Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Percayalah


__ADS_3

“apa sekarang kamu ingin melepas genggaman tangan ini Mil, kamu sudah bilang sama aku kalau kamu tidak akan melepas genggaman tangan ini sekalipun semua keluargamu membenciku” ucap Arya yang tidak memperdulikan pertanyaan Mila. Mila menelan salivanya, perasaannya diaduk-aduk tak menentu.


Setetes air mata menitik dari mata Mila ia menganggkat tangannya dan mengenggam tangan Arya dengan kedua tangannya, ia tak kuasa melepas genggaman tangan Arya, ia kemudian mencium tangan itu dengan dalam dari balik cadarnya. “jelaskan Arya, jangan buat aku seperti orang bodoh lagi” ucap Mila dengan rasa tak menentu di hatinya.


“tetap genggam tangan ini Mil, dengan begitu tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita, apa pun masalah yang harus kita hadapi nanti, tidak satu orang pun yang bisa memisahkan kita" ucap Arya dengan melihat ke arah jalan yang ia lewati.


“aku akan tetap menggenggam tangan ini, apa pun yang akan terjadi nanti Arya, tapi tolong jangan sembunyikan apa pun lagi dariku” jawab Mila dengan menguatkan hatinya.


"aku tidak menyembunyikan apa pun darimu Mil, tanyakan apa ingin kamu tahu, aku akan menjawabnya dengan jujur" jawab Arya.


"Apa salah keluargaku hingga perusahaanmu menghancurkan perusahaanku?"


“abangmu sudah banyak membuat rugi perusahaan lain Mil, salah satunya adalah perusahaanku, cara berbisnisnya sangat tidak sehat, sahabatku sudah lama menyimpan rasa dendam pada abangmu, aku tidak memanfaatkanmu Mil, aku juga tidak menghancurkan perusahaanmu, semuanya dilakukan oleh temanku, bukan aku Mil,” jelas Arya dengan sesingkat mungkin agar Mila dapat memahami penjelasannya.


“lalu kenapa kamu biarkan Arya?, apa kamu tidak ingin menolong keluargaku?. kakek, ibu, dan kak Vanessa sudah sangat baik kepadamu, kenapa kamu tidak menolong kami sedikit pun, kenapa kamu biarkan ini terjadi” ucap Mila dengan air mata kembali menetes, ada rasa kecewa ia rasakan atas penjelasan Arya.


“Mil, ini pertaruhannya rumah tangga kita, aku terpaksa membiarkan Ari melakukan ini, agar mereka tidak mengganggu rumah tangga kita Mil, Ari bukan orang sembarangan, cara berpikirnya jauh lebih sulit untuk di tebak, dan juga Arbi, dia takkan segan-segan untuk melakukan hal kotor untuk menghancurkan hubungan kita, mereka bukan orang yang bisa bersikap baik seperti Tomy Mil, aku lebih ingin rumah tangga kita selamat dari pada memikirkan masalah perusahaan itu” jelas Arya lagi.


“kamu bisa berkata seperti itu karena ini bukan masalah perusahaanmu Arya, tapi tidak denganku, ini masalah perusahaan keluargaku Arya, ini kehormatan nama keluargaku, jika perusahaan itu hancur, keluargaku juga ikut hancur, ibu dan kakek pasti tidak akan menerimanya, dan aku takut kesehatan kakek akan menrun lagi” ucap Mila lagi dengan dadanya yang terasa sesak, Arya melepas nafas kasar seketika.


“keluargamu juga keluargaku Mil, bukan aku tidak ingin menyelamatkan keluargamu Mil, tapi ini pilihan terbaik yang bisa ku ambil, rumah tangga kita dibangun dengan janji suci Mil, aku tidak akan mempertaruhkannya dengan rasa dendam dan sakit hati teman -temanku” ucap Arya yang dengan mengeratkan genggaman Mila di genggamannya.


*


“kamu menyukainya?” tanya Arya melihat Mila yang duduk diatas rerumputan dan bersandar di lengannya, “ini jauh lebih hijau dari bukit tempat kamu membawaku biasanya Arya” ucap Mila dengan pelan. Pemandangan sawah yang luas menghijau ada di hadapan mereka, sawah-sawah membentang hijau hingga punggung bukit dengan sistem teras sering yang membuat pemandangan itu semakin indah bagi siapa saja yang memandangnya.


“apa pikiranmu sudah jauh lebih tenang sekarang?” tanya Arya dengan nada tenangnya.


“Bawa aku ke Jakarta Arya, aku harus menyelamatkan keluargaku” ucap Mila dengan nada pelannya.


“kamu mau melakukan apa disana?” tanya Arya dengan heran.


“bang Irman bilang hanya aku yang bisa menyelamatkan perusahaan keluargaku sekarang” jawab Mila masih dengan nada pelan.


Arya sejenak memejamkan matanya untuk memikirkan apa maksud Irman menyuruh Mila kembali ke Jakarta. ‘apa yang diinginkan bang Irman dari Mila?, hanya Mila yang bisa menolong perusahaannya, emang apa yang bisa dilakukan oleh Mila?, atau jangan-jangan ini yang dikatakan Ari waktu itu’ batin Arya.

__ADS_1


“kamu masih menginginkan laki-laki itu Mil?” tanya Arya dengan nada yang mulai terdengar marah.


“kenapa kamu bicara seperti itu,? ini tidak ada hubungannya dengan dia” ucap Mila yang tidak suka dengan tuduhan Arya. Ia kemudian mengangkat kepalanya dari lengan Arya dan menatap Arya dengan tatapan tajamnya.


“kamu lupa ya, pengawal kamu itu selama ini mengawasi kamu karena masalah ini, laki-laki itu akan memberikan dana ke perusahaan keluargamu dengan tubuhmu sebagai bayarannya Mil” ucap Arya menatap marah pada Mila, rasa kecewa serasa merasuk hatinya mendengar ucapan Mila.


Mila seketika menelan salivanya mendengar ucapan Arya, ia membalas tatapan Arya dengan tatapan tak percayanya. “abangku tidak seperti itu Arya, dia tidak mungkin menjualku seperti itu, kamu jangan menuduh sembarangan” ucap Mila yang mulai ikut terbawa suasana emosi mereka. Sekalipun ia sudah tahu bahwa ada kesepakatan itu antara Irman dan Arnes, tapi ia tetap saja tidak percaya abangnya akan setega itu kepadanya.


“lalu kamu bisa apa untuk menyelamatkan perusahaan itu Mil, ada kakek sama ibu disana, mereka jauh lebih paham masalah ini daripada kamu, biarkan saja mereka menyelamatkan perusahaan itu, jika kamu kesana, hanya itu yang akan dilakukan abangmu” ucap Arya yang masih ingat dengan peringatan Ari kepadanya.


“Tapi Arya, bang Irman bilang…”


“cukup Mil, jangan bantah aku lagi, kita akan tetap disini sesuai rencana kita, biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka bisa disana” ucap Arya berusaha menahan emosinya.


“kamu egois Arya, kamu sama sekali tidak memperdulikan masalah keluargaku, keluargaku akan hancur karena ini Arya, bang Irman bilang kami akan kehilangan semuanya” ucap Mila dengan penuh emosional dengan air mata yang tak tertahankan lagi.


Arya kemudian menarik tengkuk Mila dan memeluk Mila, ia kemudian mengecup kening istrinya itu dengan dalam, melakukan seperti apa yang ayahnya dulu lakukan kepada ibunya jika ibunya sedang marah. “kamu percayakan sama aku?, kita akan tetap disini, biarkan semuanya selesai dengan sendirinya disana Mil”


“Arya, keluargaku Arya” ucap Mila menangis di pelukkan Arya.


“kamu jahat Arya, kamu jahat, kamu membiarkan temanmu menghancurkan keluargaku dan kamu juga melarangku ke Jakarta, aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku, keluargaku butuh aku Arya, bang Irman butuh bantuanku”


‘ya Tuhan, kenapa Mila tidak mengerti sama sekali dengan bahaya yang mengintainya sekarang’ batin Arya yang kebingungan.


“semuanya akan baik-baik saja Mil, kakek dan ibu pasti sudah tahu masalah ini, mereka pasti sudah punya solusi terbaik untuk ini semua, percaya padaku, biarkan kakek dan ibu yang memikir solusinya, kamu harus tetap ada di dekatku disini, aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin laki-laki itu menyentuhmu” ucap Arya dengan menguatkan pelukkannya pada Mila, berharap agar istrinya itu dapat percaya kepadanya.


‘mana mungkin bang Irman mau menjualku pada bang Arnes, kenapa Arya bisa berpikir seburuk itu pada bang Irman’ batin Mila tak percaya.


Arya kemudian melepas pelukkannya, ia kemudian mencium bibir Mila, ciuman yang dibatasi oleh cadar Mila itu berlangsung singkat namun cukup memberi arti bagi Mila.


“kamu yakinkan sama aku, kamu lebih yakinkan dari ciuman ini” ucap Arya pada Mila, Mila mengangguk pelan, dan memeluk suaminya itu.


“kita harus tetap disini Mil, aku tidak tahu ancaman apa yang mengintaimu disana” ucap Arya menahan tubuh Mila agar tetap memeluknya.


‘Ari benar-benar sahabatku, dia sengaja menyuruhku menjauh dari Jakarta untuk melindungi istriku, sekalipun ia membenci Mila, ia masih memikirkan cara untuk melindungi Mila’ batin Arya dengan masih menahan tubuh Mila agar tetap memeluknya. Ia seperti telah mengetahui benang merah pemikiran Ari ketika menyuruhnya membawa Mila menyingkir dari Jakarta, karena Arya sendiri sudah merasa, bahwa dari gelagat Ari sahabatnya itu sama sekali tidak akan menyelamatkan rumah Mila.

__ADS_1


*


Mila tak banyak bicara seharian itu, ia terus memandangi ponselnya yang berkali-kali di telfon oleh Irman, Ada perasaan bimbang untuk mengangkat atau tidak panggilan itu, “ihhh, ponselmu itu berisik sekali Mil, angkat aja apa masalahnya sih?, dari tadi berbunyi terus, aku pusing mendengarnya” keluh Abel yang mulai kesal dengan suara ponsel Mila yang telah berkali-kali berdering.


Mila sejenak menarik nafas dalam dan mengambil ponselnya, ia kemudian mengangkat panggilan dari abangnya itu.


“kamu dimana? sudah jalan ke Jakarta?” tanya Irman dengan nada penuh penekanannya.


“emang apa yang bisa aku lakukan untuk membantu perusahaan kita bang? aku tidak mengerti apa-apa soal bisnis” jawab Mila dengan nada datar, ia berusaha menahan rasa gejolak tak menentu di dadanya.


“kamu datang saja ke rumah, aku tunggu, nanti kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan, ingat Mil, cuma kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita” ucap Irman dengan penuh penekanannya lagi.


“abang mau menjualku pada bang Arnes?” tanya Mila dengan suara gemetar yang tak mampu ia tahan.


Abel yang mendengar itu, melihat Mila dengan tatapan tak percayanya atas apa yang ia dengar, ia segera mendekat kepada Mila dan memeluk sahabatnya itu. ‘ya Tuhan, ada masalah apa dengan Mila?’ batinnya.


“aku tidak akan menjualmu Mil, kamu pikir aku abang macam apa yang bakalan menjual adiknya sendiri, sekarang pulang, cuma kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan sekarang” ucap Irman di balik telfon itu.


“katakan apa yang harus ku lakukan bang, jangan bicara yang tidak jelas seperti ini” ucap Mila dengan penuh penekanan pada Irman.


“aku tahu kamu masih mencintai Arnes, aku akan membantu hubunganmu dengan Arnes, dan Arnes akan membantu perusahaan kita, Arnes akan menikahimu, aku janji untuk itu, ini untuk kebahagiaan kalian berdua Mil” ucap Irman dengan nada pelannya.


“abang bohong, aku hanya kan jadi sampah disana, dia hanya laki-laki ******** yang sama seperti abang dan ayah, apa abang lupa bahwa abang sendiri yang mengatakan dia hanya menginginkan tubuhku?” jawab Mila dengan menguatkan dirinya dengan pelukkan Abel di tubuhnya.


“aku tidak akan membiarkan itu terjadi Mil, pulanglah, aku akan pastikan kamu mendapatkan status sebagai istri di keluarga itu,” ucap Irman yang berusaha meyakinkan Mila.


“jadi benarkan abang mau menjualku, apa aku hanya perempuan murahan di mata abang, sama seperti semua teman tidur abang itu, apa aku semurah itu dimata abang?” ucap Mila dengan pipi yang mulai basah.


“aku sudah bilang akan memastikan statusmu sebagai istri Arnes, itu janjiku sebagai abangmu, aku sama sekali tidak berniat menjualmu, apa Arya sudah mempengaruhimu untuk ini semua?, hingga kamu berpikir aku ingin menjualmu seperti ini, sekarang cepat pulang, cuma kamu yang bisa menyelamatkan keluarga kita sekarang" ujar Irman lagi.


Mila melempar ponselnya ke atas ranjang dengan perasaan kecewa, dan melepas tangisnya di dalam pelukkan Abel. “kamu yang kuat ya Mil, apa pun masalahmu, aku selalu ada untukmu,” ucap Abel menenangkan sahabatnya itu.


Pintu kamar itu terdengar diketuk dua kali, Mila segera melepas pelukkan Abel dan menyapu air matanya yang sudah membuat cadarnya basah. Abel sejenak menarik nafas panjang, “masuk” ucapnya.


Arya kemudian membuka pintu itu dan melihat ke arah Mila yang sedang membelakanginya.

__ADS_1


__ADS_2