Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tidak Mendukung


__ADS_3

Hardi berjalan cepat menuju ruangan Aliando, dari beberapa laporan yang ia periksa, tidak ada kejanggalan. Namun ada kesaksian salah satu pengawas lapangannya yang mengakui ada aliran dana gelap selama projek berlangsung.


Hardi membuka pintu ruangan Aliando, laki-laki itu tengah berbicara dengan salah seorang pengusaha.


“tuan Hardi juga datang ke sini” ucap pengusaha itu melihat Hardi.


“kamu keluar dulu, nanti kita bahas” ucap Aliando kepada pengusaha itu.


Pengusaha itu mengangguk patuh kepada Aliando. Ia segera berdiri dan keluar dengan memberi hormat kepada Hardi.


Saat pintu ruangan tertutup, Hardi tidak bisa lagi menahan amarahanya, ia mendekat ke meja Aliando dan menjatuhkan semua isi meja itu ke lantai.


“kau benar-benar bajingan” umpatnya dengan kasar.


“apa yang kau inginkan Hardi?” ucap Aliando.


"kita tidak ada lagi hubungan, kau sudah memutuskan pertunangan anak kita, buat apa lagi kau kesini dan menghancurkan meja ku seperti ini”


“berani-beraninya kamu menggelapkan uang projek kerja sama kita” ucap Hardi dengan penuh rasa marah.


Aliando tertegun, ia tak percaya Hardi tahu itu semua, padahal ia sudah bermain di lini terbawah agar apa yang ia lakukan tidak diketahui oleh rekan bisnisnya.


“kau ini bicara apa?” tanya Aliando berusaha mengelak


“kau lihat saja apa yang sudah dipersiapkan Arya untukmu” ucap Hardi dengan sinis, “kau sudah membawaku lubang neraka” Hardi melampiaskan semua rasa marahnya.


Aliando memejamkan matanya, ia mempersiapkan uang itu untuk menyelamatkan keluarganya jika suatu saat nanti ia harus berada di penjara.


Namun ia tak menyangka, permainan yang ia susun serapi mungkin, akhirnya terendus juga.


Bahkan mungkin malah hal itu yang sekarang akan membawanya ke penjara, bukan pembunuhan 22 tahun lalu yang ia lakukan secara keji untuk mengambil alih Adinata group.


*


Sementara itu, Anjani tengah berjalan menuju ruangan Arbi, ia masih bingung kenapa ayahnya memintanya untuk bertemu dengan Arbi, ‘jika mau mendukung Arya, kenapa tidak bertemu Arya langsung’ batinnya yang heran dengan sikap ayahnya.


Anjani masuk ke ruangan Arbi dengan wajah datar, laki-laki itu tengah sibuk menanda tangani beberapa dokumen di meja kerjanya. Arbi tersenyum dengan kedatangan Anjani, Ia kemudian segera berdiri dan mempersilahkan Anjani duduk di sofanya.


“aku senang kamu datang kemari” ucap Arbi dengan santai.

__ADS_1


“apa kemarin itu kamu membahas masalah saham ayahku di Adinata group?” tanya Anjani.


“iya" jawab Arbi dengan singkat, "apa kamu mau minum sesuatu” tawar Arbi.


“aku buru-buru, aku kesini hanya ingin menyampaikan pesan ayahku” ucap Anjani tak mau berbasa basi.


Anjani kemudian duduk di sofa, ia memandang Arbi yang tengah tersenyum kepadanya.


"aku sudah tahu jawaban ayahmu, ayahmu sudah pasti akan mendukung Arya, dia orang paling takut untuk mengambil resiko”


Anjani melotot kesal kepada Arbi, ucapan laki-laki itu terkesan menganggap enteng ayahnya.


“jadi apa yang diinginkan ayahmu?” tanya Arbi.


Anjani terdiam, sosok di depannya seolah menguasai permainan. Ia kemudian menarik nafas kasar untuk membalas ucapan Arbi.


“kamu hanya memimpin di perusahaan kecil seperti ini, tapi sudah berani menganggap enteng ayahku yang berkuasa di Hardi corp” ucap Anjani dengan kesal.


Arbi sejenak terdiam, ‘apa aku salah bicara ya?’ batinnya.


“aku tak mau basa basi” ucap Anjani, “kami tidak akan memberikan suara di rapat itu untuk Arya, ini demi harga diri keluargaku, karena posisi Arya ada di pihak berseberangan dengan calon suamiku”


“iya batal, tapi di mata semua orang aku masih bertunangan dengannya, ini demi nama baik keluargaku, kami nggak bisa membatalkannya sembarangan seperti ini, keluarga kami bisa di cap buruk” jelas Anjani.


“ayahku minta agar kasus yang berhubungan dengan perusahaan kami tidak laporkan, sebagai gantinya, semua projek Hardi corp akan diberikan ke 3A Sahabat untuk 2 tahun ke depan” ucap Anjani menyampaikan tawaran ayahnya.


Arbi sejenak terdiam, tawaran Anjani sangat menarik, namun yang menjadi permasalahan tersebut bukanlah perusahaan 3A Sahabat, tapi Adinata group.


“itu tidak bisa, kasus itu yang pegang direksi Adinata group, jika kamu mau menawar, tawarlah untuk Adinata group, terutama posisi Arya disana” ucap Arbi.


Anjani terdiam, sekarang ia yang harus membuat penawaran sendiri, karena ayahnya hanya memberikan satu opsi penawaran tersebut.


“kenapa diam?” tanya Arbi.


Anjani mencoba berpikir keras, penawaran apa yang bisa ia tawarkan dengan posisi seperti itu.


Arbi melepas nafas kasar, Anjani tak sehebat yang ia kira, padahal sikap gadis itu cukup membuatnya tertantang saat pertama kali mereka bicara di ruangan Anjani.


“nggak ada ya?” tanya Arbi lagi.

__ADS_1


Anjani masih mencoba berpikir keras, namun ia tidak memiliki solusi terbaik untuk ditawarkan.


“aku akan bicara langsung dengan Arya” ucap Anjani menyerah dengan keadaan, ia tidak ingin tampak lemah dihadapan Arbi.


Anjani kemudian bangkit untuk turun ke lantai 4, namun suara Arbi menghentikan langkahnya.


“Arya pasti membantu ayahmu, karena ini juga berkaitan dengan masa depanmu di perusahaan itu” ucap Arbi.


“kami menginginkan dukungan ayahmu, tapi jika ayahmu tidak bisa karena nama baik keluargamu, kami juga menghargai hal itu”


Anjani membalikkan badannya untuk melihat ke arah Arbi, mata laki-laki itu terlihat datar, namun retinanya memperlihatkan keambisiusan.


“pertunanganku digelar dengan sangat mewah dan besar, jika disampaikan kepada semua orang kalau pertunangan itu batal, betapa malunya keluarga kami, pemegang saham pasti juga akan menanggap rendah keluarga kami, kami akan dituduh haus kekuasaan, tidak punya pendirian dan mengekor pada yang menang” jelas Anjani dengan pelan.


Hatinya Anjani terasa tersayat, dirinya akan dianggap lemah oleh semua orang. Keputusan ayahnya malah membuat posisinya semakin menjadi sulit. Lebih buruk lagi, dia adalah satu-satunya anak Hardi, orang yang diharapkan bisa meneruskan tampuk kepemimpinan Hardi corp.


Namun kondisi yang ada malah membuat posisinya semakin dinilai lemah dan rendah oleh semua orang. Ia akan dinilai banyak orang sebagai perempuan yang bisa dijadikan alat bisnis.


Arbi memandang prihatin kepada Anjani, ia mengerti posisi gadis itu. Ia sudah menilai seperti apa posisi Anjani selama ini. Menjadi alat bisnis ayahnya, dan pada akhirnya ia menjadi korban kegagalan strategi ayahnya itu.


“aku dan Arya akan menutup kasus itu untukmu,” ucap Arbi.


“sebagai gantinya, aku ingin makan malam berdua dengan mu jika ada kesempatan” ucap Arbi dengan hati-hati.


Jika ia mengajak Anjani langsung, pasti Anjani yang tampak arogan di matanya akan menolak. Mungkin dengan memanfaatkan keadaan itu, ia bisa punya kesempatan untuk mendekati Anjani.


Sementara Anjani menelan salivanya mendengar ucapan Arbi, “apa kamu juga ingin menjadikanku alat bisnismu?”.


“alat bisnis?” gumam Arbi dengan bingung.


“ayahku menjadikanku alat bisnisnya dengan menjodohkanku, tujuannya untuk menyelamatkan keluargaku, dan sekarang kamu juga melakukan hal serupa”


Arbi menggigit lidahnya sendiri, ‘ha sial, salah lagi’ batinnya.


“bukan itu Anjani, aku,, aku dan Arya pasti membantumu, kamu sahabat Arya, jangan pikirkan kata-kataku tadi, aku hanya asal bicara” ucap Arbi berusaha menyelamatkan dirinya dari penilaian buruk Anjani.


Anjani kemudian segera keluar, ia tidak mau tampak lemah di depan Arbi, apa lagi ia merasa tatapan laki-laki itu seperti menyimpan rasa kepadanya. Ia tidak ingin dianggap perempuan yang bisa di dapatkan dengan mudah.


Sementara Arbi mengusap kasar wajahnya, dulu ia begitu mudah mendapatkan perempuan yang ia suka, sekarang Anjani malah membuatnya mulai merasa gusar.

__ADS_1


__ADS_2