
Mencari di mana keberadaan Dhafin bukan hal yang mudah bagi Putri Eveline Dayana. Sudah berhari-hari dia dan pengawal cantiknya yang bernama Zelyne mencari informasi di mana keberadaan Dhafin, belum juga mereka dapatkan.
Mereka sudah berkeliling di wilayah utara hingga ke barat laut Kerajaan Bentala mencari informasi tentang keberadaan Dhafin. Namun tetap saja mereka tidak mendapat informasi yang berarti.
Layaknya seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami.
Alih-alih mendapat informasi tentang keberadaan Dhafin, malah mereka mendapat informasi tentang terbunuhnya semua pasukan militer yang bermarkas di wilayah barat yang hendak bertolak ke kotaraja.
Markas militer di wilayah barat tepatnya di Kota Nehan, salah satu kota besar di Kerajaan Bentala.
Sementara lokasi pertempuran yang menjadi tempat pembantaian pasukan militer itu belum jauh dari batas Kota Nehan sebelah timur. Kira-kira berjarak 3 mil.
Kelompok mana yang melakukan pembantaian itu pihak Pejabat Kota Nehan mengatakan bahwa mereka adalah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Selir Heliana. Yang mana pasukan itu pula yang mengacau di Istana Kerajaan Bentala tempo hari.
Dan Putri Eveline menduga kuat kalau pelakunya adalah Dhafin dan kawan-kawannya.
Begitu mendapat berita tersebut mereka langsung ke tempat kejadian. Berita mereka dapatkan pada keesokan harinya.
Ketika sampai di sana mereka masih mendapati aktivitas para Prajurit Keamanan Kota Nehan mengevakuasi mayat-mayat pasukan militer itu.
Ketika Putri Eveline menanyakan berapa jumlah pasukan militer yang mati. Maka Kepala Keamanan Kota Nehan mengatakan bahwa mereka berjumlah sekitar 16000 lebih personil.
Dan ketika menanyakan berapa jumlah pasukan pemberontak. Maka Kepala Keamanan Kota menjawab bahwa mereka berjumlah kurang dari 5000 personil.
Tentu saja Putri Eveline terkejut bukan main. Tidak terkecuali Jenderal Zelyn, pengawal cantiknya.
Sebuah pasukan yang berjumlah kurang dari 5000 personil dapat mengalahkan sebuah pasukan militer yang sudah terlatih yang sangat banyak sungguh suatu hal yang luar biasa.
Putri Eveline benar-benar mengakui kehebatan Dhafin dan kawan-kawannya itu. Dia maupun Zelyne sudah melihat bagaimana kehebatan mereka waktu mengamuk di istana. Padahal jumlah mereka waktu itu cuma sedikit sekali.
Putri Eveline berpikir kalau kehebatan pasukan Dhafin dan kawan-kawannya itu berada di atas pasukan elit istana. Bahkan kehebatan para pendekar sekelas Dhafin dia perkirakan melebihi kehebatan para jawara istana.
Akankah Dhafin dan para pendekar sekelasnya dapat mengalahkan 3 saudaranya dan jawara yang sekelas 3 saudaranya, Putri Eveline belum bisa memperkirakan.
Pertarungan kecil antara Dhafin melawan 2 saudaranya; Pangeran Marvin dan Pangeran Cullen belum bisa diprediksi siapa yang unggul di antara mereka.
Yang jelas Pejabat Choman sudah bukan apa-apanya lagi para jawara sekelas Dhafin. Karena pejabat bejat itu telah dikalahkan dan dipermalukan oleh Dhafin.
__ADS_1
Putri Eveline dan Zelyne tidak bisa lama-lama di lokasi pembantaian itu.
Bukan apa-apa, mereka tidak tahan bau pada mayat-mayat pasukan militer yang sudah membusuk. Juga bau amis darah yang masih terasa.
Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
★☆★☆
Saat ini Putri Eveline dan Zelyne, Pengawal Pribadi-nya berada di wilayah bagian barat laut Kerajaan Bentala. Sudah cukup jauh dari Kota Nehan.
Mereka terus saja mencari keberadaan Dhafin di wilayah itu. Karena Putri Eveline menduga kalau dia merasa sudah mendapat titik terang di mana Dhafin dan kawan-kawannya berada.
Namun toh tetap saja mereka tidak bisa menemukan di mana Dhafin dan kawan-kawannya berada.
Akhirnya mereka beristirahat di sebuah kedai terbuka di ujung sebuah kampung. Sambil menyantap hidangan makan siang mereka saling ngobrol.
"Bagaimana, Nona?" tanya Zelyne sembari menyantap hidangannya. "Apa masih mau mencari Dhafin?"
Zelyne memanggil Nona pada majikannya itu, bukan memangil Tuan Putri atas permintaan Putri Eveline sendiri. Hal itu agar mereka tidak terlalu mencolok diluaran. Itupun mereka saat ini masih berpakaian kependekaran.
"Nona, kalau boleh aku sarankan sebaiknya hentikan saja pencarian ini!" kata Zelyne mengusulkan. "Aku merasa kamu terlalu berlebihan dalam mencarinya."
"Aku hanya penasaran saja akan kehebatannya, Kak Zelyne," kata Putri Eveline bernada santai. "Kalau sudah ketemu, aku ingin menantangnya bertarung. Aku ingin merasakan kehebatannya seperti apa."
"Dia pasti mengalahkan kamu, Nona," kata Zelyne seolah memperingatkan. "Sebaiknya tidak usah saja."
"Ah, kamu ini. Bukannya mendukung malah ingin menjatuhkan semangatku," gerutu Putri Eveline.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu kalau perbuatanmu itu sia-sia saja, Nona," kata Zelyne menasehatkan.
Mereka terus saja berbincang-bincang hingga hidangan mereka habis. Setelah itu Zelyne mengeluarkan beberapa keping uang logam, lalu menaruhnya di meja.
Setelah itu mereka berdiri dan melangkah meninggalkan kedai terbuka itu.
Sebelum beranjak tadi Zelyne masih sempat mengambil pedangnya yang tergeletak di pinggir meja. Sedangkan Putri Eveline tidak sempat. Sepertinya dia lupa.
Begitu mereka sudah beranjak 6 langkah seketika Putri Eveline teringat kalau dia belum mengambil pedangnya.
__ADS_1
Setelah meminta Zelyne berhenti dahulu, dia melangkah menuju meja di mana pedangnya tergeletak.
Tapi baru selangkah kakinya bergerak, seketika sebuah sosok bayangan hitam berkelebat amat cepat ke pedang Putri Eveline.
Melihat itu Putri Eveline lantas terkejut bukan main. Dan keterkejutannya itu membuat konsentrasinya buyar. Sehingga sosok bayangan hitam tadi berhasil mengambil pedangnya yang tergeletak di pinggir meja.
Selesai mengambil pedang si bayangan hitam kembali berkelebat dengan amat cepat. Tapi dia tidak meninggalkan tempat itu.
Begitu berjarak 4 tombak sosok bayangan hitam itu berhenti. Ternyata dia berpakaian agak longgar warna hitam. Kepalanya tertutup tudung kain yang bersambung dengan bajunya.
Belum jelas lelaki perempuannya sosok misterius itu. Apalagi separuh wajahnya tertutup masker. Makin tidak jelas dia siapa.
Sejenak dia menoleh ke belakang ke arah Putri Eveline dan Zelyne yang masih terkejut tidak percaya. Seolah diamnya itu memberi peluang bagi Putri Eveline dan Zelyne agar supaya bisa mengejarnya.
Sementara Zelyne seketika tersadar. Setelah itu menyadarkan Putri Eveline untuk mengejar pencuri pedang itu. Sedangkan sosok serba hitam itu bergerak melangkah cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
"Hey, jangan lari!" seru Zelyne meneriaki orang misterius itu.
Namun yang diteriaki seolah tidak menggubris. Dia terus saja melangkah cepat setengah berlari. Begitu Putri Eveline dan Zelyne berlari cepat mengejarnya, dia lebih dulu berlari dengan amat cepat.
Akan tetapi begitu dia sudah cukup jauh, dia sengaja memperlambat lari kencangnya. Seolah memberi peluang bagi Putri Eveline dan Zelyne untuk bisa mengejarnya.
Kejar mengejar antara Putri Eveline dan Zelyne dengan sosok misterius tidak dapat terelakkan lagi. Mereka berlari dengan jarak yang masih stabil. Dan hal itu seperti disengaja oleh sosok serba hitam itu.
Dari gelagatnya sosok serba hitam itu sepertinya mencuri pedang Putri Eveline hanyalah kedok belaka. Sepertinya dia hendak menggiring kedua gadis cantik itu ke suatu tempat tertentu. Entah dengan tujuan apa.
Tiba-tiba sosok serba hitam itu melenting cukup tinggi ke udara saat di depannya ada rumah penduduk.
Begitu ujung kaki kanannya menyentuh pinggir atap rumah tersebut, lalu kakinya itu menotok sekali hingga dia melompat ke tengah atap.
Kembali kakinya menotok hingga dia melompat atas atap yang paling tinggi. Kemudian kembali berlari melintasi atap rumah penduduk.
Terus saja berlari melintasi atap rumah-rumah penduduk. Sesekali dia menoleh ke belakang, melihat apakah Putri Eveline dan Zelyn masih mengejarnya atau tidak.
Dan tenyata mereka masih mengejarnya, juga melintasi atap rumah-rumah penduduk.
★☆★☆★
__ADS_1