Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tugas Sahabat


__ADS_3

Mila memperhatikan bu Annisa yang menjelaskan kepadanya, Abel dan Vanessa tentang tentang masalah hijab. Mereka duduk di ruang tengah setelah shubuh dengan suasana obrolan mereka yang dibuat sesantai mungkin sehingga ketiga perempuan itu terasa seperti mengobrol ringan dengan bu Annisa, Mila dengan serius mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut bu Annisa, ia sadar, Ia mendapat tugas khusus dari suaminya untuk belajar dari bibinya itu.


“hijab itu sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah, karena jilbab atau hijab itu adalah perintah Allah, jadi barang siapa yang memakainya, berarti orang itu mentaati perintah Tuhannya” ucap bu Annisa yang diperhatikan oleh ketiga perempuan disana.


“Jadi Abel sama Vannesa, kalau mau mentaati Allah, salah satu caranya adalah dengan memakai jilbab, memakai jilbabnya harus diniatkan dengan tulus untuk mentaati Allah, bukan untuk sekedar ikut-ikut teman saja, bukan karena disuruh sama suami, bukan untuk mengejar laki-laki, bukan sekedar ikut tren. Niat yang salah nantinya tidak akan berdampak apa-apa bagi kehidupan kita, jadi jangan salah kalau ada orang tampak menutup aurat, tapi sikapnya, tingkahnya, perbuatannya, kata-katanya tidak sesuai dengan pakaiannya” jelas bu Annisa lagi yang membuat dada Mila seakan tertusuk duri tajam. Kata-kata itu seolah-olah telah menelanjangi semua kesalahan yang telah ia lakukan.


“Dan juga, untuk Mila dan Vanessa yang udah menikah, dan Abel yang juga akan menikah, memakai jilbab itu adalah bentuk kita menjaga kehormatan suami kita, karena setelah menikah kehormatan kita akan menjadi kehormatan suami kita dan begitu juga sebaliknya, dan juga yang paling penting itu hijab di hati kita, cinta yang pertama di hidup kita itu Allah dan Rasulnya, jangan sampai kita mencintai yang lain melebih cinta kita pada Allah dan Rasulnya, apa lagi kita mencintai sesuatu yang tidak halal bagi kita” jelas bu Annisa lagi yang kembali menusuk nurani Mila.


‘ya Tuhan, aku sudah tahu kesalahanku, tapi kenapa mendengar ucapan bibi, hatiku benar-benar merasa sakit seperti ini, apa hati ini belum seutuhnya bertobat kepada-Mu’ batin Mila.


“termasuk sama suami sendiri bu?” tanya Abel dengan polos.


“iya, jangan sampai cinta kita pada suami kita melebihi cinta kita pada Allah dan Rasulnya, kebahagian itu tidak datang dari sesuatu yang berlebihan sayang, sayang dan cinta sekedarnya saja adalah kunci kebahagiaan, agar kita bisa lebih kuat jika Allah mengambil mereka sewaktu-waktu” lanjut bu Annisa.


“Bagaimana caranya bi?, bagaimana caranya kita tidak mecintai suami kita melebihi cinta kita kepada Allah?” tanya Mila yang kebingungan dengan penjelasan bu Annisa. Bu Annisa pun tersenyum mendengar pertanyaan Mila.


“Cintai suamimu karena rasa cintamu kepada Allah, iman itu rumit sayang, tidak sekedar kamu berpakaian tertutup, tidak sekedar kamu sholat tepat waktu, tidak sekedar kamu sholat tahajud setiap malam, tidak sekedar kamu rajin puasa sunnah, iman itu soal hati yang terkadang kita manusia sulit memahami hati kita sendiri, jadi wajar saja jika kamu melihat ada orang yang pakaian tertutup dan rajin ibadah, namun kata dan tindakannya masih menyakiti orang lain, karena masih banyak orang yang beribadah, namun niatnya masih salah, tidak tulus untuk Allah, tidak tulus mengharap ridho Allah, niat itu ada di hati, dan hatilah yang akan menentukan akhirnya” jelas bu Annisa lagi.


“lakukan setiap kegiatanmu karena Allah, layani suamimu dengan niat ibadah kepada Allah, kamu akan merasakan perasaan cinta kepada suamimu yang tulus karena Allah, cinta tanpa ada Allah didalamnya, akan menjadi cinta buta yang tak jelas arah tujuannya, percayakan semuanya kepada Allah, maka biar Allah yang menjaga suamimu, kamu tak perlu bersifat posesif, curiga, atau sikap-sikap lainnya, cukup layani suamimu karena Allah, dan berdoa serta berserah diri kepada Allah, biar Allah yang menjaga suamimu dengan kekuasaan-Nya” jelas bu Annisa lagi.


“saat bibi dan paman melepas Arya dan Tomy kembali ke Jakarta, kami sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk melindungi mereka disana, kami hanya punya Allah nak, melalui doa dan keyakinan kami kepada Allah, kami yakin, Allah akan melindungi mereka untuk kami” lanjut bu Annisa.

__ADS_1


‘ya Tuhan, pantas saja Arya dan Tomy bisa bersikap sebaik itu kepada kami, ternyata ia dididik oleh perempuan seperti ini’ batin ketiga perempuan itu.


*


Pagi itu cukup cerah, matahari dengan hangat menerpa ibukota, Irman sedikit terlambat ke kantornya setelah tidur larut malam. Irman melangkahkan kakinya memasuki loby perusahaannya, saat ia berjalan santai melewati resepsionis yang menunduk untuk memberi hormat kepadanya, salah satu resepsionis berbicara dengan nada sopan kepadanya,


“maaf pak, ada yang mencari bapak” ucap resepsionis itu.


“siapa?” tanya Irman dengan nada dinginnya.


“orangnya disana pak” jawab resepsionis itu sembari menunjuk kea rah sofa yang ada di lobi itu.


Laki-laki itu tersenyum sinis melihat Irman melangkah ke arahnya, “duduklah, percakapan kita akan sedikit panjang” ucap laki-laki dengan santai.


“mau apa kamu kesini?” tanya Irman dengan nada sinisnya tanpa memperdulikan tawaran untuk duduk dari laki-laki itu.


“kamu tahu ini jam berapa?, apa pimpinan perusahaan ini selalu datang jam segini, pantas saja perusahaan ini akan bangkrut, katakan kepadaku, berapa pegawaimu yang sudah kamu phk” ejek laki-laki itu pada Irman.


“tahu dari mana kamu masalah perusahaanku ini?” tanya Irman yang tak percaya jika saingan perusahaannya tahu masalah perusahaannya.


“karena akulah dalang dibalik semuanya,” ucap Ari dengan sinis pada Irman.

__ADS_1


“kamu,,,” ucap Irman tak percaya.


“aku melakukannya lebih baik darimu, semua kerugian perusahaanku atas ulahmu sudah kamu dapatkan balasannya, sekarang hanya menghitung hari, perusahaan ini akan lenyap, balasan yang sedikit kejam sebenarnya, tapi tak apa, itu jauh lebih cukup untukmu, aku ingin kamu melihat wajahku agar kamu tahu kepada siapa kamu harus membalas dendam nanti” ucap Ari dengan sinis.


“apa orang-orang yang bekerja tidak sesuai target itu karena ulahmu?, apa masalah projekku di banyak daerah itu ulahmu?, apa hutang-hutang aku ke bank yang tak terbayar itu ulahmu juga?” ucap Irman penuh emosi.


“waww, kamu cerdas juga, tapi sayangnya kamu baru menyadarinya sekarang, masih banyak hal lain dari perusahaan ini yang berada di bawah kendaliku, bermain diam, senyap, tanpa ada bau sedikitpun, apa aku bermain dengan baik untuk ini?” tanya Ari dengan nada ejekannya.


Irman seketika naik pitam mendengarnya, ia menarik kerah Ari yang duduk hingga Ari harus bangkit berdiri karena tarikan itu. Semua orang yang ada disana seketika menghentikan kegiatan mereka dan melihat ke arah pimpinan mereka yang sedang menarik kerah baju Ari.


“jadi kamu orangnya, aku akan membunuhmu, aku akan menghabisimu, dasar anj**g, biadab, manusia laknat” ucap Irman dengan nada marahnya.


“sebenarnya ada hal lain yang ingin aku sampaikan kepadamu,” ucap Ari masih dengan nada santainya, nada yang semakin membuat Irman mengeram marah melihatnya. Rahang Irman mengeras, matanya membulat menyiratkan api kemarahannya.


“Apa kamu tidak tahu bahwa iparmu itu adalah rekanku di perusahaanku?, apa dia sama sekali tidak melindungi keluarga istrinya hingga perusahaan ini harus hancur karena ulah temannya sendiri?, owwh, atau jangan-jangan dia juga terlibat di balik ini semua?” ujar Ari yang masih dengan nanda santai.


“Arya,,” ucap Irman masih menahan marah.


Ari kemudian melepas tangan Irman dengan kasar di kerahnya. “bawa adikmu itu pergi dari kehidupan sahabatku, dia hanya benalu dalam kehidupan kami” ucap Ari dengan nada penuh penekanannya, ia kemudian meninggalkan lobi perusahaan itu, sementara Irman mengusap kasar wajahnya mendengar itu semua, ia menahan rasa frustasi dan berteriak keras agar semua orang yang melihatnya segera bubar dari sana. “apa yang kalian lihat? bubaarr” ucap Irman sekeras mungkin, dan orang yang ada di loby itu langsung segera menjauh darinya.


Ari melangkah santai menuju mobilnya di pakiran perusahaan Cipta rakarsa, ia sejenak menarik nafas dalam, ‘aku sudah melakukan tugasku sebagai sahabatmu Arya, sekarang giliran perempuan itu yang harus melakukan tugasnya sebagai istrimu, jika dia mempercayaimu dan tetap bersamamu, aku akan mempercayainya seutuhnya, dan akan melindungi dia dari semua orang yang mengancamnya’ batin Ari sembari menyuruh sopirnya untuk segera mengantarnya ke bandara.

__ADS_1


__ADS_2