
Mila kemudian membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya itu, “ok,, aku minta maaf, aku akan memanggil ayah mertuaku dengan panggilan ayah dan ibu mertuaku dengan panggilan ibu” ucap Mila tersenyum pada Arya, sementara Arya masih melihat ponselnya tanpa peduli dengan ucapan Mila.
Mila menatap suaminya itu dengan cemberut, ia kemudian naik keranjang dan memperhatikan apa yang diperhatikan Arya di ponsel itu, yang membuat Arya sama sekali tidak mengindahkan ucapannya.
“buat apa kamu melihat gambar itu?” tanya Mila dengan polos.
“aku sedang mempersiapkan hadiah pernikahan untuk Tomy Mil, aku sedang mencari konsep taman yang bagus untuk rumah Tomy” ucap Arya dengan lembut pada istrinya yang sekarang sudah bersandar di sebelahnya sembari menaruh kepalanya di bahu Arya.
“Tomy kan bisa tinggal di rumah Abel jika mereka sudah menikah” ucap Mila dengan nada tenangnya.
“aku dan Tomy besar di kampung Mil, Tomy tidak paham seperti apa gaya hidup orang kaya seperti keluarga Abel, seperti budaya makan dan tata cara hidup seperti orang kaya, Tomy tidak tahu sama sekali, lebih baik Tomy dan Abel tinggal sendiri nanti, dan lagi pula Tomy juga pernah bicara sama aku dulu jika ia tidak ingin tinggal sama mertuanya” jelas Arya pada Mila.
“hmmm, emang sekarang masih sempat bangun rumah buat Tomy ya?” tanya Mila dengan nada heran sembari tetap memperhatikan ponsel Arya.
“rumahnya sedang dibangun Mil, pembangunannya sudah dimulai sejak aku pulang dari gunung dengan Ari, targetku sih selesai sebelum mereka menikah, jadi kunci rumahnya bisa sebagai kado untuk Tomy” jelas Arya lagi pada Mila.
“Arya kamu belum menjawab pertanyaanku tadi,” ucap Mila dengan ketus pada Arya, Arya kemudian menarik nafas panjang mendengarkan ucapan Mila.
Arya kemudian mematikan ponselnya, dan melihat ke arah Mila yang masih bersandar di bahunya “kamu sudah selesai kerjanya?” tanyanya pelan yang membuat Mila menghembus nafas kesal dan kemudian menggangguk pelan. Arya kemudian meletakkan ponselnya di meja dekat lampu tidur, ia kemudian berbaring dan membimbing Mila mengikuti dirinya.
Arya berbaring menatap wajah Mila dan Mila juga berbaring menatap wajah Arya. Jantung Mila tiba-tiba berdetak cepat di posisi seperti itu, entah mengapa ia tiba-tiba merasa canggung di hadapan Arya. Arya mengelus lembut wajah Mila yang masih dibaluti jilbab itu, ia memperhatikan setiap inchi wajah cantik istrinya tanpa ada tertinggal sedikit pun.
__ADS_1
“jika aku datang kesana dan mengaku sebagai anak ayahku, tidak akan ada yang percaya denganku, yang ada mereka akan meledekku, dan orang yang mengincar nyawaku akan membunuhku duluan untuk membuktikan kata-kataku”
“membunuhmu duluan?” tanya Mila dengan bingung sembari membalas tatapan dalam Arya ke arah matanya.
“iya, mereka akan membunuhku dulu, kemudian akan mengambil darahku untuk dicocokkan dengan sampel ayah ibuku, jika cocok, maka surat kematianku akan dijadikan dasar untuk mengambil alih semua harta ayahku dan jika negatif, maka mayatku akan dibuang seperti sampah, mereka bukan manusia baik Mil, mereka hanya memandang darah manusia sama dengan darah binatang” jelas Arya masih menatap dalam mata Mila.
“kamu tahu dari mana tentang itu semua?” tanya Mila yang masih penasaran.
“Dulu Tomy ingin membantuku untuk kembali ke perusahaan ayahku, ia bekerja disana sebagai OB, dan mengumpulkan semua informasi yang bisa ia dapatkan, disanalah aku tahu kondisi perusahaan ayah sekarang, dan seperti apa orang-orang disana menginginkan kematianku, setelah beberapa bulan bekerja, Tomy bilang ada orang yang mencurigainya, karena takut ia akan ditangkap dan membahayakan diriku, ia kemudian mundur dari perusahaan dan pindah bekerja ke perusahaan lain, kebetulan perusahaan barunya sedang buka cabang di Bandung saat itu, dan ia pindah ke Bandung sesuai penempatan dari perusahaannya, aku pernah mengajaknya ke perusahaanku, Ia lebih memilih menetap di Bandung agar tidak dekat denganku, ia takut orang yang mencurigainya masih mengintainya dan bisa membahayakan diriku” Jelas Arya lagi pada Mila.
“Aku ingin melindungimu seperti Tomy melindungi Arya” ucap Mila dengan tulus sembari menatap dalam mata Arya sedalam Arya menatap dalam ke matanya.
jantung Mila berdetak cepat, ingin sekali rasanya ia mengatakan seperti apa perasaannya saat itu pada Arya, perasaan untuk ingin selalu ada di sisi Arya, dan menjadi pelindung bagi laki-laki itu, perasaan betapa inginnya ia selalu ada di detik-detik seperti itu, detik-detik dimana matanya saling bertatapan dengan mata Arya dengan dalam seperti itu.
Arya kemudian melepaskan sentuhan tangannya di wajah Mila ia kemudian mengubah posisi tidurnya dengan posisi telentang dan menghadap langit-langit, ia ingin segera tidur melepas rasa lelahnya hari itu, karena setumpuk dokumen masih menuggu di meja kerjanya.
Mila melepas nafas kesal karena itu semua, ia tadi sudah berhasil membantu Abel untuk bisa menarik Arya tidur di rumah dan Abel menemani Tomy di rumah sakit, tapi sekarang ia malah merasa kesal karena Arya tidak memeluknya lagi seperti malam sebelumnya, padahal ia sudah sangat senang Arya menyentuh lembut wajahnya tadi dan menatap dalam matanya.
“Aryaaa” gumam Mila pelan dengan nada memelas.
“hmmm” jawab Arya dengan mata tertutup,
__ADS_1
“kamu nggak mau seperti kemarin?” tanya Mila dengan pelan dan ragu-ragu, ia takut Arya akan kembali mentertawainya lagi dengan tuduhan mesum. Arya membuka matanya dan kembali menghadap ke arah Mila, ia kembali menyentuh wajah Mila, “Mil, berikan aku foto itu Mil, aku sering sekali rindu melihat wajah ayah sama ibu, sejak foto itu sama kamu aku tidak lagi bisa melihat wajah ayah dan ibuku" ucap Arya dengan lembut.
“besok aku berikan ya, tapi sekarang aku ingin seperti malam kemarin” jawab Mila sembari mengalihkan pandangan matanya dari Arya dan bersiap melawan jika Arya benar-benar menuduhnya mesum lagi.
Arya kemudian tersenyum, ia mendekatkan tubuhnya pada Mila dan memeluk istrinya itu, Mila kemudian melepas nafas lega, ‘syukurlah, dia tidak mentertawai aku mesum lagi’ batinnya, namun itu hanya sesaat, karena ucapan Arya selanjutnya membuat matanya membulat takut dan ia kesulitan menelan salivanya.
“kamu ingin yang lebih dari apa yang kuberikan siang tadi Mil?” ucap Arya dengan nada santainya. Mila berusaha menenangkan nafasnya yang tak beraturan dan jantungnya yang berdetak cepat tak terkendali.
“apa kamu menginginkannnya sekarang?” tanya Mila dengan penuh keberanian.
“tidurlah Mil, aku harus segera istirahat, pekerjaanku masih banyak di kantor” jawab Arya, ia kemudian memejamkan matanya, dan Mila membalas pelukkan Arya untuk sama-sama menjemput alam mimpi.
*
Tepat pukul 3.30 pagi. Arya terbangun dari tidurnya, ketika kesadarannya sepenuhnya kembali, ia dapat merasakan pelukkan Mila yang masih terasa di tubuhnya, ia kemudian melepaskan tangan Mila dari tubuhnya dan menatap dalam wajah Mila, tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat, hasrat itu muncul ntah dari mana asalnya.
Arya kemudian mengalihkan pandangannya dari wajah Mila, dan ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak tak terkendali, dadanya serasa sesak menahan hasrat itu, ia kemudian melepas nafas panjang dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi dan melegakan hasrat itu dengan dinginnya air.
Setelah selesai mandi dan menyelesaikan ibadah rutinnya, Arya kemudian mendekati Mila, untuk membangun istrinya itu, hasrat itu sudah mulai berkurang, setidaknya ia masih bisa mengendalikan dirinya untuk tidak mneyentuh istrinya sebelum ia benar-benar merasakan rasa cinta yang utuh pada Mila dan Mila juga memiliki perasaan serupa padanya, rasanya ia tidak ingin menjadi laki-laki jahat yang menjadikan istrinya hanya sebagai pemuas nafsu saja tanpa ada rasa cinta diantara mereka.
Arya menggoyang bahu Mila berkali-kali, “Mil,,, bangun Mil” ucap Arya, namun tubuh istrinya itu masih diam, “Mil, ayo bangun” ucap Arya lagi, Mil yang masih setengah sadar sedikit membuka matanya, disana ia dapat melihat Indra dan Arya dalam keadaan setengah sadar itu, ia kemudian mengangkat kepalanya ke arah Kepala Arya dan cup,,,, Mila mencium bibir Arya dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“aku mencintaimu pangeranku”