
“jangan pernah kesini lagi” ucap Ari singkat dengan tajam pada Mila, ia kemudian menarik gagang pintu untuk segera masuk ke dalam ruang rawat Tomy. Ucapan Ari itu seperti menusuk hati Mila dengan dalam.
“Dimana Arya?” ucap Mila sebelum Ari membuka pintu ruangan Tomy,
Mendengar pertanyaan Mila, Ari mengurungkan niatnya membuka pintu itu, ia kemudian kembali menatap tajam ke arah Mila. “kenapa bertanya padaku? bukankah kamu istrinya?”
“ooh, aku lupa, Arya Cuma suami boneka bagimu, boneka yang kamu mainkan untuk membuat senang kakekmu itu,” lanjut Ari yang menyindir Mila dengan tajam.
“dia bukan bonekaku, dia suamiku” balas Mila, ia benar-benar tidak tahan dengan semua ocehan Ari yang hanya merendahkan dirinya.
“bukankah calon suamimu laki-laki ******** itu, pewaris Adinata group, pantas saja kamu ingin membuang Arya, ternyata calon suamimu adalah orang kaya yang akan mewarisi salah satu perusahaan terbesar di Negara ini, jika dibandingkan dengan Arya, jelas dia jauh lebih kaya” ucap Ari lagi yang semakin memojokkan Mila, ia ingin melepaskan semua sakit hati yang telah ia tahan pada Mila dan juga Cipta Rakarsa, dan saat ini ia memiliki kesempatan untuk melampiaskannya.
Mata Mila berkaca-kaca, hatinya pilu atas semua tuduhan itu, ia sama sekali tidak memandang status Arnes ketika menerima Arnes sebagai pacarnya, tapi sekarang tuduhan Ari yang tidak berdasar itu telah menyakitkan hatinya, “aku bukan perempuan seperti itu,” ucap Mila dengan nada marahnya.
“tapi aku telah melihat kalau kamu perempuan seperti itu” Ari kemudian masuk ke dalam ruangan Tomy dan meninggalkan Mila yang sudah ia sakiti hatinya.
Mila berjalan sempoyongan ke kursi yang ada di sebelah ruangan Tomy, ia kemudian duduk dan melepas tangisnya, hatinya benar-benar sakit saat itu, entah mengapa mengejar Arya begitu sesakit itu, ia harus menahan semua cacian dan hinaan yang datang dari banyak orang, mulai dari Rita, Abel, dan sekarang Ari, entah siapa lagi yang akan datang kepadanya dan kembali mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan hatinya.
‘Apa aku salah mengharapkan Arya?, aku ini istrinya, apa salah seorang istri mengharapkan suaminya kembali, apa aku salah?’ batinnya menahan pilu.
‘sungguh menyakitkan sekali mengharapkanmu Arya, apa ini balasan atas semua dosaku kepadamu, semua orang yang mengenalmu sekarang menjadi musuhku, dan apa kamu juga telah memusuhiku sekarang, hingga kamu tidak mau kembali lagi padaku’
*
__ADS_1
Arya tengah duduk di sebuah pondok di tengah-tengah area sebuah persawahan, ia duduk menatap panjang indahnya area persawahan yang membentang hijau itu.
Hingga terdengar suara memanggilnya,
“Ayo sini nak, kita makan dulu” ucap seorang kakek tua pada Arya, Arya kemudian melihat ke arah kakek itu, kakek tua pemilik rumah tempat Arya tidur beberapa hari belakangan. ia kemudian mendekat dan duduk di sebelah orang tua yang sedang menuangkan nasi ke piringnya. Selang beberapa saat, seorang nenek tua datang menghampiri mereka dengan membawa minuman.
“makan yang banyak Arya, makan di tengah sawah seperti ini rasanya sangat nikmat, nggak sama dengan rasanya makan di restoran kota-kota besar” ucap nenek itu pada Arya dan Arya tersenyum mendengar ucapan beliau.
Salah satu hal yang membuat Arya tidak pernah berhenti untuk berpetualang adalah karena hal-hal simpel seperti ini, ketika ia dapat makan lepas di tengah sawah dengan terpaan angin sejuk khas daerah pedesaan, suatu kenikmatan yang tidak akan pernah ia dapatkan setiap kali makan di restoran mewah yang ada di Jakarta.
“masakan nenek enak sekali” ucap Arya yang sedang melahap potongan ikan bakar,
“istriku ini paling jago kalau soal masak Arya” ucap si kakek memuji istrinya,
“ah bapak ini, orang setua ku masih juga kau goda” balas si nenek, Arya kemudian tersenyum melihat tingkah mereka. entah mengapa hatinya menginginkan hari tua yang sama dengan sepasang suami istri berusia senja di depannya, Ia ingin sekali menjalani hari seperti itu dengan istrinya suatu saat nanti.
“nak, apa kau masih lama disini?” tanya si nenek pada Arya,
“aku sangat senang sekali tinggal bersama kalian disini” jawab Arya sembari melahap makanannya lagi,
“kalau begitu kau tinggal aja disini, akan ku carikan kau istri disini, akan ku nikahkan kau sama kembang desa yang ada di desa ini, bahkan aku bisa mencari kembang desa di desa-desa lain untukmu, kau mau punya istri berapa? akan kucarikan untukmu” ucap si kakek yang membuat Arya tertawa mendengarnya,
“aku sebenarnya sangat nyaman tinggal di tempat seperti ini kek, tapi aku punya banyak kerjaan kek, banyak orang disana yang menggantungkan hidupnya kepada pekerjaanku” jawab Arya sembari mengingat karyawan perusahaannya yang menyapanya setiap pagi, ‘entah bagaimana kondisi perusahaan sekarang, mereka terlalu menggantungkan semua desain kepadaku, semoga saja kondisi perusahaan baik-baik saja’ batin Arya.
__ADS_1
“aku bisa mencarikanmu pekerjaan disini, orang disana sudah ditentukan rezekinya oleh Tuhan, kalau kamu pergi dari sana, rezeki mereka juga tidak akan berkurang” Si kakek masih berusaha membujuk Arya untuk menetap bersama mereka, ia dan si nenek hanya tinggal berdua karena anak-anak mereka telah pergi merantau ke kota besar.
Sejenak Arya berpikir untuk menjawab permintaan si kakek, ia harus menolaknya dengan halus dan alasan yang dapat diterima. “istriku sedang menungguku kek” jawab Arya menyerah mencari alasan lain lagi, walaupun rasa cinta dihatinya pada Mila telah memudar seiring berjalannya waktu, tetap saja ia merasa getir mengatakan hal itu.
“kalau begitu kamu harus segera kembali, jangan sampai istri mu mencari laki-laki lain karena kamu tinggal lama-lama” ucap si kakek yang membuat ada sesuatu menelisik masuk ke dalam hati Arya, ‘ia bahkan mengkhianatiku ketika aku selalu ada di sisinya kek, ketika aku menahan hasratku untuk mendaki dan jalan-jalan seperti ini agar aku selalu ada disisinya, ia malah bersenang-senang memadu cintanya dengan laki-laki lain’ batin Arya yang menahan pilu akan hidupnya dengan Mila, perceraian sekarang telah menjadi jalan yang hendak ia pilih, entah itu harus menyakiti banyak orang, mungkin itu akan lebih baik daripada menanggung derita hati setiap saat.
“kamu tahu Arya, kenapa aku tidak pernah ingin merantau ke kota besar?” tanya si kakek lagi yang masih asyik menyuap masakan enak istrinya ke dalam mulutnya.
“emang kenapa kek?”
“karena aku mencintai istriku, istriku ini kembang desa, jika aku pergi, sudah banyak laki-laki lain yang siap menggodanya” ucap si kakek sembari melirik ke arah istrinya, si nenek pun tersenyum mendengar pujian si kakek, ia tahu betul seperti apa laki-laki tua di depannya itu menjaga perasaannya, yang membuatnya tutup mata pada laki-laki lain yang jauh lebih kaya dan lebih tampan dari si kakek ketika mereka muda dulu.
“wah, kalian romantis sekali di usia yang sudah segini” puji Arya pada mereka.
“setia dan kepercayaan itu penting Arya, kita pasti akan melalui fase sulit dalam pernikahan kita, kita akan di uji oleh perasaan cinta yang mulai hilang dan pudar, tapi toh perasaan masih bisa ditumbuhkan lagi,” ucap si nenek yang menceritakan apa yang pernah ia alami pada dirinya dulu, ketika merasakan cintanya pada si kakek yang pernah pudar,
Arya sejenak berpikir pada ucapan si nenek ‘mungkin aku harus segera kembali, aku harus menyelesaikan semua ini, agar aku bisa mencari dan menemukan bidadari surgaku sendiri, nenek benar, aku bisa melupakan Mila, dan menumbuhkan perasaan cinta baru pada orang yang juga mencintaiku’
Kakek tersenyum mendengar cerita istrinya, ia seperti paham betul dengan semua yang dirasakan oleh istrinya itu, “kami ini sangat berbeda Arya, nenekmu ini dari keluarga kaya, biasa hidup manja, sedangkan aku dari keluarga yang biasa saja, kami sering bertengkar karena masalah-masalah kecil, nenekmu sering terlambat bangun, padahal aku harus ke sawah dan ke ladang setelah shubuh, masakannya dulu juga tidak seenak ini, sedangkan masakan ibuku di rumah selalu memanjakan lidahku, belum lagi nenekmu ini boros, padahal penghasilanku sedikit, masalah kecil pun bisa membuat kami bertengkar, apalagi dulu nenekmu sering malas-malasan untuk membersihkan rumah, tapi aku sangat mencintainya, aku berusaha untuk mengerti dia dan membimbing dia untuk berubah, aku tahu dia mulai membenciku dan cintanya mulai berkurang untukku ketika aku sering menegurnya, dan kami sering bertengkar, dan syukurnya kami berhasil melewati semuanya dan sekarang kami dapat menikmati masa tua kami yang indah ini” jelas si kakek sembari melirik genit menggoda si nenek, dan si nenek kembali tersenyum mendengar cerita si kakek, ia seperti menertawai kehidupannya yang dulu.
“tapi aku punya niat berubah loh kek, makanya aku bisa sebahagia ini sekarang, kalau waktu itu aku pergi meninggalkanmu ketika perasaanku padamu mulai hilang, mungkin Arya juga nggak disini sekarang, dan jika dulu aku memilih menikah dengan laki-laki kaya atau laki-laki tampan yang dulu datang kepadaku, mungkin aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan di usia seperti ini” jawab si nenek yang memegang manja tangan suaminya.
Arya tersenyum melihat mereka berdua, hatinya berkata bahwa ia ingin memiliki kehidupan di masa tua yang sama dengan 2 orang di depannya itu.
__ADS_1
“Arya kembalilah kepada istrimu, bawa dia kemari, aku ingin melihat secantik apa menantu ku itu” ucap si Nenek yang membuat Arya tersenyum. ‘aku harus kembali, dan segera menemukan perempuan yang akan menjadi bidadari surgaku nanti,’
“Aku akan mengajak bidadari surgaku itu untuk menemuimu nanti nek”