Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Memulai Langkah


__ADS_3

Arya menatap kesal ke arah Tomy yang tengah berbaring di sampingnya, “kenapa kita harus sekamar lagi sih?, aku sudah punya istri, tapi tetap saja harus sekamar sama kamu” ucapnya dengan kesal.


Malam itu mereka memutuskan untuk menyewa penginapan sebanyak 2 kamar, setelah memakan waktu lama di pantai hingga Maghrib, makan malam dan sholat isya. Arya dan Tomy memutuskan untuk menyewa penginapan karena tidak ingin sampai di rumah larut malam, dan mengganggu istirahat orang tua mereka.


“jika kamu ingin tidur dengan istrimu, sewa saja kamar sendiri sama istrimu sana,” ucap Tomy tak kalah kesal.


“hah, di rumah pasti aku juga akan sekamar denganmu, masa aku harus puasa lama dari istriku” ucap Arya lagi yang kali ini membuat Tomy tertawa mengejeknya.


“jangan mengejekku Tom, besok kalau kamu sudah menikah dengan Abel, baru tahu kamu rasanya” ucap Arya dengan kesal kepada Tomy.


“kalau istrimu lagi haid gimana?, kamu maksa dia juga” tanya Tomy penuh selidik.


“nggak lah, kamu pikir aku segila itu apa” jawab Arya dengan pelan.


“ya sudah, anggap aja dia lagi haid sekarang, gampangkan” jawab Tomy yang mulai memejamkan matanya untuk tidur.


“yang benar aja Tom, nanti kalau waktu kembali ke Jakarta, dia benar-benar haid gimana, masa aku puasa lagi” ucap Arya melepas nafas lelah.


“kamu udah mikirin Adinata group?” ucap Tomy mengalihkan pembicaraan mereka.


“aku sudah memikirkan beberapa langkah untuk itu, setelah berbicara dengan bibi dan paman, aku akan bertemu ayah Rita” jawab Arya sembari ikut memejamkan matanya.


“ayah Rita?” ucap Tomy seketika membuka matanya yang terpejam karena kaget.


“aku baru tahu kalau ayah Rita adalah sekretaris ayahku dulu, dan sekarang dia lagi di penjara karena di fitnah,”


“sekretaris Arjun?,” tanya Tomy dengan singkat. “kamu tahu dengan sekretaris Arjun?” ucap Arya balik bertanya.

__ADS_1


“ketika aku bekerja disana, aku pernah mendengar namanya beberapa kali, banyak isu miring tentangnya karena dia menggelapkan banyak uang perusahaan” jelas Tomy.


“jika itu hanya fitnah, apa menurut kamu dia di penjara karena ayahku?” tanya Arya pada Tomy.


“bagaimana kita bisa tahu?, tapi yang pasti sekarang masih ada orang-orang yang setia pada ayahmu, makanya saham ayahmu masih di pegang oleh perusahaan, kalau nggak, ya pasti sudah lama di jual ke pasar modal” jelas Tomy pada Arya.


“aku harap aku tidak salah langkah memulainya dari ayah Rita, mungkin dia bisa memberiku petunjuk tentang orang-orang yang setia pada ayahku itu, dengan begitu kita punya kekuatan di dalam perusahaan”


“Ari dan Arbi bagaimana?, mereka akan sangat membantu jika kita libatkan, Ari itu punya orang-orang handal, belum lagi pemikirannya, dan Arbi itu orangnya ambisius, jiwa dia itu petarung, kita butuh keberanian dia Arya” ucap Tomy.


“aku juga mikir gitu Tom, terutama orang -orang Ari, itu benar-benar kita butuhin nanti, lagi pula kalau mereka tidak kita libatkan, mereka bisa ngambek seumur hidup mereka kepada kita”


“aku merasa sekarang kita kayak mendaki puncak Himalaya Arya, nggak akan mudah untuk mengembalikan semua milikmu itu”


“aku nggak peduli dengan perusahaan Tom, aku cuma ingin nama baik ayahku kembali,”


*


Ingatanya terus melayang ke masa sekarang, ucapan Arya beberapa hari ini membuatnya berpikir keras tentang masalah apa yang dikhawatirkan suaminya itu, ‘apa ada perempuan lain?, tapi Arya bilangkan nggak ada, apa dia berbohong?, atau jangan-jangan dia udah nikah ya di Sulawesi kemarin, atau dia punya perempuan atau istri lain di kampungnya, tapi Arya nggak mungkin begitu, kalau ada perempuan lain, emang siapa orangnya?, dokter itu, atau Anjani atau perempuan lain yang tidak aku tahu? aduhh, apa sih masalahnya?,’ Batin Mila berpikir keras atas semua kemungkinan yang muncul di ingatannya.


‘apa aku bisa seperti Arya, memberinya maaf jika benar dia telah mengkhianatiku?, membayangkan rasa sakitnya saja aku tidak bisa, bagaimana sampai memberinya maaf, apa jangan-jangan dia benar-benar selingkuh ya dan selingkuhannya hamil, jadi dia berkata seperti itu karena merasa bersalah kepadaku, aah Milaa’ batin Mila lagi, ia kemudian memukul-mukul kepalanya sendiri karena kesal dengan segala halu di dalam pikirannya itu.


“kamu kenapa dek?” tanya Vanessa yang terbangun dengan tingkah Mila itu.


“eeh kakak, nggak apa-apa kak, aku lagi mikirin sesuatu aja” jawab Mila dengan pelan karena kaget Vanessa yang terbangun karenanya.


“mikirin apa?, cerita sama kakak, jangan dipikirin sendiri, nanti malah jadi penyakit”

__ADS_1


“Aryaa kak, dia nggak ada perempuan lainkan selain aku, kakak tahu sendirikan seperti apa dia, pasti banyak perempuan lain yang suka sama dia” ucap Mila seperti anak kecil mengadu pada orang tuanya.


“nggak ada kok Mil, sepertinya Arya mengkhawatirkan sesuatu yang lain” ucap Vanessa menenangkan Mila.


“sesuatu yang lain?”


"iya, emang kamu pikir Arya mata keranjang apa?" jawab Vanessa.


“Mil, kamu tahukan perusahaan kita lagi tidak baik, jika perusahaan kita hancur dan kita kehilangan segala, apa kamu akan baik-baik saja?” ucap Vanessa coba mencari tahu respon adik iparnya itu.


“apa kakak berharap perusahaan yang di pimpin bang Irman hancur?, kakak sakit hati sekali sama bang Irman kayaknya”


“bukan begitu dek, ibu kan bilang sendiri kalau perusahaan tidak baik-baik saja, kakak hanya bicara kemungkinan terburuk” balas Vanessa atas tanggapan Mila.


“Arya kan ada kak, apa kakak pikir Arya tidak bisa memberi kita nafkah untuk hidup, perusahaannya jauh lebih besar dari perusahaan bang Irman lo kak” ucap Mila yang membuat Vanessa menarik nafas panjang, jawaban Mila jauh berbeda dari tujuan pertanyaan.


“maksud kakak, jika perusahaan kita dihancurkan oleh orang lain, kamu akan semarah apa pada orang itu?” tanya Vanessa yang semakin memfokuskan kalimatnya.


“emang ada orang jahat yang ingin menghancurkan perusahaan kita ya?” tanya Mila sejenak berpikir.


“kenapa kamu jadi sepolos Abel gini sih Mil?, emang kamu pikir dalam dunia bisnis nggak ada orang jahat apa” ucap Vanessa.


Mila sejenak tersenyum mendengar ucapan bahwa ia sepolos Abel, “ini aku yang sebenarnya kak, aku nggak sedewasa yang kakak pikirkan kok” ucapnya dengan pelan.


“iya kakak tahu, jika kamu dewasa, mana mungkin kamu terperdaya kata laki-laki busuk itu” ucap Vanessa yang sekarang mulai mengusap rambut Mila.


“kamu belum menjawab pertanyaan kakak dek” lanjut Vanessa.

__ADS_1


“aku nggak harus marah kok kak, kakek, bang Irman dan ibu pasti sudah menghancurkan orang yang akan menghancurkan perusahaan kita duluan” jawab Mila pada Vanessa.


Vanessa melepas nafas panjang seketika, ‘Mila benar-benar tidak paham arah pembicaraanku, semoga semua akan baik-baik saja nanti’


__ADS_2