
7 hari sudah Arya, Tomy, Abel, Vanessa, dan Mila di kampung halaman Tomy. Pagi itu Mila sedang merapikan kopernya di kamarnya, ia dengan cepat merapikan barangnya yang memang tidak terlalu banyak sebanyak barang Vanessa dan Abel, karena Arya benar-benar menyeleksi setiap barang yang masuk ke kopernya itu.
Setelah selesai dengan kopernya, Mila kemudian segera melangkah ke kamar belakang, memastikan suaminya bisa merapikan bajunya sendiri, sebuah pemikiran yang entah kenapa bisa timbul dipikirannya, padahal ia tahu sendiri, Arya lah yang banyak memilih barang yang ia bawa, dan semua barang yang ia bawa dapat terpakai dengan maksimal selama disana, ia kemudian perlahan melangkah membuka tirai kamar yang pintunya tidak tertutup itu.
Disana ia dapat melihat Arya tengah merapikan beberapa pakaian ke dalam carriernya. “kamu sendirian aja Arya, Tomy mana?” tanya Mila dengan nada pelannya. Ia menatap lekat wajah suaminya yang sedang fokus.
“eeh kamu Mil, ngagetin aja, Tomy lagi di teras sama paman dan bibi” jawab Arya dengan datar.
Mila kemudian tersenyum dibalik cadarnya dan masuk ke dalam kamar, ia kemudian duduk di lantai di dekat Arya yang sedang merapikan sejumlah barang.
“mau ku bantu?” tanya Mila dengan singkat.
“aku bisa sendiri kok” jawab Arya juga dengan singkat.
Mila kemudian menelan salivanya mendengar penolakan Arya karena kecewa, ingin sekali rasanya ia merapikan barang Arya seperti istri kebanyakan, namun kenyataannya, suaminya itu terlalu mandiri daripada dirinya sendiri.
Mila melihat datar ke arah Arya yang sedang memasukkan barang ke dalam carriernya. Mata Mila kemudian tertuju pada 2 foto yang terselip di salah satu kantong carrier Arya yang resletingnya terbuka. Mila tersenyum dan kemudian menarik 2 foto itu, dengan tarikan itu juga, kotak kecil berwarna kuning ikut tertarik keluar dan jatuh ke lantai.
Mata Mila melihat ke arah kotak kuning itu, ia dengan cepat mengambil kotak itu dan Arya melihatnya menarik nafas panjang. “ini kotak apa Arya?” tanya Mila dengan pelan, ia kemudian membuka kotak itu dan terlihat cincin emas tanpa ukiran di dalamnya.
"cincin?, ini cincin siapa?” tanya Mila melihat dengan mata penasarannya. Matanya kemudian beralih pada wajah Arya dengan pandangan penuh selidik.
Arya kemudian mengambil kotak itu dari tangan Mila, ia kemudian mengeluarkan cincin emas itu. Arya kemudian menarik lembut tangan kiri Mila dan mencoba memasang cincin itu di jari manis Mila.
"sebelum ini aku masih ragu untuk memberikan cincin ini untukmu Mil, tapi sekarang aku sudah yakin, kamu adalah bidadari surgaku itu,” ucap Arya dengan nada pelannya.
Ucapan Arya seketika membuat jantung Mila berdebar kencang, hatinya terasa senang mendengar ucapan Arya, “bidadari surgamu?” tanya Mila juga dengan nada pelan. ia menatap dalam mata Arya yang tengah mencium tangannya dengan dalam setelah memakaikan cincin itu.
“nenek yang ku temui di Sulawesi memberikan ini sebagai hadiah untukmu, aku sudah janji kepadanya akan membawamu menemuinya nanti,” jawab Arya dengan singkat, ia kemudian mengecup dalam kening Mila. ‘nek, aku sudah menemukan bidadari surgaku, aku akan segera membawanya untuk menemuimu’ batin Arya.
__ADS_1
“terima kasih Arya, cincin ini bagus sekali” ucap Mila dengan singkat, sekarang sudah ada 3 cincin emas di tangan kirinya itu. 'apa itu berarti kami juga akan ke Sulawesi' batin Mila.
“kamu ngapain ngambil foto itu,” tanya Arya melihat foto yang ada di atas paha Mila yang duduk bersimpuh. Mila kemudian mengambil foto itu dan melihatnya “aku ingin melihat wajah mertuaku” jawab Mila.
Arya tersenyum mendengar ucapan Mila, Ia kemudian mengusap lembut wajah Mila dari balik cadarnya, "terima kasih Mil, kami sudah menerimaku dengan segala kelemahanku ini"
*
Arya dan Tomy memasukkan dan menyusun koper dan carrier mereka ke dalam bagasi mobil, Sementara Mila, Vamessa dan Abel secara bergantian mencium tangan pak Susanto dan bu Annisa. Ketika Mila mencium tangan bu Annisa, bu Annisa sejenak menahan tangan Mila dan ia mencium ubun-ubun dan kening Mila dengan lembut.
“nak, jaga Arya baik-baik ya, jaga dia seperti bibi menjaganya, bibi tahu dia masih menyimpan trauma pada masa lalunya, jadi bibi minta agar kamu tidak menyakiti dia seperti apapun masalah kalian nanti, traumanya sudah sangat membuatnya menderita selama ini, jangan tambah lagi penderitaannya nak" ucap bu Annisa berhenti sejenak, ia mencoba menarik nafas singkat untuk menenangkan perasaannya yang terasa sesak untuk melepas kedua putranya kembali ke Jakarta.
"ibu lihat dia sangat menyayangimu, jangan sakiti hatinya ya, sudah cukup trauma dan rasa takut itu yang membuatnya menderita" lanjut bu Annisa dengan berbisik pada Mila, ucapan itu juga yang membuat hati Mila kembali tersentak, dosa itu kembali menyeruak di dalam hatinya, air matanya kemudian menetes karena rasa bersalah.
"baik bi, Mila akan selalu ada disisi Arya untuk menjaganya dan melindungi hatinya agar tidak tersakiti lagi” jawab Mila dengan pelan.
bu Annisa mengusap lembut kepala Mila, “terima kasih nak, bibi tahu kamu dan Arya saling menyayangi, jaga keluarga kalian baik-baik ya” ucap bu Annisa lagi dan Mila menjawab dengan anggukan pelan, “baik bi, Mila janji akan menjaga keluarga kami dengan baik” jawab Mila.
“ternyata aku melakukan hal yang sama pada paman dan bibi, membiarkan mereka hidup sepi di hari senja mereka” gumam Arya dengan pelan, entah mengapa ia merasa bersalah atas itu semua.
“maksudmu apa Arya?” tanya Tomy yang heran dengan gumaman Arya.
“apa kamu tidak berniat membawa paman dan bibi untuk tinggal bersamamu di Jakarta Tom?” tanya Arya dengan pelan.
“aku sempat memikirkan hal itu Arya, tapi mau gimana lagi, keadaanku belum mendukung untuk itu, dan lagi pula ibu dan ayah juga pernah menolak keinginanku untuk itu dulu” jawab Tomy dengan pelan, ia masih ingat saat orang tuanya itu menolak keinginan nya agar pak Susanto dan bu Annisa ikut bersamanya ke Jakarta jika dia sudah sukses nanti.
Mobil mereka perlahan berangkat meninggalkan bu Annisa dan pak Susanto yang melambaikan tangan mereka mengiringi kepergian kelima orang itu, lima orang yang membuat ramai suasana mereka di rumah yang biasa sepi itu, “kita bakalan sepi lagi pak” ucap bu Annisa dengan nada sendunya.
“nggak apa-apa bu, asalkan Arya dan Tomy bahagia, bapak nggak masalah” jawab pak Susanto dengan tegar, ada rasa kehilangan di hatinya untuk melepas kepergian 2 putranya itu, namun ia harus tegar untuk itu semua.
__ADS_1
“semoga keputusan Arya untuk mengambil haknya itu berjalan lancar ya pak, agar nanti Arya dan Mila dan kesini lagi bersama cucu kita” ucap bu Annisa.
“doakan saja semuanya berjalan baik bu, inshaAllah, Allah akan melindungi Arya,” ucap pak Susanto dengan pelan, ia merangkul bahu istrinya dan mengusapnya melihat mobil yang perlahan menjauh.
“tapi nanti waktu Tomy menikah, kita bakalan ke Jakarta kan pak” ucap bu Annisa melihat ke arah wajah suaminya.
“iya, masa Tomy menikah kita nggak datang bu, nanti kita bisa bertemu keluarga Mila juga sekalian” jawab pak Susanto dengan tersenyum pada bu Annisa.
Sementara di dalam mobil Arya melihat ke arah Tomy yang sedang menyetir mobil. “apa lukamu benar-benar sudah sembuh Tom?,” tanya Arya.
“ini sudah baikan Arya, nggak usah khawatir kayak gitu” jawab Tomy dengan singkat dan tetap fokus dengan jalanan.
“kamu yakin bisa nyetir sampai ke Jakarta?” tanya Arya lagi.
“ini aman kok Arya, nanti kalau aku nggak sanggup lanjut, kan kita bisa gantian” jawab Tomy dengan santai.
Tanpa mereka sadari, 3 orang perempuan di bangku belakang menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan sawah hijau nan membentang luas. Perasaan mereka sama-sama sedih meninggalkan 2 orang paruh baya yang telah mereka anggap sebagai orang tua mereka sendiri, bahkan rasa sayang yang ditunjukkan dua orang itu melebihi kasih sayang orang tua mereka yang banyak disibukkan oleh pekerjaan.
Perjalanan panjang mereka pun dimulai, sebelum sampai di Jakarta, mereka menyempatkan diri untuk bermain kembali di sebuah pantai yang berbeda dari pantai sebelumnya, mengisi waktu sore mereka sebagai liburan sebelum kembali ke Jakarta menghadapi masalah yang tengah menanti.
'Mila akan jadi istri terbaik untuk Arya bi, Mila akan menebus kesalahan Mila dulu pada Arya, Mila akan berikan seluruh hidup Mila untuk Arya dan melayani Arya sebagai suami Mila dengam sepenuh hati Mila bi, Hati Mila hanya untuk Arya' batin Mila mengingat kembali pesan bu Annisa tadi.
*
Haris baru saja turun dari lantai 15 tempat ruang kerjanya berada, ia melewati lobi gedung perkantoran Adinata group dengan wajah lelah. Banyak dokumen yang harus segera ia selesaikan, sekaligus ia harus memastikan beberapa masalah agar dapat segera diselesaikan sebelum dewan komisaris mengirim surat undangan rapat pemegang saham kepada semua pemegang saham.
Saat melewati lobi perusahaan, Haris melihat beberapa karyawan yang tengah berbisik -bisik, bisik -bisik yang membuat loby itu terdengar seperti ada suara lebah yang tengah terbang disana, ‘kenapa mereka berbisik-bisik seperti itu, apa ada masalah?’ batinnya.
Ponsel Haris kemudian berbunyi, dan Haris segera mengeluarkan ponselnya yang ia simpan di saku jas kanannya, ada nama dokter Reny tertera disana, ‘Reny?, apa hasil tes itu sudah keluar, ini sudah lebih dari seminggu,’ batinnya.
__ADS_1
Haris kemudian mengangkat panggilan itu, matanya kemudian membulat tak percaya atas kabar yang ia dengar.