Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Kamu Milikku


__ADS_3

Arya menatap datar ke arah pintu apartemennya yang sudah tertutup. Arya kembali mengingat ucapan Tomy yang mengatakan Mila adalah titik lemahnya yang bisa dimanfaatkan musuh. Dan sekarang ia merasakan hal itu.


Perkataan Arnes kemarin membebani pikirannya. Perasaan sayang itu begitu membuatnya takut jika istrinya menjadi korban dari pertarungannya yang sedang berlangsung.


‘aku sudah mendiskusikan ini dengan tante Rena dan om Haris kemarin, semua kan baik-baik saja’ batin Arya menguatkan dirinya.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Chris dan Ortin. “Dimana Andi dan Diaz?”


“Disana tuan?” jawab Chris sembari menunduk, ia menunjuk ke arah sudut di dekat pintu lift.


Arya kemudian melangkah cepat mengikuti telunjuk Chris, ia melihat seorang memakai baju hitam tengah berdiri sembari menikmati sebatang rokok.


Arya mendekat, dan Andi yang sedak duduk sembari melihat ponselnya seketika berdiri menyadari kedatangan Arya.


Diaz pun yang sadar dengan kehadiran tuannya segera membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sepatu yang ia pakai, ia ikut memberi hormat kepada Arya.


“kenapa kalian disini?” tanya Arya.


“kami menunggu tuan turun, baru kami mengambil posisi menjaga apartemen tuan” jawab Diaz dengan asap rokok yang masih keluar sedikit dari mulutnya.


Kehadiran Arya sangat mendadak sehingga ia kesulitan mengalirkan asap rokok itu keluar dari tubuhnya dengan sempurna, bahkan hidungya masih mengeluarkan asap.


Arya mengeluarkan sebuah alat berwarna hitam dengan tombol merah di tengahnya, ia memasangkan alat itu di saku kiri pakaian Andi, tepat dibawah pin 3A Sahabat.


“apa ini tuan?” tanya Andi dengan menunduk.


Arya menarik nafas kasar, pembicaraan ia dan Arnes kemarin semakin membuatnya khawatir, apalagi Arnes sudah tahu apartemennya, ia harus menjaga istrinya lebih serius lagi.


Jika ia lalai, ia tidak hanya kehilangan istrinya, tapi juga anaknya. Jika itu terjadi, hanya penyesalan yang akan ia rasakan seumur hidupnya. Karena tidak mampu menjaga 2 amanah besar yang Tuhan titipkan kepadanya.


“Pamam Haris mengirim beberapa orang pengawal Adinata untuk stand by di sekitar apartemen ini” ucap Arya, “jika terjadi kondisi darurat, kamu bisa tekan tombol merah ini, ini terhubung langsung dengan alat komunikasi mereka” jelas Arya.


“apa tuan tidak percaya kalau kami mampu untuk menjaga nona Mila?” tanya Diaz dengan kepala masih menunduk.


Arya sejenak berpikir untuk menjelaskan maksudnya, agar 2 orang itu tidak merasa dinilai lemah atas keputusannya itu.


“bukan begitu” jawab Arya, “mereka semakin terpojok oleh keadaan, gerak gerik mereka juga tak sebebas yang mereka inginkan, dan laki-laki itu sudah tahu apartemen ini, bisa saja ia nanti berbuat nekat kepada istriku untuk menyerang posisiku”


Arya memejamkan matanya, ia kemarin juga terbawa emosi sehingga mengatakan sesuatu yang bisa membangkit rasa cemburu Arnes kepadanya. Rasa cemburu yang bisa berakibat pada tindakan Arnes yang mungkin bisa ia sesali.


“aku tahu orang-orang Ari tidak begitu banyak, mereka juga menjaga perusahaan dan projek-projek kita agar tidak menjadi pelampiasan Aliando, aku harap kalian mengerti dengan keadaan ini” lanjut Arya.


Andi dan Diaz masih menunduk, tak ada diantara mereka yang menjawab. Arya mengusap dahinya, ia bingung bagaimana cara menjelaskannya dengan baik.


“dia sudah tahu kalian berdua menjaga istriku, jika dia mencari istriku, pasti dia sudah siapkan orang-orang untuk melawan kalian, jadi paman Haris mengirimkan kalian tambahan kekuatan jika dibutuhkan,

__ADS_1


"aku benar-benar khawatir, laki-laki itu sudah tahu aku tinggal disini, sekarang hanya menunggu waktu kapan dia akan datang


"ini juga atas saran dari paman Haris, kemarin kami mendiskusikan ini juga, ia juga merasa bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan istriku” lanjut Arya.


“baik tuan, kami akan bekerja dengan baik agar tidak mengecewakan tuan” gumam Andi.


Arya tersenyum, ia memukul pelan pundak Andi dan Diaz secara bergantian, “aku berhutang banyak kepada kalian”


Arya kemudian segera turun ke basemant diikuti Chris dan Ortin. Rita dan beberapa pengawal yang lain sudah menunggunya disana.


Arya dan Rita masuk ke dalam mobil dengan berpamitan terlebih dahulu kepada Harun yang mengantar Rita. 3 Mobil hitam kemudian meninggalkan basemant apartemen tersebut dengan kecepatan sedang menuju Adinata group.


Harun juga segera masuk ke mobilnya untuk menuju ke kantor. Ia sudah menyiapkan mental untuk tetap bisa menjadi kepala keluarga yang baik bagi Rita dan anaknya, apalagi Rita sebentar lagi akan menjadi orang berpengaruh di Adinata group, semua pebisnis besar akan segera mengenal siapa istrinya, tentu perlu kesiapan darinya sebagai seorang suami dengan posisi yang masih menjadi staff biasa.


Pemandangan pagi itu di basemant tak terlepas dari pengawasan seorang laki-laki. Laki-laki itu duduk di dalam sebuah mobil keluaran Negara matahari terbit yang berwarna silver.


“dia sudah pergi tuan” gumam laki-laki tersebut dengan memegang ponsel di telinganya.


Arnes yang tengah duduk di sebuah tempat makan kecil di seberang apartemen Arya tersenyum sinis mendengar kabar itu.


“wah,wah, akhirnya dia pergi juga, pagi ini aku bisa bertemu lagi dengan bidadariku. Mil, aku punya kejutan untukmu” gumamnya, Ia kemudian berdiri diikuti oleh lima laki-laki bertubuh tegap yang duduk tak jauh dari kursinya.


Arnes segera masuk menuju lantai 15, disana orang suruhannya yang memantau Arya di basemant sedang berbicara serius dengan Andi dan Diaz.


Ia kemudian mengetuk pintu apartemen Mila terus menerus tanpa henti, ia juga memencet bel disana berkali-kali.


Sementara Andi dan Diaz dikeroyok 6 orang sekaligus. 2 pengawal Mila itu sempat memberi perlawanan. Namun karena kalah jumlah dan pertarungan berlangsung 1 lawan 3, mereka akhirnya roboh tersungkur ke lantai.


Beberapa penghuni apartemen di lantai tersebut hanya bisa melihat dan tidak tahu harus berbuat apa.


Setelah berkali-kali memencet bel dan mengetuk pintu, pintu apartemen Mila terbuka. Arnes tersenyum melihat sosok kekasihnya yang telah lama ia rindukan itu.


Mata gadis bercadar itu membulat melihat sosok yang tengah berdiri di depan pintu. Jantungnya berdetak cepat melihat siapa yang datang. Arnes tengah berdiri disana dengan tersenyum melihatnya.


“bang Arnes” gumam Mila tak percaya dengan apa yang lihat.


“apa kabar Mil?” ucap Arnes dengan tersenyum manis kepada Mila.


Mila melihat Andi dan Diaz telah terkapar di lantai, tak terasa air matanya mengalir melihat orang yang berkorban untuk melindunginya kini terkapar lemah tak berdaya.


Andi kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup, ia terlihat lemah tak berdaya, air mata Mila menetes melihatnya.


Andi berusaha menekan tombol merah dari alat yang dipasangkan Arya tanpa diketahui orang-orang suruhan Arnes yang tengah fokus pada sosok Mila.


“kenapa menangis Mil?, apa kamu sangat merindukanku hingga menangis seperti ini melihatku” ucap Arnes dengan tersenyum.

__ADS_1


Ia kemudian masuk ke dalam, namun Vanessa dengan cepat menghalangi laki-laki itu mendekati Mila.


“apa mau mu?” ucap Vanessa dengan penuh rasa marah kepada Arnes.


Arnes hanya tertawa tipis pada Vanessa, “aku hanya ingin melepas rindu dengan kekasihku, bukannya kamu sudah tahu seperti apa hubungan kami” gumamnya.


“kenapa Mil?, kenapa kamu tidak membuka cadarmu setelah melihatku” lanjutnya melihat ke arah Mila.


“keluar bang” ucap Mila dengan dingin.


Mata Arnes membulat, tak percaya dengan apa yang ia dengar. “apa Mil?, keluar?” ucapnya


“iya, keluar sekarang” ucap Mila dengan tegas, “jangan ganggu rumah tanggaku lagi” lanjutnya.


Gadis itu tak ingin pengalaman buruknya karena Arnes kembali terulang. Ia tak ingin lagi Arya meragukan dirinya.


Arnes menarik nafas kasar mendengarnya, gadis itu seakan sedang menentang dirinya.


"jadi kamu memilih laki-laki itu,?”


“aku sudah menikah dengannya bang, sejak aku menerima perjodohan kami, aku sudah memilihnya” jawab Mila masih dengan tegas.


Arnes menatap penuh marah kepada Mila, “jadi dia sudah menyentuhmu,” ucapnya dengan penuh rasa marah, “kamu mengkhianatiku Mil”


“lalu abang gimana?, abang bahkan sudah bertunangan dengan orang lain” jawab Mila, “sekarang abang keluar dari apartemenku” lanjut Mila.


Rahang Arnes mengeram marah, “jika dia sudah menyentuhmu, aku seharusnya juga begitu” ucapnya, ia kemudian mendekat ke arah Mila.


“jangan mendekat kau” teriak Vanessa, ia mendorong tubuh Mila agar sedikit mundur ke belakang.


“awas kau” Arnes mendorong tubuh Vanessa dengan keras hingga gadis itu tersungkur ke lantai ruang tamu.


Mulut Mila membulat kaget melihat Arnes berlaku kasar kepada Vanessa.


“apa yang abang lakukan?” ucap Mila yang segera membantu Vanessa berdiri.


Arnes tersenyum sinis, “laki-laki itu akan segera mati, ayahku sudah punya rencana untuk membunuhnya, dan kamu akan segera menjadi milikku Mil, mewujudkan mimpi-mimpi kita dulu”


“semuanya sudah berakhir bang, aku tidak mau lagi dengan laki-laki sepertimu, dan ingat satu hal, jangan pernah sentuh suamiku, atau aku,,,” ucap Mila dengan nada sedikit meninggi.


“atau apa? ha?,, kalau kamu tidak mau denganku, aku akan paksa kamu untuk menjadi milikku, aku akan membawamu dari sini”


Arnes berusaha meraih tangan Mila, namun Mila segera menghindar, “jangan sentuh aku bang” ucapnya.


Arnes semakin marah melihat Mila, mata gadis itu yang tampak sayu menahan takut, yang seketika membangkitkan hasratnya, “kamu hanya Milikku Mil" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2