
Suasana alam di siang itu tampak begitu kelam. Langit terbungkus awan kelabu gelap, begitu tebal begitu pekat. Keadaan alam ketika itu berubah temaram.
Entah saat ini matahari sudah berada di mana. Karena sinar terangnya tidak mampu menerobos ketebalan awan hitam kelabu yang amat tebal itu.
Sementara itu di sebuah dataran yang cukup luas yang dikelilingi oleh pepohonan yang cukup lebat, terjadi pertempuran yang begitu sengit. Tepatnya daerah itu masih dalam wilayah Kerajaan Amerta sebelah barat daya.
Yang mana pertempuran itu melibatkan begitu banyak pasukan di kedua belah pihak.
Pertempuran besar yang dilakoni oleh pasukan Istana Kerajaan Amerta melawan kelompok oposisi yang orang-orang istana sebut sebagai pemberontak.
Entah sudah berapa lama pertempuran itu berlangsung. Sementara di masing-masing pihak sudah tak terhitung jumlah korban nyawa yang bertumbangan.
Sementara pertempuran itu sendiri tampak tidak seimbang. Pasalnya, pasukan istana memiliki jumlah yang begitu banyak.
Meski pasukan mereka yang banyak mati, tapi karena jumlah mereka amat banyak, tetap saja masih unggul dalam jumlah.
Itupun masih ditambah dengan sekelompok pasukan istana yang berada agak jauh di luar arena pertempuran. Pasukan itu berjumlah sekitar 6.000 personil yang ditambah dengan 6 Kepala Pasukan.
Ditambah lagi seorang Komandan Perang yang ternyata belum ikut berperang.
Sedangkan pasukan kelompok oposisi jumlah pasukannya cuma separuh dari jumlah pasukan istana yang sedang bertempur. Itupun sudah ada yang gugur dan tidak sedikit.
Sebenarnya kehebatan kelompok oposisi rata-rata berada di atas pasukan istana. Namun karena mereka kalah jumlah, jadi mereka tampak sudah terdesak.
Apalagi pihak kelompok oposisi tidak ditunjang dengan strategi dan siasat perang yang jitu. Jadi terang saja mereka kalah meski memiliki ilmu yang hebat.
Dan saat ini kelompok oposisi itu berada di tengah pasukan istana yang mengepung rapat membentuk lingkaran bagai cincin. Dan terus saja merangsek maju hingga membuat pasukan kelompok oposisi semakin terjepit semakin terdesak.
Akan tetapi semangat juang para pasukan kelompok oposisi itu tidaklah surut. Mereka memang boleh didesak, tapi semangat tempur mereka tidak boleh terdesak.
Karena kalau sampai hal itu terjadi, tidak butuh waktu lama mereka akan binasa seluruhnya tanpa ada sisa.
Sang ketua kelompok, seorang lelaki tua berumur 50-an tahun, terus saja menyemangati pasukannya tanpa kenal lelah. Sembari demikian dia terus juga bergerak lincah memainkan pedangnya menghalau semua gempuran para jawara istana yang mengeroyoknya.
Tak perduli kalau belasan sayatan pedang telah bersarang di tubuh bongsornya. Tak perduli kalau dia sudah hampir bermandikan darahnya sendiri yang sudah bercampur dengan keringat.
Lelaki tua itu terus saja berperang seakan kelelahan telah hilang dari dirinya.
Namun tiba-tiba saja, di saat pasukan kelompok oposisi sudah terdesak hebat....
★☆★☆
Tiba-tiba dari 5 arah yang berada di belakang pasukan istana yang belum berperang melesat 5 energi sakti dengan amat cepat.
Lima kesaktian yang berbentuk bulat dengan berbagai ukuran itu melesat meluncur bagai meteor panas yang jatuh ke bumi.
Sementara, saking cepatnya luncuran 5 bola cahaya panas itu, tidak ada seorang pun pasukan istana yang belum berperang itu menyadari kedatangannya.
Sampai pun sang Komandan Perang yang terus menerus sumbringah melihat kinerja pasukannya tidak menyadarinya pula.
Sehingga tanpa ampun lagi 5 energi sakti itu menghantam pasukan istana itu di 5 tempat.
__ADS_1
Bola cahaya merah pekat jatuh di tengah-tengah pasukan, bola cahaya kuning kemerahan dan biru terang jatuh di kiri-kanan belakang pasukan, dan bola cahaya hitam terang dan kuning jatuh di kiri-kanan depan pasukan.
Buuummm....!
Duaaarrr...! Duaaarrr...!
Blaaarrr...! Blaaarrr...!
Seketika saja terjadi 5 ledakan amat dahsyat secara beruntun. Membuat alam sekitar terkejut mendengarnya. Termasuk semua peserta pertempuran, bahkan mereka amat terkejut.
Membuat langit seakan hendak runtuh, membuat bumi berguncang hebat bagai dilanda lindu.
Menciptakan gelombang ledakan gila-gilaan yang menebar ke segala arah. Membuat debu berhamburan sekaligus beterbangan ke udara.
Sedangkan pasukan istana itu langsung terlontar ke udara cukup tinggi bagai kapas sambil menjerit keras. Dan tidak lama mereka jatuh ke tanah dengan tanpa nyawa lagi saling tindih menindih.
Betapa dahsyatnya dan mengerikannya akibat yang dihasilkan dari 5 energi sakti tadi. Semua pasukan istana itu telah binasa tanpa ada yang sisa.
Sampai pun keenam kepala pasukan dan sang Komandan Perang ikut tumbang tanpa nyawa pula.
Sungguh malang nasib Komandan Perang itu. Dia telah mati dalam pertempuran tanpa sempat mencabut pedangnya.
Sementara itu, baik pasukan istana maupun pasukan kelompok oposisi masih dalam mode terkejut hebat. Pandangan mata mereka masih saja menatap kaget ke sumber ledakan.
Sedangkan sebagian pasukan istana yang berada di tentangan area ledakan langsung jatuh terpelanting akibat terhempas gelombang ledakan yang masih sampai di situ.
Belum juga suasana menegangkan sekaligus mengerikan itu berakhir, tidak lama kemudian melesat 5 sosok bayangan yang baru keluar dari dimensi kegelapan dengan amat cepat.
Setelah itu kelima sosok bayangan itu seketika melenting ke depan cukup tinggi, lalu lenyap bagai ditelan alam yang masih temaram itu.
Lalu, tidak butuh waktu lama hujan deras segede jagung langsung jatuh bagai ditumpah dari langit begitu saja.
Dan belum sampai 5 helaan napas hujan turun, 5 sosok bayangan tadi seketika muncul. Menyebar di 5 tempat yang cukup berjauhan di atas kepala pasukan istana.
Tentu saja kemunculan 5 sosok bayangan yang tidak lain adalah Dhafin, Gibson, Zafer, Hendry, dan Veron dengan cara aneh itu tidak ada seorang pun yang menyadari sebelumnya.
Sehingga pada gebrakan pertama mereka dapat berbuat sesuka hati.
Seolah telah bersepakat sebelumnya, kelima pemuda tampan itu seketika mendorong dengan kuat dan cepat telapak tangan kiri masing-masing ke bawah. Sehingga menciptakan hempasan gelombang angin cukup dahsyat.
Sehingga bukan saja derai hujan yang terhempas ke segala arah. Belasan pasukan istana yang berada di bawah masing-masing kelima pemuda itu seketika terpental cukup jauh ke segala arah.
Kejap berikutnya, tanpa menunggu pasukan bangun dari keterperangahan tentang apa yang terjadi, kelima pemuda itu langsung berkelebat dengan amat cepat.
Entah kapan memanggilnya, tahu-tahu di tangan kanan masing-masing sudah tergenggam senjata pedang mereka. Bergerak lincah dan cepat di antara para pasukan sambil mengayunkan pedang yang membawa maut.
Kejap berikut, kembali terdengar jeritan-jeritan kematian di 5 lokasi saling sahut-sahutan. Ditingkahi bercipratannya darah segar ke udara hingga bercampur dengan air hujan.
Menyusul berikutnya sosok-sosok tak bernyawa segera tumbang di atas tanah yang sudah basah.
★☆★☆
__ADS_1
Rupanya jeritan-jeritan kematian itu telah berhasil membangunkan keterperangahan semua pasukan dari kedua belah pihak.
Yang pertama tersadar dari keterkejutan adalah sang ketua berserta belasan jawara handalnya.
Mulanya sang ketua dibuat keheranan melihat Dhafin dan keempat rekannya tahu-tahu menyerang pasukan istana.
Jelas dalam benaknya bertanya-tanya, siapa kelima pemuda itu? Kenapa mereka seperti membantunya melawan pasukan istana?
Tapi sepertinya sang ketua tidak mau dulu terlalu larut memikirkannya. Tanpa berlama-lama dia dan belasan jawaranya langsung melenting ke arah pasukan istana sambil mengayunkan senjata mereka masing-masing.
Saking cepatnya gerakan ayunan pedang mereka, tahu-tahu puluhan pasukan istana telah tumbang tanpa nyawa dengan bersimbah darah.
Hingga tak lama kemudian, karena semua pasukan dari kedua kubu sudah tersadar dari keterperangahan, maka pertempuran yang sempat tertunda beberapa saat itu kembali tergelar.
Namun kali ini pertempuran berlangsung di bawah rinai hujan yang deras.
Di awal pertempuran pasukan istana yang sudah tidak punya pimpinan itu tidak bisa lagi mendesak pasukan kelompok oposisi, meski mereka belum bisa juga didesak.
Sepertinya air hujan merupakan sumber kekuatan baru bagi pasukan kelompok oposisi. Semangat tempur yang tadi nyaris kendur seketika bangkit kembali dengan cepat.
Sementara belasan jawara handal dari kelompok oposisi lagi melenting ke udara cukup tinggi. Lalu meluncur dengan cepat ke tengah-tengah pasukan istana. Terus bergerak cepat sambil mengayunkan pedang dengan lincah.
Tidak butuh waktu lama kembali terdengar jeritan-jeritan memilukan bagai tembang kematian yang menyayat hati.
Hingga akhirnya pertempuran belum ada satu penanakan nasi keadaan telah berubah. Formasi melingkar yang tadinya dilancarkan oleh pasukan istana kini berantakan.
Mereka harus membagi konsentrasi antara membendung gempuran 5 pemuda yang terus mengamuk dengan membalas serangan pasukan oposisi.
Bahkan sebagian di antara sudah bercabang pikirannya, antara mau melarikan diri atau terus bertempur. Pasalnya, Komandan Perang mereka sudah binasa tanpa perlawanan sedikitpun.
Hingga tidak butuh waktu lama pasukan istana yang sudah bercabang-cabang pikirannya sudah terdesak, padahal jumlah mereka masihlah tergolong banyak.
Namun karena terus menerus bertumbangan dalam waktu cukup cepat, maka jumlah mereka sekarang lebih sedikit dari jumlah pasukan oposisi.
Rupanya kehadiran Dhafin dan keempat rekannya sungguh membawa dampak besar bagi pasukan istana. Lebih tepatnya membawa kerugian besar.
Dhafin dan rekan-rekannya terang-terangan berpihak kepada pasukan oposisi. Membasmi pasukan istana tanpa kenal ampun.
Sehingga membuat pasukan istana seakan tak berdaya menghadapi setiap gempuran dahsyat kelima pemuda itu.
Perlu diketahui bahwa kelima pemuda itu termasuk 5 ksatria andalan Istana Centauri. Kehebatan masing-masing mereka sudah tidak diragukan lagi.
Oleh karena itu, tidaklah heran kalau pasukan istana dalam waktu yang tidak lama sudah terdesak. Apalagi pasukan oposisi yang memang rata-rata memiliki kehebatan di atas pasukan istana.
Sementara itu waktu terus berjalan yang sepertinya sudah menjelang sore hari. Sedangkan langit yang kelam masih saja terus menangis menumpahkan air hujan yang deras.
Keadaan areal pertempuran sudah tampak menjijikkan sekaligus mengerikan. Ribuan mayat berserakan di mana-mana tak tentu arah. Saling tumpang tindih seolah tumpukan sampah yang menjijikan.
Bahkan sebagian mereka terendam dalam genangan air hujan yang warnanya bukan lagi kuning tanah. Akan tetapi sudah berwarna merah kecoklatan akibat telah bercampur dengan darah.
Sementara pasukan istana terus saja berguguran seakan tidak kenal berhenti. Hingga tak lama kemudian semua pasukan istana telah terkapar menjadi mayat. Tidak ada yang tersisa walau seorang pun.
__ADS_1
Sedangkan pasukan kelompok oposisi, yang binasa hampir mencapai setengahnya dari seluruh jumlah pasukan yang berperang.
★☆★☆★