Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Cinta, Obsesi dan Nafsu


__ADS_3

“biar aku yang menemui laki-laki itu, aku khawatir gerak mereka sudah terbaca oleh orang yang mengincar Arya, jika Arya langsung berhadapan dengan dia, itu akan sangat berbahaya” pikir Ari.


“terbaca? maksudmu orang-orang yang dibilang sama ayahku sudah ada dalam pengawasan CEO itu?” tanya Rita pada Ari.


Ari kemudian menarik nafas panjang melihat ke arah Rita. “kalian ingat penjelasan pengawal Mila kemarin, perusahaan itu akan mengadakan rapat pemegang saham, itu berarti ada pihak yang ingin menjatuhkan CEO itu, aku rasa CEO itu sudah bertindak mencari siapa musuhnya,” jelas Ari.


Arya menatap dalam manik mata Ari, dia tahu arah pembicaraan sahabatnya itu, sementara Rita teringat kembali pada peringatan Haris kepadanya. “om haris bilang kita tidak boleh bertindak tanpa sepengetahuannya, mungkin Ari benar Arya, dia mungkin sudah mengawasi orang -orang yang yang dibilang ayahku kemarin, om Rahman yang dibilang ayahku sekarang dirawat di rumah sakit, kondisinya sangat memprihatinkan, dan om Haris bilang ini ada kaitannya denganmu” jelas Rita yang seketika membuat Arya tersentak.


Hatinya tidak bisa menerima jika harus ada korban karena itu semua,”kamu yakin Ta?, dia dirawat karena masalahku ini?”, tanya Arya dengan sedikit gemetar.


“aku rasa begitu, arah pembicaraan om Haris tadi memang seperti itu” jawab Rita.


“kalau begitu biar aku yang temui orang yang bernama Haris itu, aku rasa akan lebih baik jika kita bergerak random, itu akan membuat musuh kesulitan membaca gerak kita” usul Tomy pada forum kecil mereka.


Ari kemudian menatap panjang ke arah Tomy, ia tidak ingin melibatkan Tomy pasa masalah itu karena Tomy akan segera menikah. “Tom, aku rasa kamu lebih baik tidak ikut dulu, kita belum tahu pasti masalahnya ini seperti apa,” sanggah Ari pada usul Tomy,

__ADS_1


“tapi saran Tomy lumayan bagus menurutku, aku sudah menemui om Haris tadi, dan kamu sudah ke rumah sakit, akan lebih baik bagi kita untuk tidak berhubungan dengan mereka dulu, setidak itu bisa menghapus jejak kita dari mereka” ucap Rita yang mendukung usul Tomy.


“kalau Tomy memang yakin, aku rasa tidak masalah Ri, yang penting keselamatan kalian dulu yang utama, aku tidak ingin ada diantara kalian yang berada di rumah sakit seperti orang yang dibilang Rita tadi” ucap Arya menengahi perdebatan Ari dan Rita.


“ya udah sekarang mari kita susun langkah selanjutnya,” ucap Tomy.


*


Arnes sedang menikmati minuman dingin di resto milik Adinata group yang ia kembangkan, minuman itu ia nikmati seorang diri sembari melihat pengunjung di restonya.


Arnes menatap dalam layar ponselnya, foto -foto Mila yang ada di layar ponselnya, menjadi santapannya sore itu, ‘aku sangat ingin memilikimu Mil, tapi dari dulu ayah selalu memperingatiku agar tidak jatuh cinta pada perempuan lain selain orang yang dia pilih, ini demi kehormatan keluargaku untuk memiliki perusahaan ini sepenuhnya, aku tak masalah jika kamu menikah dengan laki-laki itu, asalkan kamu tetap menjadi milikku’ batin Arnes menarik nafas kasar.


‘seharusnya dari dulu aku memberikan kamu kenikmatan dunia itu, dengan begitu laki-laki itu takkan pernah mau memilikimu, tapi aku terlalu bodoh menghargai jilbabmu itu, seharusnya aku sudah menikmati kehangatan tubuhmu dari dulu’ ingatan Arnes kemudian menarawang pada saat -saat Mila meminta hubungan yang lebih serius daripada sekedar pacaran.


Perempuan itu takut jika ikatan pacaran itu akan merembes pada perbuatan dosa yang jauh lebih besar, sehingga ia menuntut Arnes untuk hubungan yang lebih serius. “perbuatan dosa, apa peduliku dengan itu, apa pedulimu juga dengan dosa Mil, apa kamu tidak tahu seperti apa perbuatan abangmu,” gumam Arnes tersenyum sinis.

__ADS_1


Arnes kemudian mengusap kasar wajahnya, pertunangannya dengan Anjani akan digelar 2 hari lagi, ‘Mila dan Anjani sama-sama cantik, satu istri sirih dan satu istri resmi, aku rasa itu lebih bagus, tapi sekarang Mila malah menjauh karena suaminya itu’ batin Arnes lagi yang seakan merasa gila dengan obsesinya, rasa penasarannya pada perempuan itu membuatnya benar -benar sulit mengendalikan dirinya. Tak hanya ingin menikmatinya tapi juga ingin memiliki gadis itu seutuhnya, obsesi yang timbul karena hasratnya pada gadis itu yang tidak pernah tersalurkan.


Bahkan perempuan -perempuan yang biasa menemaninya pun tak bisa membuat rasa penasarannya pada Mila menghilang, ‘aku benar -benar terobsesi pada tubuh ini, dan sialnya aku, abangmu ternyata hanya laki-laki bodoh yang tidak tahu memilih mana yang terbaik untuk dirinya’ batin Arnes lagi.


Pikiran Arnes saat itu tidak terlalu baik, walaupun pertunangannya 2 hari lagi, namun masalah anak perusahaan Adinata yang ia pimpin membuat pikirannya menjadi kacau, dana perusahaan yang ia inginkan dapat mengalir ke anak perusahaan yang ia pimpin untuk membiayai projek barunya tidak terwujud. Padahal anak perusahaan itu membutuhkan suntikan dana untuk memperbaiki finansial.


‘jika Irman bisa mendapatkan saham itu untuk ayah, aku juga bisa dapat bagian dari dana yang ia dapatkan’ batin Arnes lagi, ia sebenarnya tidak punya kekuasaan apa pun di Adinata group, ayahnya yang berposisi sebagai CEO juga tidak memiliki wewenang seperti Gibran dulu yang menjadi CEO sekaligus pemilik perusahaan. Menggunakan dana perusahaan untuk hal -hal seperti membantu Irman akan membuat dia dan ayahnya akan dituduh menggelapkan uang perusahaan ke perusahaan Irman itu.


Apa yang ia tawarkan pada Irman sebagai ganti tubuh adik laki -laki itu hanyalah tawaran kosong yang ia sendiri tidak memiliki kekuasaan untuk mewujudkannya, statusnya sebagai anak CEO perusahaan sebesar Adinata group lah yang membuat Irman percaya pada apa yang Arnes tawarkan untuknya.


Sore itu Arnes seperti dapat hiburan ketika melihat motor Arya baru saja terparkir di depan sebuah mini market di seberang resto mewah milik Adinata group itu.


Arnes masih ingat dengan motor bebek yang dibawa Arya saat ia melihat laki -laki itu di pekarangan rumah Mila, dihari dimana Arya melihat Mila bersama Arnes, wajah Arya pun masih jelas dalam ingatan Arnes, laki-laki yang merebut perempuannya dan membuat perempuannya itu menjauh darinya.


Arnes tersenyum sinis melihat Arya yang berdiri sesaat untuk melihat ke arah resto nya itu, ‘sepertinya aku beruntung dapat sedikit hiburan sore ini, Mil, dia akan membuangmu dan kita bisa bersama menikmati waktu kita' batin Arnes, ia kemudian bangkit dan berjalan menuju arah Arya yang sudah masuk ke dalam mini market yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2