Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kesempatan dan Rencana


__ADS_3

Hampir 2 jam dokter reny menangani Rahman di dalam ruang UGD, setelah selesai memberikan sejumlah bantuan medis, Dokter Reny dapat menarik nafas lega karena kondisi Rahman perlahan mulai stabil, namun detak jantungnya masih lemah dan sirkulasi darahnya belum kembali normal.


Dokter Reny dan beberapa suster mulai keluar dari ruangan itu. Haris, Sari, dan Fitra, anak laki-laki Rahman segera berdiri setelah melihat dokter Reny dan suster-suster mulai keluar dari ruang UGD tempat Rahman di dirawat.


“Gimana Rahman Ren?” tanya Haris dengan nada khawatirnya ketika melihat dokter Reny keluar dari ruangan Rahman.


“dia sudah mulai stabil Ris, tapi kondisinya benar-benar parah, kita doakan saja yang terbaik untuk Rahman” ucap dokter Reny yang seketika kembali membuat Sari menangis disana.


Haris kembali merangkul putri sahabatnya dan seketika Sari memeluk Haris melepas rasa takutnya. Ketakutan melanda hati gadis cantik itu, apa lagi ibunya juga belum sadar, semakin menambah beban di hatinya.


“apa kami sudah boleh masuk Reny?” tanya Haris pada Reny, ia berusaha untuk tegar menghadapi hatinya yang juga sedih melihat kondisi Rahman.


“boleh, tapi satu-satu saja, sama diawasi oleh suster ya" jawab dokter Reny dengan datar, Haris kemudian melihat ke arah Fitra, ia memberi isyarat pada anak itu untuk melihat ayahnya terlebih dahulu.


Fitra jauh tampak lebih tenang dan tegar ketimbang Sari, Haris takut perempuan yang sedang memeluknya itu akan histeris di dalam melihat kondisi Rahman.


Setelah Fitra masuk Haris kembali memandang ke arah dokter Reny, “gimana tesnya?” tanya Haris dengan datar.


“aku sudah memeriksa sampel itu, dalam 3-4 hari ini, hasilnya akan ku kirim kepadamu, aku harap kamu bisa bersabar, aku harus hati-hati untuk ini” jelas dokter Reny yang dijawab Haris dengan anggukan pelan, sementara Sari hanya mendengarkan tanpa tahu apa maksud pembicaraan itu, apa itu tentang ayahnya atau tidak. Ia terlalu takut untuk menduga-duga saat itu.


Dokter Reny kemudian pamit untuk kembali ke ruangannya, sementara seorang pengawal Mila yang sudah bekerja keras mencari informasi sebanyak yang mereka bisa tentang adinata group, melihat itu semua dengan wajah datar dan mata tajam penuh selidik, tugas penyelidikannya bersama temannya sudah selesai, karena nona mereka sudah kembali ke Jakarta dan mereka harus segera menjaganya kembali.


*


Mila baru saja selesai membersihkan dirinya, saat ia keluar dari kamar mandi, jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 malam, Mila menarik nafas panjang, ia kemudian mengeringkan rambutnya dengan bercermin di meja rias, sementara Arya masih membaca beberapa dokumen di ponselnya sembari bersandar di atas ranjang.


“kamu belum tidur Arya, kan besok mau kerja” ucap Mila dengan pelan melihat Arya masih sibuk dengan ponselnya.


“aku menunggumu Mil, kamu lama sekali mandinya” ucap Arya dengan pelan dan tetap fokus dengan ponselnya.


“kamu tadi mandinya juga lama,” balas Mila dengan singkat.


“kamu masih lama Mil, aku mau meluk kamu, aku udah rindu tidur dengan memelukmu" ucap Arya dengan santai. Ucapan Arya itu seketika membuat wajah Mila bersemu merah, karena sejatinya, ia juga merindukan hal yang sama.


“kamu jangan macam-macam ya, aku masih capek” ucap Mila berusaha menyembunyikan rasa senangnya.


“aku juga capek kali Mil, ayo sini” ucap Arya menaruh ponselnya dan menepuk sisi ranjang yang biasa di tempati Mila.


Mila kemudian menyegerakan mengeringkan rambutnya untuk segera naik ke atas ranjang. Ia kemudian tidur disisi Arya dan memeluk Arya dari samping. “aku bakalan sulit jika harus bangun seperti biasa, ini sudah terlalu larut untuk tidur” ucap Mila memejamkan matanya sembari berbaring ke arah Arya.

__ADS_1


“ya udah, nggak apa-apa, nanti aku akan bangunkanmu shubuh saja” ucap Arya yang ikut berbaring di samping Mila.


“tapi kitakan udah lama nggak sholat bareng Arya, terakhirkan 3 hari lalu di hotel, kami bangunin aja nanti ya, aku mau sholat di belakangmu seperti biasanya” ucap Mila kembali membuka matanya.


“iya, Mil, semua keinginanmu bakalan aku turutin kok” jawab Arya memeluk Mila, ia mengelus lembut rambut istrinya itu.


“Mil, aku mengkhawatirkan kak Vanessa Mil, apa dia bakalan baik-baik saja dengan perlakuan sepupumu tadi?” tanya Arya dengan nada khawatirnya.


“ini resiko atas keputusannya dulu Arya, semua keluarga besarku tidak suka jika ada dari kami yang menentang kakek, sama seperti ibu dulu” jawab Mila dengan pelan.


“setidaknya kamu harus menjaga kak Vanessa Mil, dia sudah banyak membantu kita” jawab Arya.


“aku juga bingung sekarang soal itu, tapi kamu tak usah khawatir, bang Ardian juga nggak bakalan lama kok disini, dia harus segera balik ke Malaysia, bisnisnya disana nggak bisa ditinggal lama-lama” jawab Mila dengan kembali memejamkan matanya.


"syukurlah kalau begitu,"


Arya menatap dalam wajah Mila yang telah memejamkan mata, ia benar-benar terpesona oleh sempurnanya kecantikkan Mila, wajahnya benar-benar seperti bidadari di mata Arya.


"Mil" gumam Arya dengan pelan. "hmmmm" balas Mila dengan gumaman juga.


"terima kasih, kamu sudah membuktikan kata -katamu dulu"


matanya seketika bertemu dengan mata Arya,


entah mengapa jantung Mila berdetak kencang melihat mata Arya, padahal mereka sudah sangat sering berada di situasi seperti itu. 'ya Tuhan, aku benar-benar mencintainya'


"aku takut kamu akan membenciku karena masalah perusahaan ini, dan kamu akan meninggalkanku atas apa yang dilakukan temanku pada keluargamu, dulu kamu bilang akan menggenggam erat tanganku apapun yang terjadi, dan hari itu, saat di dalam mobil, kamu menggenggam erat tanganku setelah mengetahui semuanya" jelas Arya pada Mila.


"aku milikmu Arya, dan kamu milikku, aku akan menggenggam erat tanganmu, apapun yang terjadi, aku, kamu adalah kita, kita yang tak kan bisa dipisahkan oleh apapun" jawab Mila mengelus lembut wajah suaminya, detak jantungnya masih terasa cepat menatap mata suaminya itu.


*


Arya dengan mata lelahnya membawa mobil Ari ke kantor, tubuhnya masih lelah, matanya masih mengantuk, namun ia sadar, ia harus segera ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dengan segera, agar ia dapat memiliki sedikit waktu luang untuk bertemu sekretaris Arjun siang itu.


Jam masih menunjukkan pukul 07.30, mobil Ari yang dibawa sudah terparkir di area parkir perusahaan 3A Sahabat. Arya melangkah santai menyapa setiap orang yang ia temui di kantor itu seperti biasa, ia kemudian segera menuju di lantai 4, ketika Arya berjalan menuju ruangannya ia melihat Rita yang juga baru sampai dan tengah merapikan mejanya sebelum mulai bekerja.


Rita yang menyadari kedatangan Arya langsung menghentikan kegiatannya dan melihat kepada Arya.


“anda sudah kembali pak?” tanya Rita dengan sopan dengan tersenyum meledek Arya.

__ADS_1


“kamu jangan panggil aku pak, sudah seringkali diingatkan” kesal Arya yang membuat Rita tersenyum mendengarnya.


“inikan sudah jam kerja, jadi harus panggil pak,” jawab Rita dengan singkat.


Arya sejenak melirik ke arah jam yang ada di ruangan timnya itu, “nanti jam 10 kita menemui ayahmu ya, kamu siap-siap saja” ucap Arya dengam datar, ia kemudian segera masuk ke dalam ruangannya.


Sementara Rita menelan salivanya, ia masih merasa ragu untuk membawa Arya menemui ayahnya. 'Arya benar-benar ingin bertemu ayah, kenapa dia sangat ingin bertemu ayah?, padahal selama ini dia tidak begitu peduli dengan kehidupan pribadiku' batinnya penuh pertanyaan.


Di meja kerjanya Arya melihat sudah ada beberapa dokumen yang telah disiapkan Rita untuknya. ‘astaga, aku masih lelah, tapi kerjaan udah banyak lagi’ batinnya.


‘semangat Arya, kamu nggak boleh mengeluh, ini demi impianmu dan impian istrimu ini demi keluargamu’ batinnya Arya lagi menyemangati dirinya sendiri.


Arya kemudian segera berjalan ke meja kerjanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya itu.


Sementara itu, di kediaman keluarga Rakarsa, Mila tenganh asyik bermain dengan Sarah dan kedua anak Sarah, sementara Ardian sudah berada di rumah sakit untuk menemui kakeknya.


“kakak kapan kembali ke Malaysia?” tanya Mila yang tengah memeluk Riska, putri Sarah.


“nanti sore Mil, kamu antar kami ke bandara ya” jawab Sarah dengan singkat.


“cepat sekali perginya kak, kita bertemu belum sampai sehari lo, tapi kakak udah langsung balik aja” keluh Mila kepada Sarah.


“bang Ardian cukup sibuk Mil, kamu dong yang main-main ke Malaysia sama suamimu, sekalian kenalkan suamimu pada pamanmu, dan juga sama bibimu di Sulawesi, biar keluarga besarmu tahu siapa laki-laki pilihan kakek itu” ucap Sarah menatap dalam ke arah mata Mila.


“hmm, iya kak, nanti kalau ada kesempatan kami kesana, sekalian juga ke Sulawesi, Arya bilang dia juga mau membawaku ke Sulawesi untuk bertemu seseorang, sama juga ke Kalimantan untuk bertemu teman kulihaku dulu” jawab Mila dengan masih bermain bersama Riska.


“wah, kalau begitu jangan bilang kalau ada kesempatan aja Mil, buat planningnya dengan jelas, kapan mau ke Malaysia, kapan mau ke Sulawesi, dan kapan ke Kalimantan, kalau cuma bicara jika ada kesempatan, ya nggak bakalan terealisasi dengan baik Mil” saran Sarah pada Mila.


“gitu ya kak, nanti aku bicarakan lagi dengan arya, kami kayaknya terlalu banyak keinginan sekarang, jadi harus dipikirin mana yang mau kami wujudkan dulu” jawab Mila dengan polos.


“yang penting punya anak dulu Mil, biar ikatanmu dan Arya semakin erat, apa lagi kakak lihat dia lumayan tampan, sikapnya itu terlihat misterius gitu lo Mil, jadi buat penasaran aja, nanti direbut orang baru nyesal kamu” ucap Sarah menggodai Mila.


“ihh kakak, bicara apa sih" kesal Mila pada Sarah.


"itu kakak jujur lo Mil, kalau kakak belum menikah, udah kakak pepet suamimu itu" goda Sarah pada Mila.


"ihh kakak,," rutu Mila pada Sarah


"kalau dia sampai ada perempuan lain selainku, dia nggak akan ku maafkan seumur hidupku" kesal Mila lagi.

__ADS_1


‘Arya memang tampan sih, dia aja yang nggak bisa merapikan penampilannya, kalau rambut panjangnya sedikit di potong, lalu kulit wajahnya di kasih maskeranku, astaga,,, dia bisa jadi rebutan banyak perempuan nanti’ batin Mila yang kembali dipenuhi banyak dugaan.


__ADS_2