
Malam itu terasa sangat dingin, dinginnya angin malam akan terasa menusuk tulang, Pesawat Arya mendarat malam itu dari Makassar, ia keluar dari bandara hampir menjelang tengah malam, ia segera naik taksi yang masih mencari penumpang di area bandara malam itu. Ia segera menuju kontrakan kecilnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di pesawat.
Arya membuka pintu kontrakannya, ia segera menghidupkan lampu dan melihat motor bebek kesayangannya yang hampir 3 minggu ini tidak dihidupkannya sama sekali, ia kemudian mengusap sedikit jok motornya, ‘kamu pasti kesepian aku tinggal’ batinnya, ia dapat merasakan motor bebeknya itu mulai berdebu, ‘sepertinya aku harus kerja keras besok membersihkan ini semua’ batinnya.
Arya kemudian menaruh carriernya dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ketika ia membaringkan tubuhnya di kasur, ia sejenak memejamkan mata, kemudian ia teringat pada ponselnya, ‘sudah 3 minggu aku pergi, gimana keadaan kantor ya?’ pikirnya, Arya kemudian segera duduk dan mengambil ponselnya di laci, ponsel itu sudah 3 minggu juga tidak hidup karena ditinggal pemiliknya.
Arya segera mencharger ponselnya itu dan menunggu 30 menit untuk kemudian menghidupkannya, ia segera membuka aplikasi chatnya yang telah menumpuk hingga ribuan pesan belum terbaca, ia menscroll pesan itu, namun ada 2 pesan yang menarik matanya, 2 pesan dari nomor yang tidak ia simpan.
Arya membuka pesan pertama, Mata Arya membelalak kaget ketika membaca pesan yang berisikan Tomy ada di rumah sakit, ‘kenapa dengan Tomy?’ Arya kemudian melihat foto pengirim pesan tersebut, ‘Abel’ Arya segera menghubungi Abel, namun tidak diangkat sama sekali.
Arya kemudian membuka pesan kedua yang dapat ia kenali itu dari dokter Karina, pesannya hampir sama dengan pesan dari Abel, menanyakan keberadaan Arya dan mengatakan Tomy lagi di rumah sakit.
Arya kemudian mengeluarkan motornya dan segera menghidupkannya untuk berangkat ke rumah sakit. Ia menembus jalanan dengan cepat.
Setelah selesai memarkir motornya, Arya langsung masuk ke loby rumah sakit dengan wajah paniknya karena rasa khawatir dengan keadaan Tomy, ia melewati meja resepsionis tanpa menoleh apalagi meminta izin dan bertanya, sehingga suster yang sedang bertugas di meja resepsionis itu hanya bisa melihatnya dengan pandangan heran.
Arya berjalan menuju ruangan dokter Karina, ia sudah tahu betul dimana ruangan itu berada, karena memang sudah lebih dari 5 tahun ia mengenal dokter Karina, sebelum menjadi dokter khusus di perusahaannya, dokter Karina sudah terlebih dahulu menjadi dokter pribadi bagi Arya dan Tomy.
Saat berada di depan pintu ruangan dokter Karina, Arya langsung membukanya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ceklek,,, baru sebentar dokter Karina menggenggam gelas kopinya, pintu ruangannya terbuka tanpa ada yang mengetuk terlebih dahulu,
Dokter Karina sejenak mendengus kesal pada orang yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu itu.
__ADS_1
Namun rasa kesalnya langsung berubah dengan perasaan kaget dengan laki-laki yang tengah berdiri di depannya, bahkan perasaan kagetnya membuat gelas kopinya sedikit terguncang dan setitik kopi panas mengenai tangan putihnya, “aduh panas” gumamnya pelan,
Dokter Karina masih tersentak, ia kemudian berdiri, ia masih tidak percaya orang yang selama ini ia khawatirkan dan tidak bisa dihubunginya, sekarang telah datang kepadanya dan berdiri tepat dihadapannya.
'dia kembali' batin Dokter Karina sembari melepaskan senyumnya dengan perasaan lega.
Arya bernafas lega melihat dokter Karina masih ada di ruangan itu, “kamu belum pulang?” tanya Arya singkat, Dokter Karina masih tersenyum manis pada Arya, ia dapat melihat wajah Arya yang memasang raut khawatir. “aku lagi tugas malam” jawab dokter Karina,
“kamu kemana aja menghilang Arya, semua orang mengkhawatirkan kamu?” lanjut dokter Karina bertanya pada Arya.
“dimana Tomy?” tanya Arya dengan nada khawatir, Dokter Karina menelan salivanya menahan rasa kecewa karena Arya sama sekali tidak memperdulikan pertanyaannya.
‘sepertinya aku memang tidak bernilai lebih dihidupmu Arya’ batinnya menahan pilu.
Dokter Karina kemudian mulai berjalan meninggalkan kursinya, “ikut aku” ucapnya singkat dan Arya mengikuti langkah dokter Karina.
Nafas Arya tercekat melihat keadaan Tomy, air matanya menetes. Hatinya terasa sakit karena tidak bisa menerima keadaan Tomy saat ini, dadanya mulai terasa sesak,
“kenapa dengan Tomy Karina?” tanyanya dengan suara gemetar, perasaan bersalah itu datang, ia merasa gagal melindungi saudaranya itu, padahal dulu mereka sudah berjanji untuk saling menjaga dan melindungi.
"Kata Abel, Tomy ditikam oleh salah satu bodyguard pewaris Adinata group” jawab dokter Karina sembari mengiringi langkah Arya menuju ranjang Tomy.
Arya merasakan sesuatu menusuk hatinya, luka lama yang bekasnya masih terasa kembali terkoyak, keluarga itu telah merenggut keluarganya, dan sekarang telah membuat saudaranya terkapar lemah di ranjang rumah sakit. ‘kenapa bisa begini?, kenapa dia menikam Tomy?, Apa karena Mila” batin Arya penuh dugaan.
“Kenapa bisa?” tanya Arya dengan nafas tercekat, ia kemudian berdiri di sisi berseberangan dengan Abel yang masih tertidur dengan menggenggam tangan Tomy yang lain.
__ADS_1
“orang itu ingin melecehkan Abel, dan Tomy melawannya, dan bodyguardnya menyerang Tomy” ucap dokter Karina menjelaskan apa yang ia ketahui.
Nafas Arya terasa sesak mendengarnya, ‘apa tidak cukup dengan perempuan secantik Mila, kenapa dia masih menginginkan Abel, dasar laki-laki brengsek’ batin Arya penuh dendam.
‘kalian duluan yang menabuh genderang perang denganku, dan aku pastikan kalian akan menerima balasan atas semua dosa kalian’ batin Arya lagi dengan wajah yang penuh amarah.
“Arya, sabar, Allah tidak suka dengan orang-orang yang pendendam” ucap dokter Karina yang seperti memahami sakit hati Arya atas apa yang terjadi dengan Tomy. Arya melepas nafas panjang untuk menenangkan dirinya, ucapan dokter Karina dapat membuatnya tersadar bahwa membalas dendam bukanlah jalan terbaik.
“Apa Ari tidak membantu masalah ini sama sekali?” tanya Arya penuh selidik tanpa melihat dokter Karina.
Dokter Karina sejenak terdiam, ia kemudian menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arya.
“Abel sudah melapor ke polisi, tapi laporannya tidak ada kabar sampai sekarang, ia juga sudah minta bantuan sama ayahnya, ayahnya bilang untuk tidak memperpanjang masalah, kata Abel ayahnya takut bisnis keluarga mereka akan dihancurkan oleh perusahaan besar itu, kemarin Ari juga bilang ingin membuat laporan lagi pada polisi, ia bilang akan membayar polisi untuk memproses semuanya” jelas dokter Karina.
Arya kembali merasakan sakit hati di dadanya, dia benar-benar marah dengan kesewenang-wenangan orang yang telah mencuri kekuasaan ayahnya.
“gimana keadaan Tomy Karina?”
“kondisinya sudah stabil Arya, kami sedang menunggu ia sadar, mungkin kehadiranmu bisa membantu proses kesadarannya agar lebih cepat”
Arya kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu, “terima kasih Karina, kamu sudah menolong Tomy” ucap Arya sembari menahan rasa sesak di dadanya nafas, sakit hatinya pada keluarga Arnes terasa menggebu-gebu, ia harus benar-benar bisa mengendalikam dirinya saat itu.
Arya membuang nafas kasar bersama semua rasa lelahnya hari itu, ia menempuh perjalanan 3 jam dengan bis dari desa ke Makassar, lalu terbang ke Jakarta, tubuhnya benar-benar lelah.
Dokter Karina lalu duduk di sebelah Arya, ia menatap dalam ke arah mata Arya, ia dapat melihat mata itu sedang menyimpan rasa lelah, Arya kemudian secara spontan menoleh ke arah dokter Karina dan pandangan mereka bertemu,
__ADS_1
deg,,,deg,,,