
Setelah selesai bermain sepeda bebek, Anjani dan Mila mengikuti Arya yang turun ke palataran danau menuju permukaan danau tersebut. “mau ngapain Arya?” tanya Anjani mengikuti langkah Arya dan Mila dari belakang.
“ngasih makan ikan” jawab Arya dengan singkat, dan Anjani hanya melihat Arya dengan datar ‘ngasih makan ikan?’
Arya kemudian turun ke bawah agar bisa menyentuh air danau. “nggak dilempar aja Arya, ngapain harus turun segala” ucap Mila melihat apa yang dilakukan suaminya.
“ini lebih asik lo Mil “ jawab Arya, ia kemudian menggenggam makanan ikan dengan tangan kirinya, dan kemudian memasukkannya ke dalam air danau, seketika saja semua ikan yang ada disana menyerang tangan Arya.
Anjani dan Mila menelan saliva mereka melihat apa yang Arya lakukan, wajah laki-laki itu seperti menikmati sensasi saat ikan -ikan itu terasa mencium dan menggigit kulit tangannya, rasa geli dan sakit bercambur disana, membuat Arya tersenyum menikmatinya, gemericik air danau bahkan membasahi kemeja Arya karena ikan -ikan disana yang bergerai aktif.
“kalian mau coba?” tanya Arya pada Mila dan Anjani, Mila menggeleng “iih nggak, aku nggak mau”, tolak Mila, suaminya itu selalu saja melakukan hal-hal diluar dugaannya.
Sementara Anjani tersenyum dan ikut turun ke dekat Arya, “sepertinya menyenangkan” gumamnya dengan pelan, ia kemudian menggenggam makan ikan yang memenuhi tangannya dari kantong makan ikan yang di pegang Arya.
Pemandangan itu seketika saja membuat Mila menelan salivanya, Ia menarik nafas panjang dan kemudian ikut turun ke bawah.
Anjani memasukkan tangannya ke dalam air danau dan seketika saja ikan-ikan mendekat ke tangannya, ia merasakan sensasi yang sama dengan yang Arya rasakan, tangannya terasa dicium dan digigit oleh ikan -ikan yang berebut makanan di tangannya, sesekali ada ikan yang yang terasa menampar kulit tangannya ketika ikan itu berebut makanan.
Arya kemudian menarik tangan Mila untuk menggenggam makanan ikan itu, “Arya, aku takut” gumam Mila. “coba aja Mil, asyik kok” Mila mengalah dan membiarkan Arya menuntun tangannya yang memegang makanan ikan untuk memberi makna ikan -ikan disana.
Sensasi serupa akhirnya dirasakan perempuan bercadar itu, Mila tertawa melepas rasa geli dan rasa sakit yang bercampur oleh ikan-ikan itu. “tuhkan,, tuhkan aku diserang ikan -ikan itu, auhh," gumam Mila menahan rasa takutnya.
"aaaa, Arya,” gumam Mila lagi, Tangannya terasa sakit ketika ada ikan yang berebut mencari tangannya, bahkan tangannya seketika keluar dari air danau ketika ada ikan yang menghantam tangannya dengan keras. “aduuhh” teriak Mila ketika ikan itu menabrak tangannya dengan keras.
“sakit Mil?’ tanya Arya.
“nggak kok, aku kaget aja” jawab Mila.
Anjani kembali mengambil makanan ikan di kantong yang Arya pegang untuk mengulangi hal yang sama, “jangan sering -sering Anjani, nanti tangan kamu luka digigit ikan -ikan itu” ucap Arya memperingati Anjani. “sekali lagi ya Arya, aku ingin merasakannya lagi” ucap Anjani dengan tersenyum seperti anak kecil yang mendapatkan permainan baru, ia tidak peduli jika blazernya akan basah oleh air.
Sensasi dicium dan digigit ikan itu terasa memberi sensasi yang membuat kelegaan tersendiri bagi hatinya.
__ADS_1
Arya kemudian menarik tangan Mila untuk naik ke atas, ia takut jika terlalu sering, nanti tangan mereka bisa luka oleh serangan ikan -ikan yang kelaparan itu. Mila tersenyum bahaga melihat ke arah Arya, laki-laki itu selalu bisa memberikan hal -hal baru yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dan Arya menatap lekat mata Mila, ia tahu Mila tengah tersenyum di balik cadarnya, "apa senyum ini adalah murni senyum bahagiamu Mil? apa ini bukan senyum dibuat -buat untuk menyenangkanku saja?" ucap Arya dengan pelan.
Mila menyentuh pipi Arya dengan pelan, "aku selalu bahagia disisimu Arya, kamu selalu membuatku bahagia, air mataku jatuh bukan karenamu, tapi karena kesalahanku sendiri" jawab Mila dengan jujur untuk meyakinkan Arya.
'aku bersyukur kata -kata bang Arnes tidak membuat Arya marah kepadaku, tapi aku malah khawatir kata -kata itu malah membuat Arya lemah seperti ini, aku harus lebih baik lagi agar Arya percaya kepada diriku' batin Mila.
Arya tersenyum, ia mengecup singkat kening Mila. Mila sejenak memejamkan matanya, menikmati kehangatan kecupan itu. "aku sayang sama kamu Mil" gumam Arya.
Anjani kemudian segera menyusul Arya dan Mila ke atas.
“ada yang lain lagi disini Arya?, aku ingin mencoba yang lebih seru” ucap Anjani.
*
Mereka menghabiskan waktu 4 jam di Ecopark tersebut hingga azan zhuhur menghentikan kegiatan mereka. Setelah Sholat dan makan siang, Arya segera melajukan mobilnya menuju kantor, kondisi jalanan yang macet membuatnya sampai di kantor hampir 1 jam perjalanan.
Arya kemudian segera menuju ruangannya bersama Mila dan Anjani, ketika berada di depan ruangannya, ia melihat wajah Rita yang tampak datar melihat kehadirannya.
Arya membuka pintu ruangannya, beberapa dokumen sudah ditaruh Rita disana, dokumen yang harus dikerjakan serta juga dokumen anggota timnya yang harus ia nilai dan ia koreksi jika ada yang perlu direvisi lagi desain mereka.
Sebelum duduk di meja kerjanya, Arya sejenak memutar badan dan melihat ke arah Rita dan Mila “apa kalian mau istirahat dulu?” tanyanya dengan pelan.
“istirahat?” tanya Mila.
Arya kemudian membuka pintu kamarnya yang membuat Mila dan Anjani memandangnya dengan heran.
Selama Mila ada disana, ia sama sekali tidak memperhatikan pintu itu, sementara Anjani dapat merasa lebih senang karena pintu rahasia itu telah terbuka sekarang.
“ini ruangan apa?” gumam Mila yang masih melongo melihat kamar itu.
__ADS_1
"kamarku, dulu setiap lembur aku sering tidur disini, aku nggak pernah bawa pekerjaan ke kontrakan, jadi kalau lembur aku bermalam disini” jawab Arya dengan santai, ia kemudian masuk untuk menghidupkan lampu dan ac, Mila dan Anjani pun ikut masuk dibelakangnya
Mila kemudian melihat ke arah Arya dengan penasaran “kok aku baru tahu kamu ada kamar disini”.
“ya kamu nggak pernah nanya” jawab Arya dengan enteng.
Anjani kemudian masuk dan merebahkan tubuhnya di ranjang itu yang membuat mata Mila melotot kesal. “ihhh, ini empuk kali Arya,” gumam Anjani menikmati kasur di ranjang itu.
“kamu ngapain main serobot aja ke ranjang suamiku” ucap Mila dengan kesal.
“nggak apa apa Mil, kalian istirahat dulu ya, aku masih banyak kerjaan” ucap Arya tersenyum pada Mila.
Mila menarik nafas kasar danmengangguk lemah. Jika ia dan Anjani merasa lelah, pasti Arya juga merasa lelah, namun suaminya itu malah ingin meneruskan kerjaannya.
“Arya, keluarrr, aku mau melepas pakaianku, pakaian ketat ini membuatku sesak” ucap Anjani dengan melotot tajam pada Arya.
Arya menarik nafas dalam dan mengeluarkannya. Ia kemudian menyentuh bahu Mila, “kamu istirahat dulu Mil, jangan sampai kecapek an, nanti kamu sakit” ucap Arya yang kemudian berlalu pergi dengan mengecup singkat kening Mila, ia lalu keluar dari kamar itu.
Anjani kemudian bangkit dan segera mengunci pintu kamar dari dalam, ia segera melepas blazernya dan beberapa kancing kemejanya agar pakaiannya sedikit lebih longgar.
Sementara Mila melepas cadarnya dan segera merebahkan diri di kasur Arya.
Anjani tersenyum melihat Mila, ia memang sudah pernah melihat wajah Mila ketika mereka ada di apartemen Arbi yang di pinjam Arya.
“kamu cantik Mil, Arya pasti sangat menyayangimu” ucap Anjani sembari merebahkan tubuhnya di samping Mila.
Mila mengabaikan itu semua, ia masih memikirkan suaminya yang menurutnya terlalu berlebihan dalam bekerja, ‘seharusnya dia memikirkan kesehatannya, masa pagi, siang malam kerja mulu’
Anjani perlahan memejamkan matanya, tidak ada rasa canggung baginya saat bersama Arya, karena sampai detik itu pun baginya Arya adalah sahabatnya, Indra, bahkan laki -laki itu sudah berhasil membuang rasa sedih dan frustasinya untuk sesaat.
Setidaknya itu bisa jadi kekuatan baginya untuk menghadapi hari-hari yang akan jauh lebih berat lagi. Sembari berharap ada keajaiban di dalam hidupnya yang membuat ia selamat dari perjodohan itu.
__ADS_1
“aku beruntung punya sahabat seperti kalian” gumam Anjani sebelum menjemput alam mimpi.
Mila masih menerawang langit-langit kamar yang bercat gelap itu, Arya masih membebani pikirannya, ‘seperti apa kehidupan Arya sebelum kami menikah, apa dia juga bekerja seperti itu, lalu kapan waktunya untuk pergi mendaki jika pekerjaannya selalu menumpuk’ batinnya lagi. Ia kemudian memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.