
“apa mau mu?, kenapa harus tergesa-gesa begini bertemu denganku?” ucap Pak Abdul melepas nafas lelahnya.
"karena permintaan anda tadi sore membuat sedikit masalah" ucap Ari dengan pelan.
Ari tersenyum melihat ke arah pak Abdul, “sebagai sahabat, saya akan melindungi sahabat saya termasuk rumah tangganya, saya tahu anda tidak ingin bekerja sama dengan keluarga Rakarsa, tapi Arya sudah menjadi menantu disana” ucap Ari berusaha memancing emosional pak Abdul, ia ingin tahu seberapa besar dan sulitnya posisi yang sedang dihadapi oleh orang tua itu.
“mereka tetaplah pemegang saham di Adinata, yang kami takutkan adalah keselamatan tuan muda, jika mereka ada di pihak musuh, itu berarti nyawa tuan muda tengah diincar juga oleh keluarga istrinya sendiri, untuk itu aku ingin agar mereka berpisah” jelas pak Abdul.
“tapi sepertinya itu takkan terjadi pak, sebaiknya anda siapkan skenario lain selain memisahkan mereka”
“kenapa?, istri tuan muda bisa jadi bumerang bagi kita nanti”
“karena istri Arya sedang hamil, apa anda ingin memisahkan Arya dengan darah dagingnya sendiri.” ucap Ari dengan sinis.
Pak Abdul menarik nafas kasar, ia selalu dapat bersikap tenang saat menerima kabar mengejutkan seperti itu. “aku dengar dari Haris, istrinya tuan muda punya hubungan anak Aliando, apa menurutmu ini tidak berbahaya?”
“Mila sudah berubah, dia menjaga rahasia ini dengan baik, aku bisa menjamin hal itu”
Pak Abdul menarik nafas dalam dan melepasnya dengan kasar. “sepertinya ini akan sulit, aku juga tidak bisa membiarkan nona muda pisah dari tuan muda, anak yang dikandungnya itu darah Adinata, sudah kewajiban kami untuk menjaganya, tapi masalahnya sekarang kita tidak tahu seperti apa keluarga Rakarsa itu”
“apa anda tahu siapa keluarga Rakarsa yang datang ke rapat tadi?” tanya Ari dengan datar.
“cucu laki-laki Sarman, laki-laki itu pernah dijodohkan dengan anak sekretaris Arjun, tapi saat itu mereka berkhianat”
“berarti dia durinya, aku sudah punya kartunya, aku akan segera singkirkan dia dari permainan ini, dia bisa jadi alat mereka untuk menghabisi Arya, beri aku waktu seminggu, aku pastikan dia tidak akan menganggu lagi, dan kita bisa percaya sama keluarga Rakarsa” Jelas Ari.
“wah, kamu sudah bertindak jauh rupanya, bisa kamu susun waktu untuk kami bertemu tuan muda, proses pengalihan sahamnya sebentar lagi akan selesai, jadi kami harus susun strateginya dengan tuan muda langsung” ucap pak Abdul dengan datar.
“akan aku siapkan, yang penting musuh kita jangan sampai tahu soal pertemuan itu”
“itu bisa kuatur, aku akan minta Haris bertemu Sarman besok, kita harus mainkan dulu psikologisnya untuk melihat apa mereka benar-benar ada di pihak kita”
*
__ADS_1
Mila tengah duduk bersandar di atas ranjangnya, ia menatap lekat wajah Arya yang tengah sibuk menggambar di meja hias kecilnya “kenapa kamu menatapku seperti itu Mil” tanya Arya tanpa melihat ke arah Mila.
“hmmm, wajahmu tampak lebih tampan sekarang, apa ini efek maskeran kita yang mulai rutin” gumam Mila dengan memperhatikan setiap lekuk kulit wajah Arya dari cermin.
Arya melepas nafas kasar, karena emosi labil istrinya yang lagi hamil muda, hampir setiap malam ia harus maskeran untuk mengikuti keinginan Mila.
“dari dulu aku memang tampan kok, kamu aja yang nggak sadar”
“kata siapa?, aku sadar kok, saat kita nikah, aku sudah sadar dengan ketampananmu, saat kamu tidur di sofa, aku juga sadar dengan ketampananmu, tapi sekarang kulitmu tidak gelap lagi, jauh lebih putih, ini pasti efek maskerannya, sama sekarang kamu tidak naik motor lagi” jelas Mila.
Arya tersenyum mendengar ucapan Mila, pengakuan istrinya itu membuat hatinya merasa senang seketika, “satu lagi, potong rambutmu itu, aku lebih suka kalau rambutmu pendek” lanjut Mila.
“susah lo manjangin kayak gini Mil, kamu main suruh potong aja” ucap Arya dengan datar.
“iih, tapi aku nggak suka, pokoknya besok harus kamu potong, aku nggak mau tahu” ucap Mila dengan kesal.
‘ya Tuhan, gini amat bini hamil, sampai rambut pun jadi masalah’
“iya,,iya,,, besok aku potong” ucap Arya dengan lemah.
Pintu kamar mereka kemudian terdengar di ketuk, Arya segera berdiri untuk membukanya, disana ia melihat Vanessa membawakan segelas susu untuk Mila.
“susu Mila kak?"
“iya dek, segera diminum ya, mumpung masih angat” jawab Vanessa,
Arya segera mengambil susu tersebut, "makasih ya kak” ucapnya dengan tersenyum.
Arya segera menuju ranjang ke tempat Mila sedang bersandar, “ayo Mil, langsung diminum” ucap Arya sembari membantu Mila untuk meminum susunya itu.
"aku bisa sendiri Arya” gumam Mila,
“nggak apa-apa, aku mau membantumu” perlahan Arya membantu Mila untuk minum susunya hingga habis,
__ADS_1
“hook” seketika saja Mila bersendawa setelah meminum habis susunya, Arya tertawa melihat tingkah istrinya itu.
“ihh kamu kok ketawa sih” ucap Mila dengan kesal, ia mencubit perut Arya dan segera memunggungi Arya karena malu. Arya menaruh gelas di nakas dekat lampu tidur, ia kemudian segera memeluk Mila dari belakang.
“Mil, makasih udah milih aku, aku benar-benar bahagia dengan ini semua, terima kasih juga sudah mau mengandung malaikat kecilku, hidupku sudah terasa sempurna sekarang” ucap Arya sembari berbisik di telinga Mila.
Mila kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Arya yang sedang memeluknya, “aku yang berterima kasih Arya, kamu memberi maaf atas dosaku dulu, kalau tidak, mungkin sekarang aku hanya akan menangis menyesal di dalam kamar” jawab Mila dengan pelan.
“dan satu lagi, dia juga malaikat kecilku, bukan malaikat kecilmu saja, aku yang mengandungnya” ucap Mila dengan nada menekan. Seolah menekankan kalau anak yang ia kandung bukan hanya anak Arya, tapi juga anaknya.
“iya,iya, dia malaikat kecil kita,,,hmmmm, sekarang kamu mau apa?, apa kamu ingin sesuatu?”
“hmmmm, apa ya?,”
“apa kamu masih ingin ke Paris, tapi sepertinya kita harus tunggu waktu lama dulu untuk kesana, setidaknya sampai malaikat kecil kita bisa berjalan” imbuh Arya.
Mila tersenyum mendengar ucapan Arya, ia meresapi hangatnya tubuh Arya yang tengah memeluknya.
“kemana pun aku mau, asal selalu bersamamu” jawab Mila dengan pelan.
“apa sekarang aku harus puasa dulu?” tanya Arya dengan tangannya yang mulai mengelus perut Mila, tangannya perlahan mulai bergerak nakal.
“sepertinya begitu” ucap Mila tersenyum senang, tangannya sudah menahan tangan Arya agar tidak bergerak liar.
“masa sih, perasaan semalam kita masih melakukannya” jawab Arya dengan polos.
“iya, kamu tuh yang nafsuan, udah tahu aku lemas, tetap juga dipaksa” ucap Mila yang membuat Arya tersenyum tipis.
“bukannya kamu yang nafsuan, dulu waktu umur 4 tahun aja kamu udah berani meluk sama menciumku” goda Arya.
Mila tersenyum mengingat peristiwa itu, ia melepaskan pelukkan Arya di tubuhnya dan segera merebahkan dirinya di kasur. “lucu ya mengingat masa-masa itu, apa kamu mau kita bermain pangeran dan princess lagi?” ucap Mila sembari melihat Arya yang masih duduk di tengah ranjang
“boleh, tapi aku maunya nggak hanya sampai peluk ama cium, tapi lebih dari itu” ucap Arya dengan usil.
__ADS_1
“ihh enak di kamu dong”
“kamu juga enak kali Mil,”