
Setelah puas meratapi mayat istri dan putrinya, setelah air matanya hampir kering diperas, perlahan Paman Killian menolehkan wajahnya pada Pejabat Choman yang masih saja tertawa-tawa.
Lalu sepasang matanya yang masih berderai air mata menatap tajam pada Pejabat Choman dengan sorotan kebencian dan dendam membara.
"Kubunuh kamu, Choman!"
Dibarengi teriakan mengelegar dia berlari ke arah Pejabat Choman hendak menuburuknya dengan kuat.
Meski tidak punya beladiri, tapi dia mempunyai tubuh yang kekar dan fisik yang kuat.
Meski tidak mempunyai beladiri, tapi setidaknya dia bisa menubruk Paman Choman bagai banteng menyeruduk.
Namun dia cuma mampu berpikiran cetek. Dan Pejabat Choman sudah bisa membaca gerakan Paman Killian.
Orang tua bejat itu cuma menggeser tubuhnya ke samping kiri selangkah seraya memutar tubuhnya sedikit, dia sudah mampu menghindari serudukan Paman Killian.
Lalu telapak tangan kanannya terayun dengan cepat dan langsung menghantam punggung Paman Killian dengan cukup keras. Sehingga tubuh Paman Killian semakin deras meluncur ke depan.
Tenaga serudukan Paman Killian memang cukup kuat. Ditambah lagi tenaga dorongan telapak tangan Pejabat Choman. Hingga dinding rumahnya yang terbuat dari papan langsung jebol berantakan.
Braaak!
Begitu keluar dari lubang dinding rumahnya yang jebol besar, tubuh Paman Killian masih meluncur ke depan. Hingga akhirnya dia jatuh terjerembap di atas tanah di halaman rumahnya.Namun Paman Killian seakan tidak perduli akan rasa sakit apalagi mengadu kesakitan.
Kebetulan di dekat dia jatuh ada parang tergeletak di situ. Sebelum berdiri dia meraih parang itu. Setelah berdiri dia langsung membalikkan badan menghadap pada Pejabat Choman dan keempat pengawalnya yang sudah keluar dari dalam rumah.
Pejabat Choman masih saja tertawa-tawa yang nadanya sungguh memuakkan.
Dengan mata nyalang dan teriakan yang menggelegar Paman Killian langsung menyerang lagi Pejabat Choman sambil mengacungkan parang di tangan kanannya.
Begitu sudah dalam jangkauan serangan, dengan kuat parang di tangannya diayunkan membabat berkali-kali tubuh Pejabat Choman. Sedangkan Pejabat Choman membiarkan saja tanpa menghindari sambil terus tertawa-tawa.
Namun jangankan parang itu melukai tubuh Pejabat Choman, menggores sedikit saja tidak. Seolah-olah Paman Killian membabat sesuatu yang kenyal dan alot.
Bukan berarti parang itu tumpul atau tenaga babatan Paman Killian lemah. Namun tenaga dalam Pejabat Choman yang disalurkan ke tubuhnya cukup tinggi, sehingga tubuhnya tidak mempan terbabat senjata tajam.
Begitu Paman Killian hendak menghantamkan parangnya ke kepala Pejabat Choman, dengan cepat pejabat culas itu menangkap parang itu dengan mudah.
"Kamu sudah berani membangkang terhadapku," kata Pejabat Choman bernada dingin. "Maka kali ini tidak ada ampun lagi bagimu, meskipun kamu keponakanku."
Lalu telapak tangan yang menangkap itu menekan parang itu dengan kuat hingga patah menjadi beberapa bagian.
Tentu saja Paman Killian terperangah bukan main parang di tangannya dengan muda dihancurkan oleh Pejabat Choman. Namun keterperangahannya tidak berlanjut lama karena Pejabat Choman mendupak dadanya dengan kuat.
Dughk!
"Akh...!"
Begitu kuat dan keras tendangan Pejabat Choman mendupak dada Paman Killian, hingga membuat Paman Killian terlontar ke belakang cukup jauh.
Mulutnya yang menjerit agak keras memuncratkan darah hingga menjiprat ke udara. Menandakan dia langsung mengalami luka dalam yang cukup parah.
Begitu tubuhnya jatuh terlentang ke tanah halaman rumahnya terdengar bunyi gedebuk yang cukup keras bercampur dengan pekikan kesakitannya yang tertahan.
Sejenak Paman Killian tidak bergerak. Tapi dadanya yang terasa amat sakit tampak turun naik dengan cepat. Napasnya tampak tersenggal-senggal.
Sedangkan Pejabat Choman mengibaskan tangannya yang terangkat ke depan, sebagai isyarat bahwa acara selanjutnya diserahkan kepada keempat pengawalnya.
Dan keempat jawara itu segera melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Dengan langkah lebar mereka menghampiri Paman Killian yang bersusah payah hendak bangkit. Dan dengan sadis mereka langsung melakukan aksi penyiksaan terhadap lelaki malang itu.
Dengan tanpa belas kasihan keempat jawara itu mematahkan kedua tangan dan kedua kaki Paman Killian. Menendang serta menginjak tubuhnya yang sudah tak berdaya bagai menyiksa anjing buduk.
Setelah puas melakukan aksi biadab, salah seorang jawara mencabut pedangnya hendak menggorok leher Paman Killian. Namun Pejabat Choman segera mencegatnya.
"Sudah! Biarkan dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu!"
"Ayo, kita tinggalkan tempat ini!"
__ADS_1
Setelah berucap demikian Pejabat Choman langsung berkelebat meninggalkan kediaman Paman Killian yang sederhana. Sedangkan keempat pengawalnya mengikuti dengan segera.
Tinggallah Paman Killian yang masih terkapar di halaman rumahnya dalam keadaan antara hidup dan mati. Kondisi tubuhnya sungguh mengenaskan.
Kedua tangan dan kakinya patah-patah. Sebagian tulang rusuknya juga patah. Dadanya agak melesak masuk. Kepalanya bocor hingga mengeluarkan darah. Mukanya yang belepotan darah tampak hancur babak belur.
Sungguh tragis!
★☆★☆
Seorang pemuda tampan tampak berjalan ringan menuju kediaman Paman Killian. Dia berambut panjang sebahu yang sebagiannya dikuncir dan ditata cukup rapi di atas kepalanya. Sekelompok kecil anak rambut depannya sebelah kiri menjuntai di depan wajah tampannya.
Berpakaian rangkap dengan baju luar berupa pakaian panjang dan lengan panjang warna biru langit. Bajunya tampak polos saja, tak ada corak sedikitpun. Pinggang bajunya terlilit kain panjang warna merah gelap.
Pemuda tampan berbadan kekar itu tidak lain adalah Dhafin alias Ghavin Aldebaran yang dijuluki Pangeran Pusat.
Kenapa pemuda itu bisa sampai di sini? Tentu ada latar belakangnya.
Sewaktu dia minggat dari halaman penjara bawah tanah dengan menggunakan teleportasi, sebenarnya kekuatannya belum pulih benar.
Di samping harus menyembuhkan dirinya terlebih dahulu, kemudian berlanjut beradu kesaktian dengan Putri Rayna, tenaga dalamnya benar-benar dikempos habis-habisan.
Hampir saja dia kalah kalau tidak dibantu oleh gurunya yang menjelma menjadi Pedang Akhirat, pedangnya.
Akhirnya dengan sisa-sisa tenaganya dia harus menyelamatkan diri dari orang-orang Kerajaan Amerta yang mengepungnya melalui teleportasi.
Tapi karena kesaktiannya waktu itu tidak stabil, maka dia terpesat secara acak tanpa bisa menentukan dia akan muncul di mana.
Kebetulan dia terpesat di tengah hutan yang awalnya dia tidak tahu sedang berada di wilayah mana saat itu.
Ketika terpesat secara acak di wilayah itu, hal yang pertama kali dia lakukan adalah bersemedi, memulihkan tenaganya yang belum pulih benar. Beruntungnya luka-luka di tubuhnya telah selesai disembuhkan.
Dhafin bersemedi dari pagi buta hingga senja telah tiba. Pada saat itu seluruh tenaga dan kondisinya telah kembali seperti sedia kala. Setelah itu dia pergi ke perkampungan untuk mencari tahu di mana dia berada.
Ternyata dia berada di wilayah barat Kerajaan Bentala. Kebetulan dia ada rencana mau mengembara ke wilayah ini. Maka untuk sementara dia melupakan dulu pasukan istana Kerajaan Amerta dan penolongan terhadap Raja Darian Cashel.
Maka setelah dia bertanya kepada penduduk kampung, dia langsung menuju kampung tersebut. Yang akhirnya dia sampai di kediaman Paman Killian siang hari bolong begini.
Dari kejauhan Dhafin sudah melihat kediaman Paman Killian yang pintunya terbuka lebar. Tapi bukan pintu rumah Paman Killian yang menjadi perhatian Dhafin. Melainkan sesosok tubuh yang tergeletak di halaman.
Dengan mempercepat langkah Dhafin menuju ke sosok yang tergeletak itu yang tak lain adalah Paman Killian. Begitu sampai dia langsung memeriksa kondisi Paman Killian yang begitu parah.
Dhafin berkesimpulan kalau lelaki itu sudah tidak ada lagi harapan hidup. Tapi dia mencoba menyalurkan tenaga dalam ke dalam tubuh lelaki itu.
Tak lama kemudian Paman Killian mendusin dengan terbatuk beberapa kali. Setelah itu menatap Dhafin beberapa saat lamanya. Lalu tercetus dalam ucapannya yang lemah sebuah nama yang membuatnya terus dihantui dosa dan rasa bersalah sepanjang hidupnya.
"Ka...kanda Ghazam...?! Kamukah itu?"
Tentu saja Dhafin terkejut mendengar Paman Killian menyebut nama ayahnya.
Gurunya memberi tahu kalau nama orang yang ditemuinya ini adalah Pangeran Killian. Tapi gurunya tidak memberi tahu latar belakang Pangeran Killian. Dan dia juga tidak tahu siapa itu Pangeran Killian.
Namun kenapa Pangeran Killian ini mengetahui nama ayahnya?
Dari nada ucapannya meskipun tengah kepayahan, Dhafin dapat mengetahui kalau Pangeran Killian cukup mengenal ayahnya.
"Maaf, apakah paman adalah Pangeran Killian?" tanya Dhafin dengan nada hati-hati, ingin memastikan.
"Ya, aku Killian, Kanda," sahut Paman Killian bernada lemah tapi mengandung kesedihan. "Apakah kamu tidak mengenalku lagi?"
Dhafin kini telah yakin kalau telah bertemu dengan orang yang tepat. Orang yang akan menerangkan siapa dan di mana saudara perempuannya.
"Maaf, Paman, saya bukan Pangeran Ghazam," ungkap Dhafin mengakui.
"Kenapa kamu bicara begitu, Kanda?" kata Paman Killian semakin bersedih. "Bukankah aku sudah mati dan bertemu denganmu?"
"Paman belum mati dan bukan bertemu dengan Pangeran Ghazam," kata Dhafin mencoba meyakinkan.
__ADS_1
"Lantas kamu siapa kalau bukan Kanda Ghazam? Kenapa kamu begitu mirip dengannya?"
"Saya putra Pangeran Ghazam, Paman," ungkap Dhafin bernada lirih mengakui.
★☆★☆
Ditatapnya Dhafin lekat-lekat seakan lebih meyakinkan penglihatannya karena sudah cukup nanar.
"Kamu... putra Kanda Ghazam?!" kata Paman Killian sebenarnya terkejut bercampur gembira. Tapi kondisinya amat lemah, tidak sanggup mengekspresikannya.
"Benar, Paman, saya putra Pangeran Ghazam," ulang Dhafin lebih meyakinkan.
"Wajahmu begitu mirip dengannya, tapi sepasang matamu lebih mirip dengan Ayahanda Yang Mulia. Kalau begitu kamu adalah Pangeran Ghavin Aldebaran. Apakah betul?"
"Betul, Paman, saya adalah Ghavin Aldebaran," kata Dhafin berterus terang yang sebenarnya dia enggan mengakui kepada sembarang orang.
"Sungguh Engkau Maha Kuasa dan Maha Adil, wahai Penguasa Langit," kata Paman Killian bernada bahagia bercampur haru. "Ternyata Engkau tetap menghidupkan orang yang akan mensucikan kerajaan ini dari kehinaan."
"Tolong bawa aku ke dalam rumah, Nanda!" pinta Paman Killian masih bernada lemah. "Aku akan menceritakan kepadamu apa yang kamu harus ketahui."
Tanpa membantah Dhafin segera mengangkat tubuh Paman Killian dan membawanya ke dalam rumah.
Begitu sampai di dalam Dhafin langsung menemukan 2 sosok mayat yang tergeletak di tengah ruangan. Tampak leher mereka yang hampir putus mengalirkan darah segar. Tubuh mereka yang bugil ditutupi oleh kain seadanya.
Dengan perlahan Dhafin membaringkan tubuh Paman Killian di samping istrinya. Setelah itu Dhafin mencoba untuk menyembuhkannya lagi. Tapi Paman Killian menolaknya dan langsung memenuhi janjinya.
Lalu dia menceritakan mengenai penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh ibunya, pamannya, dan kakaknya bersama ribuan pasukan mereka secara garis besarnya, serta beberapa peristiwa tragis yang terjadi yang sebenarnya Dhafin sudah tahu.
Lalu dia memberitahukan nama-nama keluarga yang masih hidup yang masih dicari oleh Selir Agung Hellen, ibunya.
Dan mengungkapkan bahwa Pangeran Ghavin Aldebaran dan Pangeran Revan Abrisam sudah dinyatakan tidak ada alis mati.
Dan ada lagi yang masih hidup tapi luput dari pengetahuan Selir Agung dan orang-orangnya. Yaitu putri Pangeran Ghazam dari Selir Khandra Fidelya yang bernama Putri Kayshila Dellia.
"Anak malang itu lahir di kampung ini setelah ibunya, Dinda Khandra mengandungnya selama 9 bulan lebih dengan susah payah...."
"Setelah merawat Kayshila selama 2 tahun, Dinda Khandra terpaksa harus melepaskannya pergi bersama pelayannya demi keselamatan Kayshila kecil...."
"Setelah itu Dinda Khandra pergi entah ke mana. Tahu-tahu setahun kemudian aku mendengar kabar dia terbunuh oleh pasukan ibuku."
Dhafin tidak terlalu terkejut saat mengetahui Kayshila adalah adiknya seayah. Karena sudah punya firasat ketika mendengar cerita Gibson.
Tapi dia tetap tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Seorang gadis yang dia sudah cintai sebagai seorang kekasih ternyata adalah adiknya seayah. Tanpa terasa air matanya keluar lantaran amat sedih bercampur duka.
Setelah puas menuturkan riwayat keturunan Raja Neshfal Abraham, baik yang sudah mati dan yang masih hidup meski dengan susah payah, Paman Killian kembali menatap Dhafin. Lalu berkata dengan nada suara yang semakin lemah.
"Nanda Ghavin, aku mohon padamu untuk mencari Nanda Kayshila adikmu. Lindungi dia dari cengkeraman neneknya yang jahat dan Paman Choman yang cabul itu...."
"Paman tenang saja," kata Dhafin menenangkan Paman Killian di tengah kedukaannya," aku sudah menemukan Dinda Kayshila dan dia dalam keadaan baik-baik saja."
"Syukurlah, syukurlah...," ucapnya begitu senang bercampur haru meski dengan susah payah mengekspresikannya.
"Sekarang tugasmu untuk mencari keluargamu yang lain," ucap Paman Killian dengan suara semakin lemah. "Bergabunglah dengan mereka untuk menyusun kekuatan dalam merebut kembali hakmu atas negeri ini...."
"Kamu adalah Pangeran Agung, pewaris tahta Kerajaan Bentala yang sah...."
"Paman tenang saja, aku akan melaksanakan semua pesan paman," kata Dhafin makin dikuasai keharuan akan suasana seperti ini.
"Kalau begitu aku bisa mati dengan tenang...."
"Ayahanda Yang Mulia..., akhirnya aku menyusulmu," kata Paman Killian dengan suara pelan sambil menatap ke arah atas seolah menatap langit.
"Akhirnya aku menyusulmu, Ayahanda Yang Mulia...."
Paman Killian menutup akhir hidupnya sambil tersenyum bahagia. Bahagia karena telah melewati penderitaan hidup. Bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan ayahnya, Raja Neshfal.
Sedangkan Dhafin memeluk erat Paman Killian sambil terus menangis lirih. Hatinya semakin bersedih melepas kepergian Paman Killian yang ternyata adalah pamannya. Paman yang tidak ikut campur atas tragedi berdarah pada 20 tahun yang lalu....
__ADS_1
★☆★☆★