
“Arya, kamu sudah tahu berita hari ini?” tanya Mila yang bersimpuh di lantai sembari melihat Arya sedang memakai sepatu kerjanya.
“tentang Adinata?”
“hmmmm” jawab Mila dengan bergumam.
“apa rapat itu membuatmu tak nyaman?”
“aku punya firasat buruk dengan rapat itu” jawab Mila dengan pelan.
Arya kemudian mengusap wajah Mila yang sudah memakai cadarnya dari pagi, “jangan terlalu dipikirkan, beberapa hari ini aku lihat kamu sedikit lemas, jangan tambah beban pikiranmu, nanti kamu sakit” Arya tersenyum menenangkan kekhawatiran istrinya itu.
“aku lemas begini karena nafsumu tahu” ucap Mila sembari mengusap singkat hidung Arya.
Arya tersenyum, ia kemudian berdiri diikuti oleh Mila, “jadi nanti kamu ke kantorku jam berapa?”
“sebelum jam makan siang sama kak Vanessa, nanti aku akan menemanimu sampai sore”
“ok, masak yang enak ya,”
Mila tersenyum, ia kemudian mencium tangan Arya dan Arya mengecup singkat keningnya,
“aku pergi dulu, Assalamualaikum sayangku” ucap Arya berpamitan pergi.
“walaikumussalam suamiku” jawab Mila yang ikut tersenyum dengan tingkah lucu suaminya.
Setelah kepergian Arya, Mila kemudian melangkah menuju ruang tengah dimana Vanessa tengah duduk menonton tv. Mila kemudian duduk di samping Vanessa sembari ikut memakan camilan yang dimakan Vanessa.
"udah selesai manja-manjaannya” goda Vanessa pada Mila,
“hehe, kakak tahu aja”
“iyalah, setiap hari kayak gitu, nggak bosan -bosan ya” goda Vanessa lagi pada Mila.
“namanya juga lagi hangat-hangatnya kak, wajarlah, tapi aku ingin terus kayak gini sampai tua sama Arya” gumam Mila.
“cieehh, udah mikir sampai tua aja, semoga selalu bahagia ya adek ku yang satu ini” ucap Vanessa sembari memeluk Mila dari samping.
Di dalam pelukkan Vanessa Mila melihat ke layar tv, ia tak sengaja membaca running text di layar tv yang mengabarkan rapat pemegang saham adinata group. ‘ya Tuhan, firasat apa ini?, apa ini firasat tentang Arya?, apa akan terjadi sesuatu pada Arya?’ batin Mila tak karuan.
“duhh kak, aku kebelet nih, aku ke kamar mandi dulu ya” ucap Mila melepas pelukkan Vanessa, ia kemudian segera berjalan cepat ke kamar mandi, ‘beberapa hari ini aku sering kebelet mulu, apa aku ada penyakit aneh ya?’ batinnya.
Sementara Arya mengendarai mobilnya ke kantor dengan kecepatan sedang, ia menikmati suasana pagi itu dengan setenang biasanya. Rapat pemegang saham yang tengah berlangsung di Adinata group sama sekali tidak membebani pikirannya.
Saat sampai di kantor, Rita langsung masuk ke dalam ruangannya dengan membawa beberapa berkas kerja untuknya hari itu.
__ADS_1
"apa kamu memikirkan rapat hari ini Arya?” ucap Rita yang membuat Arya tersenyum kepadanya.
“aku senang kalau kamu nggak manggil aku pak lagi” gumam Arya dengan santai.
“apa desainku untuk terminal bandara di Vietnam sudah dikirim?” tanya Arya sembari menerima berkas yang diberikan Rita, ia kemudain melihat berkas itu dengan sekilas satu per satu.
“sudah, tanda tangan kontrak hotel Anjani juga sudah kemarin, apa dia mengganggu mu lagi?” tanya Rita sembari melihat wajah Arya.
“apa Arbi bertemu Anjani kemarin?,”
“kayaknya nggak, tanda tangannya langsung sama om Hardi” jawab Rita.
“kamu belum menjawab pertanyaanku Arya” lanjut Rita.
Arya menarik nafas kasar dan melepasnya, “aku tidak memikirkan rapat itu dan aku bingung harus gimana sama Anjani, dia juga korban dari masalah ini Ta”
“yang jelas sekarang kamu harus menghindar dulu darinya, jangan melakukan hal-hal yang bisa merugikan kita” jelas Rita yang kemudian berjalan keluar meninggalkan Arya.
Sementara Arya melepas nafas kasar melihat punggung Rita. 'gimana nanti reaksi Anjani kalau tahu semua ini?' batin Arya.
*
Mobil Aliando sudah sampai di hotel tempat rapat pemegang saham berlangsung. Semua kamera langsung menyorot ke arahnya yang keluar dari mobil, ia kemudian melangkah pelan membiarkan jepretan kamera tertuju kepadanya dan juga keluarganya.
“apa benar ada tuduhan penggelapan dana dari dewan komisaris kepada anda tuan?”
“Bagaimana tanggapan anda terkait kecelakaan salah satu direksi Adinata group tuan?”
“apa benar dugaan kecelakaan direksi anda itu direncanakan tuan?”
dan berbagai pertanyaan lainnya terlontar dari para wartawan.
Aliando hanya tersenyum ramah pada para wartawan, wartawan pun juga tidak bisa mendekat karena Aliando dan keluarganya dikawal ketat oleh pada pengawal Adinata group.
Di belakang 2 mobil mewah yang membawa keluarga Aliando, Rena dan Haris juga baru datang. Aliando sejenak menghentikan langkahnya karena ada beberapa kamera yang berubah arah menyorot ke arah Haris dan Rena.
Aliando menarik nafas kasar saat menyadari kedatangan mobil Haris disana. Aliando sejenak melihat ke arah Haris. Matanya kemudian tertuju kepada Rena yang berjalan beriringan dengan Haris ke arahnya.
“selamat pagi tuan Aliando” sapa Rena dengan ramah.
Arnes, Istri Aliando dan juga putri mereka melihat ke arah Rena dengan wajah bingung, mereka tidak tahu dengan sosok Rena yang sudah lama disingkirkan Aliando ke luar negeri.
Aliando tersenyum tipis kepada Rena yang menyapanya. “Pagi juga Rena, apa pimpinan anak perusahaan juga diundang di rapat ini?” sindir Aliando dengan datar.
“kalau saya tidak diundang, saya tidak akan jauh -jauh kembali ke Negara ini tuan” jawab Rena dengan datar.
__ADS_1
“Sebaiknya kita segera masuk tuan, tidak enak jika para pemegang saham menunggu anda terlalu lama” ucap Haris dengan sopan pada Aliando, ia mengangkat tangannya untuk mempersilahkan Aliando jalan lebih dulu.
Aliando tersenyum sinis pada Haris, ia kemudian melangkah pelan menuju pintu hotel, mereka berenam berjalan di bawah pengawalan ketat pengawal Adinata group.
Para wartawan hanya bisa melepas nafas kecewa karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau berbicara pada wartawan.
Aliando masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegas menuju kursi yang disiapkan untuknya, begitupun dengan Haris yang mengikuti langkah Aliando menuju kursi untuknya di depan para pemegang saham.
Aliando sejenak memberi hormat kepada dewan komisaris dan juga kepada para pemegang saham yang telah hadir, termasuk juga kepada para tamu undangan yang mendukung rapat tersebut. Begitu pun dengan Haris, ia juga melakukan hal serupa.
Arnes menuju kursinya dibarisan pemegang saham. Ia sejenak tersenyum sinis kepada Irman yang terlihat juga duduk di salah satu kursi pemegang saham. Arnes kemudian duduk di sebelah Hardi yang telah hadir disana.
“Pagi om? senang bertemu dengan om disini” ucap Arnes menyapa Hardi.
“Pagi juga, aku senang melihatmu seperti ini, apa kamu sudah siap melanjutkan posisi ayahmu?” tanya Hardi menyikapi sikap Arnes dengan santai.
“saya sudah lama siap Om, saya kira om akan memberi kuasa saham om kepada Anjani, ternyata tidak”
“Nanti Anjani akan kesini saat rapat tahunan, untuk sekarang saya yang harus datang, agar bisa mempengaruhi para pemegang saham yang lain” jelas Hardi pada Arnes.
“aku akan sangat senang jika pernikahan kami dapat dilaksanakan dengan cepat om”
“kamu tenang saja, jika rapat ini lancar sesuai rencana, kita dapat menentukan tanggal pernikahanmu dalam waktu dekat” ucap Hardi pada Arnes.
Sementara Rena dan keluarga Aliando menuju kursi undangan. Rena sudah duduk di antara pak Budi dan pak Ilham yang duduk di kursi undangan. Pak Abdul juga hadir di rapat itu, ia duduk di kursi yang sedikit jauh dari mereka.
Kehadiran para penasehat Gibran itu adalah untuk mengawasi setiap pemegang saham, memastikan siapa yang berpihak kepada mereka untuk mereka rangkul, dan membuang jauh -jauh siapa saja yang berpihak kepada musuh.
Rena menatap datar ke arah para dewan komisaris dan dewan direksi yang duduk di hadapan semua pemegang saham dan tamu undangan.
“apa benar tuan muda sudah ditemukan?” gumamnya dengan pelan.
“Haris sudah mengatakannya kepadamu Ren?” tanya pak Ilham pada Rena.
“Tadi dia mengatakannya waktu kami kesini berdua di mobil”
“kami sudah lihat sendiri hasil tes dna-nya Ren, anak itu benar-benar tuan muda, sekarang kita tengah berjuang untuk mengembalikannya ke kursi CEO” jelas pak Budi.
“ada beberapa dokumen yang menunjukkan aliran dana gelap yang dilakukan Aliando, untuk itu kami ingin kamu kembali dan menggantikan posisi Rahman, kamu adalah orang yang cukup ahli untuk menyelidiki masalah ini” jelas pak Budi akan maksudnya meminta Rena kembali ke perusahaan.
Rena menarik nafas kasar, ia benar-benar tak mengira jika Indra masih hidup setelah hilang kabar selama 22 tahun.
Suara seorang perempuan terdengar melalui sound system ruangan hotel itu, agenda rapat akan segera dimulai. Satu persatu dewan komisaris diperkenalkan, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan CEO dan dewan direksi Adinata group, termasuk juga aparatur lain mulai dari notaris hingga pengawas dari pemerintah juga di perkenalkan.
Aturan rapat, agenda rapat hingga beberapa poin aturan lainnya disampaikan moderator tersebut. Dan selanjutnya acara rapat diberikan kepada dewan komisaris untuk dimulai.
__ADS_1