
“Rita, apa aku bisa bertemu ayahmu” ucap Arya yang membuat Rita langsung memutar badannya lagi.
“Menemui ayahku?, untuk apa?” tanya Rita dengan wajah pias mendengar permintaan Arya.
“aku ingin mengenal ayahmu, dia sudah sangat baik menghadirkanmu ke dunia ini untuk menjadi sekretarisku” ucap Arya dengan sedikit bercanda. Rita menelan salivanya, ia sangat tidak ingin jika Arya harus menemui ayahnya yang masih mendekam di balik penjara.
“aku sudah pernah ceritakan, ayahku masih di penjara Arya,” ucap Rita dengan dada yang mulai sesak ketika membayangkan seperti apa kondisi ayahnya setiap ia mengunjunginya di penjara.
“lalu apa masalahnya?”
“Arya, ayahku di penjara karena dituduh menggelapkan dana di Adinata group, dan,,,”
“dan kamu bilang itu hanya fitnah, “ potong Arya pada kalimat Rita,
“apa kamu masih bisa percaya kepadaku setelah menemui ayahku nanti,?” tanya Rita dengan tatapan penuh arti pada Arya.
“aku masih bisa percaya padamu saat aku menceritakan semuanya kepadaku, lalu kenapa aku tidak bisa mempercayaimu setelah aku bertemu ayahmu?” tanya Arya lagi.
Rita menghirup nafas panjang, ‘aku tidak ingin kamu melihat seberapa menderitanya ayahku di penjara Arya, dia terus-terusan bertanya apa anak Gibran sudah kembali, apa anak Gibran masih ingat kepadanya, apa anak Gibran akan melepaskannya dari penjara itu, ayahku masih percaya bahwa anak yang sudah mati itu masih hidup sampai sekarang, aku sedih melihat harapannya yang tidak akan pernah terwujud itu’ batin Rita menahan sedih mengingat kondisi ayahnya yang sudah setengah gila mengharapkan tuan mudanya akan membantunya.
“kapan kamu mau bertemu dengan ayahku?” tanya Rita berusaha menegarkan diri.
“nanti,, aku harus menyelesaikan sesuatu dulu sebelum bertemu ayahmu” ucap Arya dengan nada santai melirik mata Rita yang memancarkan kesedihan.
“maksudmu?”
“aku ingin bertemu ayahmu, tapi tidak sekarang, kerjaanku masih banyak, sebentar lagi aku juga mau pergi keluar sebentar, jadi rapat tim kita kamu tolong pending dulu sampai selesai jam istirahat” ucap Arya.
“ok” jawab Rita simpel sembari keluar dari ruangan itu.
Arya menatap dalam punggung Rita yang keluar dari ruangannya, ‘aku harus menyusun rencana dulu dengan Tomy, dan aku benar-benar harus memutuskan dengan pasti apa ingin maju atau tidak untuk kembali ke perusahaan ayah’ batin Arya.
Ia Benar-benar butuh keberanian besar untuk berjalan maju, karena yang ia hadapi bukanlah sesuatu yang kecil, melainkan sesuatu yang besar yang bisa saja mengorbankan banyak orang.
*
Mila sedang duduk santai sembari membaca buku pelajaran di ruang guru di jam istirahat pagi anak-anak sekolahnya, ia meminum jus jeruk dengan menelusupkan pipet jus tersebut ke bibirnya dari balik cadarnya, Syifa kemudian datang menghampiri gadis itu sembari tersenyum.
__ADS_1
“sepertinya aku benar-benar penasaran sama kamu sekarang Mil” ucap Syifa tanpa basa basi,
“maksud kakak?”
“aku sedang ngidam penjelasan darimu atas kejadian beberapa hari ini, tentang laki-laki kemarin yang mencarimu, juga tentang kejadian di depan gerbang beberapa hari lalu” ucap Syifa dengan menatap penasaran pada Mila.
“aku sudah memilih suamiku kak, aku tidak akan menemui bang Arnes lagi, dan laki-laki yang kemarin itu adalah iparku” jelas Mila dengan singkat.
Syifa menyipitkan matanya mendengar ucapan Mila “apa kamu pikir itu sudah menjelaskan semuanya?” tanya Syifa yang kesal dengan jawaban Mila.
“2 orang yang kemarin itu pengawal di tempat suamiku bekerja kak, teman suamiku menyuruh mereka menjagaku dari bang Arnes, dan kemarin aku bertemu dengan iparku karena ia harus menjelaskan sesuatu kepadaku tentang suamiku, apa itu sudah membuat kakak puas?” tanya Mila dengan mata sedikit melotot pada Syifa, dan Syifa tersenyum melihat tingkah Mila.
“lebih baik kamu tidak berhubungan lagi dengan Arnes, laki-laki itu terlihat pandai sekali merayu perempuan, kamu saja sampai terayu pada dia kemarin” ucap Syifa dengan tegas ia kemudian menarik beberapa buku dari mejanya yang berada di samping meja Mila.
“Kak, jangan bicarakan dia lagi, aku tidak ingin memikirkannya lagi” ucap Mila dengan kesal, ‘aku benar-benar harus mengubur perasaanku kak, terlalu mahal membayar cintaku dengan nyawa suamiku yang begitu baik, bahkan aku tidak yakin akan menemukan orang sebaik Arya lagi di bumi ini’ batin Mila.
“lalu kamu mau kita membicarakan apa sekarang?”
“aku ingin mendengar cerita kakak tentang cara kakak jatuh cinta pada suami kakak, karena aku juga ingin belajar memberikan hatiku untuk suamiku seutuhnya” ucap Mila dengan wajah tersenyum pada Syifa dan Syifa juga tersenyum mendengar ucapan Mila, ia selalu bersemangat dan bergairah ketika bercerita tentang suaminya itu.
Sementaa Mila melepas nafas kasar mendengar itu semua, ‘astaga, kenapa aku benar-benar merasa jadi istri yang tidak berguna ya, selama ini, dia yang selalu bangun lebih awal dariku, menyiapkan air hangat untukku mandi pagi, bahkan dia jago masak, dan aku tidak pandai masak sama sekali, dan juga aku yang selalu memeluknya duluan, bukan dia yang melakukannya lebih dulu untukku, sebenarnya yang istri itu aku atau dia sih’ batin Mila menyunguti dirinya senditi.
“tahu nggak Mil, setiap apa yang aku kerjakan untuknya, ia selalu memujiku, dan pujiannya benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga seperti di surga, dan perasaan cinta itu muncul tanpa harus dipaksa, aku benar-benar mencintai suamiku Mil, aku rindu setiap sentuhannya, aku rindu setiap kalimatnya yang memujiku hingga aku terasa terbang, aku rindu tatapan matanya untukku, aku rin,,,”
“udah kak,” ucap Mila yang mulai gerah dengan cerita Syifa, entah mengapa mendengar itu semua ia merasa tak sabar untuk kembali bertemu dengan suaminya, tiba-tiba saja ia membayangkan hangatnya tubuh Arya ketika memeluknya, lembutnya tatapan Arya setiap melihatnya, entah mengapa ia ingin mendengar kata-kata Arya yang selalu menggodanya dan membuat wajahnya memerah malu ketika mengungkap apa yang pernah terjadi ketika mereka kecil dulu, dan entah mengapa dia ingin mendengarkan Arya memujinya, hal yang belum pernah ia dengar dari mulut Arya.
“Mil, perhiasaan itu kamu beli dimana?” tanya Syifa yang tiba-tiba tertarik melihat cincin dan gelang di tangan Mila.
“emang kenapa kak?”
“itu emas putih loh Mil, harganya pasti mahal” ucap Syifa yang membuat Mila melihat perhiasan yang ia pakai, “aku rasa juga begitu kak” ucap Mila ketus, sejak ia mleihat perhiasan itu, ia merasa harga perhiasan itu pasti mahal.
“Mil, coba kamu lihat, ini desainnya nggak sembarangan lo Mil, ini pasti di desain oleh ahli professional, dan berlian ini, ini pasti benar-benar mahal lo Mil” puji Syifa tak hentinya pada perhiasan yang Mila pakai.
“ini dari suamiku kak, aku juga mengira harga perhiasan ini pasti mahal, tapi seberapa pun mahalnya perhiasan ini, suamiku jauh lebih mahal dari ini semua,” ucap Mila penuh makna.
“suami benar-benar tulus padamu Mil, ia bahkan membelikan perhiasan seperti ini untuk Mil” ucap Syifa yang membuat mereka sama-sama tersenyum memancar kebahagiaan. Padahal Arya hanya membeli perhiasan itu secara asal karena didesak jadwal akad nikah saat membelinya, dan Arya juga tidak memperdulikan harga perhiasaan itu, walau tabungannya terkuras banyak karena membelinya.
__ADS_1
*
Arya memarkirkan motornya di halaman rumah Abel, ia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu dan kemudian mengetuknya, beberapa kali ia mengetuk rumah itu dan mengucapkan salam, barulah pintu rumah itu terbuka.
Seorang gadis remaja yang tampak cantik dengan kulit putih dan tingginya sebahu Arya, rambutnya hitam sebahu yang ia ikat sehingga memperlihatkan leher jenjangnya, wajahnya putih cantik seperti Abel, dan gadis itu tepat berdiri di depan Arya sekarang dengan pakaian tanpa lengan dan celana pendek di atas lututnya, yang memperlihatkan paha mulusnya yang putih itu.
Arya segera mengalihkan pandangannya dari gadis itu, ‘astaga,, kenapa perempuan suka sekali berpakaian menggoda seperti ini sih’ keluh Arya di dalam hatinya.
“Abelnya ada dek?” tanya Arya sembari menatap ke arah motornya.
Sementara adiknya Abel menatap panjang ke arah wajah Arya, ia seperti mengagumi raut wajah Arya yang tampak tampan dengan kulit kuning langsatnya, matanya menatap dalam wajah itu dan mengangumi tubuh Arya yang tampak ideal itu, ‘kenapa laki-laki tampan yang datang kesini selalu mencari kak Abel sih, sesekali nanyain aku gitu, lagian kak Abel kan sudah punya calon suami setampan bang Tomy’ kesal adik Abel di dalam hatinya.
“bentar ya bang, aku panggili dulu kak Abelnya” jawab adik Abel dengan ramah pada Arya.
Selang 10 menit kemudian, Abel sudah berdiri di dekat pintu dan melihat ke arah punggung Arya yang masih memperhatikan halaman rumah Abel, Arya ingin melihat konsep taman itu untuk menjadi bahan masukan bagi rancangannya selanjutnya.
“Maaf, anda cari saya?, ada perlu apa ya?” tanya Abel dengan nada tenangnya.
Arya kemudian membalikkan badannya, dan ia dapat melihat mata Abel yang merah dan sembab, bahkan di mata itu masih terlihat air mata yang masih mengenang.
“kamu habis nangis Bel?”
.
.
.
.
.
.
.
Sama kayak judul episode ini, aku ingin baca komentar kalian untuk karyaku, jangan lupa like, komen dan votenya ya,,
__ADS_1