
Arya duduk di meja makan sembari melihat Mila yang tengah memasak. Gadis itu bersikeras ingin memasak untuk Arya, padahal Arya sudah melarangnya untuk tidak kelelahan.
Arya melihat Mila dengan tersenyum. dulu dia berpikir tidak akan pernah ada di situasi seperti itu, rasanya hal itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dulu dia pernah melihat Vanessa memasak sembari membayangkan ia tengah membantu Mila memasak.
Sekarang hal itu telah menjadi kenyataan, Mila benar-benar memasak untuknya, Arya kemudian berdiri dan menghampiri Mila untuk mewujudkan khayalannya itu, " mau Abi bantu Mi?".
Mila menoleh kepada Arya yang berdiri di sampingnya, "nggak usah bi" jawab Mila. "umi ingin masak sendiri buat Abi ".
"Abi bantu ya Mi, nanti umi kelelahan, kasihan malaikat kecil kita "
"enggak kok bi, ini kerjanya nggak berat kok, umi bisa sendiri, abi duduk aja ya "jawab Mila.
Arya melepas nafas panjang, ia kemudian memeluk Mila dari belakang. Arya mencium jilbab Mila dengan dalam, tangannya melingkar di perut Mila yang mulai membesar. Arya kemudian mencium tengkuk Mila.
"ih Abi, geli ih " Mila mengangkat bahunya agar Arya melepaskan ciumannya, "udah bi, umi geli"
Arya melepaskan ciumannya, "umi Abi bantu ya, Abi nggak ingin umi kelelahan "Arya kemudian melepaskan pelukannya, ia mulai mengambil sendok masak dari tangan Mila.
Mila mengalah, ia kemudian memilih untuk mengiris bawang. "Abi nggak papa bantu umi masak kayak gini? "
"enggak apa-apa, Mi"
Mereka kemudian memasak berdua sembari bercanda tentang banyak hal, menikmati kebersamaan mereka.
Setelah selesai memasak, Arya dan Mila kemudian makan berdua. Kepiting merah yang mereka masak, mereka makan dalam satu piring yang sama, mereka saling menyuapi satu sama lain.
"enak nggak bi?" tanya Mila.
"enak Mi, kita kan masaknya berdua "
__ADS_1
"ihh Abi sukanya muji terus, kritik kek sesekali, biar umi bisa lebih baik lagi "ucap Mila sedikit cemberut.
"ya memang enak Mi, gimana mau kritiknya"
"iya iya, abi sukanya muji terus " ucap Mila sembari menyuapi Arya.
Arya juga menyuapi Mila, tangan mereka saling berada di mulut satu sama lain, mata mereka saling bertatapan. Arya tersenyum, ia kemudian menggigit tangan Mila dengan pelan.
"ihh Abi,, sakit tahu "ucap Mila sembari membalas gigitan Arya dengan menggigit tangan Arya yang ada di mulutnya.
Arya tertawa tipis, " tuh kan Abi, sukanya nya ngusilin umi terus" pipi Mila membulat sempurna, ia semakin cemberut. padahal suasana mereka sudah lumayan romantis tadi.
Arya kemudian mencubit pipi itu dengan tangan kirinya. "ih umi gemesin terus sih" ucap Arya dengan nada menggoda.
Mila hanya diam, ia kemudian kembali menyuapi Arya.
"Abi sayang sama umi "ucap Arya, "terus kayak gini ya Mi sampai kita tua nanti"
"iya mau gimana lagi mi, Abi kan sayangnya tiap hari sama umi, jadi ucapin nya juga harus hari dong " jawab Arya dengan tersenyum.
Mila hanya memasang wajah datar mendengarnya, namun di hatinya, ia merasakan sangat bahagia, disayangi oleh orang yang ia cintai setiap hari.
"kakek sama kak Vanessa belum pulang Mi?" tanya Arya.
"iya bi, biasanya pemeriksaannya emang sedikit lama" jawab Mila, "kakek setiap kontrol memang lama bi"
Arya menarik nafas kasar, besok adalah rapat pemegang saham di adinata group. Dia sudah mempersiapkan banyak hal, dan sekarang Ia hanya bisa berdoa agar apa yang ia lakukan dengan sahabat-sahabatnya dapat membuahkan hasil yang mereka inginkan.
Arya menatap dalam wajah Mila yang masih menyuapinya, ia benar-benar menyayangi gadis itu. "Mi, jika nanti Abi jadi CEO, apa umi tidak keberatan jika kesibukan Abi nanti akan membuat waktu untuk umi menjadi banyak berkurang" tanya Arya dengan pelan.
__ADS_1
Mila menarik nafas dalam, jika boleh egois ia ingin Arya selalu ada di sisinya. Bahkan kalau bisa 24 jam tidak pernah meninggalkannya.
Tapi dia juga sadar, suaminya dibutuhkan banyak orang. terutama orang-orang di adinata grup yang berharap banyak kepada Arya.
"umi ngerti kok bi, nggak cuman umi yang butuh Abi," jawab Mila "umi akan selalu dukung Abi apa pun yang Abi kerjakan, umi akan selalu ada buat Abi, tetap di sisi Abi apapun yang terjadi, seperti kata Abi dulu kita akan selalu untuk saling menggenggam tangan kita sampai maut memisahkan"
Arya tersenyum mendengarnya "terima kasih umi, umi udah mau ngertiin Abi, Abi cinta sama umi, Abi janji Abi nggak akan ngecewain umi"
"ih Abi, Abi emang paling bisa buat umi gede rasa kayak gini"
Arya hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.
Setelah selesai makan, Arya membantu Mila untuk mencuci piring, Mila tidak diizinkannya untuk membantu sedikitpun. Mila duduk di kursi menatap punggung Arya yang sedang mencuci piring bekas makan mereka.
"umi nggak mau makan nasi, ma masa kita hanya makan kepiting aja kayak gini" ucap Arya yang menyadari Mila melihat dirinya.
"nggak bi, umi enggak selera makan nasi sekarang" jawab Mila.
"ya udah, nanti kalau umi lapar langsung bilang ke Abi ya, Abi nggak ingin umi dan malaikat kecil kita kenapa-napa" jawab Arya.
Setelah selesai mencuci piring, Arya menemani Mila untuk tidur di kamar. Arya membelai kepala Mila yang tidur di pahanya, sementara iya bersandar di ujung ranjang. mereka berbicara tentang banyak hal, mulai dari rencana mereka ke Paris sampai hal-hal kecil tentang kebutuhan bayi yang harus mereka beli.
Mila akhirnya tertidur dengan belaian lembut Arya di kepalanya, sementara tangannya memeluk tangan Arya yang lain yang ada di perutnya.
Setelah Mila tidur Arya, dengan hati-hati memindahkan kepala Mila dari pahanya ke bantal. Arya kemudian bangkit menuju meja hias Mila.
Disana ia melihat ponselnya, ia membaca laporan yang masuk kepadanya, ia harus bersiap-siap untuk hari besok. Hari dimana posisinya sebagai CEO akan dipertaruhkan. Hal tersebut juga akan mempertaruhkan nama keluarga adinata yang ia sandang.
Arya membaca pesan dari Ari, laki-laki itu mengatakan bahwa Arya harus bisa menarik perhatian pemegang saham saat diberi kesempatan memberi ucapan sambutan. Arya menarik nafas kasar, ia kemudian membuka pesan dari Arbi. Pemegang saham luar negeri hampir semuanya memberikan dukungan bagi Arya dengan sedikit kompensasi untuk suara mereka.
__ADS_1
Arya kemudian membuka pesan Rena, semua masalah perusahaan ia kirim dalam beberapa file. Serta pesan Rita yang mengiriminya teks singkat untuk sambutan besok.
Bebasnya sekretaris Arjun benar-benar membuatnya senang, tidak hanya menepati janjinya kepada Rita, tetapi juga membantu Rita untuk belajar lebih banyak lagi untuk menjadi sekretaris yang bisa diandalkan oleh Arya.