
Malam masih setia menemani kotaraja seakan malam ini merupakan malam yang panjang. Hawa dingin semakin menggila menebar ke segala arah. Saat ini waktu sudah menunjukkan dini hari.
Kala itu sekitar 6.000 lebih pasukan militer istana sudah mengepung seluruh areal bangunan penjara bawah tanah. Tak ada celah sedikit pun untuk meloloskan diri.
Ditambah lagi sekitar 2000 pasukan pemanah yang tidak jauh dari situ yang sudah siap membidik ke arah pintu utama bangunan.
Tampak seorang pemuda tampan namun angkuh berdandan keren ala penguasa berdiri menatap nyalang pintu masuk penjara. Wajahnya yang dingin menyiratkan kekejaman akan sifatnya. Dia tak lain adalah Raja Adrian.
Di samping kirinya berdiri seorang wanita muda yang amat cantik yang tampak berumur 30 tahun. Dia berpakaian indah penuh keeleganan. Sikapnya pun tampak lemah lembut.
Tapi siapa sangka di balik kelembutan sikapnya itu tersembunyi sifat kejam dan kemesuman. Umurnya sebenarnya sudah ±57 tahun. Tapi masih doyan mengumbar nafsu birahinya. Dan pasangan mesumnya dipilihnya perjaka muda. Benar-benar edan!
Wanita tua yang tampak bagai gadis berumur 30 tahun itu tidak lain adalah Bunda Suri, Putri Rayna Cathrine.
"Apa kamu yakin penyusup itu masih ada di dalam, Bibi?" tanya Raja Adrian bernada dingin sambil melirik wanita itu.
"Aku yakin mereka masih ada di dalam," sahut Putri Rayna bernada lembut penuh elegan. "Karena aku sudah mengurung bangunan itu dengan segel khusus."
"Maksudmu?" tanya Raja Adrian belum paham.
"Mereka tidak bisa keluar dari bangunan itu walaupun menggunakan teleportasi," kata Putri Rayna menjelaskan. "Mereka hanya bisa keluar melalui pintu yang sudah aku atur, yaitu pintu utama bangunan itu."
Tapi aku belum bisa melacak siapa mereka," lanjutnya.
"Berarti penyusup itu masih lebih hebat daripada kamu, Bibi," dengus Raja Adrian bernada melecehkan.
"Mereka menyegel Aura Sukma-nya," kata Putri Rayna tidak tersinggung atas penghinaan keponakannya itu. "Jadi aku tidak bisa melacak mereka. Tapi bukan berarti mereka lebih hebat daripada aku."
"Tapi apa kamu bisa memperkirakan siapa mereka, Bibi?"
"Aku punya firasat kalau salah satu di antara mereka adalah Dhafin," kata Putri Rayna seraya tersenyum sedikit aneh. Sepasang mata indahnya tak pernah lekang menatap pintu utama bangunan penjara itu.
"Apakah ada Brian?"
"Aku tidak tahu. Yang dalam pikiranku hanya Dhafin," aku Putri Rayna masih tersenyum. Di balik senyumnya itu jelas menyembunyikan suatu niat hebat terhadap Dhafin.
Raja Adrian terdiam sejenak, tidak bertanya lagi. Tapi beberapa saat kemudian dia bertanya.
"Apa menurutmu pembunuh Penyair Pemetik Bunga ikut berkomplot depan Dhafin dan sama-sama menyusup ke dalam?"
"Bisa jadi. Tapi hal itu tidak penting. Yang terpenting adalah Dhafin tertangkap."
"Aku menginginkan dia mati," dengus Raja Adrian bernada dingin penuh dendam.
Setelah itu dia melangkah menuju pintu utama penjara yang diikuti oleh 2 pengawal cantiknya serta beberapa Pengawal Khusus dan jawara andalannya.
"Mau ke mana, Nanda Adrian?" tanya Bunda Suri Rayna seraya menatap tajam pada Raja Adrian.
"Mau menjebol segel yang kamu bilang terpasang di pintu utama penjara," sahut Raja Adrian enteng sambil terus melangkah.
"Kenapa kamu begitu keras kepala," kata Bunda Suri Rayna bernada jengkel. "Segel yang dipasang di pintu itu bukan segel sembarangan."
"Aku tidak mau menunggu tikus keluar sendiri seperti saranmu."
Putri Rayna hanya bisa mengomel dalam hati menghadapi sikap keras kepala keponakannya itu. Dia hanya bisa berkata dengan nada kesal.
"Terserah kamu sajalah!"
★☆★☆
Sementara itu di dalam bangunan penjara Dhafin dan Gibson berkelebat naik menuju pintu utama penjara. Namun selagi mereka menyusuri lorong menuju keluar bangunan, dari jauh mereka sudah melihat pasukan istana berjubel di luar bangunan.
Seketika saja mereka berhenti berkelebat. Sejenak mereka masih melihat pasukan yang begitu banyak di luar sana. Sementara Dhafin dapat merasakan kalau bangunan ini telah terbungkus semacam segel ghaib.
"Bagaimana sekarang, Tuan Muda?" tanya Gibson meminta saran.
__ADS_1
"Kamu kembali dulu ke Kampung Naraya," kata Dhafin mengusulkan. "Nanti aku akan menyusul."
"Maaf, Tuan Muda, kali ini aku tidak bisa menuruti saranmu," tolak Gibson dengan tegas.
"Situasi saat ini sedang gawat, Gibson," Dhafin mencoba memberi pengertian. "Kalau kita tertangkap semua, siapa yang akan melapor kepada Yang Mulia Permaisuri tentang situasi saat ini?"
"Kenapa kamu tidak menyarankan agar kita sama-sama keluar dari sini melalui jalur lain, Tuan Muda?" kata Gibson seolah mengkritik saran Dhafin tadi.
"Kita tidak bisa keluar secara bersamaan melalui jalur teleportasi, Gibson," kata Dhafin menjelaskan. "Karena bangunan ini sudah terbungkus oleh mantra penyegel khusus."
"Tapi kamu bisa keluar dari mantra penyegel itu dengan dibantu oleh energi batinku," lanjutnya.
"Maaf, Tuan Muda, aku tetap tidak bisa menuruti saranmu," Gibson tetap pada pendiriannya.
"Gibson, cobalah mengerti akan situasi," Dhafin masih mencoba memberi pengertian.
"Lebih baik aku keluar dari sini dalam keadaan sudah jadi mayat daripada aku meninggalkanmu berjuang seorang diri melawan raja angkuh itu bersama pasukannya," kata Gibson dengan mantap.
Dhafin menatap Gibson lekat-lekat. Dia cukup merinding mendengar ucapannya yang mengagumkan itu. Ucapan jujur itu menunjukkan rasa kesetiakawanan sejati.
"Kamu masih punya junjungan yang kamu harus melaporkan hasil kerjamu kepadanya," kata Dhafin seraya kembali memandang ke luar bangunan. "Tidak terlalu penting kamu bersamaku di sini."
"Lagipula kamu bisa berunding dengan Brian dan yang lain bagaimana cara menyelamatkan Yang Mulia Raja Darian. Tapi kalau kamu ngotot bersamaku di sini, siapa yang akan mengabarkan tentang situasi terakhir di sini kepada mereka?"
Dhafin masih berusaha membujuk agar Gibson mau keluar dari sini. Tidak perlu mempertaruhkan nyawanya hanya untuk dirinya yang tidak ada apa-apanya.
"Tuan Muda, lebih baik kita pikirkan bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi pasukan raja angkuh itu daripada kamu terus membujukku," kata Gibson tidak mempan akan bujukan Dhafin.
Akhirnya Dhafin menyerah juga membujuk Gibson. Apalagi dia melihat Raja Adrian dan orang-orang hebatnya sudah mendekat ke arah pintu utama penjara.
Tak lama Dhafin dan Gibson kembali melangkah lebih mendekat ke pintu. Begitu berjarak 1 tombak dari ambang pintu mereka berhenti.
★☆★☆
Bersama Raja Adrian juga ikut Putri Rayna. Dia terpaksa ikut untuk menjaga jangan sampai Raja Adrian celaka.
Tanpa mau berlama-lama, salah seorang kepala pasukan memerintahkan 10 orang untuk menusuk ambang pintu dengan tombak. Tentu hal itu atas instruksi sang raja.
Tanpa menunggu perintah 2x mereka langsung melaksanakan perintah. Mereka langsung menusuk dengan sekuat tenaga ambang pintu masuk itu.
Namun mata tombak mereka seakan menusuk sesuatu yang amat keras. Bahkan mereka langsung terlempar ke belakang 2 tombak. Dan jatuh ke lantai halaman penjara sambil menjerit kesakitan.
"Apa kamu masih mau mencoba, Nanda Adrian?" tanya Putri Rayna seraya tersenyum sinis.
Raja Adrian hanya mendengus di hidung. Lalu dia perintahkan 2 orang jawaranya yang hebat untuk menghancurkan pintu yang tak terlihat itu.
Dua jawara yang ditunjuk segera melangkah cepat ke pintu. Begitu sampai mereka langsung melakukan gerakan telapak tangan tertentu hingga kedua telapak tangan mereka mengeluarkan sinar kekuatan.
Lalu secara bersamaan mereka menghantamkan kedua telapak tangan mereka ke ambang pintu. Namun hasilnya sungguh mengerikan.
Bukannya pintu tak berwujud itu yang hancur. Malah 2 jawara itu yang terlontar ke belakang cukup jauh sambil menjerit melengking tinggi. Tampak dada mereka hancur. Begitu jatuh ke lantai halaman penjara langsung mati.
Tentu saja Raja Adrian terkejut bercampur geram melihat kejadian itu. Sementara Putri Rayna cuma tersenyum sinis melihat kegagalan itu.
Tapi Raja Adrian yang masih penasaran masih belum puas akan kenyataan yang dia saksikan. Kembali dia titahkan 5 jawara hebatnya sekaligus untuk menghancurkan pintu tak berwujud itu. Tapi kali ini dihantam dari jarak jauh.
Namun hasilnya tidak jauh beda. Pintu tak berwujud tidak pula hancur. Hanya menghasilkan ledakan yang cukup bising di sekitar pintu.
Malah sinar kekuatan mereka mantul balik dengan kehebatan 2x lipat. Dan kecepatannya pula melebihi saat dihantamkan tadi. Sehingga kelima jawara itu terhantam pukulan jarak jauhnya sendiri tanpa sempat menghindari.
Mereka terlontar cukup jauh ke belakang sambil menjerit. Tampak 3 orang di antara mereka tubuhnya langsung gosong. Sedangkan yang duanya tampak muntah darah dengan dada berlubang. Begitu jatuh di lantai halaman mereka sudah dalam keadaan sudah menjadi mayat.
"Keparaaat...!"
Bukan main menggeramnya Raja Adrian melihat usahanya selalu gagal. Sehingga dia memaki dengan keras. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Usah apalagi lagi yang harus dia lakukan?
__ADS_1
"Coba kamu carikan solusi bagaimana menghancurkan pintu ghaib itu, Bibi," kata Raja Adrian seakan putus asa di tengah kemurkaannya.
"Jalan satu-satunya menghancurkan tembok di seputar pintu utama itu," kata Putri Rayna sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa dari tadi kamu tidak bilang hah?" berang Raja Adrian.
Tapi Putri Rayna tampak tenang saja dibentak seperti itu. Seakan sikap menghina Raja Adrian dianggap kentut saja.
Sementara Raja Adrian sudah bersiap-siap hancurkan tembok di sekitar pintu dengan ilmu kesaktiannya.
Tampak dia melakukan gerakan telapak tangan tertentu. Tak lama kedua tangannya sudah terbungkus sinar merah bagai bara yang berhawa panas. Setelah itu dengan serta merta dia mendorong kedua telapak tangannya ke tembok sebelah kanan pintu.
Duaarrr...! Blaaarrr...!
Terdengar 2 ledakan yang cukup keras nyaris bersamaan begitu 2 sinar merah memanjang itu menghantam tembok hingga hancur berantakan. Menghasilkan kepulan debu yang membumbung tinggi ke angkasa.
Tak lama kemudian, dari balik kepulan debu itu berkelebat dua sosok bayangan yang tidak lain adalah Dhafin dan Gibson. Dan kali ini mereka sudah menggenggam pedang pusaka masing-masing.
★☆★☆
Melihat Dhafin dan Gibson sudah berada di luar, Raja Adrian langsung tersenyum dingin. Segera dia hendak memerintahkan pasukan panah untuk memanah mereka.
Tapi Putri Rayna melarang. Dia malah memerintahkan pasukan istana untuk menangkapnya. Dan perintah itu yang dituruti oleh seluruh pasukan ketimbang perintah Raja Adrian.
Tidak dapat dihindari lagi pertempuran pasukan istana melawan 2 pemuda tampan langsung tercipta. Dan pertempuran belum begitu lama berlangsung korban sudah pada berjatuhan.
Tampak Dhafin dan Gibson mengamuk habis-habisan di tengah lautan pasukan. Setiap kali pedang angker mereka berkelebat, setidaknya lebih dari 5 nyawa segera tumbang.
Sehingga pertempuran baru berjalan sepenanakan nasi sudah ratusan lebih pasukan yang tewas akibat amukan kedua pemuda itu.
Namun gelombang pasukan seakan tiada henti-hentinya, terus saja menyerang pertahanan Dhafin dan Gibson.
Walaupun pedang angker mereka sudah banyak menelan korban, tapi mereka tidak bisa membendung banyaknya senjata tombak dan pedang yang mengarah ke mereka.
Tusukan demi tusukan tombak dan sayatan demi sayatan pedang telah bersarang di tubuh mereka seakan berlomba. Sehingga peluh bercampur darah telah menyatu membasahi tubuh mereka dan mengotori pakaian mereka yang sudah sobek sana-sini.
Namun semangat tempur kedua pemuda itu tidak kendur sedikit pun. Nyali kependekaran di dalam diri mereka tidak ciut sedikit pun. Seakan darah yang telah membasahi tubuh mereka sebagai penyemangat daya tempur mereka.
Pasukan istana sudah hampir mencapai 4000 yang mati. Sementara luka tusukan dan sayatan di tubuh kedua pemuda malang itu seakan hampir menyamai jumlah pasukan yang tumbang. Dan tentunya kondisi tubuh mereka semakin melemah.
"Mundur!"
Seketika Putri Rayna berseru cukup keras memerintahkan seluruh pasukan yang mengepung Dhafin dan Gibson untuk mundur. Dan dengan hati lega pasukan yang mengepung langsung mundur dengan cepat.
Mereka lega karena terhindar dari kematian. Mereka bergidik juga, meski lawan cuma 2 orang tapi separuh lebih pasukan telah dibunuh. Siapa yang tidak merasa ciut kalau begitu?
Begitu semua pasukan telah mundur, maka tampaklah Dhafin dan Gibson berdiri sempoyongan di tengah halaman penjara di antara lautan mayat pasukan istana.
Tak lama Dhafin maupun Gibson tampak limbung dan hampir jatuh ke atas mayat. Tapi dengan cepat ujung pedang mereka di tusukkan ke lantai. Sehingga mereka berdiri bertumpu pada pedang mereka.
Setelah itu mereka batuk-batuk hampir bersamaan. Dan bukannya dahak yang keluar melainkan darah. Tapi segera mereka menyeka dengan lengan baju yang sudah dikotori darah.
Tampak Dhafin beringsut mendekati Gibson yang setengah sadar di tempatnya. Seakan tak memperdulikan puluhan jawara mengepung mereka dan siap melayangkan senjata masing-masing.
Begitu sudah didekat Gibson, Dhafin langsung merapal suatu mantra yang seketika telapak tangan kirinya bersinar putih. Lalu dia menempelkan telapak tangannya itu ke punggung Gibson tanpa Gibson sadari.
Tentu saja Gibson terkejut. Tapi sekujur tubuhnya sudah terbungkus sinar putih tak dapat dia cegah. Begitu sinar putih lenyap Gibson sudah tidak ada lagi di sini.
Setelah itu Dhafin langsung jatuh terkapar di atas mayat. Kondisi tubuhnya semakin lemah. Luka sayatan dan tusukan yang tak terhitung di tubuhnya membuatnya amat menderita meski dia tidak merintih.
Begitu tubuhnya yang bersimbah darah terjatuh, pedangnya seketika lenyap. Sepasang matanya yang nanar semakin redup dan meredup.
Dan akhirnya semuanya hitam, semuanya gelap.
★☆★☆★
__ADS_1