
Vanessa membawa segelas kopi menuju ruang tamu, disana Ari tengah duduk memikirkan semua penjelasan Vanessa kepadanya. “diminum Ri” gumam Vanessa sembari menaruh kopi buatannya di depan Ari.
“terima kasih” jawab Ari dengan singkat, ia mencicipi sedikit kopi panas itu.
“jadi hasil tes dulu menunjukkan kalau kamu yang tidak bisa memiliki anak?” tanya Ari, Vanessa mengangguk pelan, ia terbawa perasaan hancurnya tadi, dan semua masalah itu ia ceritakan kepada Ari tanpa tertinggal sedikit pun.
“ceraikan saja dia, laki-laki seperti dia tidak pantas untuk perempuan sebaikmu” ucap Ari dengan datar.
“itu,,, bukannya kamu bilang aku harus menjaga Mila, hanya pernikahanku ini ikatanku dengan Mila, nggak ada yang lain” jelas Vanessa.
“ceraikan dia, dan kamu masih bisa tinggal bersama Arya dan Mila, aku yang jamin itu”
Pikiran Vanessa seketika teringat pada apa yang ia lihat di apartemen Arbi sebelumnya, dimana ia melihat Irman bersama perempuan lain di depan matanya sendiri. “aku akan pikirkan nanti, aku hanya ingin fokus pada kehamilan Mila, posisinya sangat sulit sekarang” jawab Vanessa.
Ari menatap wajah Vanessa yang tampak masih sedih, ‘kenapa Karina tidak bisa setulus dia?, apa aku masih banyak kekurangan di mata Karina,’ batin Ari.
“ceraikan saja dia, aku tidak ingin kamu membenciku lagi karena aku harus menyingkirkan Irman, dia bisa jadi alat Arnes untuk menghabisi Arya” gumam Ari yang mengalihkan pandangannya dari Vanessa.
“menyingkirkannya?, bukankah kamu sudah gagal untuk itu, perusahaan juga akan dibawa ke Malaysia”
Ari tersenyum tipis mendengar ucapan Vanessa, “kami bukan orang sembarangan, pacar Arbi salah satu simpanan suamimu, Arbi menemukan ada aliran dana dari rekening perempuan itu kepada beberapa pejabat di daerah, dan setelah diselidiki oleh orang -orangku, dugaan Arbi benar adanya”
“maksudmu?” tanya Vanessa dengan pelan.
“dia menyuap pejabat untuk memenangkan beberapa projek dengan menggunakan rekening perempuan itu untuk menyembunyikan perbuatannya, sebenarnya aku dan Arbi masih menimbang membawa ini ke jalur hukum, aku takut Mila semakin marah kepadaku karena aku masih mengejar abangnya, tapi saat ini posisi Arya yang menjadi ancamannya, jadi aku harus menyingkirkan dia dengan cara ini” jelas Ari pada Vanessa, dokumen yang diberikan Arbi dan hasil penyelidikan orangnya masih ia simpan diruangannya.
“bang Irman melakukan itu?” ucap Vanessa tak percaya dengan ucapan Ari. Ari mengangguk pelan sembari meminum kopi.
“aku boleh ngomong sesuatu kepadamu” gumam Ari dengan pelan.
“ngomong apa?”
“aku,,,,,aku,,,,,” tiba -tiba saja pintu Apartemen tersebut terbuka, Ari melepas nafas panjang ketika apa yang ingin ia katakan terpotong begitu saja.
Arya dan Mila masuk ke dalam apartemen dengan saling bergandeng tangan, seperti anak abg yang baru dimabuk cinta. Ketika masuk ke dalam apartemen, mata Mila membulat kaget melihat ada Ari disana.
Ari dan Vanessa kemudian berdiri menyambut Arya dan Mila. “hai Mil, maaf ya untuk yang kemarin,” ucap Ari dengan ramah kepada Mila.
__ADS_1
Sementara Arya menatap Ari penuh selidik, ‘kenapa Ari bisa ada disini?’
Mila mencoba tersenyum dengan sikap ramah Ari, ia mencoba bersikap tenang membalas keramahan Ari. “hai juga Ri, nggak apa-apa kok, lagi pula aku juga sehat sehat aja sekarang”
“kamu kenapa disini Ri?” tanya Arya dengan datar.
“aku mau minta maaf sama Mila, apa nggak boleh?”
Arya menatap Ari dengan penuh selidik, ia tahu sahabatnya itu hanya sedang menyembunyikan alasannya disana.
“selamat ya Mil buat kehamilanmu, aku sebagai sahabatmu sangat senang mendengar kabar itu” lanjut Ari pada Mila.
Mata Mila tak bisa berkedip melihat wajah Ari setelah mendengar itu semua. Wajah itu tak sedingin biasanya, tatapan Ari tidak setajam biasanya, tapi jauh tampak lebih lembut. “kita sahabat” gumam Mila dengan pelan.
Ari tersenyum kepada Mila, “kamu harus jaga keponakanku baik-baik, kalau tidak aku bisa marah besar kepadamu” ucap Ari dengn tersenyum akrab kepada Mila.
“kamu tenang saja, mana mungkin aku tidak menjaganya” ucap Mila yang juga mencoba untuk akrab kepada Ari.
“aku kedalam dulu ya Ri” pamit Mila kepada Ari, ia kemudian masuk ke dalam dan Vanessa mengikuti langkah Mila, meninggalkan Arya dan Ari yang saling menatap datar antara satu dengan yang lain.
Arya kemudian duduk di samping Ari, dan Ari pun duduk dengan kembali meminum kopinya, “ada apa Ri?” ucap Arya dengan pelan.
“lo belum menjelaskan apa-apa sama Vanessa, jadi tadi dia ke kantor dan gue menjelaskan semuanya”
Arya seketika saja melihat tajam ke arah Ari, “jadi kak Vanessa sudah tahu semuanya?”
“iya, lo nggak usah khawatir, kepala lo bisa pecah jika harus memikirkan semuanya, pastikan saja Mila aman, dan rencana kita berjalan lancar”
Arya melepas nafas kasar, memang sudah seharusnya Vanessa tahu semuanya. “orang-orang ayah lo ingin bertemu dengan lo Arya, lo harus bisa membela keluarga Mila dihadapan mereka” lanjut Ari lagi.
“kenapa lo bisa seperti ini sama Mila?” tanya Arya tanpa menatap Ari, matanya kosong menatap dinding di depannya.
“karena lo milih dia, sejak lo bawa dia ke kampung lo bertemu paman dan bibi, gue udah tahu lo milih dia, sikap gue kemarin hanya karena khawatir saja dengan diri lo,”
Arya mengusap bahu Ari dengan pelan “gue mau memberi tahu keluarga Mila siapa gue Ri, gue harus membuat hubungan Mila dengan ibu menjadi baik lagi, gue nggak ingin masalah ini menganggu kehamilan Mila” ucap Arya yang membuat Ari membuang nafas kasar.
“tunggu dulu saham itu jatuh ke tangan lo, baru kasih tahu semuanya”.
__ADS_1
“nggak bisa Ri, jika gue nunggu hal itu, keluarga Mila akan tahu semuanya dari orang lain, bukan dari gue, ibu Mila akan semakin marah sama gue karena sebelum ini gue berbohong sama dia” jelas Arya pada Ari.
Ari mengusap kasar wajahnya, kondisi memang sulit, setiap keputusan akan beresiko besar jika ia ambil tanpa memperhitungkan banyak hal.
“yang datang ke rapat kemarin abangnya Mila, dia yang membuat keluarga Rakarsa menjadi pengkhianat, tunggu 3 hari lagi, gue akan proses dulu kasusnya dia agar dia tidak membahayakan lo"
“kasus dia?”
“nggak usah lo pikirin, ini masalah gue,”
“Ri, jangan buat ibu Mila tambah marah sama gue”
“kita nggak punya pilihan lain Arya, membiarkannya bebas akan beresiko besar bagi lo, lagi pula dia sudah seharusnya mendapat balasan setimpal atas keburukannya kepada semua lawan bisnisnya, termasuk kita dan Vanessa” jelas Ari.
*
Bu Saniah sedang membantu pak Sarman meminum segelas air, pria tua itu baru saja menyelesaikan makan siangnya. Suasana disana terasa sepi seperti biasa, pak Sarman setiap hari hanya bisa melihat ruangan itu seperti penjara baginya.
Namun kabar gembira sudah ia terima, dokter akan memberikannya izin untuk dirawat di rumah jika kondisinya bisa stabil dalam waktu sebulan ke depan.
Ketika pak Sarman hendak memejamkan matanya untuk istirahat siang, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa ada yang mengetuk. Haris masuk dengan memasang mata tajamnya ke arah pak Sarman, sementara pak Sarman menatap Haris dengan datar, “kamu Hariskan?” tanya pak Sarman.
“rasanya udara disini benar-benar kotor” gumam Haris, ia menghirup nafas dengan dalam dan kemudian melepasnya dengan kasar, “jadi ini rasanya berbagi udara dengan para pengkhianat” lanjut Haris memulai perang kecilnya dengan pak Sarman.
“apa maksudmu berbicara seperti itu?” geram bu Saniah.
“Rahman sangat percaya kalau kalian akan berada di pihak kami, tapi ternyata kepercayaan Rahman tak terbalas sama sekali” ucap Haris dengan datar.
Mata pak Sarman membulat tak percaya, ia melihat ke arah bu Saniah yang tampak pias mendengarkan ucapan Haris. “apa maksudmu Haris?,”
“apa anda masih ingin mengelak tuan Sarman yang terhormat” ucap Haris dengan sinis.
Haris masih ingat perintah pak Abdul kepadanya, ‘temui Sarman, pastikan dia menunjukkan wajahnya, kita tidak bisa membuang nona muda dari sisi tuan muda, nona muda kita sedang mengandung darah Adinata, kita harus melindunginya’
“Saniah” ucap pak Sarman dengan nada sedikit meninggi
“ayah itu,, ” gumam bu Saniah menahan takut.
__ADS_1