
Malam yang dingin menerpa Jakarta hari itu, di sebuah rumah berlantai dua, di daerah selatan Jakarta, 4 orang tengah duduk membahas sesuatu dengan suara yang pelan, orang yang ada disekitar mereka tidak akan bisa mendengar dengan baik obrolan tersebut kecuali ikut bergabung bersama mereka. Disanalah rumah pak Abdul, salah satu penasehat Gibran adinata semasa ia hidup, pak Abdul merupakan salah satu pemikir ulung dibalik kebesaran grourp Adinata di Negara ini.
Di depannya Haris sudah duduk dengan memperlihatkan selembar kertas hasil tes yang diberikan dokter Reny kepadanya. Pak Abdul, Pak Budi, dan Pak Ilham melihat kertas itu dengan tatapan tak percayanya, hasil itu benar-benar diluar dugaan mereka. Mimpi yang selama ini mereka rawat ternyata berbuah nyata. Raut wajah haru bahagia tersirat dari wajah mereka. Sosok tuan muda yang dinanti sekarang telah kembali.
Pak Adul melihat tajam mata Haris yang tampak nanar melihatnya, “Arya ramadana, kamu yakin dengan ini Ris?” tanya pak Abdul dengan pelan pada Haris, Haris menarik nafas panjang melihat ke arah pak Abdul.
“Reny mengujinya 3 kali, dan ketiganya menunjukkan kecocokan, anak itu tuan muda kita pak” ucap Haris dengan datar.
“kamu sudah mengirim orang untuk menjaga tuan muda Ris?” tanya pak Ilham kepada Haris.
“sudah pak, tapi ada satu hal yang membuatku khawatir, orang yang aku suruh mengawasi tuan muda melihat tuan muda di pukul oleh Arnes tadi sore” ucap Haris masih dengan nada pelan.
Ketiga laki-laki tua yang ada disana menatap Haris dengan wajah bingung, “dipukul oleh Arnes, ada masalah apa tuan muda dengan Arnes hingga anak itu memukulnya?” tanya pak Abdul dengan heran.
“aku tidak tahu pak, semuanya masih diselidiki, akan sangat berbahaya jika tuan muda berinteraksi langsung dengan orang -orang di perusahaan” jelas Haris lagi.
“sekarang mari kita siapkan perkenalan tuan muda ke depan publik,” lanjut Haris.
“Sabar Ris, sabar, pertunangan anak Aliando 2 hari lagi, kita punya senjata untuk mengambil langkah kuda disini, kita harus berhati -hati menggerakkan pion kita untuk bisa menang” ucap pak Budi dengan nada sinisnya.
Pak Ilham mengusap kasar pipi kirinya, ia kemudian menarik nafas dalam, untuk kemudian mulai bersuara lagi, “pertunangan itu akan menarik banyak suara untuk Aliando di rapat pemegang saham nanti, jika kita mengenalkan tuan muda sebelum rapat itu, suara akan pecah, posisi siapa musuh dan kawan akan jadi abu-abu” ucap pak Ilham.
Pak Budi menarik nafas kasar mendengarnya, “jika itu terjadi, maka posisi tuan muda akan menjadi lemah di rapat pemegang saham nanti, kita akan kesulitan menaikan tuan muda ke kursi CEO, yang ada kita hanya akan memaksa satu lawan satu antara Arnes dan tuan muda” ucap pak Budi menganalisis keadaan yang akan terjadi.
__ADS_1
“jadi apa maksud kalian?” tanya Haris yang penuh kekesalan, hasil tes dna itu sudah membuat jiwa petarungnya berkobar untuk segera menghancurkan Aliando.
“kita harus simpan dulu hasil tes ini Ris, jaga tuan muda baik-baik, kembali ke rencana awal kita, rapat pemegang saham itu hanya test the water bagi kita untuk melihat siapa pemegang saham yang masih setia dengan keluarga Adinata” jelas pak Abdul.
“tapi pak, Rahman keadaannya saat ini sangat memprihatinkan, sudah seharusnya kita sekarang menjatuhkan Aliando, tuan muda sudah kembali sekarang, tuan muda sendiri juga menyatakan siap kembali, tadi sekretaris tuan muda menemuiku untuk membantunya kembali ke perusahaan” jelas Haris penuh emosional.
“sekretaris tuan muda?” tanya pak Ilham dengan spontan.
“tuan muda sepertinya sudah menyadari kalau pertunangan itu akan mengancam peluangnya untuk kembali ke perusahaan, untuk itu ia memintaku membantunya agar bisa kembali ke perusahaan” jelas Haris lagi. Haris kemudian menceritakan kedatangan Rita tadi pagi untuk menemuinya.
Pak Budi kali ini mengusap dahinya yang terasa sedikit panas karena berpikir keras, setiap langkah yang mereka ambil akan mempengaruhi arah permainan yang mereka ciptakan, apa lagi Aliando cukup memiliki kekuatan besar setelah pertunangan itu.
Pembahasan mereka berlangsung hingga larut malam, silih berganti mereka mencurahkan pikiran mereka, memilih jalan terbaik untuk memenangan pertarungan yang saat ini tengah mereka hadapi.
Tomy berjalan santai dengan memasang wajah datar menuju tempat pertemuannya dengan Haris yang telah disusun Rita.
Sebuah Restoran mewah di kawasan utara Jakarta menjadi tempat pilihan Rita, Tomy masuk ke dalam restoran itu menggunakan jaket biru, topi hitam dan kaca mata hitam.
Forum kecil mereka sehari sebelumnya membuatnya harus hati-hati bertemu dengan Haris, dibalik kaca mata hitam yang ia pakai, mata Tomy bergerilya melihat kesekeliling restoran itu, memperhatikan setiap wajah yang mungkin dicurigai sebagai penguntit Haris.
Mereka sudah memikirkan setiap ruang yang mungkin akan diambil musuh untuk mendapatkan informasi tentang Arya.
Tomy melihat ke beberapa sudut ruangan di restoran mewah itu, ia kemudian melangkah ke lantai 2 di tempat yang telah ditentukan Rita, tempat yang sama saat Arya dan Anjani pertama kali bertemu.
__ADS_1
Saat Tomy masuk ke ruang VIP restoran itu, ia melihat seorang laki-laki paruh baya yang tampil elegan dengan setelan kaos hitam dan dasi biru tua, kemeja putih yang dipakai laki-laki itu membuat penampilan hampir sama dengan para pejabat Negara.
“anda tuan Haris?” tanya Tomy saat memasuki ruangan itu.
“Iya, kamu siapa?” tanya Haris menatap bingung pada Tomy, padahal ia mengira akan bertemu Arya hari itu.
“aku Tomy, saudaranya Arya” ucap Tomy sembari mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Haris, Haris menarik nafas kasar dan kemudian menyambut tangan Tomy.
“aku kira tuan Indra yang akan datang menemuiku” ucap Haris dengan nada sedikit kecewa, ia sudah sangat ingin sekali melihat wajah tuan mudanya.
Tomy tersenyum mendengar ucapan Haris, “kami harus melindungi teman kami, oleh karena itu yang menemuimu bukan Arya, dan begitu pun dengan yang menemui dokter itu,” jelas Tomy pada Haris yang membuat Haris kembali melepas nafas panjang.
“Sepertinya kalian juga cukup pintar untuk permainan ini, apa orang yang mengetahui masalah sampel itu adalah orang suruhanmu?” tanya Haris sedikit berbasa basi pada Tomy.
“bukan, dia orang suruhan Ari, temanku yang menemui dokter yang memeriksa sampel Arya rumah sakit” jelas Tomy yang memang sudah mengetahui detail masalah sampel Arya dari Ari.
“kami butuh informasi detail masalah di Adinata group untuk menentukan langkah kami ke depan, untuk itulah aku menemui anda sekarang pak” lanjut Tomy yang tidak ingin memperlama pertemuan itu. Ada 3 orang yang ia curigai ketika menuju ruang yang ruangan itu. Orang yang mungkin tengah mengawasi gerak gerik Haris.
Haris menarik nafas dalam dan kemudian mulai menceritakan secara detail masalah yang terjadi di Adinata group, mulai dari awal perjodohan Anjani dan Arnes, hingga kecelakaan Rahman. Tomy hanya diam mendengarkan cerita Haris tanpa menyela sedikit pun.
“jadi apa rencana kalian untuk kedepannya” tanya Tomy setelah Haris menyudahi cerita panjangnya.
Ingatan Haris kemudian melayang pada ucapan pak Abdul tadi malam, ‘Haris, sekarang biarkan dulu kondisinya seperti ini, aku akan urus hasil tes ini dengan pengacara tuan Gibran, agar status tuan Indra di mata hukum dan negara adalah anak tuan Gibran, setelah itu baru kita proses pengalihan saham tuan Gibran di perusahaan ke tuan Indra, begitu juga proses pengalihan kepemilikan perusahaan ke tuan Indra, ini juga akan memakan banyak waktu, untuk itu kita harus tunggu dulu rapat pemegang saham ini selesai sebelum mengenalkan tuan indra ke hadapan publik,” jelas pak Abdul pada Haris semalam. Penjelasan yang membuat Haris harus mengalah dari keinginannya untuk menampilkan Arya ke hadapan publik.
__ADS_1