
"Tuan Putri Aurellia Claretta, Yang Mulia," yang menjawab malah Jendral Felix yang duduk di samping kanan Jendral Myles.
Tentu saja Yang Mulia amat terkejut bukan main mendengar jawaban Jendral Felix itu. Bukan saja dia, tapi Permaisuri Chalinda dan 3 selir lainnya serta beberapa anak mereka ikut terkejut pula.
Putri Aurellia Claretta sudah sekian tahun terlupakan dalam lingkungan istana. Seakan-akan putri yang malang itu sudah dianggap tidak ada.
Yang Mulia tidak pernah menemuinya sejak 5 tahun yang lalu hingga sekarang. Tiga selir lainnya juga tidak pernah menanyakan keberadaannya seolah tidak menghiraukan.
Sedangkan Permaisuri Chalinda, bukan tidak perduli akan nasib putri permaisuri yang dulu itu, tapi Yang Mulia masih melarang untuk memperdulikan anak malang itu. Dia terpaksa menuruti titah yang tidak adil itu meskipun hatinya tidak terima.
Sudah berapa kali dia meminta ijin kepada Yang Mulia untuk menengok Putri Aurellia di Istana Kejora, namun Yang Mulia hingga sekarang tidak mengijinkan.
Tampak wajah tampan Yang Mulia menegang, menekan perasaannya yang seketika muncul begitu mendengar nama Putri Aurellia. Kematian permaisurinya yang dulu kembali terbayang dalam ingatannya.
"Kenapa anak penyakitan itu berkeliaran di tempat keramaian begini?" kata Yang Mulia bernada dingin bercampur datar. Suaranya amat menyeramkan walau tidak keras. "Siapa yang mengijinkannya keluar? Tidakkah dia sadar penyakitnya itu akan mengganggu orang lain?"
Kalau Yang Mulia sudah marah begini siapa yang berani menjinakkannya?
Tiga selirnya tampak ketakutan mendengar kemarahan Yang Mulia. Apalagi anak-anaknya. Permaisuri Chalinda yang tadi hendak bicara langsung bungkam. Dia juga takut kalau Yang Mulia sudah marah.
Sementara 5 jendral dan 2 pejabat tinggi yang duduk di kiri kanan Yang Mulia juga tidak ada yang berani bicara. Jendral Felix yang memberi tahu tentang keberadaan Putri Aurellia tadi langsung tertunduk.
Dia menyesal kenapa harus menjawab tadi tanpa ditanya. Seharusnya dia diamkan saja tanpa mulutnya lancang memberi tahu.
"Tenangkan diri Yang Mulia dulu agar bisa berpikir jernih apa yang terjadi sebenarnya," kata Pendeta Noman berusaha menjinakkan kemarahan Yang Mulia.
Sejenak Yang Mulia menarik napas dalam-dalam lalu menghempaskan begitu saja. Berusaha menenangkan perasaannya yang sempat menyulut kemarahannya.
"Jendral Felix! Kenapa kamu biarkan putramu bergaul dengan anak durhaka dan penyakitan itu?" tanya Yang Mulia tidak lagi bernada dingin, tapi masih agak datar. Wajahnya tidak lagi menegang seperti tadi.
"Ampun beribu ampun, Yang Mulia. Hamba siap menerima hukuman atas kelancangan hamba ini," kata Jendral Felix penuh takzim.
Nyonya Carissa menatap miris pada suaminya yang dihakimi oleh Yang Mulia lantaran putra angkatnya bergaul dengan Putri Aurellia yang katanya berpenyakitan. Bahkan putrinya juga sudah berteman akrab dengan sang putri.
Padahal kalau Yang Mulia mengetahui yang sebenarnya bahwa Putri Aurellia sudah sembuh dari penyakitnya, tentu dia akan merubah anggapannya kalau sebenarnya Putri Aurellia bukan terkena kutukan.
Mana ada kutukan yang bisa disembuhkan dengan jalur pengobatan?
Mengetahui situasi ini Nyonya Carissa yakin suaminya belum menceritakan kepada Yang Mulia kalau Putri Aurellia sudah sembuh. Padahal Dhafin sudah memberi tahu kepada mereka tentang penyakit Aurellia dan penyembuhannya.
★☆★☆
"Aku tidak menyalahkanmu, Jendral Felix," kata Yang Mulia sambil matanya kembali menyaksikan pertandingan. "Juga tidak menyalahkan putramu. Aku hanya menyayangkan tindakannya...."
"...Aku takut putramu ketularan durhakanya anak penyakitan itu," lanjutnya, "seperti yang telah terjadi pada Pangeran Brian. Putraku itu sudah berani membangkang perintahku karena bergaul dengan anak durhaka itu."
Sebegitu bencikah Yang Mulia terhadap Putri Aurellia? Sampai lafal namanya saja tidak mau disebut. Malah menyebutnya dengan ucapan yang tidak pantas. Padahal lisan Yang Mulia dikenal selalu berkata dengan perkataan yang baik-baik.
Sedangkan Selir Agung Cassiopea, mendengar putranya disangkut pautkan dalam hal ini, menggeram dalam hati. Bukan kepada Yang Mulia, tapi pada Putri Aurellia.
Disebabkan ketahuan bergaul dengan Putri Aurellia, yang artinya telah membangkang titah Yang Mulia, citra putranya itu cukup buruk di lingkungan keluarga istana.
"Yang Mulia. Sebenarnya ada fakta penting yang Yang Mulia harus ketahui," kata Pendeta Noman cepat mendahului Jendral Felix yang hendak berkata.
"Fakta apa itu, Pendeta?" Yang Mulia seketika menoleh pada Pendeta Noman lantaran ingin mengetahuinya.
"Apakah Yang Mulia masih meyakini bahwa yang terjadi pada Tuan Putri Aurellia adalah kutukan?" Pendeta Noman malah bertanya.
"Apalagi penyakit yang terjadi secara tiba-tiba tanpa ada sebab kalau bukan kutukan, Pendeta?" kata Yang Mulia masih meyakini penyakit Putri Aurellia adalah kutukan.
"Berarti kalau kutukan lantas tidak bisa disembuhkan?"
"Benar. Karena itu merupakan hukuman dari Penguasa Langit kepada anak yang durhaka."
"Tapi faktanya penyakit yang menimpa Tuan Putri Aurellia sekarang sudah sembuh, Yang Mulia."
__ADS_1
Tentu saja Yang Mulia, permaisuri, serta 3 selir terkejut mendengar ucapan Pendeta Noman itu. Sampai Putri Faniza Elvira juga ikut terkejut.
Yang lain terkejut heran, sedangkan Permaisuri Chalinda sempat terkejut tapi kemudian senang. Hatinya sungguh senang mendengar kabar baik ini.
Kalau penyakit yang menimpa Putri Aurellia telah sembuh berarti itu bukan kutukan. Kemungkinan tuduhan yang dibebankan kepada Putri Aurellia atas terbunuhnya Permaisuri Michella akan dipertimbangkan oleh Yang Mulia.
Semoga saja tuduhan itu dicabut dan Yang Mulia memerintahkan untuk mengusut fakta sebenarnya. Semoga saja.
"Kamu tahu dari mana, Pendeta?" tanya Yang Mulia masih terkejut bernada heran.
"Hamba yakin sahabat hamba, Jendral Felix tidak membohongi hamba, Yang Mulia," kata Pendeta Noman bermakna tersirat.
Yang Mulia menoleh pada Jendral Felix, Permaisuri Chalinda menoleh pada Nyonya Carissa yang duduk di belakangnya. Bahkan putrinya pun ikut menoleh pula.
Nyonya Carrisa cuma tersenyum dipandang begitu oleh permaisuri. Dia tidak berkata apa-apa. Dan permaisuri juga tidak bertanya apa-apa. Karena setelah itu permaisuri kembali menoleh ke depan.
Sedangkan 3 selir lainnya kembali sibuk menonton pertandingan. Seolah pembicaraan tentang Putri Aurellia tidak penting bagi mereka dan tidak ada kepentingan.
Sementara nyonya-nyonya pejabat yang ada di panggung itu sedari tadi seolah-olah sibuk saja menonton pertandingan. Mereka juga tidak terlalu mengetahui permasalahan.
Mereka hanya tahu rumor yang beredar kalau Putri Aurellia terkena penyakit akibat kutukan. Dosa apa yang diperbuat mereka tidak tahu sama sekali.
"Sejak kapan kamu mengetahui hal ini, Jendral?" tanya Yang Mulia jelas ingin tahu. "Kenapa tidak cepat memberitahukannya kepadaku?"
Tampak Yang Mulia berantusias ingin mengetahui hal ini. Hal itu menandakan Yang Mulia perduli. Dia sudah bisa menebak kalau Dhafin yang menyembuhkan putrinya itu.
"Ampun Yang Mulia," kata Jendral Felix penuh hormat. "Hamba juga belum lama mengetahui informasi ini. Dan hamba juga belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahukan kepada Yang Mulia...."
"...Makanya hamba memberi tahu terlebih dahulu kepada Pendeta Noman," lanjutnya.
"Yang Mulia, sebaiknya permasalahan ini kita bicarakan nanti saja," kata Pendeta Noman menyarankan. "Yang Mulia fokus dulu pada pertandingan."
"Baiklah, nanti sore atau nanti malam setelah acara ini undang Ananda Dhafin untuk datang ke Istana Kristal Ungu membicarakan hal ini," putus Yang Mulia.
"Maksudmu?"
"Tuan Muda Dhafin juga peserta dalam turnamen ini, Yang Mulia," Pendeta Noman mengemukakan alasan. "Hamba harap Yang Mulia mempertimbangkan kondisi Tuan Muda Dhafin...."
"...Lagipula kita tidak bisa mengundangnya secara tiba-tiba begitu," lanjutnya, "tanpa meminta persetujuannya apakah bersedia diundang dalam waktu dekat atau tidak."
★☆★☆
Baru saja Yang Mulia hendak berkata, Selir Agung Cassiopea langsung berkata dengan nada sinis ketus.
"Pendeta Noman! Apakah menurutmu kedudukan Dhafin lebih tinggi dibanding Yang Mulia sehingga kamu begitu lancang menolak keputusan Yang Mulia?"
Pendeta Noman tidak segera menanggapi ucapan ketus itu. Dia menoleh pada Yang Mulia. Sedangkan yang ditoleh malah memandang ke depan. Namun terdengar suaranya yang tenang berkata.
"Selir Agung! Kalau kamu sudah bosan berada di sini, aku akan memerintahkan pengawalmu untuk mengantarmu ke istanamu."
Kalimat itu memang diucapkan dengan tenang tapi mengandung teguran yang sangat kepadanya. Makanya itu Selir Agung tidak berani lagi berlaku lancang.
"Ampunkan atas kelancangan hamba, Yang Mulia," dia hanya pasrah menerima kekonyolannya itu.
Setelah tidak mendengar lagi ucapan Selir Agung Cassiopea selain pengakuan kesalahannya tadi, Yang Mulia berkata kepada Pendeta Noman.
"Baiklah. Aku terima saranmu. Kamu atur saja siapa yang menemui Ananda Dhafin untuk memberitahukan hal ini."
"Biar hamba saja, Yang Mulia," kata Pendeta Noman mengajukan diri. "Setelah acara ini hamba akan menemui Tuan Muda Dhafin."
"Baiklah."
Yang Mulia tidak berkata lagi. Dia kembali fokus pada pertarungan. Beberapa saat dia menonton pertarungan di arena 1. Kemudian beralih pada arena 2. Di situ anggota tim putra ke duanya tengah bertarung.
Belum lama dia menyaksikan pertarungan, namun pertarungan sebentar lagi akan berakhir.
__ADS_1
Sementara itu di arena 2....
Tampak lawan Kelvin sudah cukup kewalahan menghadapinya. Pertarungan mereka sudah menghabiskan 4 jurus. Sekarang mereka sudah berada di pertengahan jurus ke 5.
Namun sepertinya tinggal menunggu kesempatan saja lawan Kelvin itu akan segera tumbang. Masalahnya sudah berapa kali pukulan dan tendangan Kelvin bersarang di tubuhnya.
Untuk kesekian kalinya Kelvin melancarkan serangan secara beruntun. Beberapa serangannya masih dapat ditangkis oleh lawan meski sambil meringis-ringis.
Namun serangan berikut tidak bisa lagi ditangkis karena kedua tangannya sudah kebas.
Bermula tinju kanan menghantam telak dan kuat dada kiri lawan, lalu tinju kiri menghantam lambung kanan lawan. Lalu Kelvin terus mengejar lawan yang terdorong 2 langkah ke belakang yang sambil beraduh-aduh itu.
Begitu sudah dalam jangkauan serangan, dengan cepat langsung melayangkan tendangan kaki kanan menyusul kaki kiri. Dan telak dan kuat menghantam pinggang kiri, lalu menyusul rusuk kanan.
Kembali si lawan mengeluh tertahan. Tapi masih juga belum jatuh. Kemudian Kelvin melenting sedikit ke udara sambil memutar badan. Menyusul kaki kanan melayang lurus, lalu menghujam telak dan kuat di dada lawan.
Dughk!
"Akh...!"
Si lawan bukan saja terjajar, namun terlempar ke belakang sejauh 1 tombak sambil menjerit tertahan. Kemudian tubuhnya jatuh dengan keras di atas panggung beralaskan matras itu.
Selagi si lawan berusaha bangkit dengan susah payah hakim wasit segera datang menghampirinya. Begitu melihat kondisinya yang sudah tidak layak tarung lagi, hakim wasit menyatakan si lawan kalah dan Kelvin yang menang.
Awal yang baik bagi Tim Brian Darel. Selamat Kelvin!
★☆★☆
Pertandingan terus berlangsung semakin seru. Penonton yang ada di luar areal turnamen rela berpanas-panas demi menyaksikan turnamen beladiri bergengsi ini. Meskipun yang bertanding cuma anak-anak, namun seakan mereka merasa rugi kalau melewatkan pertandingan menarik itu.
Sementara itu, pertandingan 9 putaran sudah terlaksana dengan sukses tanpa terasa. Para penonton masih setia menyaksikan pertandingan. Termasuk Yang Mulia berikut para pejabat tinggi istana.
Bahkan Nyonya Carrisa masih juga setia menonton pertandingan. Padahal saat ini wanita cantik itu tengah hamil muda.
Sebenarnya Jendral Felix melarangnya untuk ikut menonton pertandingan karena sedang hamil. Tapi Nyonya Carrisa berkeras ingin menyaksikan putranya bertanding.
Namun dia cukup lega posisi duduk istri tercintanya itu berada tidak jauh di belakangnya. Sementara Ariesha tidak bisa mendampingi bundanya, karena di panggung ini anak-anak yang boleh duduk cuma keluarga istana.
Sementara itu di Tim Brian Derel sukses memenangkan 4 pertarungan. Di Tim Pangeran Adrian juga sukses memenangkan 4 pertarungan.
Begitu juga dengan Tim Raisha Arabelle dan Tim Pangeran Nevan juga sukses memenangkan 4 pertandingan.
Kini putaran ke 10, putaran terakhir di hari pertama segera dimulai. Sebagian peserta sudah naik ke atas panggung arena masing-masing.
Yang bertarung sekarang di Tim Brian Darel pada putaran ke 10 ini tinggal dia. Sementara lawannya beberapa saat yang lalu sudah naik ke atas arena dengan mempertunjukkan ilmu peringan tubuhnya yang memukau.
"Sepertinya lawanmu ini adalah lawan yang terhebat di timnya," kata Aziel yang duduk di sebelahnya berbisik. "Aku harap kamu tidak meremehkannya."
"Aku akan menuruti nasehatmu," kata Brian sungguh-sungguh.
Sebelum berdiri dia menoleh dulu pada Aurellia dan Ariesha. Lantas kedua gadis cantik itu mendoakan agar hati-hati.
Lalu dia segera berdiri, terus melangkah ringan. Tapi kejap berikut tubuhnya seketika bergerak amat cepat bagai menghilang. Membuat Putri Aurellia dan 4 gadis kecil yang bersamanya terkejut heran.
Ini bukan yang pertama mereka menyaksikan adegan yang mengagumkan itu. Tapi mereka masih juga terpukau takjub. Begitu mereka melayangkan sepasang mata indah mereka ke atas, tahu-tahu Brian sudah melayang di udara.
Kemudian tubuhnya dengan ringan mendarat di atas panggung bagai burung walet. Benar-benar mengagumkan.
Menyaksikan adegan itu dan semua pertandingan yang telah ditontonnya, makin menggugah hati Putri Aurellia untuk mempelajari ilmu beladiri.
Dia sudah bertekad akan membalas dendam atas kematian bundanya. Perjuangannya itu tidak bisa lancar tanpa ditunjang oleh ilmu beladiri yang dibarengi oleh kesaktian.
Ternyata saran Dhafin untuk ikut menonton pertandingan membuahkan hasil. Dia kini sudah tergugah untuk belajar ilmu beladiri.
★☆★☆★
__ADS_1