kakek, tentang apa yang kakek siapkan untuk mengatasi masalah ini?, aku membiarkan temanku melakukan itu semua karena aku rasa kakek pasti sudah menemukan jalan keluar dari perbuatan temanku itu bu” ucap Arya dengan datar yang membuat bu Saniah kembali tersentak di seberang telfon itu.

__ADS_1


‘ayah sudah mempersiapkan sesuatu?, apa yang sudah dipersiapkan ayah?, kenapa para laki-laki ini begitu sulit dipahami bagaiamana cara mereka berpikir dalam menjalankan bisnis?’ batin bu Saniah.


“aku tahu aku salah sama ibu, aku sudah berbohong pada ibu, aku berbohong karena aku takut ibu dan kakek akan marah kepadaku karena masalah ini, aku tidak bisa menahan temanku untuk tidak melakukan itu bu, ini demi rumah tanggaku dengan Mila mereka mengancam rumah tanggaku jika aku berani menganggu apa yang mereka lakukan” ucap Arya yang berhenti sejenak, ia ingin mendengar respon dari mertuanya itu.


“tapi kami ini keluargamu Arya, kamu membiarkan temanmu menghancurkan kami” ucap bu Saniah penuh penekanannya.


“aku tahu aku salah bu, jika ibu dan kakek membenciku karena ini, aku terima, tapi Mila akan tetap bersamaku, dia istriku, aku yang akan menjaganya, aku harap ibu tidak akan membenci Mila karena ini” ucap Arya berusaha setegar mungkin dan mempersingkat panggilan itu.


“kamu memang salah, kamu telah berbohong pada kami semua, seharusnya aku menolak pernikahan ini dari awal, aku terlalu berharap lebih kepadamu karena ayahku percaya kepadamu” ucap bu Saniah yang kemudian mematikan ponselnya.


bu Saniah menatap lemah ke arah ponselnya, 'aku yang salah karena berharap kamu adalah Indra, dan sekarang aku begitu kecewa karena harapan itu ternyata hanya harapan kosong, dan ditambah lagi karena masalah ini, aku benar-benar kecewa Arya' batin bu Saniah.


Bu Saniah kemudian menarik nafas panjang 'apa Arya mungkin juga berbohong soal itu?, bagaimana kalau dia benar -benar Indra?, sepertinya tes dna akan membuktikan semuanya, awas saja kalau dia benar-bemar berbohong kepadaku' batin Bu Saniah menggerutu kesal.


Sementara di balkon kamar hotelnya, Arya menarik nafas panjang. ‘jika ibu tahu aku juga berbohong tentang ayah, apa ibu juga akan semakin marah kepadaku?, astaga, berbohong memang banyak mudharatnya, tapi kalau jujur, malah posisiku yang berbahaya, tapi karena kebohonganku ini malah Mila yang jadi korbannya seperti ini, ya Tuhan ampuni aku yang banyak dosa ini’ batin Arya.


Arya menguatkan pelukkannya pada Mila yang masih terisak, “sudah Mil, jangan menangis lagi, semuanya baik -baik saja, aku nggak mau kamu sedih seperti ini karena kesalahanku” ucap Arya.


Mila tak memperdulikan ucapan Arya, ia menyembunyikan kepalanya di dada Arya dan mencengkram erat kaos Arya.


Hampir lima menit mereka ada di posisi itu tanpa saling bersuara, hingga Arya kemudian membimbing Mila untuk kembali ke dalam kamar, dan seketika saja Mila mengenggam tangan Arya ketika Arya membimbingnya.


"Aku sudah mengenggam erat tanganmu Arya, kita tidak akan pernah berpisahkan?” ucap Mila dengan nada pelannya. Arya kemudian mencium dalam punggung tangan Mila, “aku menyayangi Mil, aku akan selalu ada disisimu, jika ibu dan kakek sudah tahu kalau aku Indra, mungkin mereka akan kembali marah dan kecewa kepadaku, kuatkan dirimu dan hatimu ya, kita hadapi semuanya sama-sama” ucap Arya penuh kesungguhan.


“apa kamu akan membuka jati dirimu sebagai indra Arya?” tanya Mila dengan penuh selidik dengan memegang wajah Arya ketika mereka sudah duduk disisi ranjang.

__ADS_1


“aku sudah dapat izin dari paman, aku tahu ini akan menjadi ancaman besar bagi hidupku dan juga bagimu, tapi aku tak punya pilihan lain Mil, aku tak ingin ayah dan ibu melihatku sebagai laki-laki lemah yang tak bisa mengembalikan nama baik ayah” ucap Arya.


“aku akan selalu ada disisimu Arya, kita hadapi semuanya sama-sama” jawab Mila, dan Arya mengecup dalam kening istrinya itu.


__ADS_2