Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Istana Surga


__ADS_3

Arbi menatap dalam menara Eiffel di depannya, sudah 3 hari ia menemui pemegang saham Adinata group di Eropa. Dan hari itu ia memilih untuk tetap berada di kamar hotelnya, laptopnya sudah terbuka untuk melihat live streaming acara ulang tahun Adinata group.


Sudah sebulan sejak Aliando ditangkap, kondisi perusahaan mengalami guncangan hebat. Terutama para pemegang saham yang tak menyangka dengan penangkapan Aliando. Harga saham Adinata group sempat merosot tajam, hingga akhirnya Arya dapat mengembalikan kepercayaan pemegang saham berkat bantuan para sahabatnya.


Arbi melihat layar laptopnya, beberapa sambutan dewan komisaris sudar ia dengar. Ia menantikan pidato sahabatnya yang diberi kesempatakan khusus. Pidato itu akan menjadi pintu bagi Arya untuk mendapatkan dukungan pemegang saham secara penuh. Itulah titik puncak rencana pak Abdul, pak Budi dan pak Ilham untuk menjadikan semua pemegang saham percaya akan kemampuan Arya.


Arya menarik nafasnya berkali-kali, ia sudah siap untuk tampil di depan semua tamu undangan. Acara ulang tahun Adinata group dilaksanakan di sebuah hotel mewah di ibukota.


Saat namanya disebut oleh moderator, Arya mulai berjalan ke atas panggung di damping Rita. Dengan langkah pelan dan pasti, Arya menuju podium tempatnya berpidato singkat hari itu.


Rita berjalan di belakang Arya, mengiringi langkah Arya menuju podium.


“jangan gugup Arya, kamu udah hafal teks pidato yang aku buat sama ayah kan?” ucap Rita dengan berbisik.


“udah Ta, aku bisa kok Ta,” bisik Arya meyakinkan Rita dan dirinya sendiri.


Arya berdiri di podium, dan Rita berdiri berjarak satu meter di belakangnya. Ia sudah hafal urutan teks pidato itu, dengan sedikit improvisasi, ia akan lancar berpidato.


Arya melihat ke arah penonton, semuanya tengah antusias untuk segera mendengar suaranya. Di depannya ada puluhan kamera yang terpasang, di barisan paling depan ada dewan komisaris, dan pejabat pemerintahan.


Setelah itu ada para pemegang saham yang berkesempatan hadir hari itu, termasuk Hardi dan Anjani, di barisan tengah ada perwakilan dari anak perusahaan yang ikut hadir merayakan ulang tahun Adinata group, serta juga rekan bisnis Adinata group.


Di barisan belakang ada masyarakat umum dari berbagai profesi yang juga ingin menyaksikan ulang tahun perusahaan besar itu.


Arya menarik nafas dalam, tubuhnya terasa gemetar menahan gugup, hampir seratus orang diruangan itu yang akan mendengar pidatonya, belum lagi orang-orang yang akan menontonya melalu siaran live streaming beberapa tv bisnis dan media online.


Arya memejamkan matanya, berusaha menguatkan dirinya, ia mengucapkan basmallah berharap kekuatan dari Tuhan yang Maha Esa.


Arya membuka matanya, seketika matanya bertemu dengan mata Mila yang menatap cemas ke arahnya. Gadis itu takut suaminya akan gugup ketika berbicara dengan keadaan seperti itu.


Arya tersenyum, ia melihat kekuatan hidupnya tengah menatap kepadanya, Ia memukul pelan microphone podium tersebut untuk memastikan microphone itu hidup.


“Assalamualaikum warratulahhi wabarakatuh” ucap Arya membuka pidatonya.


“hari ini kita merayakan ulang tahun Adinata group untuk yang ke 34, selama lebih dari seperempat abad kami hadir ditengah masyarakat, menjadi pionir penting dalam membantu Negara membangun kedaulatan ekonomi, menjadi tuan rumah di tanah kita sendiri”


“mewakili semua elemen Adinata group, mulai dari anak perusahaan, dewan direksi, dewan komisaris dan pemegang saham, ungkapan terima kasih sebesar-besarnya kami ucapkan untuk masyarakat luas yang terus memberi kepercayaan kepada kami sebagai salah satu holding terbesar di Negara ini”


“kami terus berusaha memperbaiki diri untuk terus bersaing dengan perusahaan besar lainnya baik, dari luar maupun dalam negeri, untuk selalu menjadi pilihan masyarakat,, ,,,,”


Cukup 5 menit Arya berpidato, ia menutupnya dengan sebuah harapan besar jika Adinata group akan menjadi bagian penting dalam menjadikan negara ini menjadi negara maju.


Setelah mengucapkan salam, semua tamu yang hadir berdiri memberikan tepuk tangan, Rita segera menghampiri Arya dan mengikuti langkah Arya, mereka kemudian turun panggung ke kursi mereka lagi, sembari juga Arya memberi salam ke semua penonton.


Pidato singkat, dan padat, cukup bagi Arya untuk menarik perhatian dunia. Termasuk juga para pemegang saham yang akan memberikan dukungan suara mereka di rapat pemegang saham tahunan yang akan digelar 2 minggu setelah hari itu.


Setelah acara selesai, Arya langsung menuju ke bagian belakang panggung, ia ingin melepas lelah di disebuah ruangan khusus yang disedian untuknya. Saat Arya membuka pintu ruangan itu, Mila, Vanessa, Ari, Tomy dan Abel sudah berada di dalam lebih dulu.


Arya masuk dengan menatap kesal mereka semua, kenapa tidak hanya Mila saja di dalam sana, itu jauh lebih baik baginya.


“ngapain kalian semua disini” ucap Arya dengan kesal.


Ari melemparkan sebotol minuman ke arah Arya. “minum dulu, biar pikiran lo nggak rusak” ucapnya dengan asal, Arya kemudian mendekat duduk di dekat Mila.

__ADS_1


“jadi gimana?, semeru atau Rinjani?” tanya Ari.


Mila dan Abel seketika melotot ke arah mereka bertiga. Keadaan yang membuat Arya dan Tomy menelan saliva mereka berkali-kali.


“untung gue belum nikah, orang yang udah nikah itu kebebasannya terganggu” ucap Ari meledek 2 sahabatnya.


“nikah dulu sana Ri, biar tahu rasanya” gumam Tomy yang menunduk membuang muka dari wajah Abel.


Arya memegang tangan Mila, “abi nggak bakalan kemana-mana kok Mi” jawab Arya.


“dasar lo, sama bini aja takut” ledek Ari pada Arya. ia kemudian berdiri untuk keluar meninggalkan Arya yang hanya bisa membuang nafas kesal.


Belum sampai Ari di pintu, pintu itu terbuka lebih dulu, Rita masuk ke dalam dan mencari sosok Arya disana.


“kenapa Ta?” tanya Arya yang melihat Rita tampak kebingungan.


“ada yang ingin bertemu denganmu”


“siapa?” tanya Arya merasa penasaran. Dari arah luar, sekretaris Arjun masuk bersama bu Tya. Wajah bu Tya tampak memandang sendu ke arah Arya.


“selamat pagi tuan, senang saya melihat tuan sudah kembali ke posisi dimana tuan seharusnya berada,” ucap sekretaris Arjun dengan tersenyum.


Arya tersenyum, “terima kasih paman, bibi, dan maaf jika aku membuat kalian berada di situasi sulit”


“tidak tuan, tuan sama sekali tidak salah” ucap bu Tya. “saya benar-benar terima kasih kepada tuan, karena tuan sekarang kami sekeluarga bisa berkumpul lagi”


“tidak bi, itu sudah kewajiban saya, paman Arjun sudah sangat banyak membantu ayah dulu, saya tidak rela jika paman di penjara karena kesetiaannya kepada ayah saya” ucap Arya dengan pelan.


Bu Tya meneteskan air mata, matanya menatap wajah yang selalu ia hindari itu dengan sendu. “maaf tuan, selama ini saya terlalu egois dengan menghindari tuan, padahal tuan telah sangat berjasa bagi hidup saya dan Rita” ucap bu Tya rasa bersalah.


Arya tersenyum, ia merasa senang karena janjinya kepada Rita sudah terpenuhi.


Di sisi lain hotel tersebut, Rena, Haris, juga tengah bersuka cita dengan pak Abdul, pak Budi dan pak Ilham. Apa yang mereka perjuangkan telah tercapai. Melindungi Adinata group untuk keluarga Adinata.


“apa kamu sudah punya prediksi untuk rapat nanti Rena?, aku harap tuan Arya mendapat kepercayaan penuh pemegang saham” ucap pak Abdul.


Rena menarik nafas kasar, “saya yakin tuan muda akan naik jadi CEO, tapi saya tidak yakin jika semua pemegang saham akan mendukung tuan muda” jawab Rena.


“tuan muda telah lama menghilang dan banyak yang menilai beliau belum bisa dipercaya memimpin perusahaan, sekarang semua tergantung teman-teman tuan muda yang tengah negosiasi dengan semua pemegang saham” jelas Rena.


Pak Abdul menarik nafas panjang. “aku yakin mereka bisa, mereka benar-benar orang pintar dan punya keberanian” ucap pak Abdul.


“semoga saja pak,” ucap Haris, “saya rasa juga tidak perlu semua pemegang saham mendukung tuan Arya, dengan saham tuan Arya, ia sudah menguasai meja persaingan, aku hanya berharap Hardi mau ada di sisi kita, tapi dia tak punya keberanian sama sekali”


Suka cita mereka juga dirasakan oleh Rahman yang masih koma di rumah sakit, air matanya menetes melihat wajah Gibran Adinata tengah duduk bersama dengan Naina disebuah taman yang indah. Tuannya itu tengah merangkul bahu nona Naina.


Di depan mereka berdua, Rahman melihat sosok laki-laki yang wajahnya mirip dengan Gibran adinata, dan matanya mirip dengan Naina. Laki-laki itu tengah duduk bersama seorang perempuan bercadar, dan diantara mereka ada 2 anak kecil yang tengah asyik bermain.


"tuan, aku merindukanmu” gumam Rahman melihat pemandangan itu. Tetesan air matanya di alam bawah sadar ikut membuat air matanya menetes di dunia nyata.


Dokter Reni menghapus air mata Rahman, “perjuanganmu tidak sia-sia Rahman, segeralah bangun, kamu pasti bahagia melihat tuan muda” ucapnya.


****

__ADS_1


“apa Umi ngidam sesuatu sekarang?” tanya Arya melihat Mila tengah menikmati pemandangan kota dari atas bukit.


“Umi ngidam Abi” goda Mila dengan memelas.


Arya tersenyum, ia teringat pada kakek neneknya di Sulawesi, ia telah melewati fase dimana rasa cinta dan sayang itu sempat menghilang untuk Mila, dan sekarang ia sudah melewatinya, rasa sayang dan cinta itu sudah tumbuh kembali.


Satu doanya saat itu, semoga ia bisa sebahagia kakek dan nenek di hari tua, bersama Mila dan malaikat kecil mereka nanti.


“ana uhibbuka fillah Umi” gumam Arya


“ana uhibbuka fillah Abi” balas Mila.


“sama-sama yuk” ucap Arya


“sama-sama apa bi?" tanya Mila menatap bingung suaminya.


”sama-sama bangun istana di surga,”


Mila tersenyum, "Ayuk" iya memeluk erat lengan Arya.


Arya kemudian mengeluarkan ponselnya, ia membuka kamera dan menyalakan mode video.


"lihat sini Mi" gumamnya


"buat apa itu bi?"


"berterimakasih dulu sama pembaca kita Mi"


Mila tersenyum, ia melambaikan tangannya ke arah ponsel Arya.


"hai readers, terima kasih udah ngikutin kisah kami dari season pertama ya, semoga sehat selalu dan mendapat banyak pelajaran dari kisah kami ini" ucap Mila untuk kita semua.


Arya tersenyum ke kamera ponselnya, "dan juga semoga kalian semua sehat selalu di dalam lindungan Tuhan, sekian kisah kami, we love you all" Arya ikut melambaikan tangan untuk kita semua. Ia kemudian mematikan mode video di ponselnya.


.


.


.


.


.


akhirnya kisah panjang Arya dan Mila udah, semoga teman-teman bisa dapat banyak pelajaran dari kisah ini. Maaf karena masih banyak kekurangan di cerita ini, mulai alur yang rumit dan mungkin ada yang menilai bertele-tele, serta juga typo yang bertebaran. Cerita ini adalah cerita pertamaku disini, jadi masih perlu banyak belajar agar bisa lebih baik lagi.


.


nanti ada beberapa ekstra part kisah Arya dan Mila disini, ada yang usul buat angkat kisah para sahabat Arya, mungkin dalam waktu dekat akan ku kasih sedikit spoiler nya dulu. Boleh usul mau kisah siapa dulu di komentar ya.


.


.

__ADS_1


Terima kasih, di tunggu kehadirannya di Cinta 2 Dunia😉😉.


__ADS_2