Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kapal Yang Berbeda


__ADS_3

Arya bergegas menuju 3A Sahabat, agenda hari itu adalah penanda tangan kontrak serta persiapan survey langsung ke Kalimantan. Saat Arya memasuki lobi perusahaan, ia bergegas menuju ruang rapat. Ia lihat jam di ponselnya sudah lewat dari setengah sebelas, padahal agenda rapat di mulai jam 10.


Arya memasuki ruangan dengan pelan, ia memberi hormat dan kemudian duduk di sebelah Rita. Ari dan Arbi melirik tajam ke arah Arya. Mereka sadar, sudah saatnya mereka mencari arsitektur baru untuk menggantikan posisi Arya.


“kamu kemana aja Arya, orang-orang itu dari tadi nanyain kamu” gumam Rita.


Arya menarik nafas kasar, ada rasa bersalah di dalam hatinya, selama ini ia selalu komit dengan jadwal kerjanya, tapi hari itu ia malah melalaikan agenda sepenting itu.


Setelah selesai rapat, Arbi menemani tamu mereka untuk makan siang di sebuah restoran mewah yang sudah mereka reservasi khusus.


Di saat semua rombongan menuju mobil yang telah disediakan disediakan oleh perusahaan, Ari menarik tangan Arya berjalan ke arah lift.


Mereka berdua seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di lobi, “gue mau bicara sama lo” gumam Ari.


Ari menarik tangan Arya menuju ruangannya di lantai 3. Di dalam ruangan Ari, Arya berdiri setengah duduk di meja kerja Ari, sementara Ari tengah menyiapkan beberapa dokumen untuk persiapan Arbi menemani orang-orang Bian corp ke Kalimantan.


“besok Arbi akan ke Kalimantan,” ucap Ari, “orang-orang itu ingin melihat kondisi lapangan, sekalian melihat keadaan disana, mungkin mereka bisa menemukan ide bisnis lain disana”


Arya menarik nafas kasar, “lo bukan mau bicara itu kan ke gue”


“lo pergi menemui Aliando tanpa memberi tahu gue dan yang lain, untuk Chris menghubungi gue, dan gue memberi tahu om Haris” ucap Ari dengan nada menekan, “lo mau mati ya”


“gue udah nyelesain masalah keluarga gue dengan dia tadi, sekarang tinggal masalah dia dan Adinata group” ucap Arya dengan tenang.


Arya kemudian melirik ke arah Ari dengan datar. “gue nggak mau lagi hidup dibayangi rasa takut Ri, gue nggak mau lagi tiap ada masalah, truss lari ke gunung untuk menenangkan diri”


“gue tahu Arya, tapi lo jangan buat gue ketakutan dengan keadaan lo, lo nggak tahu apa seperti apa khawatirnya gue dan Arbi tadi" ucap Ari penuh emosional, “kalau Tomy tahu, dia bisa lari ke ruangan itu seperti orang gila"


Arya melepas nafas kasar, “gue minta maaf, gue hanya ingin menyelesain masalah gue dengan dia, itu saja”


“jika gue terus diam dan tak bicara, masalah gue takkan pernah selesai sekalipun laki-laki itu mati di penjara” jelas Arya.


Ari melepas nafas panjang, ia tidak bisa menyalahkan Arya sepenuhnya. Karena ia terlibat juga untuk menyelesaikan masalah Arya, bukan untuk Adinata group. Sekalipun ia menang dan laki-laki itu dipenjara, jika Arya tetap merasa ada beban, sama saja ia gagal.


“lo udah siapkan arsitek pengganti lo” Ari mengalihkan pembicaraan mereka.


“gue sedang memikirkan itu, berat buat gue ninggalin apa yang kita bangun ini Ri” jawab Arya.


“tante Rena udah masukin kasusnya, lo bakalan ngambil alih Adinata group menjelang rapat pemegang saham 2 bulan lagi” ucap Ari.


Arya melipat tanganya di depan dada, ia harus selesaikan satu persatu semua pekerjaannya, agar tidak ada yang menjadi korban ketelodorannya.


“gue akan bicarakan dulu dengan Rita, ada beberapa arstiek dari tim gue yang potensial untuk dipromosikan” gumam Arya.

__ADS_1


“Tomy udah nemuin semua pemegang saham di Jakarta, Arbi juga, nanti saat ulang tahun Adinata group, mereka bakalan jalan lagi buat mastiin lo naik jadi CEO, Arbi udah juga ngatur jadwalnya menemuin pemegang saham di luar negeri”


Sejenak Ari menarik nafas panjang. “gue tahu cepat atau lambat, lo memang harus ninggalin kita disini, ini jalan hidup kita Arya, kita nggak bakalan mungkin terus menerus dalam satu kapal” ucap Ari dengan nada pelan.


Arya merasakan perasaan Ari, sebagai orang yang ditinggalkan, Ari dan Arbi tentu akan merasa kehilangannya.


“kita udah dewasa Ri, bukan anak kuliahan lagi kayak dulu, sudah seharusnya kita jalan dengan jalan kita sendiri” jawab Arya.


“ya,,, tapi setidaknya kita harus mendaki lagi sekali sebulan, lo jangan mikirin bini mulu” ucap Ari setengah bercanda.


“ya udah, yuk kita ke restoran, semua orang nyariin lo tadi, mereka masih ingin berdiskusi masalah desainnya dengan lo” ucap Ari.


****


Arya mencium lembut rambut Mila dari arah kiri gadis itu, tangannya ia kalungkan di perut istrinya yang mulai sedikit membesar.


“rambutmu harum Mil,” gumamnya.


“rambutmu juga Arya, shampoo kita kan sama”


Mila memejamkan matanya menikmati sentuhan hangat suaminya di tubuhnya, “Mil, apa menurutmu kita nggak ganti panggilan aja ya”


“ganti panggilan gimana? ” tanya Mila dengan nada bingung.


“iya masa nanti malaikat kecil kita mendengar ayah ibunya saling nyebut nama, kan nggak enak Mil”


"truss kita harus saling manggilnya kayak gimana?”


“apa aja Mil, asal jangan panggil nama lah” ucap Arya.


“abang adek gimana, kamu kan lebih tua dariku”


Arya melepas nafas kasar, Ia sudah lama tinggal di Jawa tengah, walaupun panggilan abang adek itu sudah darah baginya yang berasal dari keturunan melayu, namun panggilan itu terasa kelu di bibirnya.


“yang lain gimana Mil?”


“apa ya, kalau ayah ibu,” ucap Mila, “hmmmm, ayah bunda juga oke, atau papa mama ya” lanjutnya lagi.


Arya masih berpikir, mungkin ia harus punya ide lain, “kanda dinda juga bagus” Arya sejenak tertawa tipis, “pangeran dan princess itu cocoknya panggil kanda dinda”


Mila kemudian tersenyum, “bagus kok, kanda” ucapnya menerapkan ide Arya.


“jadi dinda suka” gumam Arya.

__ADS_1


Mereka berdua seketika tertawa, dengan tingkah mereka sendiri. “yang lain dong” gumam Mila.


“kenapa, itukan bagus dinda”


“iya sih, tapi masa kita manggil kayak gitu, emangnya sekarang masih zaman kerajaan apa, yang lain aja” ucap Mila.


“apa?, Umi Abi” ucap Arya.


Mila tersenyum, ia meraih tangan Arya di perutnya dan menciumnya. “umi cinta sama abi” gumamnya.


Arya melepas nafas panjang, mungkin itu adalah pilihan terbaik bagi mereka. Walaupun ia merasa wajah Mila terlalu muda untuk dipanggil umi. Namun panggilan tersebut jelas menyiratkan sikap keibuan.


“Abi juga cinta sama umi, maaf ya, abi baru bisa mengatakannya sekarang"


“kenapa baru sekarang bi?, umi udah menunggunya sejak lama, bahkan sejak abi kembali dari gunung sama Ari, umi udah menunggu kalimat itu” gumam Mila.


Mila menelan salivanya, panggilan itu terasa aneh baginya, namun ia harus belajar. Benar kata Arya, jika ia memanggil Arya dengan sebutan nama akan tidak baik nanti di dengar oleh anak mereka. Dan panggilan nama juga tidak menunjukkan rasa hormatnya sebagai seorang istri kepada suaminya.


"tadi Abi bicara dengan orang itu Mi” ucap Arya.


Mata Mila seketika membulat tak percaya, ia segera duduk dan melihat Arya, Mila menyentuh lengan Arya dengan mata penuh rasa khawatir.


“kamu nggak di apa apain kan sama dia?” tanya Mila.


“Abi, bukan kamu” ucap Arya dengan ketus.


Mila melepas nafas panjang, “iya bi, abi nggak diapa-apain kan sama dia?”


“nggak Umi, dia nggak bakalan bisa menganggu kita lagi, abi sekarang malah merasa lega setelah berbicara dengannya tadi” jawab Arya, “mungkin karena selama ini abi nggak ikhlas kehilangan ayah dan ibu, jadi abi takut akan kehilangan umi juga”


Mata Mila berkaca-kaca seketika.


“setelah tadi Abi berbicara dengan dia, Abi udah ikhlas Mi, Abi nggak ada lagi beban di masa lalu, mungkin ayah dan ibu di surga menginginkan hal itu dari abi, sehingga terus membebani abi selama ini” jelas Arya lagi.


“alasan abi bisa bertahan hidup setelah peristiwa itu adalah karena abi selalu ingin mengembalikan nama baik ayah, dan itu telah abi lakukan, “


“dan sekarang alasan abi hidup adalah umi dan malaikat kecil kita, Allah masih mengizinkan abi untuk hidup bersama umi, ini rahmat yang besar untuk abi”


Mila kembali mencium tangan Arya, air matanya menetes tanpa bisa Ia tahan. “umi nggak akan pernah ninggalin abi, sekalipun kita berpisah itu hanya karena maut bi, dan kita akan berkumpul lagi di surga bersama ayah dan ibu” ucap Mila dengan nada gemetar.


“hari itu ayah meninggal ditembak Mi, dan abi sembunyi di lemari disuruh sama ibu, dan ,,,” air mata Arya mengalir mengingat peristiwa itu lagi “ibu ditembak di depan mata abi, abi keluar meluk ibu, dan ibu meninggal dipelukkan abi mi, ibu meninggal dipelukkan abi, dan abi nggak bisa ngelakuin apa pun saat itu”


Arya melepas nafas panjang, ia sudah ikhlas, ia sudah bisa menceritakan peristiwa pilu itu, itu berarti ia sudah menerima takdir menyakitkan dalam hidupnya. Mila memeluk erat tubuh Arya, ia tak bisa membayangkan seperti apa anak usia 6 tahun menghadapi peristiwa seperti itu.

__ADS_1


“abi sekarang punya umi dan malaikat kecil kita, abi nggak perlu lagi memikirkan peristiwa buruk itu lagi, cukup pikirkan masa depan kita Bi” ucap Mila menguatkan suaminya.


Arya tersenyum, ia memeluk Mila dengan erat, seolah tidak ingin melepaskan.


__ADS_2