
Arya menyetir mobilnya menelusuri jalanan yang cukup ramai, mobilnya ia arahkan ke salah satu pemukiman masyarakat kelas bawah. Mila yang merasa tidak familiar dengan jalan itu melihat Arya dengan bingung.
“kenapa kita lewat sini bi?” tanya Mila dengan pelan.
“ikan asin yang jualnya di tempat kaya ini mi” jawab Arya.
Mila melepas nafas panjang, kali ini ia merasa terlalu merepotkan Arya, “maaf bi” ucapnya.
“maaf buat apa Mi?”
“umi emang kepengen makanan yang waktu itu kampung bi, tapi umi nggak memaksa abi kok, abi pasti capek seharian tadi di kantor” jawab Mila.
Arya tersenyum, ia raih tangan Mila dan ia genggam dengan erat seperti biasa.
“nggak apa-apa Mi, Abi jan selama ini sering sibuk, jadi nggak ada waktu buat Umi, sekali-kali seperti ini juga nggak masalah kan, kita juga perlu jalan-jalan seperti ini” jawab Arya.
Mila mengalihkan pandangannya kea rah jalanan di sisinya, ia teringat lagi saat malam melihat air mancur menari bersama Arya. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu untuk jalan bersama. Apa lagi Arya sudah menjadi CEO sekarang, pasti akan lebih sibuk lagi.
“kita atur jadwal liburan yuk bi” ucap Mila yang teringat perkataan Sarah istri Adrian.
“kita perlu atur jadwal, biar semuanya nggak hanya sekedar jadi rencana yang tak jelas” sambungnya.
Arya mengangguk pelan tanda setuju, pekerjaannya tidak akan ada habisnya, aka nada setiap saat, akan muncul setiap waktu.
“boleh Mi, nanti kita bahas di rumah aja ya” jawab Arya.
Mobil mereka memasuki pemukiman masyarakat golongan menengah ke bawah semakin ke dalam, jauh meninggalkan jalan raya.
“tadi ibu mencari abi ke rumah” ucap Mila
“ibu?” gumam Arya.
“ibu ingin ajak abi ke makam ayah Gibran dan bu Naina, tapi tadi abi pulangnya udah malam” jelas Mila.
Arya menarik nafas dalam, sekarang wajah ayah ibunya terlihat tersenyum dalam ingatannya. Rindu, benar-benar rindu dia dengan kedua orang tuanya. Arya melihat sejenak kea rah Mila yang melihat jalanan dengan tatapan sendu. Ia harus selesaikan dulu tugasnya di dunia agar bisa berkumpul dengan ayah dan ibunya lagi.
Menjaga Mila dan malaikat kecilnya dengan baik sebagai bekalnya untuk menemui sang ibu dan ayahnya.
“nanti umi ikut juga ya ke makam ayah, umi masih ingatkan dengan ayah dan ibu dulu?” tanya Arya.
__ADS_1
Mila sejenak memajamkan matanya, mengingat sosok Gibran dan Naina yang pernah bertemu dengannya. Namun ingatan itu terlihat kabur dan abu-abu, wajah Naina dan Gibran tak bisa ia ingat kecuali dari foto yagn disimpan Arya yang dilihatnya.
“umi Cuma ingat yang difoto abi simpan, hari itu umi Cuma sebentar aja bertemu sama ayah dan ibu bi”
Wajah Arya seketika berubah sendu, ia juga ingin mengingat lagi setiap detik yang ia lalui dulu bersama ayah dan ibunya. Tapi ingatan itu tak sebanyak yang ia inginkan.
“tapi umi ingatkan waktu mencium abi dulu” goda Arya yang tak ingin suasana mereka menjadi sedih.
“ihhhh, abi ini, ingatnya yang itu mulu” desis Mila dengan kesal.
“ingatlah Mi, umi itu orang pertama yang meluk sama mencium abi, mana mungkin abi lupa, janji sama umi aja selalu abi ingat kok” jawab Arya.
Mila tersenyum, ia sentuh bahu Arya dan ia tatap wajah suaminya, “makasih abi selalu ingat sama umi, selalu ingat janji abi sama umi dan menepatinya” ucap Mila.
Arya menghentikan mobilnya di depan sebuah warung, masih terbuka walaupun sudah cukup malam.
“abi tanya di warung ini dulu ya mi” gumam Arya.
“warung lain aja bi, umi nggak nyaman lihat laki-laki itu” tunjuk Mila ke dalam warung.
Disana para laki-laki yang biasa bekerja dengan keringat bercucuran ketika siang tengah asing
“nggak apa-pa Mi” jawab Arya, ia kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam warung. Seorang ibu-ibu yang merupakan penjaga warung langsung menghampiri Arya.
“cari apa mas?” tanya ibu-ibu itu yang melihat dalam wajah Arya, merasa Arya mirip seseorang.
“ini bu, ikan asin ada nggak bu?” tanya Arya.
“ohh, ada mas, itu” tunjuk ibu-ibu itu pada plastic yang berisi ikan asin yang digantung di dinding warungnya.
“2 bungkus aja bu, sekalian sama terinya juga” ucap Arya.
Ibu-ibu itu segera mengambilnya pesanan Arya,
“tuan Arya ya?” gumam seorang remaja laki-laki yang sedang membeli mi instan.
Arya menelan salivanya, bingung kenapa anak itu bisa kenal dengannya. Beberapa orang lain disana ikut melihat ke arah Arya.
“wah benar nih, tuan Arya yang ada di tv kemarin” seorang laki-laki dewasa mendekat dan menyalami Arya.
__ADS_1
‘ahh, pantas saja CEO besar itu punya asisten banyak, jadi ini alasannya’ rutu Arya.
Beberapa orang mendekat dan menyalami Arya, mereka satu persatu berbicara dengan bergantian, membuat Arya bingung menanggapinya.
“udah-udah, kalian ini bicaranya jangan rebutan kayak gitu” ucap si pemilik warung. “tuan perlu yang lain?” tanyanya.
“lado ijonyo ada buk” tanya Arya dengan sopan.
“ada tuan, saya ambilin dulu ya” ucap si pemilik warung.
Arya kembali harus meladeni laki-laki yang bertanya satu persatu dengannya, sekedar bercanda dan tawa bersama. Jarang-jarang mereka bisa bertemu orang dengan posisi seperti Arya. Biasanya para orang besar tidak akan pernah datang ke tempat mereka. Jika ada perlu mungkin yang datang Cuma para asisten saja. Hal yang akan dilakukan Arya jika tahu kejadiannya akan seperti itu. Sekarang ia merasa menjadi arsitektur di 3A Sahabat jauh lebih menyenangkan daripada seorang CEO.
“ini tuan” ucap si ibu pemilik warung.
“oh ya, berapaan bu?” tanya Arya.
“bawa aja tuan, itung-itung terima kasih dari warga sini sama Adinata group” jawab si ibu.
“terima kasih?” tanya Arya yang bingung dengan ucapan si ibu.
Si ibu menunjuk jalanan aspal di depan warungnya, “itu jalan yang bangun dulu tuan Gibran, sekarang masih bagus tuan, ini nggak senilai dengan jalan itu”
“tapi ini kan saya beli bu” gumam Arya.
“bawa aja tuan, ibunya juga ikhlas kok” sahut seorang laki-laki yang di dukung dengan sahutan lain.
Arya akhirnya membawa belanjaannya dan kemudian segera pamit untuk kembali ke mobil. Saat masuk ke mobil ia disambut dengan mata penuh selidik istrinya.
“kenapa Mi?” tanya Arya membalas tatapan Mila.
“abi abis ngapaian mereka, kenapa bisa kayak tadi?” tanya Mila dengan penuh selidik.
“kayaknya kita harus cari asisten deh mi, masa semua orang disana tahu sama abi” ucap Arya dengan pelan, ia menghidupkan mobilnya dan membunyikan klakson satu kali sebelum pergi, sebagai tanda pamit pada semua orang di warung.
“semua orang juga udah tahu sama abi, umi waktu di toko jam tangan aja ditawari jam tangan 1 miliar karena mereka tahu siapa abi” gumam Mila.
Arya tersenyum tipis, ia mengusap kepala Mila dengan gemas, “enak ya mi jadi istri orang terkenal” godanya.
“ihh, abi nih, enak darimana coba, bentar lagi perempuan pada berebut deketin abi” kesal Mila.
__ADS_1
“biar aja, hati abi kan Cuma buat umi”