
Arya meneguk segelas air di meja makan, ia melepas nafas lelah atas apa yang terjadi hari itu, hari yang sungguh sangat melelahkan baginya.
Sejenak pikirannya teringat pada sosok Anjani setelah tadi Rita menyebut nama Hardi corp. sahabat masa kecilnya yang telah lama tidak ia lihat lagi seperti apa rupanya.
‘Anjani, apa kamu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik? apa kamu sekarang telah menjadi musuhku,?’ batinnya menatap sendu gelas air yang ia minum.
Pikirannya masih takut mengingat kejadian 22 tahun lalu itu, trauma pada kejadian itu masih membekas di hatinya, Ia melihat sendiri seperti apa ibunya ditembak di depan matanya, ia bahkan masih bisa merasakan pelukkannya pada ibunya disaat ibunya meregang nyawa malam itu, mata Arya berkaca-kaca menahan sakit dihatinya.
Arya kemudian teringat pada ucapan pamannya yang merupakan ayah angkatnya “nak, tidak ada balas dendam dalam kamus keluargaku, jika kamu ingin mengambil kembali milik ayahmu dari orang itu, maka ambillah dengan niat mengambil hakmu dari dia, bukan untuk membalas dendam yang tersimpan dihatimu” ucap Ayah Tomy kepadanya sebelum ia dan Tomy berangkat ke Jakarta.
Arya melepas nafas panjang ‘apa aku harus segera memulainya sekarang, Tomy juga sudah menjadi korban mereka, om Arjun juga dipenjara karena mereka, apa mungkin masih banyak lagi orang-orang seperti Rita dan aku yang harus hancur karena mereka?’ batin Arya menahan sesak sakit hatinya.
Arya kemudian bangkit dan kembali ke kamar Mila, saat memasuki kamar, Ia mendapati Mila sudah tertidur dengan posisi membelakangi dirinya, Arya kemudian berbaring di sisi ranjang yang kosong, ia memposisikan dirinya dengan menghadap ke atas sebelum tidur, untuk sejenak Arya melihat punggung Mila dan kemudian dia memejamkan matanya.
Setelah 15 menit Arya tidur di ranjang itu, Mila kemudian membuka matanya, ia hanya berpura-pura tidur tadinya, ia belum dapat tidur sama sekali karena mencemaskan Arya tidak akan kembali ke kamar itu. Mila kemudian memutar badannya untuk berbaring ke arah Arya, Ia melihat wajah tenang Arya yang tidur telentang disisinya. Mila tersenyum lega, karena akhirnya Arya mau tidur disisinya, Ia kemudian mendekat dan memeluk tubuh Arya,
“terima kasih sudah kembali kepadaku, jangan pergi lagi ya, aku tidak ingin menderita lagi karena kehilanganmu” ucap Mila pelan, ia kemudian memejamkan matanya untuk segera tidur.
Mila kemudian merasakan tubuh Arya bergerak dan tangan Arya sekarang sudah ada di atas tubuhnya dan membalas pelukkannya, Mila kemudian membuka matanya dan mendapati Arya tengah tersenyum dan berbaring menghadapnya kepadanya.
“kamu tertangkap basah sedang berbuat mesum kepadaku, benarkan dugaanku, malam ini aku akan menjadi korban nafsumu lagi” ucap Arya dengan tersenyum pada Mila.
Wajah Mila memerah menahan malu, ia mencoba mendorong tubuh Arya untuk menjauh dari tubuhnya, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan tenaga Arya.
“Arya, lepaskan” ucap Mila,
“kenapa?, bukankah kamu ingin melakukan ini,” goda Arya pada Mila. Mila masih berusaha melepaskan pelukkan Arya di tubuhnya, ‘ahh, kenapa aku memeluknya tadi’ kesal Mila pada dirinya sendiri.
__ADS_1
“sekarang apa, apa kamu ingin menciumku seperti waktu itu” goda Arya lagi.
“Arya,, jangan macam-macam” jawab Mila yang masih berusaha melepaskan pelukkan Mila. Namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan tenaga Arya.
“bukankah kamu yang ingin macam-macam” Arya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Mila yang membuat Mila pias seketika, Mila kemudian memejamkan matanya dan pasrah dengan apa yang akan terjadi,
'malam ini aku akan menjadi milik Arya seutuhnya' batin Mila menguatkan dirinya.
Arya kemudian mencium ubun-ubun Mila yang masih tertutup jilbab, karena Mila selalu tidur menggunakan jilbabnya jika ada Arya di rumah itu, ia masih terlalu malu untuk membuka auratnya itu pada Arya sekalipun Arya telah menjadi suaminya.
Arya mencium ubun-ubun Mila dengan tulus, ‘ya Tuhan, jika dia orang yang kau pilih untukku, maka tumbuhkan rasa cintanya kepadaku, rasa cinta yang jauh lebih besar daripada rasa cintanya pada laki-laki itu, dan izinkan aku untuk dapat mencintainya lagi’ batin Arya berdoa di dalam ciumannya pada ubun-ubun Mila.
Mila yang masih memejamkan matanya dapat merasakan ciuman tulus Arya di ubun-ubunya, ia menitikkan air mata karena merasakan ciuman lembut itu terasa tulus dan merasuk sampai ke hatinya, ‘ya Tuhan, terima kasih Engkau telah hadirkan orang sebaik Arya di kehidupanku ini, jangan pisahkan kami lagi, izinkan kami untuk membina istana syurga kami di dunia, dan satukan kami hingga kami mencapai jannahmu’ doa Mila dihatinya.
Arya kemudian melepaskan ciumannya, ia meraih tengkuk Mila dan membawa kepala Mila ke dadanya, dan ia memeluk erat Mila disana, “tidurlah seperti ini Mil, suamimu ingin tidur memelukmu malam ini” ucap Arya lirih, dan Mila kemudian membalas pelukkan Arya dan membenamkan kepalanya di dada Arya yang terasa nyaman untuk kepalanya.
Arya melangkah santai memasuki restoran tempat pertemuannya dengan perwakilan Hardi corp, ia pergi bersama Rita yang berjalan di belakangya sembari membawa beberapa dokumen yang akan mereka bahas nanti.
“dimana tempat pertemuannya Ta?” tanya Arya yang memelankan langkahnya agar bisa sejajar dengan Rita.
“mereka memesan meja di ruangan VIP, sepertinya ada di lantai atas” jawab Rita yang melirik kertas bertulis VIP dengan panah ke lantai 2 di dekat tangga restoran itu.
Arya menghirup nafas panjang, ia menguatkan dirinya jika benar ia harus bertemu dengan Hardi hari itu, “Apa kamu gugup Arya?” tanya Rita sembari menatap wajah Arya yang tampak kaku.
“aku tidak terbiasa bertemu klien seperti ini, kamu kan tahu sendiri, hal-hal seperti ini adalah bagian Ari dan Arbi” jawab Arya yang mengelak dari kenyataan di hatinya.
“Tapi mereka ingin bertemu dengan arsiteknya langsung”
__ADS_1
“apa mereka ada masalah dengan desain yang aku bikin?”
“sepertinya tidak, mereka terlihat cukup tertarik, bahkan mereka mau menunggu kamu sampai 3 minggu seperti ini” jawab Rita lugas pada Arya, Arya sejenak mengernyitkan dahinya.
‘menunggu sampai 3 minggu hanya untuk bertemu denganku?, ya Tuhan, apa aku salah jika om Hardi memiliki maksud lain kepadaku, dia bisa saja mencari kontraktor lain, menunggu selama itu bisa saja membuat mereka rugi karena planning mereka pasti berubah’ batin Arya yang mulai merasa pias dengan keadaan.
Arya kemudian menyuruh Rita berjalan di depannya, karena Rita yang memegang nomor meja tempat pertemuan mereka.
Arya dan Rita telah berada di depan sebuah ruangan yang tertutup, sebuah ruang makan yang khusus di desain secara private oleh restoran itu, ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan bisnis, keluarga dan kegiatan tertutup lainnya. Rita kemudian melirik ponselnya dan menyamakan nomor ruangan itu dengan alamat yang ia dapatkan.
“kenapa tidak kamu saja yang booking restorannya, kan kita tidak perlu pusing seperti ini” ucap Arya pada Rita,
“mereka mana mau makan di restoran tempat kita biasa Arya, kelas mereka jauh berada di atas kita” jawab Rita singkat, Arya hanya menghembus nafas kasar mendengar itu semua, ‘om Hardi benar-benar sukses membangun bisnisnya, dia sekarang sudah hampir menyamai perusahaan ayah’ batin Arya
“Sepertinya disini” gumam Rita pelan ketika melihat nomor sebuah ruangan. Seorang pelayanan langsung menghampiri mereka untuk bertanya karena melihat Rita sedang kebingungan.
“maaf nona, tuan, kalian mencari siapa?” tanya pelayan itu yang melihat Rita.
“kami punya jadwal pertemuan dengan seseorang di ruangan ini” ucap Rita sembari memperlihat layar ponselnya pada pelayan tersebut. Pelayan itu tersenyum, ia membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Arya dan Rita untuk masuk.
“silahkan tuan, Nyonya, mereka sudah menunggu kalian di dalam”
“terima kasih mbak” ucap Arya dengan sopan pada pelayan itu, seperti itulah karakter Arya yang membuat Rita terkadang selalu kagum padanya, sikap Arya tidak pernah memandang rendah siapa pun, Arya selalu bersikap sopan sekalipun itu pada pelayan restoran, OB dan OG di kantor mereka, atau bahkan pedagang kaki lima di jalanan.
'kamu benar-benar baik Arya, mungkin masih banyak hal baik dari dirimu yang masih belum aku tahu ‘ batin Rita melihat sikap Arya.
Rita dan Arya kemudian masuk dan seketika tatapan Arya bertemu dengan tatapan Anjani yang membuat kedua insan itu langsung menjadi canggung, ‘astaga, Anjani’ batin Arya.
__ADS_1