
Sudah hampir 2 minggu sejak Arya dikenalkan ke publik sebagai pewaris Adinata group. Kondisi perusahaan berubah drastis, kekuasaan Aliando sebagai CEO seketika terpotong banyak. Belum lagi penggelapan dana yang diselidiki Rena. Membuat langkahnya tak sebebas yang ia inginkan.
Arya tengah duduk di lobi lantai 5 gedung Adinata group, hari itu ia diundang oleh dewan direksi untuk mengikuti rapat khusus membahas beberapa anak perusahaan yang akan dijual dan juga akan ditutup.
Setelah bekerja beberapa minggu, Rena merekomendasikan menutup beberapa anak perusahaan dan menjualnya, anak perusahaan tersebut dinilai tidak sejalan dengan konsep bisnis Adinata group yang selama ini di pegang perusahaan.
“kasus Aliando akan dibawa tante Rena ke jalur hukum sebentar lagi” gumam Rita dengan pelan kepada Arya.
Arya yang tengah sibuk membaca dokumen hasil rapat tadi seketika menoleh ke arah Rita.
“udah ditemukan buktinya Ta?”
“udah, ibu Arbi yang menyelidikinya, dokumennya udah aku kasih ke tante Rita” Rita mengatakannya sembari mengecek email yang dikirim tim Arya kepadanya.
“ibu Arbi minta bayaran berapa?, nggak mungkin dia melakukannya dengan cuma-cuma kan?”
“kata Arbi dia bakalan ngasih saham yang ia beli sebagai bayarannya”
Arya tersenyum tipis, “nggak mau rugi juga tuh anak,”
“maksudmu?” tanya Rita yang bingung dengan ucapan Arya.
Arya menarik nafas kasar, ia masih sibuk membolak-balik dokumen hasil rapat tersebut. “saham itu nantinya juga bakalan balik ke dia Ta, lagian itu juga lebih bagus, agar Arbi bisa fokus sama perusahaan kita saja” jelas Arya.
Di sela pembicaraan mereka, Arnes datang menghampiri Arya. Ia bergegas datang ke kantor itu setelah mendengar bahwa salah satu unit usaha yang akan ditutup adalah restoran yang selama ini ia kelola.
“wah,, senang sekali aku bisa bertemu denganmu hari ini” ucap Arnes dengan tersenyum sinis duduk di seberang Arya.
Arya dan Rita hanya bersikap datar melihat kedatangan laki-laki itu. “aku sudah tahu apartemenmu dimana, Mila memberi tahuku alamat kalian” ucapnya memprovokasi Arya.
Sudah berhari-hari ia mencari Mila, hingga yang ia dapatkan hanya alamat gedung apartemen tersebut, sementara di unit mana Arya dan Mila tinggal, belum ia ketahui.
Arya menarik nafas kasar, ia menatap Arnes dengan datar. “apa Anjani tidak cukup untukmu?, kenapa kamu masih mengejar istriku?”
“Mila tetaplah milikku, dia hanya milikmu dikertas saja,” Arnes kemudian menatap penuh serius, “apa aku perlu izinmu dulu untuk bisa jalan sama dia, aku hanya ingin bersenang-senang dengannya untuk beberapa jam”
Arya menarik nafas kasar, ia mulai merasa jengah dengan laki-laki di depannya. Ingin sekali ia merobek-robek mulut laki-laki yang merendahkan istrinya itu.
“aku rasa kamu hanya terobsesi buta pada istriku, apa aku harus mengasihanimu karena istriku tidak pernah lagi memperdulikannmu” ucap Arya menahan rasa marahnya.
Arnes terdiam, ia merasa bahwa Mila lah yang menjauh darinya bukan karena paksaan Arya,
“aku sudah ingin menceraikannya, namun ia memohon agar aku tetap menjadi suaminya” Arya tersenyum sinis, “apa menurutmu, apa khayalanmu itu akan terwujud?, jangan pernah mimpi untuk bisa mendapatkan istriku”
Arya kemudian berdiri, ia melangkah menuju lift menuju ruangan Haris, Rita yang juga mengikutinya, serta Chris dan Ortin yang sedari tadi mengawal Arya dengan berdiri di sudut loby tersebut.
Arnes mengusap kasar wajahnya, ‘jika cara lembut tidak bisa, aku akan mendapatkan Mila dengan cara kasar, ahh sial, kenapa keadaan sesulit ini,’ batinnya.
Arya, Rita, Chris dan Ortin sudah berada di dalam lift, saat mereka hendak masuk ke dalam lift, semua orang segera memberi ruang mereka, sehingga hanya mereka berempat saja di dalam lift itu.
“Kamu berani sekali Arya, jika dia emosi, bisa gawat istrimu itu” ucap Rita ketika mereka berada di dalam lift.
__ADS_1
“Andi dan Diaz menjaga Mila, selama Mila menuruti kata-kataku, dia akan aman” gumam Arya dengan datar.
“semoga saja dia tidak bertindak yang tidak-tidak” gumam Rita.
“Arbi bilang, di dalam dokumen yang diberikan tante Rena ada kasus ayahku, apa menurutmu ayahku akan segera bebas Arya?”
Arya melihat Rita yang melihat ke arahnya dengan datar, “doakan saja yang terbaik Ta, aku akan membebaskan ayahmu jika tante Rena gagal, aku sudah pernah berjanji kepadamu soal ini” jawab Arya.
Arnes kemudian berdiri, ia menuju lift untuk segera menuru ruangan ayahnya. Saat ia hendak masuk ke ruangan ayahnya, sekretaris Aliando langsung menahannya,
“maaf tuan, tuan Aliando emosinya sedang.
tidak stabil,”.
“lepas” ucap Arnes sembari menepis tangan sekretaris Aliando dengan kasar, ia kemudian masuk ke dalam. Disana Aliando sedang menunduk dengan memegang dahi dengan kedua tangannya.
“ayah, kenapa restoranku dijual, oleh perusahaan?” tanya Arnes tanpa basa basi.
Aliando memejamkan matanya, “apa istri Arya sudah kamu dapatkan, jika sudah, aku akan segera membunuh anak itu” Aliando bersuara dingin kepada Arnes.
“ayah tidak menjawab pertanyaanku” gumam Arnes dengan datar.
“Rena benar-benar membuat ku gila, langkahnya benar-benar tidak bisa ku duga” Aliando melihat sinis kepada Arnes, “otak dari ini semua belum diketahui, jika seperti ini terus, kita bisa hancur”
Laki-laki paruh baya itu terlihat frustasi, “habisi saja mereka semua yah, tante Rena dan om Haris,”
“apa kamu pikir semudah itu?, Rena dan Haris sudah melindungi diri mereka, Haris bahkan sudah menguasai para pengawal perusahaan sejak Arya kembali, mereka bergerak cepat merebut semua punya kita”
“Arya tidak tinggal dirumahnya, ini menyulitkan kita menyusupkan orang ke keluarganya, perusahaannya juga dijaga oleh orang-orang kuat, sepertinya mereka sudah membuat pertahanan sehingga kita tak bisa menyerang mereka, ini benar-benar menyulitkan” lanjut Aliando.
Arnes terdiam, tak bisa banyak bicara, ia akhirnya sadar bahwa posisi mereka sudah ada di ujung tanduk.
*
Arya melihat Mila yang tengah meminum susu ibu hamil, pikirannya masih bekerja keras memikirkan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Apalagi ia sudah diberitahu Chris, Ortin, Andi dan Diaz bahwa belakangan ini sudah ada orang yang mengintainya dan Mila.
Arya meminum teh hangat yang biasa menjadi menu sarapan paginya, Ia kemudian melihat ke arah Vanessa yang tengah sibuk melihat ponsel sembari memakan roti.
“kamu mengkhawatirkan sesuatu Arya?” tanya Mila yang melihat wajah suaminya tampak tidak nyaman.
“nggak Mil, aku hanya sedang memikirkanmu”
“memikirkanku?, apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Mila dengan polos.
Arya menggeleng, “kamu jangan keluar apartemen tanpa ada aku ya, jadwal cek kandungan berikutnya biar aku yang menemanimu”
“yaaaah, Arya, padahal hari ini aku ingin mengantarkan makan siang untukmu” ucap Mila dengan kecewa, “semalam aku lihat video menu menarik, aku ingin mencobanya hari ini, dan kamu yang mencicipinya”
“ya, udah, kalau begitu biar aku nanti yang pulang saat makan siang"
__ADS_1
“Arya, kenapa kamu nggak pernah mau bicara seperti apa keadaan sekarang?, kalau kamu mengatakannya, aku bisa lebih tenang” ucap Mila menatap penuh wajah suaminya.
Arya menarik nafas panjang, ia sejenak melihat ke arah Vanessa yang juga tengah melihatnya. Arya kemudian melihat ke arah Mila yang menyorotnya dengan mata penuh harap.
“mereka sedang terpojok Mil, mereka akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan posisi mereka” Arya masih menatap Mila, mata istrinya seolah menginginkan penjelasan lebih.
“Tomy tengah mengurus kasus penusukkannya kemarin, mungkin Arnes bisa di seret ke penjara dengan pasal pengeroyokan".
"kasus Aliando juga tengah diproses, ia juga bisa diseret ke penjara, setelahnya kita bisa aman dan kembali ke rumah” jelas Arya
Mila menarik nafas kasar, ia kemudian tersenyum dan mengganguk, menyiratkan kalau ia paham dengan keadaan.
Arya segera menghabiskan teh hangatnya, ia kemudian berdiri untuk segera bersiap ke kantor. Pagi itu ia kembali harus mengikuti rapat dewan direksi, rapat itu akan memfinalisasi keputusan untuk menutup beberapa anak perusahaan sesuai yang direkomendasikan Rena.
Mila mengantar Arya sampai pintu apartemen mereka, setelah memasang sepatunya, Arya berdiri dan tersenyum kepada Mila. Mila segera mencium tangan suaminya dan Arya mengecup kening Mila.
“aku berangkat dulu ya Mil,”
Mila melambaikan tangannya, matanya berbinar menggambarkan senyuman di bibirnya.
“Assalamualaikum istriku” ucap Arya dengan tingkah lucu, tindakannya semakin membuat Mila tersenyum di balik cadarnya.
Arya kemudian segera pergi menemui Chris dan Ortin yang sudah menunggu. Sementara Mila segera kembali ke meja makan setelah menjawab salam Arya.
Mila kembali duduk di kursinya, ia segera menghabiskan susu dan sarapannya. Susu yang sebelumnya panas, sekarang sudah lebih hangat.
“emang kamu mau masak apa nanti Mil?” tanya Vanessa yang penasaran dengan masakan yang ingin dicoba Mila.
“kepiting merah kak, dibuat pake saus tiram, aku ngebayanginnya aja udah enak kak” gumam Mila dengan senyum berbinar.
“oooh, baru ngerasa ya kalau memasak itu asik” goda Vanessa.
“iya kak, kakak sih dari dulu nggak pernah ngajak aku ke dapur”
“kamu tuh yang terlalu manja, malah nyalahin kakak” balas Vanessa, Mila hanya tersenyum sengir di balik cadarnya.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu apartemen mereka diketuk dengan keras, dan bel berbunyi berkali-kali tanpa henti. Orang yang melakukannya seperti tidak sabaran sama sekali agar bisa segera masuk.
“siapa kak?” tanya Mila yang langsung berdiri.
“nggak tahu Mil, emang siapa yang tahu alamat kita disini”
Mila mengangkat kedua bahunya, ia segera berjalan cepat karena tamu yang tidak ia ketahui itu sepertinya tidak sabaran sama sekali untuk dibuka kan pintu. Sementara Vanessa segera menghabiskan teh hangatnya untuk menyusul Mila ke depan.
“bentar” ucap Mila karena pintu apartemennya terus digedor dengan cepat.
Mila segera membukakan pintu. Matanya membulat melihat sosok yang tengah berdiri di depan pintu apartemennya. Jantungnya berdetak cepat melihat siapa yang datang. Arnes tengah berdiri disana dengan tersenyum melihatnya.
“bang Arnes” gumam Mila tak percaya dengan apa yang lihat.
“apa kabar Mil?” ucap Arnes dengan tersenyum manis kepada Mila.
__ADS_1
Mila merasakan tubuhnya terasa kaku, bayangan hari dimana Arya melihatnya bersama Arnes terulang lagi di ingatannya. Takut masalah yang sama akan terjadi lagi.
Mata Mila kemudian melihat Andi dan Diaz telah terkapar di lantai, tak terasa air matanya mengalir melihat orang yang berkorban untuk melindunginya kini terkapar lemah tak berdaya.