
3 Mobil hitam melaju cepat di jalanan menuju Adinata group. Rita di dalam mobil tengah memilah satu persatu dokumen yang ia siapkan. Ia kemudian mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya kepada Arya. “ini apa?” tanya Arya menerima kertas itu.
“itu yang akan kamu sampaikan nanti saat konferensi pers” gumam Rita.
Arya melihat dan membaca isi kertas itu.
“kamu yang menulisnya Ta?”
“aku dibantu ayah” jawa Rita, “aku tidak terlalu paham masalah yang terjadi dulu, mana mungkin aku bisa menyiapkannya dengan baik”
Arya mengangguk, sejenak ia mengingat kembali wajah sekretaris Arjun. Orang yang juga harus ia selamatkan.
“kamu gugup Arya?” tanya Rita dengan singkat.
“tidak” ucap Arya, “aku hanya tidak biasa disorot banyak kamera”
Rita menarik nafas kasar, ia mempertimbangkan sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Arya, boleh aku minta sesuatu kepadamu” gumam Rita dengan pelan.
“apa?, katakan saja” jawab Arya yang masih serius membaca kertas yang diberikan Rita.
“apa kamu bisa menemui ibuku dan berbicara dengannya” mohon Rita, “dia pasti akan sangat kaget setelah tahu siapa kamu sebenarnya”
Arya seketika melihat ke arah Rita, wajah gadis itu menyiratkan rasa kekhawatiran. “apa ini alasan ibumu tak mau menemuiku Ta?”
“iya Arya, dia sama seperti ayahku, melihatmu mirip dengan tuan Gibran dan nona Naina” jawab Rita dengan pelan.
“aku akan menemuinya untukmu Ta” jawab Arya dengan singkat. Rita tersenyum, Arya yang ia kenal masih sama seperti dulu.
Mobil Arya sudah sampai di depan lobi Adinata group, semua orang yang mengikuti Arya segera pasang badan menyiapkan jalan yang akan dilalui Arya dan Rita. Ortin segera membuka pintu mobil untuk Rita dan Arya. Pemandangan tersebut menjadi sorotan bagi orang-orang yang ada di depan loby perusahaan besar itu.
Rita dan Arya keluar, mereka segera mengikuti langkah 2 pengawal Adinata group yang berjalan di depan mereka, sementara Ortin dan Chris mengawal mereka dari samping, dibelakang mereka, orang-orang Ari dan Haris mengikuti langkah mereka.
Beberapa kamera wartawan yang masih berada di Loby seketika menyorot ke arah mereka, bisik-bisik mulai terdengar. Wajah Arya menjadi sorotan, ‘ini kah tuan muda’,,’apa dia tuan muda’,,, 'mirip dengan foto tuan Gibran ya' dan bisikan lainnya sesayup terdengar di telinga Rita dan Arya.
Arya dan Rita langsung berjalan menuju ruang konferensi pers. Semua orang disana langsung memberi jalan bagi Arya. Satpam yang ada di depan pintu masuk segera menahan orang yang akan masuk untuk menyingkir lebih dulu untuk memberi jalan bagi tuan muda mereka.
Penghormatan diberikan oleh pengawal disana kepada Arya, membuat orang-orang melongo dan menduga sosok Arya sebenarnya. Arya berjalan masuk, dan seketika semua orang disana berdiri. Haris, Aliando, Rena, dan dewan direksi lainnya serta juga 2 dewan komisaris hadir disana memberi penghormatan untuk Arya.
Arya menarik nafas dalam ia melangkah menuju kursinya, saat ia melihat wajah Aliando yang akan menyalaminya, ia kembali teringat apa yang terjadi malam itu, rasa takut seketika menyeruak ke dalam hatinya. Arya menarik nafas dalam, mengisi paru-parunya yang mulai terasa sesak karena takut.
__ADS_1
Arya mencoba sekuat mungkin melawan bayang-bayang itu. Bayang-bayang Aliando yang berdiri di depan rumahnya dan menyuruh 2 orang yang memegang pistol untuk mencarinya.
“senang bertemu lagi dengan anda tuan muda” sapa Aliando dengan tersenyum kepada Arya.
Arya mengangguk pelan tanpa menjawab ucapan Aliando, jantungnya berdetak cepat melawan keadaan yang tak ia inginkan. Satu persatu orang-orang disana menghampiri Arya dan menyalaminya. Namun seperti biasa Arya menolak untuk menyentuh perempuan yang hendak bersalaman dengannya.
“silahkan duduk tuan” ucap Haris kepada Arya setelah semua orang sudah menyalami Arya. Arya sejenak melihat wajah Haris, wajah yang sama yang ia lihat menemui bu Saniah saat di rumah sakit.
Arya kemudian mengangguk pelan dan duduk di kursinya. Aliando memasang wajah tenang, ia hanya bisa tersenyum tipis melihat sosok musuh yang tengah duduk di sebelahnya.
Arya melihat tenang ke arah kamera yang menyorotnya, ia tak menyadari ada wajah penuh dendam dan amarah tengah melihat ke arahnya. Dialah Arnes yang tengah menatap tajam kepada Arya. Tak pernah ia menyangka sosok suami kekasihnya itu akan menjadi musuh keluarganya.
“Mil, aku akan pastikan kamu menjadi milikku dan laki-laki ini akan menyusul ayah dan ibunya ke neraka” gumamnya penuh rasa marah.
Rita berdiri tepat di belakang Arya, memperhatikan dan melihat setiap situasi yang ada, di sampingnya berdiri sekretaris Aliando yang masih memasang wajah khawatir. Ia tak menduga situasi tersebut akan menghampiri mereka juga. ‘seharusnya semalam aku langsung bertindak menghabisi orang ini, sial, kenapa aku tidak tahu Haris bertindak sejauh ini’ rutunya di dalam hati.
Haris menarik mic di depannya, ia mulai berbicara membuka konferensi pers tersebut, kamera langsung menyorot ke arahnya, kilatan cahaya kamera silih berganti menerpanya.
Haris perlahan menjelaskan secara singkat tentang Arya. “hari ini kami Adinata group ingin memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang tuan muda kami, nama beliau Arya Ramadana, nama kecil beliau dulu Indra Adinata.
“beliau adalah putra tunggal Almarhum tuan Gibran Adinata, sejak Almarhum tuan Gibran dan Almarhumah nona Naina meninggal, beliau dirawat oleh orang kepercayaan Almarhum tuan Gibran bernama pak Susanto di kabupaten X di Jawa tengah, nama tuan muda sengaja di ubah sesuai permintaan Almarhum tuan Gibran, tujuannya agar tuan muda dapat dididik oleh pak Susanto tanpa merasa canggung dengan posisi tuan muda sebagai pewaris Adinata group
“semua hak tuan muda, mulai dari saham hingga status kepemilikan perusahaan sebagai milik keluarga Adinata sudah dikembalikan. Ini sekaligus memenuhi permintaan para pemegang saham pada rapat kemarin”
Dewan komisaris memberikan sambutan serta ungkapan rasa syukur telah kembalinya tuan muda mereka ke Adinata group, sekaligus menyuarakan harapan mereka bagi Adinata group ke depannya.
Selanjutnya adalah giliran Aliando, CEO Adinata group itu tidak banyak bicara, “kami Adinata group sangat mensyukuri kembalinya tuan muda kami, ini adalah harapan kami yang telah terpendam sejak 22 tahun silam,
" dan sekarang dihadapan kita semua, tuan muda sudah duduk memberikan senyuman hangatnya, saya sangat banyak berharap kembalinya tuan muda akan memberikan dampak positif bagi perusahaan untuk mendukung pembangunan ekonomi Negara kita.............”
Sambutan Aliando yang ia sampaikan sekitar 5 menit. Ia mengakhiri sambutannya dengan tersenyum hangat ke arah kamera yang menyorotnya.
Tibalah saatnya Arya yang memegang mic, ia menarik nafas panjang, mencoba mengingat lagi apa yang diberikan Rita kepadanya saat di mobil.
Arya kemudian mulai bicara, mengatakan apa saja yang ia rasa perlu disampaikan dari tulisan yang disiapkan Rita.
“terima kasih buat teman-teman wartawan yang turut hadir disini pagi ini, tak banyak yang bisa saya sampaikan, seperti yang telah dijelaskan oleh paman Haris tadi,
"bahwa saya adalah Arya ramadana, dengan nama kecil saya Indra Adinata, putra tunggal Almarhum ayah saya Gibran Adinata, dan almarhumah ibu saya Naina Adinata, kenapa selama 22 tahun saya tidak ada di perusahaan, saya bukannya menghilang, tapi seperti yang disampaikan paman Haris tadi, saya dititipkan ayah saya kepada orang kepercayaan beliau, orang tersebut sekaligus menjadi ayah dan ibu angkat saya,
"pada kesempatan ini saya atas nama Almarhum ayah saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, pemegang saham, dan juga terutama dewan direksi, dewan komisaris dan seluruh karyawan Adinata group, termasuk juga anak perusahaan yang ada di Negara kita dan juga di luarnegeri, terimakasih atas kepercayaan kalian dan dedikasi kalian kepada Adinata group hingga Adinata group dapat bertahan hingga sekarang.........”
__ADS_1
Cukup 2 menit bagi Arya berbicara, ia kemudian memberikan mic kembali kepada Haris.
Haris bersuara tegas memberikan kesempatan wartawan bertanya untuk 3 pertanyaan. Suara seorang wartawan terdengar, pertanyaan pertama langsung menusuk ke dalam hati Arya.
“apa yang sebenar terjadi pada keluarga Adinata tuan Arya?, apa benar tuan Gibran telah membunuh istrinya dan akhirnya ia bunuh diri?” tanya wartawan memakai seragam merah.
“bagaimana tanggapan anda tentang isu penggelapan dana perusahaan yang muncul belakangan ini?” tanya wartawan berseragam hitam.
“apa tuan kembali untuk memimpin perusahaan seperti tuan Gibran dulu?” ucap wartawan yang memakai seragam biru muda.
Haris kemudian segera memotong pertanyaan terakhir dan memberi kesempatan Arya untuk menjawab. Arya menarik nafas dalam ketika menerima mic dari Haris, ia tidak boleh menjawab terlalu polos pertanyaan dari para wartawan.
“apa yang diberitakan media selama ini tidak benar, semuanya berita bohong yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, ayah saya bukan pembunuh, beliau adalah sosok suami dan ayah yang baik dan sangat menyayangi keluarga, peristiwa 22 tahun lalu sampai sekarang masih belum diputuskan oleh polisi, semua bukti yang didapatkan polisi jelas bertentangan dengan pemberitaan media selama ini,
"saya harap, semua media yang memberitakan berita bohong itu dapat menarik beritanya lagi agar tidak ada pembohongan publik,
"dan sekali lagi saya tegaskan, ayah saya bukan pembunuh, beliau mencintai ibu saya dan juga diri saya” jelas Arya untuk pertanyaan pertama.
Arya melepas nafas lega, ia merasa senang bisa mengatakan kepada dunia bahwa ayahnya bukanlah pembunuh seperti tuduhan banyak orang.
“untuk masalah isu penggelapan dana, semua sudah diproses oleh perusahaan kita tunggu saja hasilnya, setiap orang yang bersalah akan kita proses secara hukum,
"dan untuk pertanyaan terakhir, bagi saya, siapa pun yang memimpin perusahaan tidak masalah, yang penting perusahaan terus berkembang dari waktu ke waktu dan memberi banyak manfaat bagi semua orang" tutup Arya.
Haris segera menutup konferensi pers tersebut, Arya kemudian segera berdiri, Ortin dan Chris segera menghampirinya dan mengawal Arya dan Rita.
Haris, Arya, Rena, Rita, dan dewan komisaris segera pergi dari ruangan itu. Mereka mengabaikan berbagai pertanyaan wartawan yang menyinggung peristiwa 22 tahun silam yang masih misteri di mata mereka.
Aliando pun segera bangkit setelah Arya dan yang lain keluar dari pintu, ia segera mendekat ke arah sekretarisnya, “siapkan rencanamu” ucapnya dengan dingin.
“baik tuan” jawab sekretaris Aliando dengan menunduk.
Aliando segera keluar diikuti oleh pengawalnya, ia mengabaikan pertanyaan para wartawan yang bertubi-tubi juga ditujukan kepadanya.
Sementara Arnes langsung bangkit, emosinya terasa teraduk-aduk melihat Arya berbicara di depan banyak wartawan tadi.
Konferensi pers itu disiarkan langsung oleh beberapa tv nasional. Tv yang juga ditonton oleh Mila dan Vanessa.
Beberapa menit setelah konferensi pers itu dilaksanakan, berbagai artikel tentang Arya langsung bertebaran di media online. Media yang juga dibaca pak Sarman di ponselnya.
Hanya menangis yang bisa dilakukan laki-laki tua itu. Rasa kaget bercampur bahagia teraduk dihatinya. Tak pernah ia mengira bahwa putra Gibran akan menjadi suami Mila. Impiannya yang sirna karena keegoisan Saniah sekarang terbayar sudah.
__ADS_1
Pak Susanto dan bu Annisa juga ada di kamar pak Sarman, mereka datang untuk menjelaskan langsung kepada Pak Sarman dan bu Saniah seperti apa mereka menemukan dan merawat Arya hingga dewasa. Tujuan mereka hanya satu, agar tidak ada kesalah pahaman antara keluarga Mila kepada Arya.