
Tomy tengah duduk di sebuah restoran bersama Ari dan Arbi. Pertemuan mereka minus Arya yang menolak untuk ikut siang itu, karena Arya harus menjemput Ardian di bandara bersama Mila. Tomy tengah menikmati jus mangga sembari melihat pelataran restoran yang tampak tidak terlalu ramai.
Sementara Ari menikmati kopi dingin dan Arbi memakan sepaghetti kesukaannya.
“jadi apa rencana kamu Tom?” tanya Ari.
“seperti kata Arya kemarin, aku akan temui beberapa pemilik saham, kontak yang diberikan Rita sudah aku hubungi, aku sudah dapat jadwal pertemuan dengan mereka” gumam Tomy.
“sepertinya kamu akan berperan besar menemui para pemegang saham, kami berdua juga tidak bisa membantu banyak, projek di Kalimantan akan segera dimulai, minggu depan orang dari London juga akan datang, projek lain juga sedang menumpuk” jelas Ari dengan pelan.
“kasus Arnes juga sedang aku urus, dia ancaman besar bagi kita, target anak itu jelas Mila,” gumam Tomy. “tapi aku sedikit ragu, yang menusukku waktu itu bukan dia, tapi pengawalnya, apa menurutmu dia bisa kita seret ke penjara?”
“coba dulu Tom, yang jelas pikirannya terpecah, jadi nggak akan menganggu Mila, walaupun Mila sudah jauh berubah, aku tetap merasa takut, dia bisa saja mengambil keputusan labil disaat genting” ucap Ari.
Ari menarik nafas dalam, ia sejenak meminum kopi dingin yang ia pesan. Posisi papan catur sangat menguntungkannya, raja musuh sudah terpojok, pion musuh juga tidak terlalu banyak. Hanya dengan beberapa langkah yang tepat. Permainan akan dimenangkannya.
“gue tidak suka permainan menyebar Tom, benteng harus tetap menjadi benteng, kuda harus tetap menjadi kuda” ucap Ari penuh makna. Arbi dan Tomy melihatnya dengan penuh penasaran.
“Arya jelas berada di dalam Adinata group, dia akan tetap menjadi raja disana. gue akan fokus untuk melindungi Mila, juga dokter Reny di rumah sakit Adinata dan juga masalah Irman, lo fokus menyerang Arnes dengan kasus penusukan kemarin, sama lo bisa mengurus beberapa pemegang saham di Jakarta, Arbi akan mengurus para pemegang saham yang bisa ia tekan dan juga pemegang saham luar negeri,” jelas Ari.
“gue baru sadar lo orangnya penuh strategi seperti ini Ri” gumam Arbi memuji sahabatnya.
“tapi menurut gue Arya jauh lebih cerdas, dia juga sabar nggak memaksakan kehendaknya, memberi kita ruang untuk lebih banyak membantunya, posisinya saja yang membuatnya tidak leluasa bergerak seperti kita” jawab Ari.
“jika dia ada diposisi gue mengatur langkah kita seperti ini, saling bunuh-bunuhan pasti akan terjadi Bi, head to head langsung antara dia dan CEO itu” jelas Ari dengan penuh keseriusan.
"dan situasi seperti ini justru menguntungkan kita, karena mereka belum tahu siapa kita" lanjut Arbi.
Ari melepas nafas kasar, Dia juga harus mempersiapkan pertahanan, berjaga-jaga jika musuhnya melakukan serangan membabi buta karena sudah terpojok.
__ADS_1
*
Ardian tengah menuju gedung Cipta Rakarsa diantar oleh Ortin, setelah ia mengantar anak dan istrinya ke apartemen Arya, ia kemudian bergegas menemui Irman, ia tidak punya banyak waktu karena bisnisnya di Malaysia tidak bisa ditinggal lama.
Ardian membuka map yang diberikan Arya, ia menatap isi map itu dengan mata penuh kekecewaan. Ia tak menyangka sepupunya memperlakukan seorang perempuan seperti itu.
Ardian menarik nafas kasar, ia melihat ke arah Ortin yang tengah fokus mengemudi.
“aku tidak mengira seorang Indra adinata masih hidup” gumam Ardian,
“semua orang juga begitu tuan” ucap Ortin dengan singkat.
“tuan Gibran berjasa besar pada ayahku, aku benar-benar merasa terhormat sepupuku menjadi istri Arya,” lanjut Ardian
Setelah sampai di gedung Cipta Rakarsa, Ardian yang dikawal Ortin segera masuk ke dalam menuju ruangan Irman, ia tidak peduli dengan semua orang yang menatap aneh ke arahnya.
Bisik-bisik orang yang membicarakannya ia abaikan, termasuk resepsionis yang mengejarnya, ia abaikan begitu saja.
“maaf tuan, anda tidak bisa masuk sembarangan seperti ini” ucap Satpam yang mengejar Ardian sembari menarik lengan Ardian. Di sampingnya juga ada resepsionis yang juga ikut mengejar Ardian yang masuk tanpa meminta izin.
Ortin melepas dengan kasar tangan satpam yang menyentuh tangan Ardian, “jaga sikap anda, beliau akan menjadi pemilik perusahaan ini” ucap Ortin dengan tegas.
Irman berdiri, ia memberikan aba-aba agar satpam dan resepsionis yang mengejar Ardian untuk pergi. Ardian kemudian masuk dan Ortin menutup pintu sembari berjaga di luar.
“waktumu sudah habis” gumam Ardian dengan datar.
“aku tahu”
Ardian kemudian memberikan map yang diberikan Arya kepadanya, “kamu membuat malu keluarga Rakarsa, apa seperti itu cara kamu memperlakukan istrimu?” ucapnya dengan dingin.
__ADS_1
Irman membuka map itu, matanya membulat tak percaya, surat gugatan cerai dari istrinya yang sudah ditanda tangani oleh Vanessa. Disana juga ada foto kopy lampiran surat hasil tes mereka berdua.
'Vanessa dapat surat tes asli ini darimana' batinnya tak percaya melihat surat itu
“Aku tak ingin berlama-lama, aku sudah tahu kasus yang kamu hadapi, cara kotor seperti itu bukan darah Rakarsa, kamu benar-benar menjadi aib keluarga kita Irman” lanjut Ardian dengan tajam.
Irman hanya diam, ia tertunduk kalah, posisinya semakin hancur dengan surat gugatan Vanessa.
“tanda tangani, biarkan gadis itu mencari kebahagiaannya yang telah kamu hancurkan, selama ini aku selalu menyalahkan gadis itu, tetapi ternyata kamu lah biang masalahnya”
“Arya sudah cerita semuanya kepadaku, jika kondisi Adinata group sudah bisa ia kuasai, ia akan membantu kasusmu, setidaknya ia bisa membayar pengacara terbaik untukmu” lanjut Ardian.
“satu hal lagi Irman, tuan Gibran sudah banyak membantu perusahaan ini, perusahaan ayahku dan juga perusahaan suami bibi di Sulawesi, jangan berbuat sesuatu yang akan mengkhianati kebaikan beliau seperti pada rapat pemegang saham kemarin”
“kamu tahu semuanya?” tanya Irman dengan lemah.
“karena aku mengawasimu,, aku tahu gerak gerikmu selama sebulan ini”
Irman menarik nafas kasar, “kalau dia dan perusahaannya tidak menggerogoti perusahaanku, aku juga tidak akan memusuhi dia” jawab Irman membela diri.
“sudahlah, dari awal kamu sudah salah, akui saja hal itu, jalani kasusmu, perbaiki dirimu, aku akan tunggu kamu di Malaysia jika keadaanmu sudah lebih baik dan kamu sadar atas kesalahanmu aku akan kasih posisi bagus untukmu nanti”
Irman masih tertunduk lemah, ia sudah mendapatkan jadwal pemeriksaan oleh institusi anti korupsi. Kasus tersebut tidak akan bisa ia hindari lagi, ia jelas bersalah karena menyuap beberapa pejabat untuk mendapatkan proyek di beberapa daerah.
“aku akan bicara dengan Vanessa dulu, baru ku tanda tangani” gumam Irman.
“tanda tangani saja, kamu sudah memperlakukannya dengan buruk, tak ada gunanya lagi kamu membujuknya agar tidak bercerai denganmu, dia sudah sangat tersakiti karena perlakuanmu selama ini”
Irman mengusap wajahnya dengan kasar, ia terlalu menikmati kemaksiatannya selama ini. Merasa bebas menyentuh perempuan manapun tanpa perlu takut bertanggung jawab. Menikmati hidup seperti ayahnya menikmati hidup. Hingga ia lupa siapa yang selalu menunggunya di rumah.
__ADS_1
Irman mengambil penanya, ia kemudian menanda tangani surat gugatan tersebut dengan berat hati.
Ardian kembali mengambil surat itu. “Mila belum tahu apa-apa soal gugatan istrimu ini, dia hamil muda, jangan sampai kamu membahayakan kondisinya, jika itu terjadi, aku yang akan memastikan kehancuranmu yang sebenarnya” ucap Ardian dengan dingin, Ia kemudian pergi keluar dari ruangan itu. Ditemani Ortin, ia harus mengurus beberapa hal untuk mempercepat pemindahan perusahaan ke Malaysia.