
Arya keluar dari kamarnya dan menuju kursi kerjanya, sejenak ia bersandar disana sembari melihat 2 foto yang selalu ia bawa kemanapun. “ayah, semuanya telah dimulai, aku akan kembali untuk mengembalikan nama baikmu” gumam Arya sembari menciup foto ayah dan ibunya, ia kemudian menyimpan foto itu dan melihat ke arah dinding kaca ruangannya.
‘apa aku terlalu menyayangi Mila hingga kata -kata Arnes mempengaruhiku?, apa sekarang aku sudah jatuh cinta kepada Mila, rasanya ini terlalu cepat setelah peristiwa itu, aku belum bisa sepenuhnya percaya pada dia, aku tidak mau terluka untuk kedua kalinya, tapi aku juga tidak bisa menyangkal perasaan ini, ya Tuhan, jangan biarkan perasaan ini untuknya tumbuh berlebihan, aku tidak mau menduakan cintaku untuk-Mu Tuhan’ batin Arya.
Arya menarik nafas dalam untuk menenangkan perasaannya, ia kemudian mulai membuka dokumen kerjanya dan segera menyelesaikannya satu persatu.
Setelah lebih dari satu jam tertidur, Mila akhirnya membuka matanya, ia mendapati dirinya terasa di ruangan yang baru baginya, ia kemudian duduk dan mengusap matanya, hingga kesadarannya kembali, ia akhirnya menyadari dimana ia berada.
Mila kemudian melihat ke arah Anjani tidur tadi, gadis itu sudah tidak ada disana, Mila menelan salivanya, perasaan tak menentu menyeruak di hatinya, ia kemudian bangkit dan segera memakai cadar.
Mila bergegas segera keluar dari kamar itu, jantungnya berdetak tak karuan, saat ia keluar kamar, ia mendapati Arya sedang duduk bekerja dengan dokumen-dokumen di meja.
“kamu udah bangun Mil” ucap Arya melihat ke arah Arya yang tampak kebingungan di depan pintu kamar itu.
Tiba-tiba saja Anjani memukul pelan bahu Mila dari arah belakang, “bangun tidur itu cuci muka dulu napa, lihat tu belek” seloroh Anjani yang membuat nafas Mila terasa terlepas dengan lega.
“kamu dari mana?"
“kamar mandi”
“kamu baru bangun juga?”
Anjani tersenyum melihat ke arah Mila, “iya, jangan seposesif itu, nanti Arya nggak nyaman” ucapnya tersenyum.
“aku berterima kasih untuk hari ini pada kalian, sekarang aku balik dulu, aku harus mengambil beberapa dokumen di kantor, pasti kerjaku sudah banyak disana” pamit Anjani dengan santai, ketika ia hendak menarik ganggang pintu, ia kemudian berbalik ke arah Arya.
“kamu belum membuat desain untuk ruanganku ya Arya, kan aku udah memintanya sebelum ini” ucap Anjani yang teringat sesuatu.
“kamu kirim aja permintaannya, nanti timku yang akan survey ruanganmu untuk membuat konsepnya” jawab Arya dengan santai.
“kenapa harus timmu, kenapa bukan kamu saja”
Arya mengangkat kedua bahunya dan Anjani mendengus kesal karena itu, ia kemudian keluar dari ruangan Arya.
Arya kemudian bangkit ke arah Mila yang masih melihatnya.
Arya mengecup singkat kening Mila, “cuci muka dulu, bentar lagi kita pulang”.
__ADS_1
*
Arya menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, sebelum sampai di apartemen, mereka singgah lebih dulu ke sebuah mini market untuk membeli beberapa kebutuhan rumah.
“Arya, singgah di mini market depan itu ya” ucap Mila menunjuk ke arah mini market yang ada di sebelah kiri jalan.
Arya sejenak memperhatikan ke sekeliling mini market itu, memastikan hal buruk seperti sebelumnya tidak terjadi, ia lebih memilih hati-hati dari pada harus terjadi masalah.
“Kamu mau beli apa Mil?” tanya Arya sembari memakirkan mobilnya.
“makanan ringan aja untuk di apartemen kita, sekalian beli keperluan di kamar mandi, kamu mau beli sesuatu?” tanya Mila sebelum keluar dari mobil.
Arye menggeleng, dan Mila tersenyum melihatnya, “tunggu bentar ya, aku nggak lama kok” Mila kemudian keluar dari mobil menuju mini market.
Arya menarik nafas kasar, ia melihat keadaan di sekitar mini market itu, ia memperhatikan setiap orang disana.
Ia kemudian melempar pandangan ke arah seberang mini market yang ia singgahi, matanya kemudian tertuju kepada sepasang suami istri yang tengah duduk bersama putra mereka, keluarga kecil itu tampak bahagia menikmati minuman di warung kecil sederhana di seberang mobil Arya berhenti.
Arya tersenyum getir melihat itu, kenangan akan keluarganya berputar diingatannya seketika. Dulu ia juga pernah seperti itu, menikmati waktu bersama ayah dan ibunya, menghabiskan waktu sore untuk jalan -jalan bersama dan duduk di warung kecil tepi jalan seperti keluarga yang ia lihat.
Arya menatap ke arah keluarga itu dengan sendu, berharap waktu dapat berputar dan ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama ayah dan ibunya.
“Arya kamu kenapa?” tanya Mila mengusap pelan bahu Arya yang membuat Arya tersentak, "aku nggak apa -apa"
Arya bahkan tidak menyadari jika Mila sudah masuk ke dalam mobilnya, ia terlalu larut dengan kerinduan itu. Arya mengusap pipinya yang basah, dan segera menyalakan mobilnya.
Mila sejenak melihat ke arah tatapan Arya yang melihat keluarga kecil tadi. Seketika saja ia menelan salivanya dan mengusap perutnya.
‘kenapa aku belum hamil juga ya?, apa aku sama kayak ka Vanessa’ batinnya, Mila kemudian menggelengkan kepala, 'nggak,, nggak mungkin, aku nggak mungkin mandul kayak kak Vanessa’ batinnya membuang pemikiran itu.
“Arya, apa menurutmu kita perlu ke dokter kandungan?, mana tahu kita bisa ikut program kehamilan”
Ucap Mila menatap kosong ke arah jalanan. “nggak usah Mil, kalau Tuhan sudah percaya sama kita, maka Tuhan akan titipkan kepada kita malaikat kecil-Nya” Tolak arya pada ide Mila.
Mila menarik nafas kasar mendengarnya, “kamu sangat ingin memiliki anak ya,?”
“bukannya setiap pasangan menginginkan itu Mil”
__ADS_1
Mila sejenak memejamkan matanya, ia sebenarnya juga sangat menginginkan seorang anak untuk menguatkan hubungannya dengan Arya dan juga untuk memenuhi keinginan kakeknya.
“tapi sampai sekarang aku belum hamil juga” gumam Mila.
“pernikahan kita baru 6 bulan Mil, lagi pula kita melakukannya kan baru 2 bulan ini, jangan terlalu terburu-buru, kita siapkan saja mental, fisik, sama ekonomi kita, nanti malaikat kecil kita akan hadir disaat yang tepat” jawab Arya yang fokus ke arah jalan. Perasaannya terasa sedikit lebih tenang mendengar suara istrinya.
“apa kamu merindukan kakek Mil?” tanya Arya yang mengalihkan pembicaraan mereka.
“iya, tapi lebih baik kita tidak bertemu kakek dulu, ibu pasti ada disana, ibu kan masih belum baikan sama kamu”
“maaf ya Mil, karena aku, kamu dan ibumu malah seperti ini” ucap Arya.
“jangan begitu Arya, ini ujian dalam pernikahan kita, kita harus kuat menghadapinya, jadi kita tak perlu menyalahkan siapa-siapa disini” ucap Mila yang berusaha bersikap lebih dewasa.
*
Setelah memakirkan mobil mereka di basement, Arya dan Mila kemudian segera menuju ke apartemen mereka. Ketika mereka membuka pintu apartemen tersebut, terlihat 2 pasang sepatu yang bukan milik mereka disana.
Mila segera melempar belanjaannya ke sofa ruang tamu dan berjalan menuju dapur.
“Abeel” ucapnya yang senang Abel berkunjung ke apartemen mereka. Mila segera mendekat pada Abel dan kemudain memeluk sahabatnya itu.
“ihh apaan sih” ucap Abel yang risih karena Mila tiba -tiba memeluknya yang tengah mempersiapkan bumbu untuk memasak makan malam.
“udah mau nikah, malah gengsian aku peluk” rutu Mila pada Abel.
Sementara Arya berjalan ke balkon setelah melepas jas dan dasi kerjanya di kamar. Ia melihat Tomy yang tengah melihat pemandangan sore laut Jakarta. “gimana persiapan pernikahanmu?, lancar?” tanya Arya sembari duduk di samping Tomy.
“lancar kok, kamu bagus juga cari apartemen kayak gini, pemandangannya lumayan bagus”
“berapa hari lagi kamu menikah Tom?” tanya Arya yang mengabaikan pujian Tomy.
“18 Hari lagi, sekitar seminggu setelah rapat itu” jawab Tomy.
Arya menarik nafas kasar, dan melepasnya, ia melihat jauh ke arah laut yang terlihat dari sana, “sebaiknya kamu menghindar dulu dari masalah ini Tom, fokus saja sama pernikahanmu, aku nggak mau konsentrasi kamu pecah nanti”
“tenang saja Arya, seperti kata om Haris, kita gerak setelah rapat itu, Ari juga bilang begitu tadi, dia sudah bertemu dengan orang yang dikatakan om Haris pada Rita”
__ADS_1
“aku sekarang malah mengkhawatirkan paman Haris Tom, aku khawatir saja akan terjadi sesuatu yang buruk sama dia seperti orang yang kecelakaan yang diceritakan Rita kemarin ” jelas Arya akan kekhawatirannya.