Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Pion Yang Dikorbankan


__ADS_3

Sementara itu, di sore yang sama, di sebuah gedung perkantoran megah yang menjulang tinggi ke langit, gedung megah itu adalah milik Adinata group, gedung dimana semua anak perusahaan Adinata group melaporkan semua hasil kerja mereka. Anak perusahaan Adinata group yang tersebar hampir di seluruh pusat ekonomi dan pertambangan di Negara ini selalu melaporkan kinerja mereka ke gedung megah itu, termasuk juga anak perusahaan yang ada di negera tetangga serta di eropa, asia timur dan juga Amerika, semua laporan anak perusahaan itu akan masuk ke gedung megah itu. Perusahaan yang telah berdiri lebih dari 30 tahun itu telah banyak berjasa bagi peningkatan perekonomian Negara ini. Perusahaan yang juga menempatkan nama pendirinya Gibran adinata sempat menjadi orang terkaya urutan atas di Negara ini pada masanya. Perusahaan yang sampai saat ini masih menjadi pionir penting bagi Negara ini untuk terus bergerak menjadi Negara maju.


Namun sore itu ada yang sedikit berbeda di gedung itu, kabar pertunangan Anjani dan Arnes sudah menyebar di kalangan direksi Adinata group. 4 orang tengah duduk bersama membahas satu hal yang penting lagi rahasia. Mereka berkumpul dan berbicara dengan suara sepelan mungkin di ruangan pimpinan salah satu direksi perusahaan.


Suara mereka hanya sayup-sayup terdengar di ruangan itu, mereka benar-benar menjaga kerahasiaan apa yang sedang mereka bahas untuk menjaga keselamatan mereka dan juga tujuan mereka.


“kenapa kamu minta kami berkumpul disini Haris?” tanya seorang laki-laki paruh baya berkaca mata yang bernama Budi pada seorang laki-laki paruh baya lainnya yang duduk berseberangan dengannya.


“salah satu mata-mata kita di rumah Aliando mengatakan bahwa Aliando akan segera melaksanakan pertunangan putranya dan putri Hardi, dia sepertinya sudah tahu apa yang dilakukan Rahman” jawab laki-laki paruh baya yang bernama Haris itu.


“Haris, kamu harus hati-hati mulai sekarang, jangan sampai gerakmu diketahui oleh Aliando, atau kita benar-benar akan kehilangan orang untuk ini” ucap seorang laki-laki yang sudah mulai beruban bernama Ilham, ia duduk di sisi kiri Haris.


“Rahman adalah pion yang harus kita korbankan, sama seperti sekretaris Arjun, dan Rahman sudah siap untuk itu, satu hal yang harus kamu perhatikan Haris, jangan sampai keluarga Rahman menjadi korban seperti keluarga Arjun, kita dulu mengabaikan keluarga Arjun dan membuat mereka hidup dalam keadaan yang buruk” ucap pak Budi sembari membetulkan letak kaca matanya.


“aku dengar anak Arjun sudah menjadi sekretaris di salah satu perusahaan kontruksi, aku rasa kehidupan mereka sudah jauh lebih baik sekarang” ucap seorang laki-laki tua yang duduk di sebalah kanan Haris yang bernama Abdul.


“Aku tak menyangka Aliando sampai menghancurkan keluarga Arjun seperti itu, dia mengambil semua harta Arjun dan membuang keluarganya ke jalanan, kita harus hati-hati, jangan sampai keluarga Rahman mengalami hal serupa” ucap pak Ilham.


“aku sudah persiapkan semuanya agar apa yang terjadi di keluarga Arjun tidak terjadi lagi di keluarga Rahman, sekarang kita harus persiapkan langkah selanjutnya jika Rahman ditangkap oleh Aliando” ucap Haris menarik nafas panjang.


“ini baru testing the water bagi kita, untuk melihat seberapa besar kekuatan Aliando dalam rapat pemegang saham nanti, tapi jika pertunangan itu terjadi sebelum rapat pemegang saham itu, jelas kita akan kalah telak nantinya” jelas pak Budi kepada 3 orang lainnya.

__ADS_1


“Rahman adalah pion yang kita korbankan, sekarang kita tidak boleh gagal untuk langkah selanjutnya, kita tak boleh kehilangan orang lagi,” ucap pak Abdul.


“apa belum ada tanda-tanda ditemukannya tuan muda?, jika tuan muda ada, kita bisa mengambil langkah kuda untuk membalikkan keadaan” lanjut pak Ilham kepada Haris lagi.


“Kemarin Rahman bilang anaknya pak Sarman dari Cipta Rakarsa mencurigai seseorang yang mirip dengan tuan muda, Rahman sedang menunggu sampel orang itu untuk di tes dengan DNA tuan Gibran” ucap Haris yang membuat 3 laki-laki lainnya menarik nafas panjang.


“benarkah?, apa kamu sudah kirim orang untuk menjaga anak itu, jika Aliando sampai tahu, dia akan menghabisi anak itu sebelum hasil tesnya keluar” jelas pak Ilham.


“Rahman masih menyembunyikan itu semua, mungkin itu jauh lebih baik jika dia seorang diri saja yang tahu, aku rasa pak Sarman juga tidak tahu, jika ia tahu, ia pasti sudah bertindak duluan” jawab Haris.


“apa itu berarti anak pak Sarman masih menyembunyikannya juga” tanya pak Budi lagi.


“sepertinya begitu, mungkin anaknya pak Sarman juga mengerti dengan kondisi sekarang, hingga ia menyembunyikannya, bisa jadi juga itu baru sebatas kecurigaannya pada anak yang dimaksudnya itu, jadi ia lebih memilih untuk menyembunyikannya” lanjut Haris lagi.


“anak itu pindah ke Bandung dan bekerja disana, mungkin ia sudah sadar jika kita mencurigainya, sampelnya juga sudah kita tes, karena ia pernah menjadi salah satu pasien di Jakarta, dan hasilnya negatif” jawab Haris lagi.


“ini yang sulit bagi kita, tuan muda tidak tahu dengan kita, dia mengalami semuanya di usia yang masih sangat muda dimana dia belum mengenal kita sama sekali, mungkin yang ia kenal hanya Aliando dan juga sekretaris Arjun, tapi sekarang sekretaris Arjun dalam penjara, dan Aliando adalah orang yang mengincar nyawanya, jika tuan muda tahu dengan kita, pasti ia yang datang duluan kepada kita, kita tak perlu sepusing ini melawan Aliando” ucap pak Budi.


“Tapi tuan muda juga cukup cerdas dengan masih menyembunyikan diri sekarang, mungkin tuan muda juga sedang mencari cara untuk kembali ke perusahaan, dia tidak mungkin tampil di depan publik dan mengaku sebagai anak tuan Gibran, jika itu terjadi, Ia pasti sudah mati sebelum melakukan tes DNA untuk menguji pengakuannya.” jelas Haris lagi.


“ini benar-benar sulit Haris, sekarang pastikan Rahman bisa meloby semua pemilik saham, agar kita tahu seberapa besar kekuatan kita dan kekuatan Aliando di rapat pemegang saham, kalau bisa Rahman juga menemui pemilik saham di luar negeri untuk meloby mereka,” ucap pak Abdul pada Haris.

__ADS_1


“kita tak bisa mencegah pertunangan ini, apapun hasilnya nanti setelah rapat pemegang saham, kita harus siapkan strategi selanjutnya untuk mencegah saham tuan Gibran lepas ke pasar saham, dan memastikan anak Aliando tidak naik menjadi CEO, jika kita perlu melawan Hardi, kita harus melakukannya sampai titik akhir kita, inilah bentuk kesetiaan kita pada tuan Gibran,” ucap pak Ilham.


“saya akan pastikan semua sesuai rencana kita, dan saya siap menjadi pion selanjutnya untuk dikorban disini” ucap Haris tegas tanpa ada rasa takut di dalam hatinya.


“Haris, coba kamu temui anaknya pak Sarman itu, jika Rahman sudah diawasi geraknya, akan berbahaya jika anak yang di maksud anak pak Sarman itu benar tuan muda, dan satu lagi, pastikan dokter yang memeriksa sampel dari kita bukanlah pengkhianat,” ucap pak Budi pada Haris.


"satu lagi Haris, berhati-hatilah berkomunikasi dengan Rahman, jika tidak, kamu juga bisa ketahuan" lanjut pak Abdul memperingatkan Haris.


"Ilham, coba kamu hubungi dewan komisaris yang ada di pihak kita, mungkin kita bisa mempercepat rapat pemegang sahamnya, kalau bisa sebelum pertunangan anak Aliando dan Hardi" ucap Pak Budi pada Ilham.


"kamu juga harus tambah mata-mata kita di sekitar Aliando dan juga dewan komisaris lainnya, kita harus tahu semua informasi sebelum itu diucapkan di depan umum" ucap pak Abdul pada pak Budi.


"satu hal lagi, berhati-hatilah dengan orang-orang di sekitar kalian, siapapun itu, karena bisa jadi ada mata-mata Aliando di sekitar kita" ucap Haris menutup pertemuan itu.


Pertemuan singkat yang sering dilakukan untuk menentukan langkah catur yang hendak diambil, untuk melindungi tahta sang raja yang rajanya tidak tahu entah hidup atau mati. Bagi mereka, hutang budi pada sosok Gibran adinata hanya bisa dibalas dengan kesetiaan sekali pun harus mengorbankan nyawa mereka.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa buat like, komen dan votenya,,


terima kasih banyak masih setia pada cerita ini.


__ADS_2