
Di kamar pribadi Tuan Putri Aurellia, di istana kecilnya yang bernama Istana Kejora....
Tampak Putri Aurellia duduk bersandar di pembaringannya yang cukup luas dan megah. Kakinya yang melonjor lurus di dekat tepi pembaringan masih berkaus kaki. Karena dia memang duduk agak ke pinggir sebelah kanan.
Brian duduk di kursi dekat kepala pembaringan sebelah kanan. Dhafin duduk dekat tengah pembaringan sebelah kanan. Sedangkan Ariesha dan Grania duduk tidak terlalu jauh di belalang Dhafin.
Cuma dua pelayan setia Putri Aurellia yang bernama Namira dan Naifa yang duduk di lantai. Mereka duduk melutut tidak jauh di kaki pembaringan megah itu.
Saat ini Putri Aurellia sudah tidak lemas lagi karena Dhafin sudah memberi obat penguat kondisi tubuh. Dhafin juga sudah memberikan lagi obat anti nyeri.
Sehingga bukan saja bisa ular yang dia tidak rasakan nyeri lagi, tapi rasa perih dari luka-luka di tubuhnya juga tidak lagi dirasakan. Benar-benar ajaib obat pemberian Dhafin itu.
"Kuharap kamu tidak menyalahkan aku mengajak banyak orang ke istanamu," kata Brian sambil memandang adiknya yang berkerudung kuning gading itu, sewarna dengan warna latar pakaiannya. "Aku mengajak mereka ke sini bukan tanpa sebab."
Gadis kecil itu memang selalu berpenampilan tertutup jika ada orang asing atau orang yang tidak akrab dengannya. Penyakit yang diderita ini membuatnya tidak percaya diri berdekatan dengan orang asing.
"Ah, tidak mengapa, Kanda Brian," kata Aurellia berusaha tetap bersikap biasa meski hatinya merasa risih. "Sebenarnya aku malah senang ada orang yang sudi mau berkunjung ke tempatku...."
"...Hanya saja dengan keadaanku seperti ini, aku tidak bisa menjamu dengan baik. Aku harap Nona Ariesha dan Nona Grania mau memaafkanku."
"Tuan Putri tidak usah sungkan kepada kami," kata Ariesha menanggapi ucapan Aurellia juga dengan penuh kesopanan. "Bisa bersahabat dengan Tuan Putri merupakan anugrah bagi kami."
Aurellia menoleh pada Ariesha yang tersenyum manis kepadanya. Dia masih belum ingat siapa gadis cantik itu. Atau apakah dia pernah bertemu dengannya dia masih belum ingat betul.
Kemudian Aurellia menoleh pada Dhafin yang duduk layaknya orang bersemedi. Dan ketika dia menatap anak muda itu, kedua matanya tertutup. Apakah dia bisa bersemedi sambil bercakap-cakap?
"Ada apa, Tuan Putri?" tanya Dhafin seolah tahu yang dipikirkan Aurellia tanpa membuka matanya. "Kamu mau bicara apa?"
Aurellia sedikit terkejut campur kikuk ternyata Dhafin tahu isi kepalanya. Kemudian cepat menjawab pertanyaan Dhafin.
"Ah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu, Kak Dhafin. Berkat obat yang kamu berikan, nyeri akibat bisa ular di kakiku tidak terasa lagi. Bahkan aku tidak merasakan perih lagi pada lukaku. Terima kasih sekali lagi."
"Simpan dulu rasa terima kasihmu itu, Tuan Putri," kata Dhafin masih tanpa membuka mata. "Aku belum memulai pengobatan."
Aurellia sama sekali tidak tahu kalau maksud kedatangan Dhafin ke istananya ini bertujuan untuk mengobati penyakitnya. Brian belum memberitahukan sebelumnya.
Sewaktu mereka satu kereta beberapa hari yang lalu, Dhafin maupun Brian tidak menyinggung-nyinggun soal penyakit yang dideritanya. Lagipula waktu itu dia dan Brian yang lebih banyak berbicara. Dhafin berbicara seadanya.
Dan tadi di halaman belakang istananya dia mendengar Ariesha mengatakan kalau Dhafin adalah seorang tabib. Dalam pikirannya kalau Dhafin akan mengobati racun ular berbisa di dalam tubuhnya.
"Apakah racun ular berbisa yang menggigitku tadi bisa diobati, Kak Dhafin?" makanya dia bertanya seperti itu.
"Apakah kamu lebih mementingkan sembuh dari racun ular berbisa atau sembuh dari 'Racun Bunga Duka', Tuan Putri?" Dhafin malah bertanya seolah memberikan pilihan.
Tentu saja Aurellia terheran mendengar ucapan Dhafin itu. Dia terkena racun ular berbisa tadi. Tapi kenapa Dhafin mengatakan ada racun lain yang harus disembuhkan ketimbang menyembuhkan racun ular berbisa?
Dan kapan dia terkena 'Racun Bunga Duka'? Mendengar nama racun itu saja baru kali ini.
★☆★☆
"Apakah kamu belum menyadari kalau penyakit yang kamu derita itu disebabkan karena racun, Tuan Putri?" tanya Dhafin yang sudah membuka matanya dan langsung memandang Putri Aurellia.
Dhafin sudah memperkirakan kalau Putri Aurellia belum menyadari kalau sesungguhnya dia terkena racun. Makanya dia tidak heran melihat kebingungan Putri Aurellia.
"Menurut hasil pemeriksaan Dhafin kamu terkena 'Racun Bunga Duka', Aurellia," kata Brian memberi tahu.
"Pemeriksaan?!" Putri Aurellia makin heran campur bingung. "Kapan Kak Dhafin memeriksaku? Bukankah kamu tadi memeriksa racun ular berbisa di kakiku, Kak Dhafin?"
"Sebenarnya aku sudah memeriksamu saat kita satu kereta tempo hari," ungkap Dhafin. "Waktu itu aku memeriksa kondisi kejiwaanmu."
"Aku makin tidak mengerti apa maksudmu, Kak Dhafin," kata Aurellia terus terang.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjelaskan tentang penyakitmu ini sebelum mengobatimu...."
"...Penyakit yang kamu derita ini sebenarnya diakibatkan oleh racun, " papar Dhafin, "yaitu Racun Bunga Duka.... Racun ini satu rumpun dengan Racun Bunga Cinta, racun yang Brian pernah terkena olehnya...."
"Kamu juga pernah terkena racun, Kanda?" Aurellia langsung menoleh pada Brian. Nadanya menunjukkan keheranan sekaligus kekhawatiran.
"Iya, pernah," kata Brian enggan membicarakannya. "Tapi sudahlah, tidak usah dibahas. Lagipula aku sudah sembuh."
Aurellia hendak bertanya siapa yang menyembuhkannya. Namun Brian cepat menahan kehendaknya itu dengan berkata.
"Sudahlah, tidak usah kamu berpikir yang macam-macam dulu. Fokus dulu pada penyembuhanmu. Sebaiknya kamu dengarkan saja penjelasan bocah aneh itu...."
Aurellia kembali menoleh pada Dhafin. Tapi Dhafin malah menatap Brian sambil tersenyum. Dan kembali Aurellia terkagum akan senyuman yang menawan itu.
Namun ternyata Grania juga tengah menikmati senyuman yang menawan itu. Tadi waktu di halaman belakang dia juga melihat senyuman Dhafin. Itu artinya sudah dua kali dia disuguhi pesona yang mengagumkan bagi para gadis itu. Tidak sia-sia Ariesha mengajaknya kemari.
Seakan tahu kalau Dhafin menatapnya sambil tersenyum yang dia artikan Dhafin pasti tengah mengejeknya, Brian langsung berkata ketus.
"Sebaiknya kamu juga jangan berpikir macam-maacam, Bocah Aneh. Lanjutkan saja penjelasanmu, biar Aurellia mengerti."
Dhafin tertawa pelan sebentar. Lalu bertanya pada Aurellia.
"Bisa aku lanjutkan, Tuan Putri?"
"Silahkan, Kak!"
"...'Racun Bunga Duka' dan 'Racun Bunga Cinta' memiliki sifat yang bertolak belakang meskipun mereka satu rumpun...."
"...Orang yang terkena 'Racun Bunga Duka', pastilah orang yang dirundung duka dan kekecewaan, sesuai nama racunnya.... Semakin penderita merasakan duka dan kecewa, racun itu semakin bereaksi dengan cepat...."
Apa yang diucapkan Dhafin adalah benar. Dia memang dirundung duka dan kecewa akibat dikucilkan dari keluarga, tidak dihiraukan oleh ayahandanya. Ditambah lagi tiba-tiba dia diserang penyakit aneh yang ternyata disebabkan oleh 'Racun Bunga Duka'.
"Biasanya," lanjut Dhafin, "orang yang terkena racun itu, sebelumnya sudah merasakan duka dan kecewa duluan. Ya... mungkin karena ditinggalkan seseorang, atau tidak diperdulikan, atau sebab lainnya yang membuat dia berduka dan kecewa...."
★☆★☆
Tapi...
"Bukankah penyakitku ini disebabkan oleh kutukan?" Aurellia seketika teringat tuduhan yang dilontarkan ayahandanya kepadanya, bahwa penyakitnya itu adalah kutukan akibat durhaka kepada bundanya karena telah membunuhnya.
"Bukan," bantah Dhafin dengan tegas, "penyakit yang kamu derita itu bukan kutukan, melainkan akibat terkena 'Racun Bunga Duka'. Aku sudah memeriksa keadaan dirimu dan penyakitmu. Dan hasilnya menjurus ke arah racun tersebut."
"Tapi... kenapa kamu mengira penyakitmu itu akibat kutukan?" tanya Dhafin hati-hati.
Aurellia tidak langsung menjawab. Menatap Dhafin yang juga menatapnya beberapa saat lamanya. Lalu kepalanya tertunduk perlahan.
Mengapa Dhafin bertanya demikian? Apakah Dhafin belum tahu rumor yang beredar? Kalau belum tahu, apakah dia harus bercerita? Sedangkan hal itu adalah aib baginya.
"Tidak dijawab tidak mengapa, Tuan Putri," kata Dhafin memaklumi. "Tapi aku tegaskan sekali lagi kalau penyakitmu itu bukan kutukan, melainkan terkena racun. Dan aku tahu cara penyembuhannya."
"Oh, penyakitku ini bisa sembuh?" Aurellia langsung menatap Dhafin dengan mata yang berbinar.
"Atas ijin Penguasa Langit penyakitmu bisa disembuhkan. Tapi kamu belum jawab pertanyaanku tadi, Tuan Putri?"
"Pertanyaan?" Aurellia sepertinya sudah lupa. "Yang mana?"
"Apakah kamu lebih mementingkan sembuh dari racun ular berbisa atau sembuh dari Racun Bunga Duka?"
Kalau Ariesha sudah terbiasa dan paham dengan metode bertanyanya Dhafin kepada pasiennya yang kesannya seperti berbelit-belit. Sedangkan Brian meski belum terbiasa, tapi dia sudah paham dengan karakter Dhafin yang jenius.
Namun Grania Friska belum terbiasa dan tidak paham. Makanya dia menatap Dhafin dengan heran. Kenapa Dhafin ini sepertinya berbelit-belit? Kenapa dia tidak sembuhkan kedua-duanya saja? 'Kan beres?
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak sembuhkan kedua-duanya saja, Kak Dhafin?" Aurellia yang ternyata satu pikiran dengan Grania malah langsung menanyakannya.
"Ketimbang harus menanyakan," lanjutnya, "mana yang aku lebih pentingkan untuk sembuh darinya. Ya jelaslah aku ingin sembuh dari kedua racun itu."
"Aku tidak bisa menyembuhkan kedua-duanya sekaligus," kata Dhafin seolah mengakui. "Mesti ada salah satu yang duluan aku sembuhkan."
"Sebenarnya aku agak bingung dengan pertanyaanmu tadi," Aurellia mengaku. "Bisakah kamu jelaskan apa maksudmu?"
"Yang jelas kedua-duanya bisa disembuhkan," kata Dhafin memaparkan. "Jika duluan yang aku sembuhkan racun ular berbisa, maka proses penyembuhan 'Racun Bunga Duka' bisa memakan waktu kurang lebih tiga bulan...."
"...Tapi jika 'Racun Bunga Duka' yang duluan aku sembuhkan, racun ular berbisa bisa dipakai untuk membantu proses penyembuhan luka pada penyakitmu, sekaligus menyingkat waktu penyembuhan menjadi 2-3 hari."
"Itukah yang kamu maksud bisa ular membawa keberuntungan?" tanya Brian mengingat ucapan Dhafin di halaman belakang tadi.
"Benar."
"Berarti kamu akan menyembuhkan racun dengan racun?" tanya Brian lagi.
"Sebagian."
Aurellia tercenung sejenak memikirkan semua yang dikatakan oleh Dhafin. Dan sepertinya semua orang yang ada di kamar Aurellia itu.
Baik Aurellia maupun Grania sekarang baru paham kenapa Dhafin seperti bertele-tele dalam berbicara. Rupanya anak muda itu menjelaskan alur suatu pemikiran dan tindakan, agar orang tidak bertanya-tanya lagi mengapa Dhafin melakukan ini melakukan itu.
Jika dia langsung bertindak, tanpa memancing orang untuk menjelaskan alur pemikiran dan tindakannya, maka kesannya tidaklah menarik.
★☆★☆
"Boleh aku bertanya, Kak Dhafin?" Grania, si gadis pendiam memberanikan diri untuk bertanya.
"Silahkan, Nona Grania!" Dhafin menoleh sedikit ke belakang.
"Apakah sebenarnya tujuan pembuatan 'Racun Bunga Duka'? Apakah sesuai namanya hanya membuat korban terus mengalami kedukaan dan kecewa?"
"Kata duka pada nama racun itu bukanlah tujuan pembuatannya," sahut Dhafin menjelaskan. "Rasa duka dan kecewa hanyalah berfungsi untuk memicu reaksi racun agar lebih cepat bekerja...."
"...Tujuan utamanya adalah untuk merusak wajah dan kulit si korban dengan kerusakan yang parah."
"Apakah racun itu termasuk racun pembunuh, Kanda?" tanya Ariesha yang sebenarnya pertanyaan Aurellia juga.
"Secara langsung racun itu bukan racun pembunuh. Hanya saja ketika si penderita sudah mencapai puncak kedukaan dan kekecewaan, kemudian berputus asa menjalani hidup, maka dia akan mengakhiri hidupnya dengan 'bunuh diri'...."
"...Karena dia sudah tidak punya kepercayaan hidup lagi...."
Aurellia bergidik ngeri memikirkan tujuan pembuatan racun aneh itu. Bagaimana jadinya kalau dia sudah mencapai titik batas kesabaran dalam menjalani hidup akibat terus berduka dan kecewa? Dia tidak berani bayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Kapan kamu akan memulai mengobatiku, Kak Dhafin?" tanya Aurellia akhirnya.
"Aku harus bertanya dulu padamu apakah kamu bersedia atau tidak," kata Dhafin hati-hati.
"Bertanya soal apa?" Aurellia mereka-reka apa yang akan ditanyakan Dhafin.
"Aku harus menyegel dulu semua organ yang ada di dalam tubuhmu, agar bisa racun ular yang aku jalarkan ke seluruh tubuhmu tidak mengenai organ dalammu."
"Iya, lakukan saja," kata Aurellia tanpa berpikir.
Dhafin tidak lantas menanggapi ucapan Aurellia itu. Dia malah menoleh pada Brian. Dan Brian seolah tahu arti tatapan itu, langsung berkata pada Aurellia.
"Dhafin akan menyentuh dadamu secara langsung dengan telapak tangannya untuk menyalurkan energi penyegelnya ke dalam tubuhmu. Apa kamu bersedia?"
Aurellia seketika terkejut mendengar permintaan itu. Meskipun berpenyakit kulit begini, dia mana rela seorang lelaki menyentuh tubuhnya secara langsung. Walaupun Dhafin masih tergolong anak kecil.
__ADS_1
Ah, mengapa proses penyembuhannya harus ada acara sentuh-sentuh segala? Tidak adakah cara lain yang tidak harus menyentuhnya secara langsung?
★☆★☆★