Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Ini Istriku


__ADS_3

Arya langsung naik ke mobil Rita dan menghidupkannya, ia segera melajukan mobil itu ke tempat tujuannya, ia kemudian segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor dengan tulisan istri tercinta di ponselnya itu.


Sementara itu Mila sedang duduk di meja gurunya, ia tengah memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil tentang masalah cadar yang sekarang menerpanya. Arya sudah mengembalikan masalah itu kepadanya, dan ia juga sudah mendengar keinginan Arya agar ia tetap menggunakan cadar itu, namun disisi lain ia juga tidak ingin berhenti menjadi guru.


Di tengah lamunannya, ponselnya tiba-tiba berdering, ia melihat nama Arya disana yang membuatnya senyum senang seketika, ia segera mengangkat panggilan itu dengan perasaan senangnya.


Arya tersenyum mendengar salam dari Mila, entah mengapa suara itu begitu ia rindukan sejak pagi tadi ia meninggalkan rumah.


“walaikumussalam istriku” ucap Arya dengan nada candaannya.


“kenapa tiba-tiba menelfonku?” tanya Mila dengan ketus, Ia mencoba menyembunyikan perasaan senangnya.


“apa aku salah menelfon istriku sendiri?”


“Arya,,, jangan bercanda gitu, apa kamu tidak bisa menyimpan candaanmu itu untuk nanti di rumah” kesal Mila pada Arya.


“Aku sekarang lagi jalan ke sekolahmu untuk menjemputmu, sebentar lagi aku sampai,”


“ke sekolahku?, untuk apa?, kenapa tiba-tiba kayak gini?”


“udah, jangan banyak tanya, sebentar lagi aku sampai” ucap Arya dengan singkat.


“tapi aku masih ada jam ngajar nanti siang”


“kamu mau suamimu makan siang berduaan dengan perempuan lain di ruangan tertutup?” ucap Arya yang membuat mata Mila membulat seketika, “kamu jangan macam-macam ya” ancam Mila dengan nada kesalnya. “10 menit lagi aku sampai, tunggu aku ya” jawab Arya mengakhiri panggilannya.


Mila sejenak menghirup nafas dengan kasar, tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dan meninggalkan ruang guru itu, ia mengirim pesan singkat pada Syifa untuk menolongnya ngehandle jam terakhir ngajarnya hari itu.

__ADS_1


Arya tersenyum melihat Mila yang sudah menunggunya di depan gerbang, setelah mematikan mobil Rita, ia kemudian menghampiri istrinya itu, dan Mila menatapnya dengan heran karena Arya membawa mobil yang baru ia lihat. “itu mobil siapa?” tanya Mila ketika Arya sudah berdiri di dekatnya, “apa mobil itu lebih penting daripada kamu mencium tanganku?” ucap Arya dengan nada kesal.


Mila kemudian menatap wajah suaminya dengan tersenyum, dan kemudian ia mencium tangan suaminya itu.


“ayo kita berangkat” ucap Arya langsung menarik tangan Mila, “Arya, kita mau kemana sebenarnya?, siapa perempuan yang akan kamu temui itu?”


“udah, ikut aja Mil” jawab Arya.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Arya segera melajukan mobil itu. “Arya, kamu belum menjawab 3 pertanyaanku, ini mobil siapa?, kita mau kemana?, dan siapa perempuan yang akan kita temui itu?” ucap Mila melihat kesal pada suaminya itu.


“nanti kamu juga tahu Mil, sekarang kita bahas masalah lain aja” jawab Arya yang membuat Mila semakin kesal. “aku nggak mau” ketus Mila sembari membuang mukanya dari arah Arya.


“kamu nggak mau bahas hal semalam” ucap Arya membuka pembicaraan mereka.


“kamu mau bahas tanganmu yang gemetaran itu” ucap Mila setengah meledek suaminya yang membuat Arya menelan salivanya seketika.


*


Arya membuka pintu tempat ia bertemu dengan Anjani di restoran itu, sementara Mila yang berjalan di sampingnya dibuat benar-benar pias menahan marah, ‘berani sekali perempuan itu mengajak suamiku makan siang di tempat seperti ini’ batinnya.


Arya mendapati Anjani yang tampak kacau dengan pipi yang basah, ia juga menatap meja makan yang penuh makanan itu dengan tatapan heran ‘dia ini kenapa?’ batin Arya melihat itu semua.


“Arya, akhirnya kamu datang juga” gumam Anjani dengan tersenyum, namun senyumannya itu langsung pudar ketika ada seorang perempuan bercadar yang mengikuti langkah Arya.


“dia siapa?” tanya Anjani dengan kesal sembari mengusap pipinya yang basah.


“ini istriku, kamu kenapa kayak gini Anjani?” tanya Arya dengan bingung. ‘jadi benar Arya sudah menikah’ batin Anjani menahan kecewa di hatinya.

__ADS_1


“bukankah kamu yang diusir Ari waktu itu?” tanya Anjani yang mengingat perempuan bercadar yang disuruh usir oleh Ari kepada Rita ketika di loby perusahaan Arya.


“Ari mengusir istriku, kapan?” ucap Arya dengan bingung sembari melihat wajah Anjani dan Mila bergantian.


“nggak usah dibahas Arya” jawab Mila sembari menggenggam tangan Arya, mereka kemudian duduk di depan Anjani. “kamu mau makan sebanyak ini Anjani?” tanya Arya pada Anjani sembari memperhatikan meja yang penuh makanan itu, sementara Mila menatap dalam ke arah wajah Anjani, ‘perempuan ini sedang ada masalah ya, lalu kenapa ia ingin bertemu Arya?,’ batin Mila.


“bukan aku yang akan makan, tapi kamu dan istrimu, aku tidak nafsu makan sama sekali” jawab Anjani yang membuat Arya dan Mila serentak menelan saliva mereka. “astaga, kamu gila ya, perut kami tak kan muat menampung makanan sebanyak ini” ucap Arya tak percaya.


“Arya, aku sedang butuh teman bicara” ucap Anjani dengan lesu dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “kamu ada masalah?” tanya Mila dengan lembut pada Anjani.


“kamu kenapa duduk disitu?, kalau kamu tahu aku ada masalah, seharusnya kamu duduk disampingku agar aku bisa memelukmu, atau aku yang harus pindah ke samping Arya untuk memeluknya” jawab Anjani dengan kesal kepada Mila, Mila kemudian langsung berdiri dan pindah ke samping Anjani, “aku akan membunuhmu jika kamu memeluk suamiku” ucap Mila dengan kesal. Namun Anjani tidak memperdulikan kalimat Mila itu ia segera memeluk tubuh Mila untuk melepaskan kesedihannya.


“hidup benar-benar tidak adil untukku, ayahku seenaknya menjodohkanku dengan orang lain tanpa memperdulikan perasaanku, aku bahkan sangat benci melihat mata laki-laki yang dijodohkan denganku itu” ucap Anjani memeluk erat tubuh Mila dengan suara seraknya. Arya menatap dalam ke arah Anjani, ‘jadi benar Anjani dijodohkan dengan laki-laki itu?,’ batin Arya.


"aku benar-benar tidak ingin dijodohkan seperti ini" isak Anjani di pelukkan Mila, walaupun ia tidak kenal dengan Mila, baginya ia sudah merasa senang ada tempat untuk bercerita perasaan sedihnya.


‘apa Mila juga seperti ini dulu ketika menerima perjodohan dari kakek?’ batin.Arya menahan sedih menatap Anjani dan mengingat pernikahannya dengan Mila dulu. ‘pantas saja dia menangis sore itu dan juga ketika mencium tanganku setelah akad itu, pasti ia sesedih ini saat itu’ batin Arya lagi.


Sementara Mila mengusap bahu Anjani memberikan ketenangan bagi gadis itu, ia paham betul seperti apa perasaan Anjani, karena ia pernah ada di posisi itu. “aku mengerti perasaanmu, kamu harus kuat menghadapi ini semua” ucap Mila dengan nada lembut pada Anjani.


Sementara Arya menatap dalam mata istrinya mendengar itu semua, ada sesuatu menelisik hatinya, ‘apa aku benar-benar merebut kebahagiaan Mila waktu itu?’ batinnya menahan sesak.


“aku tahu kalian tidak akan bisa membantuku, tapi aku tidak tahu lagi cara melepaskan perasaan sakit ini” ucap Anjani semakin mengeratkan pelukkannya pada Mila.


“kamu mau aku kasih tahu cara untuk melepaskan perasaanmu itu?” tanya Arya sembari menatap Anjani. Anjani dan Mila serentak melihat ke arah Arya mendengar kalimat Arya “Gimana?”


*

__ADS_1


“Ya Tuhaan, Aryaaa, ini benar-benar indah, aku tidak menyangka masih ada tempat seperti ini di Kota sebesar ini” ucap Anjani yang menatap pemandangan di depannya seolah tak percaya dengan keberadaan tempat itu, ia merentangkan tangannya meresapi semilir angin yang menerpa tubuhnya dan merasuki hatinya untuk memberikannya kelegaan di dada.


__ADS_2