Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Hadiah


__ADS_3

Sore itu Arya, Mila dan Vanessa, serta pengantin baru Tomy dan Abel melepas kepergian pak Susanto dan bu Annisa kembali ke kampung.


Mereka berdiri di loby apartemen untuk melepas orang-orang tersayang mereka.


"nanti waktu Mila lahiran kami kesini lagi” ucap bu Annisa saat satu persatu anak-anak itu mencium tangannya.


“jaga keluarga kalian baik-baik, ingat pesan kami dulu saat di kampung” ucap pak Susanto memandang tegas ke arah Tomy dan Arya.


‘jadilah suami yang lebih baik dariku, dan jadilah ayah yang lebih baik dariku’ itulah pesan pak Susanto yang sekarang ada di pundak Arya dan Tomy.


Mobil pak Susanto perlahan meninggalkan lobi apartemen. Mereka berlima kemudian segera naik ke apartemen Arya di lantai 15.


"kamu ngasi apa sama paman tadi Mil?” tanya Arya saat mereka berlima ada di dalam lift.


“pakaian aja Arya, mana tahu bisa dipakai paman untuk ke masjid” jawab Mila dengan singkat.


“ihh kamu curang ya Mil, seharusnya aku juga kasih kado tadi buat ayah dan ibu” ucap Abel yang merasa ditikung oleh Mila.


“dasar kamu, masa mertua pergi nggak dikasih apa-apa” ucap Mila dengan nada menekan. Abel seketika saja mendorong pelan tubuh Mila karena kesal.


“suami kamu ngasih hadiah buat kami juga belum jadi, apanya yang mau kamu banggakan” seloroh Abel membalas Mila.


Arya menarik nafas kasar melihat Mila yang melotot ke arahnya. “rumahnya udah jadi Bel, itukan cuma pengerjaan halaman sama taman bunga, 2 minggu udah selesai kok, masalah isi dalamnya ya tanggung jawab kalian, masa kami juga yang ngisi perabotannya” ucap Arya dengan datar.


“udah, aku nggak mau bicara sama kamu, kamu menyembunyikan masalah sebesar itu dariku” ucap Abel dengan kesal kepada Arya.


Arya menarik nafas kasar, sejak ia bertemu Abel, wajah gadis itu jelas menyiratkan kekesalan kepadanya. Merahasiakan hal sebesar itu sudah pasti akan menimbulkan banyak respon berbeda, termasuk sikap Abel kepadanya.


Gadis polos itu terlihat tidak terlalu memahami posisinya yang berada dalam ancaman. Belum lagi Anjani yang sampai detik itu belum menunjukkan sikap apa-apa.


Sesampainya di apartemen, mereka segera menuju kamar masing-masing. Tomy merebahkan tubuhnya di kamar yang di tempati pak Susanto dan bu Annisa sebelumnya. Sementara Abel langsung ke dapur membantu Vanessa menyiapkan hidangan makan malam. Dibantu Mila yang ikut menyiapkan bumbu masakan mereka.


Sementara Arya tengah sibuk dengan pekerjaannya yang masih menumpuk.


Di sela sibuknya ia bekerja, mata Arya tertuju pada sebuah plastik yang terletak di nakas dekat Mila biasa tidur. “itu apa?” gumam Arya dengan pelan.


Karena rasa penasarannya, ia segera bangkit melihat plastik itu. Isinya sebuah kotak yang dilapisi kertas kado. “untuk suamiku tercinta” tulisan itu ada di kertas kado itu.


Arya segera membukanya, ia melihat setelan kemeja biru muda dengan dasi biru tua. Arya tersenyum “kayaknya Rita nggak perlu lagi membeli baju kerjaku” gumamnya dengan pelan. Ia segera bangkit dan mencoba kemeja itu.


“suka nggak?” suara Mila tiba-tiba saja mengagetkan Arya,


“kamu membelinya untukku?” tanya Arya dengan datar.


“bukann, kamu nggak bisa baca itu untuk siapa” ucap Mila dengan ketus menggodai suaminya.

__ADS_1


Arya tersenyum kepada Mila, “iya aku tahu, aku suami tercintamu”


Mila tersenyum senang dibalik cadarnya, ia kemudian mendekat kepada Arya, dan mencubit pelan lengan suaminya karena malu dengan ucapan suaminya, "iih, kamu pede kali ngomongnya"


"loh, emang siapa suami tercintamu kalau bukan aku"


"iyaa, kamu suami tercintaku" ucapnya sembari tertawa tipis, karena merasa kelu mengucapkannya.


“kamu mau hadiah apa dariku?, nanti aku belikan” ucap Arya dengan santai.


“iihh, masa ngasih hadiah ditanya dulu sih”


Arya tersenyum tipis, ia bingung harus ngasih apa bagi istrinya itu, ‘apa aku beli perhiasan lagi?’ batinnya.


Mila kemudian membuka pintu lemari dan mengeluarkan setelan jas yang tadi ia beli.


“ini jasnya Arya" ucap Mila mencoba menyamai jas itu dengan tubuh Arya. “kamu pasti keren memakainya” gumam Mila dengan pelan.


“iya dong, kan istri tersayangku yang membelinya” ucap Arya mencoba memegang bahan jas tersebut, ia kemudiam memberi ciuman singkat di kening istrinya, senyum Mila seketika mengembang karena sikap suaminya.


“aku tadi mau beli jam juga, aku baru tahu kalau jam tangan harganya semahal itu” ucap Mila dengan pelan.


Arya melirik mata istrinya yang tampak melihat ke bawah dengan lesu, Ia teringat bahwa Mila juga tidak memakai jam tangan. Pantas saja istrinya itu tidak tahu seperti apa mahalnya harga jam tangan merek ternama.


“jam tangan mahal itu nggak hanya menjual kualitas Mil, tapi juga nilai history-nya” ucap Arya menjelaskan.


“iya, nggak cuman bahan dan kualitas aja, tapi juga nilai sejarah dari merek itu sendiri” jelas Arya lagi.


“tadinya aku mau beli jam tangan murah, tapi nggak bakalan cocok denganmu, masa pemilik Adinata group makai barang murah” gumam Mila.


Arya kemudian melihat dalam mata kepada istrinya, ia segera memeluk Mila dengan erat.


"hadiah terbesar dalam hidupku itu kamu, dan juga malaikat kecil kita” ucapnya mencium ubun-ubun Mila.


Mila memejamkan matanya, menikmati pelukkan Arya di tubuhnya.


“apa menurutmu kita perlu mengunjungi kakek Mil?” tanya Arya dengan masih memeluk Mila.


“kakek tadi menelfonku,” jawab Mila “kakek bilang sebaiknya kita menjauh dulu dari kakek dan ibu Arya, termasuk juga dari rumah, kakek juga minta agar kita tetap disini dulu, mungkin bang Ardian yang akan kesini mengunjungi kita” jelas Mila dengan nada pelan


“ya udah, jadi kita tinggal disini dulu sampai keadaan aman”


“sebenarnya seperti apa keadaan sekarang Arya?, aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi, apa segenting itu keadaannya hingga kita nggak bisa ketemu kakek dan pulang ke rumah kita sendiri?”


Arya memejamkan matanya, ia bingung menjelaskan seperti apa rumitnya masalah yang tengah ia hadapi, “jangan jadikan itu beban pikiran Mil, turuti kataku dan kata kakek, kita hadapi ini sama-sama hingga semuanya selesai, percaya kepadaku, takkan lama lagi kita akan mengalah mereka”

__ADS_1


Jawaban Arya masih abu-abu bagi Mila, ia kembali teringat chat dari Arnes, pesan itu tidak bisa ia abaikan begitu saja. Hatinya masih cemas dengan keselamatan suaminya.


*


Pagi cerah hari itu terasa berbeda di Adinata group, 2 mobil hitam mewah berjalan cepat menuju gedung megah itu. 2 Mobil itu berhenti di lobi perusahaan, dan beberapa orang turun dari mobil tersebut.


Aliando yang baru sampai di ruangannya tengah meminum kopi hangat sembari memikirkan langkah yang akan ia ambil.


Tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka, Hardi masuk ke dalam dengan wajah memias penuh kemarahan.


“aku sudah peringatan hal ini dari awal kepadamu, orang-orang Gibran bukanlah orang-orang sembarangan” ucap Hardi dengan nada tinggi kepada Aliando.


“jangan menyalahkanku seperti ini,”


Hardi mendekat kepada Aliando, mata penuh memerah penuh amarah.


“kamu menghancurkanku, pertunangan ini tidak akan ada nilai lagi di mata pemegang saham”


Aliando mengusap kasar rambutnya, masalah Arya sudah membuat kepalanya pusing, Rena juga terus mengejar masalah penggelapan dana yang ia lakukan, sekarang Hardi juga membuat kepalanya terasa pecah.


“aku akan lenyapkan anak itu” gumam Aliando dengan pelan.


Hardi menarik kerah Aliando “tak ada yang bisa kamu lakukan sekarang, aku sudah tahu kekuasaanmu tak sebesar yang kamu yang kamu harapkan setelah rapat pemegang saham itu, Rena sudah mengekangmu dengan kebodohanmu menggelapkan dana perusahaan”


“aku tahu Haris sekarang sedang mengambil alih pengaruhmu untuk anak Gibran, apa lagi yang akan kamu bela?” tanya ucap Hardi masih dengan penuh emosi.


Aliando memejamkan matanya, “jangan emosi seperti ini Hardi, jika kamu emosi, kita bisa sama-sama hancur” ucap Aliando dengan dingin.


Hardi melepas kerah Aliando. Ia menarik nafas panjang untuk menenangkan emosinya.


“aku sedang mencari dimana Arya tinggal, aku juga sedang menyelidiki seperti apa perusahaan tempatnya bekerja, dan aku juga sudah tahu siapa istrinya” gumam Aliando.


“maksudmu?”


“kemarin saat konferensi pers ada 9 orang yang menjaganya selain pengawal Adinata group, akan sangat sulit menyingkirkannya” ucap Aliando. “istrinya berasal dari keluarga Rakarsa, aku sudah menemui mereka kemarin, dan jelas mereka ada di pihak anak itu”


“kamu akan mengincar istrinya?”


“satu persatu mereka akan ku singkirkan, menyingkirkan Rena dan Haris sangat sulit sekarang, itu bisa menarik perhatian dewan komisaris dan pemegang saham jika mereka kita ganggu, begitu juga dengan Arya” jelas Aliando yang telah mempelajari keadaan.


“ini pertempuran terbuka Hardi, kita harus bermain cerdas dan cerdik disini, kita serang dari orang-orang terdekatnya, dengan begitu ia akan tunduk sendirinya” ucap Aliando dengan sinis.


“kamu sudah kalah, konferensi pers kemarin adalah pukulan telak untukmu, aku sudah bisa memprediksi masa depanmu"


"sekalipun kamu membunuh anak itu dan orang-orangnya, kamu tetap tidak akan mendapatkan apa-apa, saham itu akan jatuh kepada keluarga Rakarsa, dan kamu akan semakin di pojokkan oleh para pemegang saham” ucap Hardi yang semakin membuat kepala Aliando memanas.

__ADS_1


Sudah semalam suntuk Aliando berpikir keras mencari jalan keluar dari masalah itu, namun semuanya tampak gelap, kehadiran Arya adalah bumerang besar bagi kekuasaannya.


__ADS_2