Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Bantuan Kalian


__ADS_3

Arya dan Mila berjalan menuju ruangan Arya dengan saling menggenggam tangan dengan erat, Rita yang melihat kedatangan dua orang itu hanya memasang wajah datar, ia mencoba menahan rasa gejolak di hatinya, masih sulit rasanya ia menerima kenyataan itu, seakan Arya dan Mila sama -sama orang yang menghancurkan keluarganya, walapun ia sadar bahwa itu juga bukan kesalahan mereka berdua.


Arya segera masuk ke dalam ruangannya tanpa memperhatikan Rita, ia hanya tidak ingin membuat Rita merasa tak nyaman dengan kehadiran Mila, Mila pun hanya diam mengikuti langkah suaminya untuk masuk ke dalam ruangan.


Saat mereka masuk, pemandangan di dalam seketika membuat mereka melepas nafas kasar.


Arbi dan Ari sedang duduk di dalam seperti sedang mendiskusikan sesuatu, saat pintu ruangan itu terbuka, mereka langsung menghentikan perbincangan mereka dan melihat ke arah Arya dan Mila yang baru datang, Arya kemudian masuk dengan mengucapkan salam dengan nada ketus.


“kalau sudah punya istri, datangnya ya telat gini” ucap Ari melihat ke arah Arbi, ucapannya itu seketika saja membuat Arya mendengus kesal karena merasa tersindir oleh Ari.


“kalian aja yang pagi -pagi udah kesini, ini jam berapa coba, udah duduk aja disini” ucap Arya dengan kesal, ia kemudian duduk di depan Ari dan Arbi, Mila kemudian mengikut dan duduk di samping Arya sembari menunduk, ia masih merasakan rasa takut saat melihat kehadiran 2 laki -laki itu disana.


Arbi dengan sikap datarnya memberikan sebuah dokumen kepada Arya yang baru duduk, “ini ada projek di Vietnam, pembangunan terminal bandara disana,” ucap Arbi dengan datar.


Arya mengambil dokumen itu dan melihat sejenak apa isinya. “gue siang ini akan ke Vietnam untuk membahas kontraknya, dan lo siapkan desainnya untuk dikirim ke mereka minggu depan,” lanjut Arbi.


“minggu depan?, enak kali lo ngomong, kayak mudah aja mendesain terminal bandara” keluh Arya.


“lo siapkan aja secepatnya, gue akan berangkat ke London, jika kita menang dan semuanya lancar, mungkin lo bakalan sering ke Kalimantan, projek besar seperti ini harus lo sendiri yang awasi pembangunannya, Ari nanti hanya akan sesekali saja ke sana, jadi lo siap-siap saja meninggalkan istri lo lebih sering ke depan” lanjut Arbi menatap sinis pada Mila yang menunduk, sementara Mila meremas kedua tangannya mendengar itu semua, karena kalimat Arbi seolah menjadi ancaman bagi dirinya.


“lo tenang aja, sekarang gue mau bicarakan sesuatu sama kalian, gue benar-benar butuh bantuan kalian untuk ini” ucap Arya mengalihkan pembicaraan mereka.


Ari dan Arbi menatap panjang pada mata Arya, sementara Arya menarik tangan Mila untuk ia genggam agar dapat memberinya kekuatan. “Kalian udah tahu masalah Adinata group?” tanya Arya dengan hati-hati.


“Adinata group?, berarti lo bisa jelasin kenapa orang Adinata group mengambil sampel darah lo?” tanya Arbi dengan datar, Ucapan Arbi seketika membuat Arya dan Mila tersentak kaget, Arya kesulitan menelan salivanya, tubuhnya terasa gemetar seiring rasa takut yang merasuki hatinya.


'sampel darahku diambil orang Adinata group?’ batin Arya yang seketika membuat dadanya sesak karena rasa takut.

__ADS_1


“sampel darah gue?, maksud lo apa?” tanya Arya yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Ari menarik nafas panjang karena menurutnya Arbi terlalu cepat memulai percakapan dengan menyinggung masalah darah itu, “orang suruhan gue yang ngawasin istri lo melihat orang suruhan dari Adinata group mengambil sampel darah lo di loby rumah sakit saat lo mau menjenguk Tomy” jelas Ari.


Arya seketika mengingat kejadian yang pernah ia alami di loby rumah sakit itu, saat seorang laki -laki menubruk dirinya dan sempat menyentuh perut kirinya, dan juga titik noda merah yang ia lihat di baju kaos yang ia pakai hari itu.


“ya Tuhan, apa ada orang disana yang tahu tentang gue?” ucap Arya mengenggam erat tangan Mila dan Mila dapat merasakan sendiri betapa eratnya genggaman tangan Arya saat itu.


“jadi apa masalah lo dengan mereka Arya?” tanya Ari penuh selidik.


Arya menarik nafas dalam menenangkan rasa takutnya, ia tidak boleh bersikap berlebihan karena rasa takut itu, sementara Mila melihat tangannya yang masih digenggam erat oleh Arya. Dari genggaman itu ia tahu betapa takutnya Arya saat itu. ‘ya Tuhan kuatkan suamiku menghadapi ini semua’


“kalian tahu keluarga Gibran adinata?” tanya Arya dengan datar.


“Pendiri Adinata group yang membunuh anak dan istrinya, itu cerita lama yang sempat heboh saat itu, mayat suami istri itu ditemukan dengan luka tembak, dan mayat anak mereka dibuang oleh si suami dan tidak pernah ditemukan sampai sekarang, dulu waktu aku kecil ayah dan ibuku sering membahas kasus itu di meja makan” jelas Arbi.


“jika gue bilang iya, apa kalian akan percaya?” tanya Arya dengan menguatkan dirinya dari rasa takut.


“lo serius, apa itu yang lo dan Tomy rahasiakan dari kita tentang masa lalu lo dan juga orang tua kandung lo” ucap Arbi yang seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Arya sejenak memejamkan matanya, mempertimbangkan sesuatu yang akan ia sampaikan. “gue sama sekali tidak ingin merahasiakan ini dari kalian, gue hanya melindungi diri gue, CEO Adinata sekarang membutuhkan surat kematian gue untuk merebut semua milik ayah gue sepenuhnya” ucap Arya dengan nada pelan pada kedua sahabatnya.


“waww, lo benar-benar penuh rahasia Arya, kita udah lama bersahabat, dan gue nggak tahu sama seklai tentang masalah ini,” ucap Arbi melepas rasa kagetnya. Sementara Ari hanya memasang wajah datar mendengar itu semua. ekspresinya jauh lebih tenang ketimbang otaknya yang terus bekerja memahami setiap ucapan Arya.


“apa yang bisa buat gue dan Ari percaya yang lo katakan?, semua orang bisa saja mengaku seperti itu sekarang, karena memang jasad anak itu tidak pernah ditemukan, yang ada sekarang hanya teori-teori konspirasi seputar kematian keluarga Adinata yang banyak beredar di media on-line” ucap Arbi masih penuh selidik pada Arya.


“gue nggak butuh kalian percaya atau nggak sama gue, gue butuh bantuan kalian untuk melindungi gue, gue hanya ingin mengembalikan nama baik ayah gue, hanya itu” ucap Arya kepada 2 sahabatnya itu.

__ADS_1


“lo anggap kita sahabat nggak sih? masalah sebesar ini lo rahasiain dari kita, lo nikah juga lo rahasiain dari kita, dan sekarang lo bilang lo nggak butuh kepercayaan dari kita, lo hanya mau manfaatin kita untuk tujuan lo aja” ucap Arbi dengan menahan rasa kesalnya pada Arya.


“maaf, aku yang minta Arya untuk merahasiakan pernikahan kami, dan Arya merahasiakan tentang ayah dan ibunya itu karena rasa takut dan traumanya, suamiku bukan ingin memanfaatkan kalian, dia hanya butuh bantuan kalian karena dia percaya sama kalian” ucap Mila yang buka suara karena tidak ingin suaminya disalahkan oleh Arbi.


Ari dan Arbi seketika melihat ke arah mata Mila, mereka menahan rasa kesal yang mereka rasakan pada Mila, Ingin sekali mereka memaki Mila disana, namun mereka harus bisa menerima keadaan bahwa Arya telah memilih istrinya itu.


Melihat mata Ari dan Arbi, membuat Mila kembali ingin buka suara, namun niatnya terhenti saat Arya semakin mengenggam erat tangannya. Arbi menarik nafas panjang melihat ke arah Mila, ia tidak ingin melibatkan gadis itu di dalam pembahasan tersebut.


Arbi kemudian melipat tangannya di dada dan menatap tajam pada Arya, “lalu gimana ceritanya lo bisa menjadi saudara angkat Tomy?” tanyanya dengan penuh selidik.


Arya menarik nafas panjang mendengarkan pertanyaan Arbi, rasanya masih sangat sakit untuk mengingat kembali peristiwa itu.


“yang jelas malam itu gue berhasil kabur dari rumah saat mereka membunuh ayah dan ibu gue, malam itu gue lari sejauh yang gue bisa, dan sembunyi di mobil pick up ayahnya Tomy, waktu itu gue pikir mobil itu akan disana sampai pagi, karena memang sudah sangat larut saat itu, tapi ternyata mobil itu yang membawa gue ke rumah Tomy, keluarga Tomy tahu semuanya, dan untuk menjaga gue dari incaran CEO Adinata itu dan semua identitas gue di buang” jelas Arya dengan singkat.


“emang apa yang terjadi sama ayah dan ibu lo malam itu?” tanya Abi lagi yang masih penuh selidik.


“sorry Bi, terlalu sakit untuk mengingatnya” ucap Arya dengan singkat, dadanya kembali terasa sesak dan genggaman tangan Mila di tangannya semakin ia pererat. Mila kemudian mengusap tangan Arya yang menggenggam tangannya. Ari dan Arbi yang melihat itu sudah dapat memahami bahwa sahabat mereka itu menyimpan luka yang mendalam saat itu.


“its ok, gue hanya ingin tahu, konspirasi mana yang betul dari kejadian itu” ucap Arbi dengan santai, ia tidak ingin hal itu membebani Arya.


Ari melepas nafas panjang, ia mencoba memikirkan sesuatu dengan keras, “kasus pembunuhan itu sudah lama Arya, jika lo memang anak itu, tidak ada gunanya lo muncul sekarang, “


“kalau tidak ada gunanya, mereka nggak akan mengambil darah gue Ri, jika hasil tes mereka positif dengan darah ayah gue, mereka akan mengincar gue Ri, mereka akan habisin gue seperti mereka ngehabisin ayah dan ibu gue” ucap Arya penuh penekanan pada Ari.


Arbi menatap panjang pada mata Arya, ia dapat melihat ketakutan di sorot mata Arya itu, “ini bukan masalah kecil Arya, Adinata group itu perusahaan besar, kita nggak bisa main-main menghadapi mereka” jelas Arbi pada Arya.


“gue udah ketemu ayah Rita kemarin, dia sekretaris ayah gue dulu, dan sekarang gue butuh bantuan kalian untuk bertemu dengan orang-orang yang dia sebut itu, ayah Rita bilang orang-orang itu akan membantu gue nanti” jelas Arya lagi.

__ADS_1


‘ayah kak Rita?’ batin Mila kemudian teringat pada ayah Rita yang masih di penjara.


__ADS_2