
Arnes sedang duduk di dalam mobilnya sembari melihat ke arah gerbang sekolah Mila, sudah sejak kemarin ia menchat Mila, namun tidak bisa masuk sama sekali, ia juga berkali-kali menelfon Mila, namun nomor itu tidak bisa dihubungi, ‘apa kamu ingin pergi dariku Mil?, apa kamu pikir aku akan melepaskanmu sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan darimu? jangan main-main denganku, aku sudah bersikap baik kepadamu selama ini, tapi sekarang kamu malah seperti ini’ batin Arnes menggenggam erat stir mobilnya karena kesal.
Sudah sepuluh menit mobilnya terparkir di situ, namun Mila belum tampak keluar dari gerbang sekolah, Arnes sejenak menghirup nafas panjang dan mengeluarkan ponselnya, Ia kemudian membuka media sosialnya dan mencari akun media sosial Mila, namun akun itu tidak bisa ditemukannya, Arya benar-benar telah memblokir semua hal yang berhubungan dengan Arnes di ponsel Mila. ‘Jadi dia mau main-main denganku’ batin Arnes lagi dengan kesal.
Arnes kemudian mengalihkan pemikirannya pada sosok Anjani yang dijodohkan dengannya. Dan dengan segera ia mencari media sosial Anjani di aplikasi tersebut sembari menunggu Mila keluar dari sekolah. Ia mengetik nama Anjani Lestyia Hardi di kolom pencarian dan munculnya akun dengan nama serupa yang bercentang biru di kolom paling atas.
“kamu sepertinya cukup terkenal, apa lagi statusmu anak tunggal om Hardi, pasti semua orang mengenalmu” gumam Arnes sembari melihat foto-foto Anjani. Dia melihat beberapa foto Anjani selama di Amerika yang membuatnya tersenyum sinis.
“kamu menggoda sekali Anjani, pernah kuliah dan bekerja di Amerika, sepertinya aku beruntung sekali dijodohkan denganmu, dan kamu adalah kunci untukku menjadi CEO menggantikan ayahku nanti” gumam Arnes lagi yang masih asyik memperhatikan foto Anjani lagi, dan pikiran kotornya terus bekerja melihat semua foto-foto Anjani. “tubuhmu membuatku penasaran saja, sama dengan rasa penasaranku pada tubuh Mila” batin Arnes lagi.
Setelah puas melihat foto Anjani, Arnes kemudian menutup ponselnya dan kembali melihat ke arah gerbang sekolah Mila, dan ia dapat memperhatikan Mila tengah berdiri disana yang sedang berbicara dengan Syifa.
Arnes kemudian langsung keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Mila. Ia tersenyum sinis melihat ke arah 2 orang yang sedang berbicara itu.
Syifa melihat Arnes yang sedang berjalan ke arahnya dan Mila dengan wajah pias, Mila yang heran dengan perubahan wajah Syifa dibuat bingung, “kenapa kak?” tanya Mila, namun belum sempat Syifa menjawabnya, Mila mendengar suara laki-laki memanggilnya, “Mila”.
Mendengar suara itu, Mila juga ikut pias seperti Syifa, ia memutar badannya pada sumber suara, dan benar dugaannya, Arnes sekarang sudah berdiri di dekatnya.
“bang,, bang Arnes” ucapnya gugup, Matanya membulat takut, Nafasnya terasa tercekat ke tenggorokan, jantungnya bekerja lebih cepat memompa darah ke seluruh tubuhnya, bibirnya memucat di balik cadarnya, tubuhnya terasa gemetar, baru kemarin Arya memintanya untuk tidak berhubungan dan bertemu lagi dengan Arnes, tapi sekarang laki-laki itu tepat berdiri di depannya.
“Hai Mil, apa kamu sudah selesai ngajarnya?” tanya Arnes dengan santai, sementara Syifa melihat Arnes dengan perasaan jijik mengingat cerita Abel di rumah sakit.
__ADS_1
“su,,sudah bang, abang kok bisa ada disini?" tanya Mila yang masih gugup pada Arnes.
“aku ingin ngajak kamu makan di mall ayahku, sekalian aku harus mengecek laporan mall itu nanti, ada yang ingin aku omongin sama kamu Mil” ajak Arnes dengan nada akrabnya pada Mila, ia mengumbar senyumnya kepada Mila untuk mengajak gadis itu.
“maaf bang, tapi sebentar lagi kak Vanessa bakalan datang untuk menjemputku” jawab Mila mencoba mengelak, walaupun itu tahu Arnes pasti akan memaksanya. ‘ya Tuhan, lindungi aku, aku tak mau mengkhianati Arya lagi, aku tak mau menyakitinya lagi’ batin Mila mengedik takut.
“kamu tinggal chat aja kak Vanessa kalau kamu pulang sama aku” ucap Arnes lagi yang masih menatap harap pada mata Mila.
“maaf bang, aku benar-benar nggak bisa” jawab Mila masih berusaha menolak, namun Arnes yang mendengar itu langsung dibuat marah oleh kata-kata Mila, ia tidak suka jika Mila menolaknya, apa lagi sudah beberapa minggu ini Mila selalu menolak untuk bertemu dengannya.
“kenapa?, karena suamimu?, dia melarang kamu untuk menemuiku, dia juga yang memblok nomorku, kamu sudah berminggu-minggu menolak bertemu denganku, dan sekarang aku menjemputmu, dan kamu masih menolakku” ujar Arnes yang benar-benar kesal pada Mila, sebenarnya dia ingin berbicara baik-baik dengan Mila dengan mengajak Mila makan dan berbicara dengan berbicara santai, namun penolakan Mila langsung membuatnya marah dan rasa kesal yang telah lama ia simpan langsung lepas begitu saja.
Arnes sejenak melepas nafas kasar mendengar itu semua, ‘jadi Irman telah membicarakan semuanya kepada Mila, apa di juga mengatakan tentang keinginanku untuk tidur dengan Mila?’ batinnya yang benar-benar kesal dengan keadaan.
“Mil, kita harus perjuangkan cinta kita sama-sama, kamu harus membuat orang itu menceraikanmu, dan aku pun juga begitu, setelah aku menikah dan menjadi CEO, aku akan menceraikan perempuan itu, bukankah ini perjuangan kita setelah menjaga cinta ini bertahun-tahun” ujar Arnes lagi, sementara Syifa menyipitkan matanya mendengar itu semua, hatinya benar-benar jijik mendengar ucapan manis Arnes yang mencoba membujuk Mila.
Sementara Mila mulai merasa cinta yang terpendam dihatinya ingin muncul ke permukaan, hatinya membenarkan ucapan Arnes, ia dan Arnes telah menjaga cinta mereka bertahun-tahun, dan sekarang cinta itu sedang di uji dengan kehadiran Arya dan juga perempuan lain yang harus dinikahi Arnes untuk mencapai tujuan Arnes menjadi CEO Adinata group.
“kenapa kamu harus menikah dulu dengan perempuan lain bang?, kenapa kamu tidak memilih aku langsung?, apa menikah denganku kamu tidak bisa menjadi CEO?, bukankah kamu pewaris perusahaan itu?” tanya Mila bertubi-tubi mencari ketulusan cinta Arnes.
“Aku harus menjaga kehormatan ayahku Mil, aku harus menikah dengan perempuan yang bisa menjadikanku CEO di perusahaan, banyak hal tentang perusahaan yang kamu tidak mengerti, sekalipun Ayahku menjadi CEO sekarang, tetap saja aku tidak akan semudah itu mewarisi posisi ayahku, tapi percayalah Mil, perasaanku tidak bisa dibohongi, kamu tetaplah yang utama dihatiku” ucap Arnes dengan emosional untuk meyakinkan Mila.
__ADS_1
Mila kemudian mengangkat kepalanya dan dia dapat melihat ketulusan di mata Arnes atas apa yang ia dengar. ‘Ya Tuhan, kenapa ini semua membuatku menjadi bimbang, padahal aku sudah memutuskan untuk memilih Arya dan memperbaiki semuanya.’ batin Mila.
Tiba-tiba saja tangan Mila ditarik oleh Vanessa yang baru datang, Vanessa langsung turun dari mobilnya dan segera menghampiri Mila ketika melihat Mila berbicara dengan Arnes.
“ayo pulang Mil,” ucap Vanessa dengan tegas sembari menarik tangan Mila, Arnes kemudian melirik tajam pada Vanessa, sementara Syifa hanya diam memperhatikan itu semua, ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia merasa ia tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur masalah pribadi Mila.
Mila hanya diam, ia menahan tarikan Vanessa yang membuat Vanessa tak percaya dengan apa yang dilakukan Mila, “Mil,” gumam Vanessa dengan nada tak percayanya.
“bang, sebesar apa cintamu kepadaku?, aku mendengar banyak hal buruk tentangmu” tanya Mila yang masih ingin mencari ketulusan di hati Arnes.
‘Astaga, Mila benar-benar termakan oleh kata-kata laki-laki brengsek ini’ batin Syifa yang tak menduga. Terkadang begitulah seorang perempuan, ketika logika mengatakan salah, namun jika hati telah memainkan perannya, yang salah akan menjadi benar, dan Mila telah termakan oleh perasaannya pada Arnes, sehingga pemikiran buruknya tentang Arnes menjadi salah dan perasaan cintanya lah yang benar.
“apa kamu meragukan diriku?, apa kamu lebih mendengarkan kata-kata orang lain?, sementara kamu telah mengenalku bertahun-tahun, apa kesetiaanku disaat kamu menikah ini tidak bisa membuktikan seberapa besar cintaku kepadamu?” tanya Arnes lagi yang semakin membuat perasaan cinta Mila kepadanya semakin bangkit, mata Mila berkaca-kaca, ia tidak dapat membohongi perasaannya, cinta itu masih ada dan masih sangatlah besar.
“Mila,,,” ucap Vanessa dengan marah, namun Mila masih diam, menahan tarikan Vanessa.
Arnes tersenyum menang melihat itu semua, ia tahu, apa yang ia katakan akan berhasil membuat Mila percaya kepadanya.
Tangan Arnes kemudian bergerak meraih tangan Mila yang tidak di pegang Vanessa, Vanessa dan Syifa mengeram marah melihat itu, namun Mila hanya diam dan membiarkan tangan Arnes mendekat ke tangannya untuk menyentuh tangan putihnya.
Namun belum sempat tangan Arnes itu menyentuh tangan Mila, ada tangan laki-laki lain yang menepis tangan Arnes. Mila, Vanessa, Syifa, dan Juga Arnes seketika terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.
__ADS_1