Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Sekretaris Arjun


__ADS_3

Sekretaris Arjun memandang kosong jeruji besi yang mengurungnya, sudah hampir 5 tahun ia harus hidup di ruang sempit itu. hatinya terasa hampa disana, namun pikirannya mengkhawatirkan sesuatu.


Setelah kedatangan Rahman beberapa waktu lalu menemuinya, pikirannya bekerja keras tak menentu, harapan itu masih ia simpan. Tuan mudanya akan kembali merebut apa yang telah dicuri Aliando dari tuannya. ‘disaat teman -temanku berjuang di luar sana, aku malah meringkuk bodoh disini’ batinnya menyesali keadaannya saat itu.


“pak Arjun, keluarga anda datang untuk berkunjung” ucap seorang sipir penjara sembari membukakan pintu penjara sekretaris Arjun.


Sekretaris Arjun hanya diam tak menjawab, ia kemudian bangkit dan berjalan keluar didampingi sipir penjara itu.


Sekretaris Arjun mendekat pada keluarganya yang datang hari itu, ia memandang haru wajah istrinya, sekalipun istrinya hampir setiap minggu menemuinya disana, tetap saja rasa rindu untuk hidup bersama layaknya keluarga yang utuh itu menyelimuti hati mereka berdua.


Sekretaris Arjun duduk di kursi di depan seluruh anggota keluarganya, ibu Tya, Rita dan Harun secara bergantian menciumi tangan sekretaris Arjun.


“kamu sehat mas?,” ucap bu Tya ketika mencium tangan suaminya yang tampak berantakan itu.


“aku sehat sayang, aku kusut seperti ini karena merindukan kalian” jawab Sekretaris Arjun.


“apa lagi Rita, sudah lebih dari sebulan aku tidak melihatnya” lanjutnya lagi,


“maaf ayah, aku dan mas Harun benar-benar disibukkan di kantor, mas Harun juga nggak bisa kesini untuk membantu kerjaanku” ucap Rita dengan nada bersalahnya.


“nggak apa -apa sayang, kamu harus bekerja dengan baik untuk orang yang telah berjasa bagi hidup keluarga kita” ucap sekretaris Arjun yang membuat ibu Tya meneteskan air matanya.


“aku tidak ingin keluarga kita berhutang budi lagi dengan orang lain seperti hutang kita pada tuan Gibran mas, tapi sekarang Rita malah berhutang budi pada laki-laki yang telah menolong nyawaku dan hidup Rita” ucap ibu Tya dengan nada sedatar mungkin.


“ibu jangan bicara begitu, Arya orangnya baik kok” ucap Rita menenangkan ibunya.


“jangan seperti itu Tya, tuan Gibran sudah cukup baik pada kita, dia yang telah menyelamatkan hidup kita dulu, dan juga nona Naina juga menganggapmu sebagai adiknya sendiri, tak seharusnya kamu berkata seperti itu tentang tuan Gibran, seolah mengenal tuan Gibran menjadi kesalahan kita atas apa yang terjadi” ucap sekretaris Arjun menenangkan istrinya.


“aku tahu mas, tapi apa yang terjadi pada dirimu membuat hatiku benar -benar sakit mas, aku tak mau menyalahkan tuan Gibran disini, tapi atas apa yang terjadi, aku benar -benar tidak bisa menerimanya” jawab bu Tya membela dirinya sendiri.


Sekretaris Arjun menarik nafas panjang ia kemudian pindah ke samping bu Tya dan memeluk istrinya itu.


“jangan bahas lagi jika itu hanya membuatmu sedih sayang, ayo buka rantangnya, aku kangen sama masakanmu dan Rita” ucap sekretaris Arjun dengan nada santainya agar suasana menjadi cair. bu Tya mengangguk pelan, ia bersama Rita kemudian dengan sigap bekerja sama membuka rantang yang mereka bawa.


Sembari bu Tya dan Rita menyiapkan makanannya, sekretaris Arjun kemudian melihat ke arah cucunya yang dipangku oleh Harun.


“cucu kakek nggak kangen sama kakek” ucapnya dengan pelan untuk membujuk cucunya itu,

__ADS_1


“ayo sayang, dipeluk sama kakek, Keysha kangenkan sama kakek” ucap Harun sembari ikut membujuk anaknya untuk digendong oleh sekretaris Arjun.


Keysha tersenyum melihat kakeknya, tangan kecilnya bergerak menjangkau tangan kakeknya, ia tertawa lepas yang membuat pipi putihnya membulat seketika.


“aduh kakek kangen banget sama kamu sayang,” ucap sekretaris Arjun memeluk cucunya.


“ayah, Arya bilang ia ingin bertemu dengan ayah” ucap Rita yang masih mempersiapkan makanan di meja itu. Wajah sekretaris Arjun dan bu Tya seketika berubah mendengar ucapan Rita.


“bertemu ayah?, untuk apa?” tanya sekretaris Arjun dengan wajah bingung.


“dia bilang dia ingin mengenal ayah” jawab Rita dengan singkat


“nggak bisa Ta, dia nggak boleh bertemu dengan ayahmu” ucap bu Tya dengan nada tajam yang membuat suasana kembali menjadi tegang.


“kenapa nggak bisa bu?” tanya Rita dengan nada bingungnya.


“ibumu benar sayang, ayah nggak mau dia kehilangan kepercayaannya kepadamu jika dia bertemu dengan ayah, kasus ayah ini sangat berat nak, ayah dituduh menggelapkan dana perusahaan, Arya bisa kehilangan kepercayaan kepadamu jika tahu ini semua” ucap sekretaris Arjun dengan nada pelannya.


‘jika mas Arjun bertemu dengan Arya, dia pasti mengingat tuan Gibran dan nona Naina lagi, mas Arjun pasti akan kembali memikirkan masalah perusahaan, mas Arjun bisa stress jika memikirkan masalah itu lagi’ batin bu Tya mengingat betapa frustasinya sang suami ketika pertama kali masuk ke dalam jeruji besi.


“Arya baik kok yah, kan ayah tahu sendiri dia yang membiayai operasi ibu dulu, dia juga yang mengasihku pekerjaan, aku sudah cerita semuanya tentang keluarga kita, dan dia sama seperti mas Harun, terbuka terhadap kita tanpa memperhatikan seperti apa hancurnya kita dulu” ucap Rita dengan nada pelannya, sebenarnya dia juga memiliki ketakutan yang sama seperti ayahnya, namun di sisi lain ia juga tidak bisa menolak permintaan Arya.


“Rita, ibu tidak setuju, ibu tak ingin kamu dan Harun dapat masalah karena ini semua” ucap bu Tya mencoba menolak permintaan Rita.


“ibu tenang saja, Arya sudah tahu semuanya kok, dan seperti kataku tadi, dia nggak masalah dengan keluarga kita yang seperti ini” jawab Rita dengan nada santainya.


“masss” ucap bu Tya melihat ke arah suaminya. Sekretaris Arjun menelan salivanya, ia mengerti ketakutan istrinya, tanpa ia sadari hal terbesar yang istrinya takutkan adalah wajah dan mata Arya yang mengingatkannya pada sosok Gibran dan Naina.


“tenang saja Tya, Rita dan Harun pasti sudah tahu setiap resikonya” ucap sekretaris Arjun, menahan rasa khawatirnya.


*


Bu Saniah menatap panjang wajah Irman yang sedang duduk di depannya di ruang tamu apartemennya, ia sengaja menyuruh putranya itu untuk menemuinya di apartemennya, Irman membalas tatapan ibunya dengan tatapan datar, “apa ibu bisa membantuku untuk membawa Mila pulang kesini?” tanya Irman dengan datar.


“jika ibu bisa membawanya pulang sekarang, apa yang ingin kamu lakukan padanya?,” tanya bu Saniah penuh selidik.


“ibu tenang saja, aku tidak akan macam-macam padanya” jawab Irman dengan santai.

__ADS_1


“kamu akan memberikannya pada anak CEO Adinata?, apa itu benar?” tanya bu Saniah penuh selidik.


“apa Mila sudah cerita pada ibu?, anak itu punya hasrat pada Mila, aku rasa itu tidak masalah, malahan nanti Mila yang bakalan ketagihan untuk itu,” ucap Irman tanpa beban, dan sebuah tamparan keras langsung bersarang di pipinya.


“apa kamu sudah gila dengan apa yang kamu katakan?” ucap bu Saniah penuh emosi.


“aku bersusah payah menjaga Mila agar tidak menjadi seperti itu, sekarang kamu malah seenak membuatnya jadi wanita murahan” lanjut bu Saniah tak bisa lagi membendung emosinya.


“aku memang sudah gila bu, aku melakukan ini untuk menyelamatkan perusahaan dan untuk membalas sakit hatiku pada suaminya itu, dia dan teman -temannya sudah menghancurkan perusahaan kita bu,”


“tutup mulutmu, karena sakit hatimu lalu kamu mengorbankan adikmu, apa kamu pikir ibu akan mendukungmu untuk itu?” ucap bu Saniah masih mengeram marah pada Irman.


“aku tidak mengorbankan siapa-siapa disini, Mila itu perempuan, dia sama seperti ibu, dia akan menikmati apa yang akan Arnes lakukan kepadanya, dan aku yakin dia bisa ketagihan untuk itu, dan menemukan banyak laki-laki lain yang bisa memuaskannya nafsunya, apa ibu pikir Mila tak berhak mendapatkan kenikmatan yang ibu rasakan dulu?” ucap Irman tanpa ada beban di hatinya. Ia sama seperti Mila yang sudah tahu seperti apa kelakuan orang tua mereka.


Dan kembali satu tamparan bersarang dipipi Irman, “aku memang hina Irman, tapi aku takkan biarkan putriku seperti itu, apa kamu pikir kamu saja yang kecewa dengan Arya disini, aku pun juga kecewa, tapi jangan berpikir untuk menghancurkan Mila, dia terlalu polos untuk ini semua”


“Mila itu cantik bu, pasti banyak laki-laki yang menginginkannya, tidak hanya Arnes, biarkan dia menikmati masa mudanya seperti ibu dulu,”


“tutup mulutmu, kamu,,,” ucap bu Saniah penuh emosi sembafi menunjukkan jarinya ke Irman.


Bu Saniah kemudian bangkit dari kursinya, “kunci pintunya sebelum pergi” ucap bu Saniah menahan rasa marahnya dan kemudian melangkah untuk keluar dari apartemennya itu.


“berikan aku saham kakek di Adinata group bu, saham itu bisa menyelamatkan perusahaan kita” teriak Irman sebelum bu Saniah keluar dari apartemennya itu. Irman kemudian berdiri menatap sinis pada ibunya.


“jangan pernah kamu sentuh Mila, jika berani saja kamu jerumuskan adikmu ke dunia laknat itu, aku yang akan membunuhmu” ancam bu Saniah pada Irman dan kemudian ia melangkah pergi.


Irman hanya tertawa sinis mendengar ucapan ibunya dan kembali duduk di kursinya. “aku memang sudah gila bu, aku seperti ini karena ibu dan ayah, dan aku memang sudah gila dengan Mila, jika bukan karena adikku, mungkin sudah kunikmati dia sejak dulu, aku memang sudah gila, mempercayai laki-laki itu untuk menjaganya, ternyata dia adalah dalang di balik hancurnya perusahaanku” gumam Irman penuh kesinisan.


.


.


.


.


sebenarnya aku cukup takut menggabungkan karakter islami dan karakter dengan kehidupan gelap seperti Irman dalam satu cerita seperti ini, takut banyak komen negatif jika aku memainkan karakter islami Mila di keluarga yang hancur dengan latar kehidupan yang kotor, tapi aku berharap dari karakter Mila lah pelajaran berharga bagi kehidupan kita itu muncul.

__ADS_1


.


__ADS_2